
DIMAS WIJAYA
Happy readingπππ
Typo bertebaran πππ**
πDinda POV
Dia menarikku meninggalkan sepasang kekasih itu, apa iya mereka memang kekasih,?aku membiarkan Imran menarikku, kulihat wajah kak Dimas berubah sendu, dan gadis disampingnya menatapku tajam, seolah aku sudah merebut kekasihnya.
Sampai diparkiran pria aneh itu tidak berkata apa-apa, dia hanya memberikanku helm dan menyuruhku segera naik ke motornya, wajahnya tampak sangat tidak bersahabat, sikapnya tiba-tiba berubah dingin.
"Ada apa dengan pria bodoh ini,"batinku.
Aku naik keatas kuda besi itu, dan dia pun memacu kendaraan nya meninggalkan parkiran toko, disepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara diantara kami, aku heran dengan sikapnya akhir - akhir ini, kadang dia menjadi bodoh kadang dia menjadi pria pemarah, terkadang dia juga menjadi orang yang sangat menyebalkan.
"Tadi lo kok bisa ada ditoko buku sih," tanyaku memulai percakapan.
"Nyari buku," jawabnya datar.
Aku membeo. Kulihat dia dari balik kaca spion, wajahnya tampak dingin, sebenarnya ada apa dengannya sih? aku membatin.
Setengah jam perjalanan, kami pun sampai dirumah tak ada apa yang bisa kukatakan perasaan ini sangat canggung.
"Makasih" ucapku.
"Hmm"
Dia hanya berdehem, kemudian kembali memacu meticnya kembali kerumahnya. Aku hanya bisa menghela nafas dengan sikapnya, kutatap nanar kepergiannya, sebenarnya ada apa dengannya, kenapa dia sangat aneh belakangan ini?
πKeesokan harinya Disekolah
Hari ini aku sengaja menunggu kedatangan Imran seperti biasa untuk menjemput ku, tapi sosok yang ku tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya, hingga jam menunjukkan pukul tujuh kurang 15 menit.
"Sial, gue telat gara - gara nunggu si kambing, malah dia g dateng."gerutuku dalam hati, terpaksa aku menumpang motor tetangga sebelah yang kebetulan satu sekolah denganku tapi hanya beda kelas, dari pada telat, pikirku.
"Untung ngga telat,"ucapku.
Saat berjalan menuju kekelas, aku tidak sengaja melihat seorang yang tidak asing, siapa gadis itu,? wajahnya tidak asing.!!" gumamku dalam hati.
Aku tidak melihat dengan jelas wajah gadis itu, karena dia membelakangiku, tapi aku sangat familiar dengan postur tubuhnya.
"apakah dia anak baru,?soalnya baru kali ini aku melihatnya,"tanyaku dalam hati.
Ah sudahlah, aku mengendikkan bahu, acuh.
Saat masuk kedalam kelas aku melihat si kambing sudah duduk manis sambil bercanda dengan yang lain, tiba-tiba aku merasa kesal.
Kutepuk lengannya, sontak dia pun terkejut.
"Lo disini,?"tanyaku.
Dia tidak menjawabku, hanya keningnya kulihat mengkerut.
"Sejak pagi gue nungguin lo jemput gue, tau nya udah disini lo nangkring kayak burung beo, untung ada si Della." ucapku lagi kesal.
"Siapa lo,? bukannya selama ini lo sendiri yang ngehindarin gue?" ucapnya ketus.
Gue yang tadinya kesel, jadi melongo tak percaya dengan apa yang kudengar, dia tiba-tiba ketus, tanpa sadar aku menganga, yang lain juga ikut terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba marah.
"Lo sendiri kan yang ngga mau lagi gue jemput." sarkasnya.
Lalu pria pemarah itu bangkit, dan pergi meninggalkan kami, sedangkan aku masih mematung menatap nanar kepergiannya.
__ADS_1
"Kenapa lagi sih dia,? dasar orang aneh." ucapku dalam hati.
Aku menghela nafas kasar, aah sudahlah.
πππ
Selama jam pelajaran Imran g kembali masuk ke kelas, sempat kudengar dia minta izin kepada pak Andre.
Aku paham betul tugas berat yang dipikul ketua Osis, apalagi menjelang ujian akhir semester. Sampai jam istirahat Imran tak juga menampakkan batang hidungnya, kemana pria bodoh itu?
@Dikantin
Tak sengaja mataku melihat pemandangan yang tak terduga, aku melihat kak Dimas sedang duduk sambil bersenda gurau dengan seorang gadis, tapi siapa gadis itu? tanyaku dalam hati.
"Apa mungkin dia gadis yang kemarin.?" ucapku lagi.
