Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 32


__ADS_3

DANGDUT


Happy reading gengks😊😊


Maaf kalo masih banyak typo


"Thanks Uthy" seru Rio satelah Dinda berjalan beberapa langkah. Dan perkataan Rio barusan sontak membuat langkah Dinda yang belum jauh otomatis terhenti. Dinda berbalik menatap murid baru yang sedang tersenyum kearahnya.


"Gue kenal senyum itu,,!! Senyum kak Rio" gumamnya dalam hati.


"Kak Rio...!!"


Perlahan Dinda berjalan kearah pria yang membuatnya kesal sekaligus merasakan rindu, matanya berkaca-kaca memandang pria yang sedang tersenyum dihadapannya saat ini, sang murid baru yang tak lain adalah Rio orang yang melebihi sosok kakak baginya yang selalu menjaganya sejak kecil dan selalu memberinya kasih sayang layaknya seorang kakak laki-laki.


"Kak Rio,!!"


Sebuah pelukan hangat yang saat ini Dinda rasakan, tak terasa bulir kristal yang sejak tadi mengenang dipelupuk matanya mengalir, isakan kecil terdengar dari bibir mungil gadis itu.


"Kak Rio kemana aja, Uthy kangen" rengek Dinda disela isakannya.


Belaian lembut terasa dipucuk kepala gadis yang tengah terisak itu, perlahan Rio melepaskan dekapannya kegadis kecilnya, memberi sedikit jarak agar dapat memandang wajah gadis kecilnya.


"Iih ingus kamu tuh nempel dibaju kakak" ledeknya sambil menjawil hidung Dinda.


"Iish kak Rio, bukannya jawab malah ngeledekin" merasa kesal Dinda memukul pelan lengan Rio, bibirnya mengerucut. Wajahnya yang sedang merajuk sontak membuat Rio tergelak, merasa gemas dengan tingkah gadis kecilnya yang kini telah beranjak dewasa.


"Udah, ngga usah dimonyong monyongin tuh bibir, udah jelek kan tambah jelek" ledeknya lagi, sepertinya meledek Dinda adalah kesenangan tersendiri bagi Rio.


"Iish kak Rioo, nyebelin deh"


"Iya deh maaf, kekantin yuk laper nih"


"Tapi kak Rio belum cerita apa-apa sama aku"


"Nanti pulang sekolah aku anterin kamu pulang sekalian mampir, aku kangen ama Bunda sama Ayah" ucapnya "Nanti sekalian aku pengen dengerin cerita kamu juga ok" lanjutnya lagi.


"Ok, tapi janji yah, harus mampir loh" paksa Dinda.


"Iya janji, sekarang kita kekantin yuk, aku laper" ajaknya sambil merangkul Dinda dan menarik gadis itu berjalan menuju kearah kantin.


Mereka berjalan bersama kekantin, sesampainya Dinda menarik tangan Rio untuk ikut bergabung dengan sahabatnya yang lain yang lebih dulu duduk manis disudut ruangan kantin.


"Hai, sori yah lama"Tegur Dinda pada Vana dan yang lain.


Vana, Wawan, Imran dan Sekar mendongak saat mendengar suara Dinda menyapa, mereka terkejut saat melihat Dinda bersama Rio si murid baru yang sedang berdiri dibelakangnya sambil tersenyum.


"Hai "sapa Rio sambil melambaikan tangannya sebelah.


"Hai juga" ucap Vana kikuk.


Wawan tampak acuh, berbeda dengan Imran yang sedari tadi tak luput memandangi Dinda yang datang bersama Rio, apalagi melihat Dinda sedang menggandeng tangan murid baru itu. Sekali lagi Sekar melihat perubahan diraut wajah kekasihnya, gadis itu merasa heran dengan sikap Imran yang terasa asing belakangan ini.

__ADS_1


"Kita duduk disini aja ya kak, sama yang lain" ucap Dinda, Rio mengangguk mengiyakan.


"Oh ya kak, kenalin mereka sahabat aku." Tunjuk Dinda "Ini Vana, Wawan, Imran dan itu pacarnya Imran junior kelas sepuluh namanya Sekar." Tutur Dinda memperkenalkan satu persatu.


Rio tersenyum sambil mengulurkan tangan.


"Hai, aku Vana"


"Wawan" menjabat tangan Rio.


"Sekar" ucap Sekar.


"Imran" Ucap Imran dingin.


"Rio" Sambil menjabat tangan Imran. Saat ingin menarik kembali tangannya, Rio merasa Imran menjabatnya semakin keras tampak seringaian tipis disudut bibir pria itu yang hanya Rio dapat melihatnya. Rio mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan sambutan yang dia terima dari pria yang ada dihadapannya saat ini.


"Mbaak bakso tigaa" seru Dinda pada mbak suri sipenjaga kantin.


"Siap mbak" Jawab mbak Suri.


"Eeh buset tiga mangkok tuh buat lo Din?" tanya Vana kaget.


