Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 06


__ADS_3

PRIA PALING HEBAT


Hai readers, terima kasih buat kalian yang masih setia menunggu ceritaku, Miss berharap kalian g bosen dengan cerita ini, see u gengks.


Happy reading😊😊


Tak terasa waktu sudah berjalan selama 4 bulan, dan selama itu juga Arimbi menjalin kasih sayang dengan Imam sang asisten dosen.


Arimbi bahagia bisa mencintai pria itu, karena selama menjalin hubungan dengannya, Imam tak pernah sedikit puk bersikap lancang terhadapnya. Imam menjaga gadis itu layaknya berlian yang sangat berharga.


Hingga suatu hari, gadis yang akrab dipanggil Arimbi itu mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan oleh seorang ànak dari rekan bisnis Papanya.


"Tapi Rimbi g cinta sama Leo pah," ucap Arimbi, kepada sang Papa.


"Cinta itu bisa datang nanti Rim," kali ini Mama yang menjawab.


"Rimbi, mencintai orang lain."cicitnya lirih.


"Mama g setuju."suara Mama sedikit lebih tinggi.


"Kamu g tau bagaimana hidup kamu nanti dengan pria itu, dia dari keluarga mana, pekerjaannya apa, apakah dia sepadan dengan kita, kamu g akan tau Rimbi, kamu mau hidup miskin?" lanjutnya lagi dengan nada bicara yang semakin meninggi.


"Mama itu egois, g pernah mau ngertiin perasaan Rimbi." jawabku terisak.


"Mama lakukan ini demi kebaikan kamu Rimbi, Leo itu anak yang baik, dia tampan, dari kalangan atas, dan yang paling penting dia anak dari rekan bisnis papa dan juga mamanya adalah teman baik mama." ucap mama, nada bicaranya sedikit melunak.


"Tapi Rimbi mencintai orang lain mah," kataku lagi menimpali ucapan mama.


Mama terlihat menahan emosi saat aku mengatakan bahwa aku mencintai orang lain. Baru saja akan mengeluarkan kata-katanya lagi tapi papa sudah lebih dulu menyela.


"cukup,"kata papa. "kalau kamu memang mencintai orang lain, papa tidak akan memaksamu menikah dengan Leo," lanjutnya lagi. Papa tersenyum, yah papa memang sangat menyayangiku dan tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku jika itu tidak sesuai dengan keinginanku.


"Tapi pah,," belum sempat mama melanjutkan kata-katanya papa berbalik dan menatap mama dengan tajam.


"Kamu jangan egois Riana, selama ini kamu hanya sibuk diluar, bersosialita dengan teman-teman kamu."nada bicara papa mulai meninggi.


"aku tidak akan memaksa Rimbi, menikahi pria yang tidak dia cintai,"lanjutnya lagi dengan nada bicara yang lebih keras.


Mama terlihat sangat kesal, wajahnya memerah menahan kemarahan. Dia beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan aku dan papa di meja makan, tanpa menghabiskan makanannya. Yah mama memang orang yang egois, yang ada di fikirannya hanya berkumpul dengan teman-teman sosialitanya.


Papa menghirup udara dan menghembuskannya pelan sambil menggeleng, melihat kejadian itu.


Aku merasa sedih melihat mama, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mencintai Leo, aku mencintai Mas Imam dengan segala kesederhanaannya.


Aku menatap kepergian mama.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan hiraukan mama mu, nanti dia akan baik sendiri. Kamu taukan bagaimana sifat mamamu itu."ucap papa berusaha menenangkan diriku.


"Sekarang kamu ceritakan tentang pria yang kamu cintai.? tanya papa.


Aku tersenyum, dan mulai menceritakan pada papa siapa sosok laki-laki yang sudah mengisi hari-hari ku dengan kebahagiaan selama empat bulan ini.


Papa tersenyum mendengar ceritaku, dan dia berjanji akan menuruti permintaan ku, untuk tidak dijodohkan dengan pria pilihan mama.


"Besok, bawa kekasihmu menemui papa." kata papa, "Temui papa dikantor, dan perkenalkan dia pada papa, ok?" lanjutnya lagi, sebelum dia beranjak dari meja makan dan membelai rambutku sayang.


Aku tersenyum sumringah mendengar perkataan papa yang merestui kami, dengan gerakan reflek aku mengangguk, "Baik, pah." ucapku.


***


Aku kembali kekamar, dan meraih ponselku yang ku letakkan diatas nakas, rencananya aku akan menelfon mas Imam untuk menyampaikan kabar gembira ini. Belum sempat aku men - dial nomor mas Imam, ternyata sang asisten dosen tersayang sudah menelfon duluan.


"Assalamualaikum, cinta." suara yang selalu menggetarkan hati terdengar dari seberang.


" Waalaikumsalam, mas." jawabku.


" lagi ngapain nih,? " tanyanya lagi.


" baru aja mau nelfon seseorang."


" seseorang yang spesial,"


"siapa tuh,?" kudengar suara mas Imam agak berat mengatakannya, mungkin saking penasarannya. "kenapa g sekalian aku kerjain aja yah, kira-kira gimana reaksi mas Imam klo tau aku mau dijodohkan, cemburu g yah,,? " aku bergumam dalam hati.