Kuberanikan diriku menghampiri kak Dimas, saat sampai dimejanya, sontak aku terkejut. Ternyata dia gadis yang kemarin, tapi sedang apa dia disini.?pikirku. Apa dia gadis yang tadi pagi kulihat?
"Kak Dimas,?" tegurku.
Kak Dimas seperti terkejut melihatku yang tiba-tiba ada dihadapannya, dia reflek melepas genggaman tangan gadis itu, membuatnya menampilkan wajah kesal dan hal itu tidak luput dari pengamatanku.
"Dinda?"
"Hai"
"Mm, kenalin dia Meyra,"ucapnya. "Mm Mey, kenalin dia Dinda," lanjutnya lagi memperkenalkan kami.
Aku mengulurkan tanganku ingin berjabat tangan dengannya, tapi dia diam saja seakan enggan membalas uluran tanganku. Kutarik kembali tanganku, sekilas kulihat Meyra menatapku sinis, tapi aku tidak memperdulikannya.
"Duduk Din," ucap kak Dimas mencairkan suasana yang mendadak panas.
Aku hanya mengangguk, keadaan jadi canggung seandainya aku bisa ingin rasanya aku menghilang saat ini juga.
"Kenapa g nungguin gue tadi?"tanya si bunglon.
Aku tidak menjawab, mendengarnya berucap dengan sangat lembut membuat aku melongo.
"Hey, Din? kok akhir akhir ini lo sering ngelamun sih?" tanyanya heran.
"Haahh, ahh iya kenapa?" jawabku tidak fokus.
"ck ck ck bener bener nih bocah," ujarnya gemas, sambil mencubit hidungku.
"Isshh apaan sih lo,? dasar bunglon" umpatku, kesal.
"Apa? bunglon?" Keningnya berkerut heran.
"Iya lo itu ibarat bunglon, kadang baik kadang lembut tiba-tiba berubah kayak singa, suka g jelas"
"lo,,!!"
"Apa, mau apa lo"
Imran hanya menghela nafas tanpa berniat membalas ucapanku, interaksi kami tak luput dari pengamatan kak Dimas, kulihat tatapannya berubah sendu.
πππ
Sepulang sekolah kulihat kak Dimas berdiri didepan pintu gerbang sendiri, kemana Meyra? bukannya mereka selalu bersama? batinku.
"Kak Dimas,?"sapaku.
"Din,"
__ADS_1
"ngapain disini,?"
"nungguin kamu."
"Hahh"
πππ
Taman belakang sekolah
"Kak Dimas mau ngomong apa?" tanyaku.
Yah, tadi aku diajak kak Dimas ke taman belakang, katanya ada yang pengen dia omongin, dan disinilah kami sekarang.
"Aku mau ngomong sesuatu." ucapnya memulai pembicaraan.
"Apa itu?" jawabku berusaha bersikap tenang walaupun aku sangat gugup.
"Sebenarnya,,,"
"Se,, sebenarnya kenapa kak?" tanyaku terbata, aah kenapa aku makin gugup.
"Sebenarnya, aku suka sama kamu Din,"
"Apaaa".
πππππ
Sore harinya aku janjian ketemuan dengan kak Dimas, rencananya malam ini kami mau nonton.
Flashback
"Sebenarnya, aku suka sama kamu Din," ucap kak Dimas.
"Apaaa?"
Aku terkejut dengan pernyataan kak Dimas, apa sekarang dia sedang mengutarakan perasaannya?
"Kak Dimas serius?" tanyaku ragu-ragu.
Kulihat pria itu mengangguk mantap.
"Iya aku serius Din, aku suka sama kamu."jawabnya dengan senyum yang menawan.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, seharusnya aku bahagia bukan? bukankah ini yang aku tunggu?
"A,, aku juga su,,su,,suka sa,, sama kak Dimas." jawabku terbata.
Aku tidak tau bagaimana wajahku sekarang karena menahan malu, aku terus menunduk berharap kak Dimas tidak melihat wajahku yang merah seperti tomat masak.
Flashback off
Dimas Wijaya Anggara, sekarang kami resmi menjadi sepasang kekasih, aku bahagia ternyata rasa yang tersimpan untuk kak Dimas terbalas, aku tidak tau kalau pria itu juga menyimpan rasa yang sama.
Membayangkannya saja aku sudah merasa sangat bahagia. Tak kusangka seorang Dimas yang selama ini hanya bisa kukagumi dalam diam, sekarang benar-benar menjadi sosok yang mengisi hatiku.
Tapi disisi lain, aku merasa masih ada kekosongan dihatiku, entahlah apa itu hanya saja ada perasaan yang mengganjal disudut hatiku yang terdalam.
**Tbc
plis vote like n komen yaaa
mohon tinggalkan jejak gengks
__ADS_1
See u allπππ**