Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 44


__ADS_3

MENGHILANG


Happy reading gengks


Typo masih adaπŸ™


Imran meraih kunci motor yang tergeletak diatas nakas, mengambil jaketnya dan segera menyusul Dinda diluar kamar. Keduanya berjalan bersama menuju tempat dimana kuda besi milik Imran terparkir.


Saat tiba diparkiran, kini giliran ponsel Imran yang kembali berdering, nampak sebuah panggilan dari Abah masuk.


ABAH CALLING


"Sayang tunggu yah, Abah nelfon" ucap Imran.


Dinda hanya mengangguk, rasanya tak kuat hanya untuk mengucapkan kata iya. Tanpa melepas genggaman tangannya, Imran menjawab panggilan dari Abah.


πŸ‘¦ : "Assalamualaikum Abah"


πŸ‘¨ : "Waalaikumsalam Ran, kamu darimana? kok dari semalam ngga bisa dihubungi?" tanya Abah.


Imran meringis mendengar pertanyaan Abah, dia tidak bisa menjawab, masa iya dia bilang kalo semalam sedang berperang diatas ranjang dengan wanita tercintanya. Bisa-bisa Abah memecatnya jadi anak.


πŸ‘¦: "Mmm, semalam Imran ketiduran bah, jadi ngga tau kalo Abah nelfon, maaf bah." dusta Imran.


🌟Kualat lo Ran, boongin Abah. Ckckck.


πŸ‘¨ : " Penyakit Ibu kamu kambuh, buruan kamu pulang, ada yang mau Ibu sampaikan sama kamu" jelas Abah.


πŸ‘¦ : "Apaa, Sakit Ibu kambuh? baik Bah, Imran pulang sekarang."


Imran menutup panggilan dari Abah, Pria itu menatap Dinda sendu.


"Din, penyakit Ibu kambuh, aku harus pulang tapi aku janji secepatnya kembali lagi kesini buat jemput kamu." tuturnya, sambil membelai sayang rambut wanitanya.


Dinda tak menjawab ucapan Imran, dia hanya diam membisu menatap kosong kearah Imran, saat ini difikirannya hanya tentang Ayah dan Bundanya.


Tak mendapat respon dari Dinda, Imran menarik tangan wanita itu yang sejak tadi dia genggam, membawanya kedalam pelukannya, Imran fikir, Dinda tak menjawab karena takut jika nanti Imran akan meninggalkannya.


"Kamu jangan khawatir sayang, aku ngga akan pernah ninggalin kamu, aku cinta sama kamu dan secepatnya aku kembali untuk menjemput kamu, Hmm" jelas Imran meyakinkan.


Imran menguraikan pelukannya, menatap mata sayu Dinda yang masih terdiam kemudian memberi kecupan singkat dibibir gadis tepatnya mantan gadis itu, lalu mengecup kening Dinda dalam.


"Ayo naik Sayang, aku anterin kamu kerumah sakit tempat Ayah dirawat" bujuk Imran.

__ADS_1


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Kuda besi Imran melaju membelah jalanan, tak ada yang bersuara sepanjang perjalanan keduanya larut dalam fikiran masing-masing. Dinda memeluk erat Imran dari belakang, menyandarkan kepalanya dipunggung pria itu sedangkan satu tangan Imran terus menggenggam tangan Dinda yang memeluk erat dipinggangnya.


Tiga puluh menit waktu yang ditempuh sampai ketujuan Dinda, saat wanita itu turun, lagi-lagi Imran mencoba memberi keyakinan akan cintanya sebelum Dinda masuk ketempat dimana Ayah dan Bunda dirawat.


"Kamu percaya kan sama aku?" tanya Imran.


Dinda hanya menggerakkan kepalanya keatas dan kebawah, dia tidak banyak bertanya, Dinda sangat percaya dengan Imran.


"Kamu tunggu, aku pasti datang jemput kamu" ucap Imran sebelum pria itu pergi. "Aku akan pulang melihat kondisi Ibu, setelah ini aku bakal balik kesini lagi, jadi kamu jangan nakal Ok" lanjutnya lagi.


Imran mencoba menghibur wanitanya agar tidak murung lagi, aah kenapa disaat Dinda membutuhkannya justru Tuhan berkehendak lain, diwaktu yang bersamaan wanita yang telah melahirkannya juga sangat membutuhkan dirinya. Untung saja Dinda wanita yang tidak manja dan banyak menuntut, dia sangat mempercayai Imran.


Senyum tipis terukir dibibir manis Dinda, saat akan melepas kepergian Imran, toh setelah ini mereka akan kembali bersama lagi. Tapi Dinda lupa akan pesan yang tadi pagi sempat dia baca diponsel kekasihnya.


"Nah gitu donk, senyum biar tambah cantik" puji Imran. "Ya udah aku tinggal ya,," sebuah kecupan sayang pria itu daratkan dikening sang kekasih.


Setelah Imran pergi, Dinda bergegas masuk kerumah sakit dimana Ayah dan yang lain dirawat. Dinda bertanya dimana ruangan pasien bernama Imam dan Arimbi, lalu suster yang bertugas dimeja resepsionis menunjukkan jalannya.


