Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 07


__ADS_3

FIRST KISS


Happy reading gengks😊😊


@ Dinda POV


Dinda berlari menuju kelasnya untuk menghindari Imran yang sedang mengejarnya, disana dia disambut heboh oleh sahabatnya.


"Itiiiingg,,!!" pekik Vana.


Dinda yang merasa namanya disebut, sontak menoleh kearah dimana suara itu berasal.


"Nape lo, pagi-pagi udah teriak teriak,? kayak yang lagi dihutan aja."timpal Dinda sambil berjalan menuju tempat duduknya yang tepat berada disamping sahabatnya.


"Enak aja lo, emang lo pikir gue tarzan,?" sungut Vana, tak terima.


"Ya kali, pagi-pagi udah paduan suara, mana suara lo PALES."jawab Dinda, sambil terkekeh.


Vana hanya mendengus, mendengar sang sahabat mengejeknya.


"Emang ada apa sih.?" tanya Dinda penasaran.


"Aku dapat berita tadi pagi.?"Ucapnya kembali bersemangat.


"Berita apaan,?"tanyaku makin penasaran.


"Katanya, kak Dimas udah balik dari Yogya, dan besok udah mulai masuk sekolah lagi." ujarnya dengan senyum sumringah.


Kak Dimas, adalah senior kami disekolah, orangnya sangat tampan dan baik, dia juga merupakan salah satu murid yang sangat cerdas, saat ini kak Dimas sedang ikut pertandingan debat antar sekolah di Jogja, mewakili sekolah kami. Aku mengagumi kak Dimas sejak pertama kali masuk, wajahnya yang tampan dan sifatnya yang ramah, siapapun akan langsung menyukainya, termasuk aku sendiri dan Vana tau soal itu.


"Emang lo dapat info dari mana,?" tanyaku ragu-ragu.


"Tadi pas baru nyampe, aku g sengaja dengar Pak Andre dan kepala sekolah bicara,"


"Pak Andre bilang, klo kak Dimas, udah pulang minggu kemarin, dan besok dia udah masuk lagi," jawabnya lagi, meyakinkan.


Aku yang mendengar cerita Vana merasa bahagia, tanpa sadar aku tersenyum tipis, gelagat ku tak luput dari perhatian Vana, dan dia tersenyum smirk melihat wajahku yang merona.


"Ciieee, yang mau ketemu sama sang pujaan." goda Vana.


"Isshhh, apaan sih." jawabku malu.


"Alah , udah deh ngaku aja napa sih, aku tau kamu suka sama kak Dimas?" Vana kembali menggoda.


Aku,,? jangan ditanya lagi, saking meronanya aku langsung menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, mungkin saja wajahku sudah berubah seperti kepiting rebus, merah padam.


Dan tanpa kami sadari, sejak tadi Imran berada di balik pintu kelas sedang mendengarkan percakapan ku dan Vana, tangannya mengepal seolah sedang menahan emosi.


@ Imran POV

__ADS_1


Setelah tadi Dinda menginjak kaki ku dan pergi meninggalkan ku sendiri diparkiran, aku mengejarnya berharap akan memberinya pelajaran, beraninya dia mengerjaiku.


Sesampainya didepan kelas, tanpa sengaja aku mendengar Vana sedang menceritakan tentang Kak Dimas, dan yang membuatku terkejut ternyata Dinda menyukainya?


Entahlah ada apa dengan hatiku, saat aku melihat wajah Dinda yang merona karena Vana menggodanya tentang kak Dimas, aku merasa sedikit terusik, rasanya ada perasaan yang mengganjal hatiku, tiba-tiba aku merasa sesak didada, seandainya aku tidak bisa menjaga keseimbangan mungkin aku sudah terjatuh.


Keadaan ini membuat ku sedikit shock, apakah aku cemburu? tapi masa iya aku suka sama Dinda,? Dia kan hanya sahabat buatku, aah mungkin ini hanya perasaan tidak rela sebagai seorang sahabat, mungkin aku hanya merasa takut jika suatu saat nanti Dinda lebih mementingkan kekasihnya dari pada kami sahabatnya.


Iya itu pasti karena aku tidak rela, aku berusaha menepis semua pikiran ku, dan menganggap semua seperti biasa.


Aku melangkah memasuki kelas setelah memasang wajah datar, menganggap semua biasa saja, dan berusaha mengatasi kegelisahan yang sedang aku rasakan, agar Dinda dan Vana tidak menyadari apa yang tengah kurasakan.


"Eeh kenapa tuh muka,?" tegur Vana, "Udah kayak cucian lecek, yang abis disetrika,," lanjutnya lagi dengan nada mengejek.


Kulihat Dinda juga berbalik menatapku, sambil terkekeh.


"Ngga pa pa."jawabku datar.


"trus kenapa muka lo kayak tembok?, rata beneerr"


Aku mendengus mendengar ejekan Vana, tanpa berniat membalas.


Entahlah saat ini hatiku merasa tidak sedang baik baik saja, sejak tadi pagi saat aku menjemput Dinda dan dia mengatakan bahwa menyukai seseorang, apalagi tadi dia berbicara dengan Vana, dan gadis itu bilang klo Dinda suka sama kak Dimas, apa tadi pagi yang dimaksud Dinda adalah pria yang merupakan senior kami?" batinku


Hingga jam pelajaran usai dan masuk waktu istirahat, aku masih tidak fokus, tidak sedikit pun pelajaran yang masuk kedalam otakku. Aah kurasa sekarang otakku sedang buntu.


