
RASA APA INI ?
@ Imran POV
Aku tidak tau sebenarnya ada apa denganku, sejak semalam aku merasa tak tenang, saat aku melihat Dinda yang malu-malu didepan kak Dimas, aku merasa marah bila mengingat kejadian ditoko buku kemarin sore.
Apa mungkin aku cemburu,?tapi kan Dinda cuma sahabatku, trus kenapa juga aku harus marah kalo gadis itu menyukai kak Dimas?, aku jadi bingung sendiri, aku marah kesal, tapi aku tak mau Dinda tau apa yang sedang kurasakan.
Kucoba tepis semua pikiranku, berusaha menyangkal kalo aku jatuh cinta pada Dinda, tapi semakin aku berusaha meyakinkan hatiku, fikiran ku semakin tak karuan.
"Aaarrrgghhh, brengs**"teriakku frustasi.
Aku melempar botol parfum dilantai, lalu menjambak rambutku.
PRAAANNKK
Suara botol parfum yang kulempar, terdengar sampai diluar kamar. Aku terduduk dipinggir ranjang berusaha menenangkan hatiku yang bergemuruh.
Tok,,,tok,,,tok
Suara pintu kamarku diketuk, mungkin itu ibu yang datang, mungkin ibu terkejut saat mendengar suara barang yang kubanting.
"Raaan,, kamu kenapa nak?" kudengar suara ibu memanggil dari arah luar, tepat dugaan ku sepertinya ibu terkejut.
"Imraaann, kamu ngga pa paa kan nak,?" tanyanya khawatir.
Aku bangkit dan berjalan menuju pintu, saat ku buka, ibu langsung berhambur masuk.
"Imran kamu kenapa? tadi suara apa nak? kamu ngga pa pa kan? tanyanya lembut, tapi suaranya bergetar takut dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir.
"Astagfirullah, apa yang kulakukan? aku membuat wanita tercintaku khawatir ? ya Allah maafkan aku" batinku.
Aku tersenyum kearah wanita paruh baya yang sedang berdiri dihadapanku ini, kuraih tangannya lalu kukecup.
"Imran g pa pa bu, cuma tadi g sengaja nyenggol botol parfum jadi jatuh bu," ucapku agar ibu tidak khawatir.
Kulihat wajah tua nya sudah mulai tersenyum, sepertinya kekhawatiran ibu sudah menghilang tergantikan perasaan lega.
"Ya sudah, ibu kira kamu kenapa, sekarang kamu siap siap gih berangkat, bareng ama Abah, sekalian kamu anter Abah kekelurahan, bisa kan?"
"bisa donk bu"
Hari ini aku tidak kerumah Dinda, selain aku harus mengantar Abah ke kelurahan, aku juga masih malas bertemu dengannya, beberapa hari ini dia seperti menghindariku.
Sesampainya disekolah Dinda belum datang bahkan sudah jam tujuh lewat gadis keriting itu belum juga kelihatan, apa mungkin dia tidak masuk?
Tak lama si gadis keriting muncul dan marah padaku karena tak menjemputnya seperti biasa bukannya kemaren dia terus menghindari ku, sekarang dia bertanya kenapa aku tak menjemputnya? dasar gadis keriting aneh,,!!
Aku pergi meninggalkannya, sungguh aku tidak berani menatap matanya aku minta Izin pada pak Andre bahwa aku sedang kurang enak badan dan disinilah aku bersembunyi, ruang UKS.
Jam istirahat aku kekantin rencananya mau makan bakso tapi saat masuk aku terkejut melihat gadis keriting ku duduk bersama DIMAS? Ehh gadis keriting ku? apa yang kupikirkan?.
__ADS_1
Aku langsung menghampiri mereka dan duduk bersebelahan dengan Dinda, aku berusaha menunjukan kedekatan ku dengan Dinda dihadapan Dimas, sepintas kulihat kilatan kemarahan dimatanya, dan tangannya mengepal.
Sebelum jam istirahat selesai aku izin ke toilet, saat keluar aku terkejut melihat Dimas.
"Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Dinda?" tanyanya.
"Ada apa memangnya," tanpa menjawab aku balik bertanya.
"Ngga pa pa, aku cuma nanya" jawabnya santai.
Tanpa berkata aku langsung keluar tanpa memperdulikannya.
"Aku harap kamu tidak mengganggu hubunganku dengan Dinda," ucapnya penuh penekanan.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik, kutatap matanya tajam.
"Dinda adalah sahabatku, aku menyayanginya, jadi jangan macam-macam dengan gadis keritingku, atau kau akan berhadapan denganku" ancamku.