Sesampainya didepan ruangan, disana sudah ada Kak Rio, dan Mbak Manda yang sedang menangis dipelukan calon suaminya.


"Kak Rio, Mbak Manda" Panggil Dinda.


"Uthy"


"Dek," jawab keduanya bersamaan.


"Kamu darimana Thy, sejak semalam ponsel kamu ngga aktif" tanya Rio khawatir.


"Maaf kak, ponselku lowbat dan baru aktif tadi pagi" ucapnya menyesal " sebenarnya apa yang terjadi kak, mbak?" tanyanya lagi.


"Mobil yang dikendarai Pakde hampir menabrak sepeda motor yang berjalan ugal-ugalan dari arah yang berlawanan semalam, niatnya mau menghindar, Pakde banting setir malah keluar jalur, dan akhirnya dari jalur yang berbeda ada mobil truk yang sedang melintas, jadi mobil Pakde tertabrak dan terguling sejauh lima belas meter." terang Rio.


Dinda tak dapat berkata-kata mendengar penjelasan Rio, wanita itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, bulir kristal jatuh membasahi pipinya yang chubby.


"La- Lalu ba- bagaimana ke-keadaan Ayah dan yang lain kak?" tanyanya terbata.


Rio menghela nafas kasar, rasanya tak tega memberitahukan perihal kondisi Ayah.


"Pakde dan Bukde yang duduk didepan meninggal ditempat, sedangkan Ayah berusaha melindungi Bunda dengan memeluknya jadi.." perkataan Rio terjeda rasanya sangat berat melanjutkan ucapannya.


"Ja- jadi?" tanya Dinda kembali.

__ADS_1


"Luka Bunda ngga seberapa dibanding Ayah, Bunda hanya mengalami geger otak ringan sedangkan Ayah masih berada diruang ICCU karena pecahan kaca mobil yang menancap dipunggungnya saat melindungi Bunda, dan juga benturan keras yang dialami Ayah." lanjut Rio.


Dinda jatuh terduduk dilantai depan ruangan Ayah, wanita itu sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi, sekujur tubuhnya mendadak lemas, kedua kakinya tak dapat lagi menopang berat badannya.


Air mata Dinda tak henti-hentinya mengalir, sudah dua jam dia menangisi kondisi Ayahnya, sedangkan Kak Rio sudah pulang sejak satu jam yang lalu, mengantarkan kedua jenazah calon mertuanya bersama Manda.


Tinggal Dinda sendiri menunggu didepan ruang tempat Ayahnya dirawat. Saat ini Dinda sangat membutuhkan Imran, dia sendirian benar-benar kesepian.


Dinda ingin menghubungi Imran tapi dia lupa meminta nomor ponsel pria itu, dua tahun lalu Dinda mengganti nomor ponselnya dan dia menutup akses agar Imran tak dapat menghubunginya ataupun menemukannya, tapi siapa sangka justru saat ini Dinda yang pusing sendiri karena tak punya nomor ponsel Imran.


Semalam, dia lupa menanyakan nomor ponsel Imran, karena tidak sadar sedangkan tadi pagi, belum sempat bicara malah Dinda mendapat kabar buruk jadi wanita itu tidak sempat menanyakannya.


Tiga hari kemudian Ayah dipindahkan kekota lain, cedera yang dialami Ayah cukup parah, ditambah lagi kurangnya alat-alat medis dirumah sakit itu mengharuskan Ayah dirujuk kerumah sakit lebih besar dikota lain.


Rio membantu pemindahan Ayah, setelah selesai dengan pemakaman kedua calon mertuanya, Kini giliran Dinda yang sudah dia anggap sebagai adik yang harus dia bantu.


Bunda sudah sadar dari pingsannya, dan kini mereka bersiap membawa Ayah kekota dimana Ayah dirujuk.


Berhubung Dinda tak memiliki nomor ponsel Imran jadi wanita itu tak memberi tau kemana dia pergi.


"Imran, aku butuh kamu, kamu dimana? kita pasti bertemu lagi kan?" tanyanya dalam hati.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Seminggu kemudian Imran datang kerumah sakit dimana terakhir pria itu mengantar wanitanya, dengan wajah sumringah dia menghampiri meja resepsionis dan bertanya dimana ruangan Ayah.


"Misi sus, ruangan pak Imam yang mengalami kecelakaan dijalan ZZ seminggu yang lalu dimana ya sus?" tanyanya pada suster jaga.


"Sebentar ya mas, saya cek dulu" jawab suster jaga itu.


"Sebentar lagi sayang kita akan bertemu, aah Dinda aku kangen, aku akan segera menemui Ayah mertua dan melamar kamu sayang" gumam Imran dalam hati.


"Maaf mas, pak Imam sudah dipindahkan ke rumah sakit lain karena pihak rumah sakit disini tidak memiliki alat media yang lengkap, jadi pak Imam dirujuk kerumah sakit diluar kota." terang suster jaga tadi.


"Apaaa..."


**Tbc


plis vote like n komen gengks πŸ‘πŸ‘πŸ‘


jangan lupa jejakπŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£


See u all😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2