Dinda nyengir, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Buat gue dua buat Rio satu aja ngga usah banyak" jawabnya enteng.


"Lo laper banget emang?"


"Kamu ngomong apa hmm? mau morotin aku?" tanya Rio.


Dinda tersenyum kikuk sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.


"Yah kan Jarang-jarang kamu traktir aku, anggep aja pajak karena selama ini kamu ngilang ngga ada kabar"


"Eeh mana ada pajak begituan," protes Rio.


"Yah kalo ngga ada dibikin ada donk" kekeuh Dinda.


"Emang dasar nih bocah, yah udah nanti lain kali kamu yang traktir"


"Beres, tunggu aku punya toko roti sendiri"


"Yee itu sih sama aja" sewot Rio.


Interaksi kedua sahabat kecil itu mengusik sudut hati Imran, sesekali Rio menjawil manja hidung Dinda dan sesekali pria itu mengusap pucuk rambutnya dan membelainya sayang.


Perilaku Rio terhadap Dinda membuat Imran merasa kesal.


"Gue udah selesai, gue duluan" ucap Imran datar. Kemudian pria itu beranjak meninggalkan sahabatnya juga Sekar dikantin.


Sekar bingung melihat sikap Imran yang tidak seperti biasa, merasa heran karena makanan kekasihnua belum habis tapi malah pergi. Gadis itu ikut berdiri dan mengejar sang kekasih.

__ADS_1


"Maaf ya kak aku juga udahan," ucapnya sebelum ikutan beranjak mengejar kekasihnya.


Sedangkan Dinda dan sahabatnya yang lain serta Rio si murid baru, menatap heran keduanya yang tiba-tiba pergi saat sedang makan.


"Mereka kenapa?" tanya Rio.


Dinda tak tau apa yang sedang terjadi, gadis itu hanya mengendikkan bahu, sambil kembali mengunyah baksonya.


➿➿➿


"Kak, kak Imran" panggil Sekar.


Gadis itu terlihat kesusahan mengejar sang kekasih, langkahnya terlalu lebar membuat gadis itu kewalahan mengikutinya dari belakang.


Imran berhenti, kemudian pria itu menoleh melihat Sekar, kekasihnya yang sedang mengatur nafas akibat mengejar langkahnya tadi sejak meninggalkan kantin, rasa iba timbul didalam hati pria itu, sampai saat ini belum bisa menggantikan posisi Dinda dihatinya dengan Sekar kekasihnya yang sekarang padahal niatnya menjadikan Sekar sebagai kekasih untuk melupakan sang sahabat yang bertahta direlung hati, nampaknya tidak mudah dia lakukan.


"Maaf" Ucapnya menyesal.


Sekar tersenyum manis, gadis itu memang berhati baik, tidak salah Imran memilihnya, tapi entah mengapa hatinya terus menolak.


"Kakak kenapa? klo ada masalah cerita sama aku, mungkin aku bisa bantu." tutur gadis itu lembut.


Sikapnya yang lembut itu yang membuat Imran semakin merasa bersalah karena memanfaatkan kepolosannya. Bukan maksud Imran mempermainkan Sekar, tapi memang pria itu harus berjuang lebih keras untuk menghapus nama Dinda dihatinya.


"Aku ngga pa pa kok," kilahnya.


"Aku tau kak Imran lagi ada masalah, tapi aku ngga akan maksa kakak buat cerita kalo emang kakak ngga siap untuk berbagi"


"Makasih Kar, kamu emang terbaik" pujinya. "Maaf Sekar, bukannya aku ngga mau berbagi hanya saja aku belum siap jika kamu terluka" lanjutnya dalam hati.


"Yah udah kita balik aja, aku antar kamu balik kekelas ok" ajak Imran.


Sekar mengangguk, tangannya digenggam erat oleh sang kekasih, senyum terbit dibibirnya yang tipis. Bahagia adalah rasa yang saat ini Sekar rasakan, sungguh Imran adalah sosok orang yang sangat perhatian dan sangat lembut memperlakukannya.


Imran sendiri sudah merasa lebih baik, memandang wajah teduh Sekar membuat moodnya kembali menjadi labih baik.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Seperti janjinya tadi, Rio mengantarkan Dinda pulang sekalian mampir dirumah temu kangen sama Bunda, kebetulan Ayah belum pulang dari jualan jadi Rio hanya bertemu dengan Bunda.


Dirumah Dinda, Rio bercerita panjang lebar tentang kehidupannya selama ini Dinda juga menceritakan semua yang mereka lalui, kedua sahabat itu saling tertawa sesekali saling berkejaran, itulah persahabatan mereka.


"Uthy kamu masih suka dengerin lagu dangdut sambil joged-joged?"


Tbc


plis vote like n komen πŸ’


jangan lupa tinggalin jejak πŸ‘πŸ‘πŸ‘


detik-detik menuju konflik utama, tetap stay ya gengks

__ADS_1


See u all😘😘😘


__ADS_2