Sekilas kulihat wajahnya memerah dan tangannya mengepal, aku tidak peduli kutinggalkan Dimas sendirian di toilet.
πππ
Sepulang sekolah aku mencari gadis keritingku, kemana lagi sih dia.
"Van, lo liat iting?" tanyaku pada Vana.
"Udah keluar tadi bing," jawabnya.
Saat sampai diparkiran, tak sengaja kulihat Dinda berjalan kearah taman belakang sekolah, dan yang lebih mengejutkan Dinda bersama Dimas, ada apa ini? apa ada yang kulewatkan? batinku.
Diam diam kuikuti mereka, sesampainya di taman belakang aku mencari tempat sembunyi yang pas, biar gampang curi dengar pembicaraan mereka.
"Sebenarnya, Aku suka sama kamu Din"
Deg,,!!!
Apa Dimas menyatakan perasaannya pada Dinda?
"A,, aku juga su,,su,,suka sa,, sama kak Dimas,"
"Apaaa,,"
πππ
Mood ku semakin hancur dibuatnya, Dimas menyatakan perasaanya pada Gadis keriting ku? dan gadis bodoh itu juga? Astagaaaa aku marah, rasanya aku ingin membanting semua barang yang ada didalam kamar ini.
Yah saat ini aku sudah dikamarku, setelah mendengarkan percakapan Dinda dan Dimas tadi aku langsung pulang, perasaanku jadi semakin kacau.
"Rasa apa ini,,?"
"Kenapa aku sangat gelisah"
__ADS_1
"Aku akan mengikuti mereka sebentar sore, memastikan bahwa Dimas tidak mempermainkan gadis keriting ku.
Yah tadi memang sempat kudengar kalo mereka janjian bertemu sore ini, awas kau Dimas sampai kau menyakiti Dinda aku akan membuatmu menyesal sudah mendekati Gadis bodoh itu, batinku.
Tapi tunggu dulu, tadi sepertinya aku melihat anak baru itu juga ditaman, dia memandangi Dinda dengan tajam, tapi kenapa?
π Flashback
"Oh ya Din, ntar sore aku mau ke toko buku, kamu mau g nemenin aku,?" tanya Dimas.
Dinda hanya mengangguk, mungkin dia masih malu dengan Dimas.
Hening,,
Kulihat Dimas tak henti-hentinya memandang wajah Dinda, sedangkan gadis bodoh itu terdiam menunduk.
Tangan Dimas terulur meraih wajah Dinda, mendongakkan wajahnya, tatapan mereka saling bertemu.
"Apa yang ingin dilakukan pria brengs** itu?" ucapku dalam hati.
Tanganku mengepal, wajahku jangan ditanya lagi sepertinya sudah berubah merah padam saking sabarnya kutahan emosiku.
"Apa dia akan mencium gadis keriting ku? sial,"
Kulihat Dimas beringsut maju seperti ingin mencium Dinda, dan lihat gadis bodoh itu diam saja? astagaaa aku bisa hilang akal.
"Maaf kak Dimas, sebaiknya kita tidak melakukan hal yang diluar batas." ucap Dinda lirih.
Sepertinya Dinda menolak untuk dicium, untunglah kalo sampai Dimas nekad akan kupastikan hari ini dia akan masuk rumah sakit.
"Dasar gadis bodoh, awas saja kau nanti" umpatku dalam hati.
"Maaf Din, aku khilaf," Ucap pria itu menyesal.
Kulihat Dinda hanya mengangguk tanpa berniat membalas ucapannya.
Ahh aku lelah jadi penguntit, sebaiknya aku pulang menenangkan fikiranku.
Saat aku berbalik, tak sengaja aku melihat Meyra, sepertinya dia juga sedang jadi penguntit, tapi siapa yang dia awasi? apakah Dimas ? sebenarnya ada hubungan apa mereka,? aku akan cari tau, dan jangan sampai aku tau kalo Dimas hanya mempermainkan Dinda, aku pasti akan membuatnya menyesal.
Flashback off
Aku berjalan mondar mandir, sambil berfikir ada hubungan apa sebenarnya antara Dimas dan Meyra? kemarin mereka terlihat seperti sepasang kekasih, tapi kenapa Dimas malah menyatakan perasaannya pada Dinda? dan kenapa juga Meyra menatap Dinda seperti itu,? pasti ada sesuatu, aku harus mencari tau. Jangan sampai aku melihat Dinda disakiti atau aku hancurkan kalian.
**Tbc
plis vote like komennya yaaa
jangan lupa tinggalkan jejak ya gengksππ
See u allππ**
__ADS_1