
Bandara Soekarno Hatta
Arka: Aku pergi untuk sementara. Berharap akan segera kembali dan menghapus luka.
....
"Sekali lagi. Saya titip Sekar ya, Pak
Cepat-cepat kabari kalau ada apa-apa. Kalau bisa jangan sampai dia dekat dengan Kakak nya Pasha."
Arka melambaikan tangannya seraya menarik kopernya. Waluyo tersenyum, senyum sungging, "Malu tapi mau."
****
"Jangan ngelamun karena cuman kata pedagang doang. Hidup manusia tuh beda-beda. Gak semudah kata orang, gak seindah Drama dan gak se sosweet Novel, let's comeback to the realita," Arnold memasang muka masam. Sesekali melirik ke arah Sekar. Perseta* dengan pedagang tadi. Karenanya Sekar jadi memikirkan Arka.
"Aku dukung banget buat kamu ngejauh sama Arka. Coba bayangin, selama 5 tahun kamu kayak di penjara. Jadi pembantu yang terus di marah-marahin. Seharusnya kamu hidup bahagia selama 5 tahun itu. Tugasnya seorang suami kan bu--"
"Kak. Udah, aku sedang tidak ingin membahas tentang Arka."
Terpaksa Arnold membungkam mulutnya. Ia juga tak ingin membuat Sekar merasa risih.
"Jadi. Kita tetep ke Mall?" harapannya untuk jalan-jalan bersama Sekar masih tinggi.
"Ayo. Tapi beli kado buat Pasha doang ya. Abis itu pulang. Atau nggak gimana kalau kita ke rumah Mamah Tami?" manik matanya kembali berbinar saat secara tidak sengaja menyebut nama Tami. Setelah pertengkaran hari itu Sekar sudah tidak lagi saling menghubungi dengan Tami. Kabar baik kah mertuanya itu.
"Yaudah. Ke rumah Tante Tami dulu aja. Baru nanti ke Mall," sebenarnya Arnold sangat enggan mengantarkan gadis itu ke rumah Tami. Akan ada adegan menyebalkan lainnya yang harus tertangkap memori Arnold. Namun kasihan juga jika ia terus menolak pinta Sekar.
"Iya. Makasih," gadis itu kembali menatap pemandangan luar. Hari-harinya memang tidak pernah bisa terlepas dari pemikiran hampa. Ada saja beban yang harus ia pikirkan.
Sesaat setelah itu Sekar menempelkan kepalanya ke kaca mobil. Air matanya tiba-tiba luruh. Ia mencubit perutnya kuat-kuat.
"Lho? Kamu kenapa Sekar?" tanya Arnold panik.
"Sekar benci dunia! Benci kehidupan ini!"
Tadinya Arnold hendak menghentikan mobil. Takut Sekar sakit dan hendak membawanya ke rumah sakit. Namun saat ini ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Menatap gadis itu nanar.
"Benci! Benci! Harusnya aku yang tiada dan Kak Siska yang masih hidup. Apa salahnya seorang perempuan sepertiku ingin merasakan secuil kebahagiaan? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun semasa dulu," matanya menerawang. Dadanya sangat sesak sekali. Tangannya terus mencengkram erat kulit perutnya. Pasti sakit, namun hatinya lebih sakit.
__ADS_1
Sekar terbawa perasaan. Terbawa suasana. Ia berusaha terlalu keras menyingkirkan kesedihan tapi ternyata kesedihan itu menyerangnya balik. Menangis, berteriak, lenyap dari dunia. Hal yang paling Sekar inginkan saat ini.
"Pasti ada Sekar. Pasti ada. Sabar. Sebentar lagi, sebentar lagi," pria yang sedang mengemudi itu pun tampaknya ikut terharu. Air asin menetes keluar dari mata sebelah kiri nya. Air mata kesedihan.
****
"Assalamualaikum," Sekar menunduk. Dalam hati ia masih berusaha merangkai kata-kata yang bisa dikatakan kepada Tami mengenai putusnya hubungannya dengan Arka.
"Waalaikumsal-- Sekar?!" Tami ambruk. Memeluk Sekar dengan sangat erat sampai si empu kesulitan bernafas. Air mata Tami luruh begitu saja. Wanita tua satu ini memang mudah menangis.
"Mamah rindu sama kamu."
Hal yang tidak Sekar perkirakan sebelumnya. Ia bahkan berpikir bahwa Tami akan langsung mengusirnya mana kala Sekar menginjakan kaki di rumah ini. Tapi dugaannya salah besar.
"Ayo masuk," Tami menarik tangan Sekar. Namun Sekar menolak.
Sementara di luar sana Arnold memperhatikan dari luar tanpa turun dari mobil. Setelah itu ia pergi. Bukan untuk parkir, sengaja untuk menghindar. Tak ingin melihat Sekar di peluk mantan mertuanya.
"Sekar gak bisa Mah," ia menunduk. Melepaskan pegangan tangan Tami.
"Lho? Kenapa?"
"Se-Sekar udah ce-cerai sama Arka," mati-matian Sekar berusaha mengungkapkan kalimat ini. Akhirnya ia berhasil juga di saat nyawa nya terasa seperti di ujung tenggorokan.
Mata Sekar terbelalak. Lalu kalau sudah tahu kenapa Tami seperti biasa saja?
"Ada yang ingin Mamah bicarakan kepadamu, rahasia. Besar dan penting," ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata lalu melihat sekeliling. Seakan-akan tak ingin ada orang lain yang mendengar rahasia mereka.
"Disini yang harusnya minta maaf itu keluarga Mamah, bukan kamu," Tami merapatkan duduk nya dengan Sekar. Ia memegang tangan Sekar.