" sebenarnya,," ucapku mulai mendramatisir.


"hm mm,"


" aku dijodohkan mas,"jawabku lirih karena takut ketahuan mas Imam.


" APAAA ,"teriaknya.


Keesokan paginya.


" kamu tega Rim,?" ucap mas Imam, saat kami sedang berada di rooftop kampus.


Yah, hari ini aku janjian dengan mas, Imam buat jelasin semuanya, dan memintanya datang untuk menemui papa.


"Maaf mas, Rimbi cuma becanda." jawabku lirih.


"becanda ada batasnya Rim, " ucap mas Imam, "kamu g tau semalam tuh aku uring uringan g jelas mikirin perkataan kamu, aku g bisa kalau kamu jadi milik orang Rim," lanjutnya lagi sambil memelas,

__ADS_1


Dia meraih kedua pundakku, wajahnya berubah sendu. Aku merasa sangat bersalah telah mempermainkan perasaan sang asisten dosenku tersayang, rasa takutnya sukses membuatku bungkam dan tak dapat berkata kata, tanpa terasa aku menitikkan air mata penyesalan memandang wajah mas Imam.


"kok malah nangis, hmm?"ucapnya lembut.


"aku g ada maksud mempermainkan perasaan kamu mas," jawabku lirih.


kudengar mas Imam menghela nafas,


"ya udah, lain kali jangan diulangi hmm? mas Imam membelai rambutku dengan sayang. Dan aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya.


Dikantor papa.


Pukul dua belas waktu jam makan siang, aku dan mas Imam pergi untuk menemui papa dikantornya. Sesuai pembicaraan kami kemarin papa ingin diperkenalkan dengan mas Imam,


Papa sangat menyukai mas Imam, selain orangnya yang sopan, mas Imam juga orang yang mandiri dan mau berusaha berjuang melawan kerasnya hidup. Dan papa sangat bangga terhadap orang seperti mas Imam, kata papa aku akan bahagia bila bersama mas Imam, dan benar aku merasa bahagia memiliki dua pria yang hebat dalam hidupku, dan keduanya adalah cintaku, yang paling berharga dalam hidupku.


Tanpa ku sadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan kami dibalik pintu, orang yang merasa tidak bahagia dengan kebersamaan kami.


Leo pratama, anak dari rekan bisnis papa, sudah lama dia menaruh hati padaku tapi aku tidak pernah bermaksud menanggapi perasaannya, bukan karena tidak tau, tapi tidak mau. Leo memiliki sifat yang arogan, apa yang dia inginkan harus dia dapatkan, bahkan dia tidak segan menghancurkan seseorang bila dia menyukai kekasih orang itu.


Salah satu orang yang dia hancurkan adalah mas Imam, setelah dia mengetahui bahwa aku menolak perjodohan itu, dia mulai menghancurkan mas Imam. Dia membuatnya dikeluarkan dari kampus, padahal saat itu mas Imam sedang menyusun skripsi dan sebentar lagi mas Imam akan diwisuda.


Leo pikir dengan menghancurkan mas Imam, aku akan kembali padanya, maaf aku bukan wanita seperti itu.


Setelah aku menikah dengan mas Imam, aku dikaruniai seorang putri manis, Adinda putri namanya, sayangnya saat usia putri memasuki tujuh bulan, papa menghembuskan nafas terakhir. Papa meninggalkan kami karena penyakit yang dideritanya.


Papa mengidap penyakit lemah jantung sejak kecil, seperti putraku yang kedua. Sebenarnya papa sudah pernah dioperasi dan keadaanya sudah lebih baik, tapi beberapa bulan terakhir penyakit papa kembali kambuh. Dan sejak kepergian papa mama sudah tidak pernah menghubungi ku lagi, mungkin mama masih belum merestui hubunganku dengan mas Imam, bahkan menelfon menanyakan kabar cucunya saja tidak pernah.


Bukan aku tidak pernah datang berkunjung kerumah mama, tapi pernah aku datang dan mama mengatakan sesuatu yang membuatku sakit.


"KENAPA KAMU DATANG,? APA SUAMI KAMU SUDAH TIDAK MAMPU MEMBIAYAI HIDUPMU,?APA SEKARANG KAMU DATANG UNTUK MENGEMIS HARTA PAPA,? MAMA AKAN MEMBERIKAN SELURUH HARTA PAPA PADAMU TAPI CERAIKAN IMAM.?" Sarkas mama.


Sejak saat itu aku tidak pernah lagi datang kerumah mama, bukan karena tidak menyayangi mama, tapi aku tidak sanggup mendengar mas Imam terus dihina oleh wanita yang telah melahirkan ku itu, aku sering menelfon mbok Rum secara diam-diam, menanyakan kabar mama.


***flashback off.


"Papa Rimbi kangen," ucap Arimbi, yang tidak lain adalah Bunda, wanita yang hebat.


Bunda menitikkan air mata kala menatap foto usang milik kakek.


Tbc


plis vote like n komen


tinggalkan jejak ya gengks

__ADS_1


__ADS_2