"Kantin yuk," ajak Dinda.


Kulihat Dinda, Vana, dan Wawan berjalan beriringan meninggalkan kelas, sedangkan aku masih belum bisa fokus.


"Eehh bing, lo kagak ikut,?" kudengar suara yang sedang mengusik hatiku itu berteriak, membuatku sadar dari lamunanku.


"haahh, iya iya," jawabku gugup.


Dinda merasa heran melihatku salah tingkah, kulihat dia kembali masuk kedalam dan menghampiriku.


"Lo kenapa,? sakit?" tanyanya khawatir.


"Ehh ng,,ng,,ngga kok, iya ngga pa pa, aku ngga pa pa," jawabku salah tingkah, membuat Dinda mengerutkan kening, mungkin dia heran dengan sikapku yang tak biasa.


"apa kamu marah sama aku,?"tanyanya lirih.


"marah kenapa,?"


"mungkin kamu masih marah karena tadi pagi aku nginjek kaki kamu,"ujarnya menyesal.


Aku terkejut mendengarnya meminta maaf, sungguh aku g ada maksud, aku kira dia sudah lupa kejadian tadi pagi.


Kuraih kedua lengannya, menggenggamnya erat, dan tersenyum lembut kearahnya.

__ADS_1


"ngga kok, maaf udah buat kamu merasa bersalah" ucapku.


Dinda mendongak menatapku, sekilas pandangan kami bertemu, suasana mendadak hening, kulihat senyum manis terbit dibibir nya yang mungil, aku merasa duniaku teralihkan memandang senyumnya yang manis, persis senyum Bunda, Aah sahabatku ini memang jelmaan Bunda yang cantik.


Suasana tiba-tiba terasa canggung, kulepaskan genggamanku di bahunya.


"Hmmm," aku berdehem menutupi rasa gugupku yang datang kembali.


"Ya udah yuk,"ajakku, aku tidak mau klo gadis manis ini menyadari kegugupan ku.


Sesampainya dikantin, kulihat Vana dan Wawan sudah duduk manis disudut ruangan, aku dan Dinda menghampiri mereka, dimeja sudah tersedia 4 porsi bakso dan 4 gelas es teh manis.


Itu memang makanan favorit kami, sejak dulu. Setiap kali kekantin kami pasti memesan menu yang sama, entahlah kenapa kami sangat menyukai makanan itu bahkan kompak memesannya.


Kemana pun kami selalu bersama, lebih tepatnya aku dan Dinda, bahkan tidak jarang para junior dan senior mengira bahwa kami sepasang kekasih, bahkan sekarang saja kami kekantin berdua sedangkan Vana dan Wawan sudah jalan duluan sajak tadi.


Dikantin, Dinda dan Vana sedang asik mengobrol berdua seolah hanya mereka yang duduk dimeja ini, Sedangkan Wawan terlihat acuh menyantap makanannya, aah sahabatku yang satu ini sangat doyan makan.


Dimas, itu yang menjadi topik pembicaraan Dinda dan Vana, jadi tidak bersemangat menyantap makananku, entahlah kenapa nama itu selalu mengusik fikiranku dan aku benci itu.


"Lo suka sama kak Dimas,?" Aku bertanya pada Dinda, karena sudah merasa kesal melihat wajahnya yang selalu merona saat menyebut nama pria itu. Dinda terdiam, keningnya berkerut, tak lama dia tersenyum tersipu dan mengangguk. Mendadak aku jadi tambah kesal, kubanting sendok yang sedari tadi kumainkan lalu berdiri dan meninggalkan mereka bertiga tanpa berkata apapun.


"Lo kenapa sih," Vana bertanya sebelum aku melangkah.


"ngga pa pa," jawabku dingin.


Aku berjalan menuju taman belakang sekolah tempatnya sepi dan juga tenang, jika fikiranku sedang kalut, aku pasti kesini menenangkan diri.


"Lo kenapa, Ran ?" tanya Dinda, ternyata dia menyusulku.


"ngga" jawabku malas.


"ngga pa pa, tapi kok jutek banget, kenapa sih?"


"aku bilang ngga pa pa yah ngga pa pa" jawabku sedikit membentak, Dinda terlonjak kaget kulihat matanya mulai berkaca-kaca.


"Maaf" ucapku menyesal.


Dinda meraih tanganku.


"kalo ada masalah cerita, aku sahabat kamu,"


Aku tidak tau apa yang terjadi denganku, aku merasa marah mengetahui Dinda menyukai kak Dimas, apa aku cemburu? batinku.


Kutatap matanya dengan tatapan yang begitu dalam, entah setan mana yang menghampiriku, kutarik tangan Dinda yang menggenggam tanganku, lalu kuraih wajahnya, dan kucium bibirnya, seketika matanya membulat mungkin dia terkejut dengan apa yang kulakukan.


**Tbc


plis vote like n komen yaa

__ADS_1


tinggalkan jejak**


__ADS_2