"Arka punya adik tiri," awal cerita yang cukup mengejutkan untuk Sekar. Namun ia tak bermaksud untuk mencela. Memperhatikan kisah Tami dari awal hingga akhir. Jika kebingungan, baru Sekar akan bertanya.
"Dulu... dulu sekali. Mamah pernah bercinta bersama pria lain selain Papah Arman, Papah nya Arka," Sekar membulatkan mata.
"Hal terbodoh yang pernah Mamah lakukan di sepanjang hidup Mamah. Tapi Mamah saat itu khilaf, sangat khilaf. Ternyata, hasil hubungan gelap itu menghasilkan sebuah benih di rahim Mamah. Singkat cerita, bayi itu lahir. Seorang perempuan yang cantik jelita. Tapi Mamah sadar bahwa anak itu bukanlah anak Arman. Lahirnya anak itu justru membuat Mamah khawatir dan risau, bukannya bahagia. Pikiran Mamah sangat kalut saat itu. Mamah takut kalau kehadiran anak itu akan membawa bencana bagi keluarga Mamah dan juga Arman. Dengan pikiran buntu, Mamah menyimpan anak itu di salah satu rumah warga. Di depannya. Lalu Mamah bilang pada semuanya bahwa anak itu meninggal lalu sudah di kubur oleh dokter tanpa sepengatahuan pasien. Tentu semuanya Mamah jalani dengan bantuan para dokter. Semuanya memang tidak percaya anak itu mati begitu saja. Tapi Mamah menjalankan bagian Mamah. Berakting menangis hingga akhirnya mereka semua percaya."
Sekar menutup mulutnya tak percaya. Ia juga membelalakan matanya. Tami yang malaikat ternyata pernah memiliki hati seperti iblis.
"Bertahun-tahun sudah Mamah campakan anak itu. Namun bagaimanapun juga Mamah tetaplah Ibu kandungnya. Allah mungkin berniat mengembalikan anak itu pada Mamah. Suatu hari, dokter itu mengatakan pada Mamah bahwa anak Mamah masih hidup dan sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Bagaimanapun juga Mamah Ibu nya. Meski benci, Mamah tetap ingin melihatnya. Lalu Mamah kembali ke rumah tempat dimana dulu dia di buang, sayang sekali. Mereka mengatakan bahwa gadis itu telah dibawa ke panti asuhan. Banyak cerita yang Mamah tidak ketahui sebelumnya. Yang Mamah tahu anak Mamah berada di panti asuhan kala itu."
__ADS_1
Tami menarik nafas berat, inilah bagian paling berat untuk diceritakan.
"Seorang pria seperti preman datang kepada kami, dan mengatakan.... kamulah anak Mamah."
Bagai tersambar petir di siang hari yang begitu panas, lalu tertimpa meteor. Sumpah, sebelumnya Sekar tidak pernah seterkejut ini. Ia berdiri, menutup mulut nya. Air matanya mengalir sangat deras. Dadanya sesak, hatinya apalagi. Kaki tangannya gemetar. Tubuhnya mendadak lemas. Pandangannya juga kabur.
"Itulah mengapa Arka tidak pernah meniduri mu selama 5 tahun ini. Tapi ada sat--"
Bruk
Sayang, Tami belum menyelesaikan cerita sebenarnya Sekar sudah ambruk ke lantai. Ia pingsan. Padahal ada bagian yang lebih penting yang harus Sekar dengar.
"Bi Iyamm!!" Tami berteriak setengah mati memanggil Iyam. Pembantunya yang sedang berada di dapur. Arman sedang tidak ada kala itu.
"Tolongin saya Bi. Angkat Sekar."
Dengan segenap tenaga keduanya membopong Sekar. Menaikannya ke kursi. Berusaha menyadarkannya menggunakan minyak angin kayu putih yang di tempelkan ke hidung. Lalu dibantu dikipas-kipasi.
Ting tong
Arnold merasa tidak enak hati. Sudah terlalu lama Sekar berada di dalam. Makannya ia memutuskan untuk masuk ke dalam.
"Bi tolong bukain," titah Tami pada Iyam yang dibalas anggukan.
"Saya temannya Sekar. Apa Sekar nya ada?" tanya Arnold sopan.
"A-ada. Ne-Neng Sekar pi-pingsan."
Mata Arnold membulat sempurna. Ia main nyelonong masuk begitu saja. Langkahnya terhenti di ruang tamu ketika mendapati seorang gadis terbaring tidak sadarkan diri di atas sofa.
"Ya Allah?!" Ia memekik. Tanpa ini-anu lagi Arnold lamgsung mengangkat tubuh Sekar. Meninggalkan kebingungan pada Tami.
"Persetan dengan Anda dan keluarga Anda" bentaknya kepada Tami lalu pergi dengan membawa Sekar.
"Ya Allah Sekar. Kamu diapain sih sama mereka sampai pingsan begitu."
Arnold tak bisa fokus menyetir. Ia gelisah, sangat gelisah. Tak perduli akan rambu-rambu lalu lintas. Lampu merah pun ia terobos begitu saja. Beruntung tak terjadi kecelakaan.
Padahal mobil yang berada di belakangnya terus membunyikan klakson agar Arnold lebih berhati-hati. Persetan dengan tilang, keselamatan Sekar lebih penting.
__ADS_1
"Si*l! Harusnya tadi aku ikut masuk ke dalam," ia memukul setir. Mendoyarkan kepalanya sendiri. Salah paham pada Tami dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Sabar sayang, sabar. Sebentar lagi ya kita sampai," ucap Arnold di sela-sela paniknya.