
Harusnya kehamilan menjadi kabar membahagiakan bagi Sekar. Namun, entahlah jika situasinya seperti ini. Sekar bahkan lebih baik tiada daripada mengandung hasil benih Arka.
*******
Ponsel Arnold berdering. Membuat lamunanya terpaksa buyar. Nomor yang menelefon tidak di ketahui. Tapi ia tetap mengangkatnya. Siapa tahu penting.
"Halo?"
"Gila! Aku saja tidak berniat membunuh. Cara mainku memang kasar. Tapi tidak sampai membahayakan nyawa orang. Apa yang kau lakukan pada kakak
Arnold tahu siapa itu. Dari suaranya. Arnold juga tahu siapa yang Viona bicarakan. Dari julukannya.
Kakak Ipar? Itu pasti Sekar.
"Dengar ya Arnold. Kalau sampai ada apa-apa dengan Sekar. Aku yang akan menyeretmu pertama kali ke penjara! Segila itu kau pada kakak iparku? tidak ada wanita lain apa? dulu saat aku mengajakmu bekerja sama, kau kemana? berlagak suci. Ternyata punya rencana yang lebih busuk. Bajingan memang," umpat Viona.
Sudah pasti Arnold lah sasaran utama Viona. Karena hanya mereka berdua yang memiliki niat memisahkan Sekar dan Arka.
Arnold membiarkan umpatan demi umpatan masuk ke telinganya. Ia memang pantas menerima itu semua. Benar, Arnold yang baik sudah berubah menjadi bringas dan bajingan. Semuanya hanya karena cinta.
*****
"Hamba tahu dosa hamba sangatlah banyak. Tetapi hamba juga tahu bahwa Kau adalah maha pemaaf. Maafkanlah segala dosa hamba Ya Allah. Kenapa semua ini terjadi pada hamba? Sekar, mengapa dia bisa begitu? Saya tahu saya sering mengabaikan Sekar. Tapi saya tidak pernah bisa diabaikan oleh nya. Saya mencintai Sekar. Kau tahu itu. Tolong jangan pisahkan kami, selain kehendak mu. Amiin."
Melirik ke belakang. Ada Jayur yang ternyata juga ikut shalat dhuha.
"Kenapa gak berdo'a sekalian nanyain apa yang terjadi sama Sekar?" Ucap Jayur.
"Kamu gak bisa bohong Ka sama saya. Saya tau ada yang gak beres. Saya tau Sekar marah ke kamu bukan karena kamu gak ngabarin dia aja. Sekalipun kamu ngebentak dia. Pasti dia gak akan mungkin sampai kepikiran buat bunuh diri," ucap Jayur.
Arka memejamkan matanya. Menghirup nafas dalam, "Ada yang ngasih tau Sekar kalau saya pernah main sama Viona. Bahkan... sampai Viona hamil. Entah bagaimana bicaranya. Yang jelas Sekar percaya. Tentu ia tidak terima pengkhianatan jenis ini. Sekar berfikir saya benar-benar mempermainkannya. Kepergian Viona dianggap kabur oleh Sekar."
Jayur memicingkan mata, "Bener kamu gak ada main sama Viona?"
"Ini rumah Allah, Pak. Saya kalau mau bohong mikir lima kali. Takut karmanya instan. Pak Jayur tahu sendiri gimana sayangnya saya sama Sekar. Bukan main. Lagipula kalau gak percaya, coba suruh Viona cek kandungan."
"Siapa yang ngomong gitu ke Sekar?"
Arka bungkam. Ingatannya tentang Arnold sangat jelas. Namun sungguh. Arka tak sampai hati untuk sekedar menyebut nama Arnold.
"Gak tau."
****
Sekar terus melamun. Menatap nanar langit-langit rumah sakit. Sampai seseorang datang dengan membawa baki berisi makanan. siapa lagi kalau bukan Arka.
"Halo. Makan dulu yuk. Ini bubur. Memang rasanya hambar. Tapi ini yang paling cocok untuk yang sedang sakit," dengan telaten Arka mengaduk bubur nya. Menyimpannya di dalam sendok. Di arahkan ke mulut Sekar.
Sekar memalingkan wajah nya. Menolak suapan Arka.
__ADS_1
"Udah berapa hari gak makan? Liat. Tubuh mu kurus begitu. Sudah seperti tengkorak jalan." Usaha Arka tak habis. Ia kembali menyuapi Sekar.
Sekar menoleh. Menatap Arka dengan begitu horor.
"Aku tidak mau makan," ucapnya valid.
"Baik. Kalau begitu aku mau memberi anak ini makan," tunjuknya pada perut Sekar.
"Belah perutku. Ambil dia. Beri dia makan," ucap Sekar ketus.
Gelak tawa Arka pecah seketika, "Hahaha ternyata Sekar bisa lucu juga ya," tentu tawa palsu. "Udah yuk. Kita makan. Bubur nya keburu dingin. Nanti gak enak."
"Berhenti berpura-pura perduli! Aku bukannya iba malah muak!" Teriak Sekar kasar.
"Baik. Aku sedang tidak memperdulikanmu. Aku sedang memperdulikan anak kita."
"Bisa perduli juga kau rupanya?" Sekar terkekeh.
"Simpan bubur nya. Aku akan makan sendiri," ucap Sekar.
"Ingin makanan lain? Ingin cemilan? In---"
"Ingin kau keluar," titah Sekar.
Arka menghembuskan nafas nya kasar. Mengelus dada nya sabar. Kali ini Sekar sedang tidak main-main marah nya.
"Sekar gimana? Mau dia makan?" Tanya Tami. Sedari tadi mereka semua di luar. Karena siapapun yang masuk ke dalam pasti akan di usir Sekar. Sekalipun itu Tami.
"Kamu yang sabar ya sayang," Tami mengelus punggung Arka. "Udah gak aneh hal-hal yang kayak gini di dalam rumah tangga. Kamu banyak-banyak berdo'a aja. Mamah percaya kok Sekar pasti bisa luluh lagi. Sekeras-keras nya Sekar buat marah sama kamu. Itu gak akan berangsur lama."
Arman mengisyaratkan sesuatu kepada Tami. Seolah mengajak wanita itu pergi.
"Ka, Papah sama Mamah pulang dulu ya sayang. Kamu gak usah khawatir soal kerjaan kamu. Biar Papah kamu sama Jayur yang handle," ucap Tami diakhiri kecupan singkat di kening Arka.
Kini hanya Arka yang tinggal sendiri. Arnold sudah pulang. Mengobati lukanya. Jayur juga pergi karena ada urusan. Waluyo dan Iyam ada di rumah.
Arka tak bisa menahan diri untuk tetap diam di luar. Apapun resikonya ia ingin masuk ke dalam. Tak perduli sekalipun Sekar meludahinya.
Di dapatinya Sekar sedang bersusah payah makan bubur yang tadi Arka berikan. Hanya tangan kiri nya saja yang bergerak. Mungkin tangan kanannya cedera.
"Ya Allah susah," Sekar betul-betul kesusahan. Hingga sendok yang ia pegang jatuh ke lantai.
"Aku suapi sebentar;" ucap Arka meraih sendok itu lalu membersihkannya.
"Buburnya sudah dingin. Tidak enak. Ganti makanan lain ya?" Tawar Arka. Sekar hanya diam.
"Suka bakso kan? Aku belikan bakso mau ya?" Arka seperti bicara dengan barbie hidup.
"Kalau makanan lainnya?" Sekar menatap gamang benda di depannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau makan."
"Coba hitung sudah berapa hari kau tidak makan. Bersyukur infusan dapat memberikan mu gizi. Kalau tidak aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi padamu,"ucap Arka dengan nada suara parau. Kekhawatirannya pada Sekar begitu besar.
"Bayangkan saja," jawab Sekar ketus.
"Boleh sakiti aku. Tapi jangan sakiti dirimu sendiri," tukas Arka.
"Tidak salah tuh? Bukannya kau yang menyakitiku?"
"Kau tahu konsekuensi nya marah pada ku?" Tanya Arka. Bangkit dari duduk nya.
Arka ini memang gila kali ya. Di saat seperti ini hendak nyosor Sekar?
Sekar benar-benar benci lelaki di hadapannya ini. Sekuat tenaga ia mendorong dada Arka yang hendak menciumnya.
"Bajingannya tolong dibatasi Ka,"ucap Sekar. Di balas kekehan oleh Arka.
"Makan ya. Satu suap juga gak papa. Setelah itu aku janji akan pergi."
Sekar mengalah. Merelakan mulut dan perutnya diisi makanan. Dengan begitu antusiasnya Arka menyuapi Sekar. Hingga tanpa terasa satu mangkok bubur telah habis di lahapnya.
"Makanan ku sudah habis. Mau pergi kapan?" Mengelap mulut nya menggunakan tissue kemudian menatap Arka sinis.
"Memangnya harus banget pergi?" Senyuman Arka tak pudar.
"Tuli?"
Arka tersenyum simpul. Bibir nya bergetar hebat. Ingin marah tapi tak bisa, "Kalau ada apa-apa panggil aku ya. Aku tunggu di luar," ucap nya.
"Pulang. Aku tidak mau kau menungguku."
Beginikah rasanya di abaikan? Baru beberapa hari di abaikan dan di bentak, Arka rasanya kesesakan. Apa kabar Sekar yang di bentak bertahun-tahun? Sebaja itu kah hatinya?
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pulang."
Arka
Aku benci dunia ini
__ADS_1
Tak perduli kau menyentak tanganku berapa kali. Aku akan tetap memegangnya