
SAHABAT RASA KELUARGA
*Dinda POV
Pagi yang sibuk seperti biasanya, seperti hari-hari sebelumnya sehabis menunaikan ibadah subuhku, aku harus membantu Bunda untuk mengemas roti yang baru saja matang.
Aku masuk kedapur, berjalan menuju kearah meja dimana Bunda yang sedang mengatur roti diatas nampan.
"Ada yang belum dikemas Bun,?" tanyaku pada Bunda.
" Ada sayang ada,,"jawab Bunda sambil terkekeh kecil.
Aku ikut terkekeh mendengar jawaban Bunda. " Duh Bunda, pagi-pagi udah sayang sayang," ucapku.
" Ayah mana Bun,?" tanyaku kembali karena tak melihat sosok yang menjadi cinta pertama ku ikutan mengemas roti.
" Ada tuh," jawab Bunda "biasa, lagi ngecek si gemoy" lanjutnya lagi.
aku membulatkan bibir membentuk huruf O tanpa bersuara mendengar jawaban Bunda.
^Si gemoy adalah sepeda kesayangan ku.
Dari arah depan, kulihat ayah berjalan menuju kami yang sedang asik mengemas roti.
Cup
satu kecupan mendarat di pipi Bunda.
" Ada apa sayang, kangen yah," kata ayah
" Aduh mataku ternoda," ucapku saat melihat ayah datang dan langsung mencium pipi Bunda,
reflek aku menutup kedua mataku dengan punggung tangan. Sedangkan si pelaku yang tak lain adalah ayahku sendiri, hanya nyengir merasa tak berdosa, membuat Bunda gemas dan mencubit lengan Ayah.
"Aduh,,duh,,duh,!" suara ayah memekik, karena capitan Bunda.
" Makanya, klo didepan anak gadis tuh bibir di kondisikan." sungut Bunda kesal.
" Iya deh, maaf," jawabnya lirih sambil mengusap tangannya yang tadi dicubit oleh Bunda.
Aku tersenyum, melihat keromantisan Ayah dan Bunda. Aku bahagia walaupun kami hidup dalam kekurangan, tapi kami saling menyayangi.
"Bunda jangan marah donk, Ayah tuh romantis tau," ucap ku sambil melirik ayah, sedangkan ayah yang aku sanjung, tersenyum dengan jumawa. "Itu artinya Ayah sayaaang banget sama Bunda." lanjutku lagi.
Bunda tersenyum dan membelai pipi ku, " Duh anak Bunda, udah ngerti ya romantis - romantis,"
aku ikut tersenyum.
Jam menunjukkan pukul enam lewat lima menit saat roti selesai dikemas semuanya.
" Akhirnya selesai," ucapku sambil mengunyah serpihan remah roti yang tersisa diatas nampan.
Bunda tersenyum. Ahh Bunda senyuman nya menyejukkan hati, maniiss sekali.
" Ya udah, sekarang kamu siap siap," kata Bunda mengingatkan, " Sebentar lagi Imran datang." lanjut nya sambil memasukkan roti yang sudah dikemas kedalam kardus.
" Baik Bun,"
Aku beranjak dari meja dapur, menuju kekamar bersiap untuk kesekolah, biasanya sebelum kesekolah Imran selalu mampir kerumah,,
Pukul setengah tujuh pagi, aku sudah siap dengan seragam dan tas sekolah ku. Aku mencari keberadaan Bunda untuk berpamitan, sosok wanita paruh baya yang selama ini menjadi malaikat tak bersayap untukku itu berada di depan rumah sedang membantu Ayah menaikkan kardus roti keatas sepeda.
__ADS_1
Yah, memang Ayah berjualan roti hanya menggunakan sepeda.
Aku meraih tangan Bunda lalu kucium.
" Bun, Yah, aku pamit yah,," seru ku
" Hm mm, hati-hati sayang" jawab Bunda.
Tak lupa aku juga mencium tangan Ayah.
" Imran belum dateng."tanya Ayah
" Mungkin masih dijalan, Yah." jawab ku.
Piipp,, Piip,,bunyi klakson motor metic yang sedang parkir didepan pagar.
" Tuh, yang di omongin nongol," Kataku, saat melihat Imran sudah nangkring didepan rumah. Ayah tersenyum, melihat Imran.
" Eh, nak Imran." sapa Ayah. " nggak masuk nak,?" lanjutnya lagi.
" Iya Yah, makasih. Lain waktu deh, udah telat soalnya." jawab Imran menampilkan senyum tipis.
Aahh senyum itu, manis sekali. Tanpa sadar aku ikut tersenyum.
" Cepatan ting, dah telat nih" serunya sambil menyodorkan helm.
" Iya iya bawel," jawabku ketus.
aku memberengut kesal. seketika, senyumku hilang karena mendengar nya menggerutu.
"Tumben, bawa motor Abah? Si harley kemana,?" tanyaku, saat melihat Imran mengendarai sepeda motor matic milik Pak Lurah alias Abah.
Aku memang sudah terbiasa memanggil pak Lurah dengan sebutan Abah, karena kami sudah lama bersahabat, Imran sudah dianggap anak oleh Ayah dan Bunda begitu juga teman yang lain. Ivana, Dan Wawan. Dan sebaliknya, Abah juga sudah menganggap kami seperti anak-anaknya.
Aku berbalik dan melambai pada Ayah dan Bunda.
" Daah Ayah, Bunda. Aku berangkat ya,," Seruku pada Ayah dan Bunda.
" Iya sayang hati - hati ya." Jawab Ayah. " Imran, jaga anak gadis, Ayah. Jangan sampe lecek." serunya lagi, sambil terkekeh.
" Diih, Ayah pikir Dinda cucian apa, lecek,,!" jawabku kesal.
" Ayah g usah khawatir, nanti klo lecek biar Imran yang setrika." Imran ikutan mengejek.
Jawaban Imran membuat ku gemas, aku menepuk tangannya. "Sialan, lo. Mana ada cucian lecek, cantik kayak gue." jawab ku cemberut.
" Tuh bibir g usah di monyong monyongin gitu napa,?" ucap Imran yang melihatku cemberut.
" Biar gak di monyongin juga, emang udah monyong dari pabriknya."Lanjutnya lagi sambil terkekeh.
Karena kesal, aku reflek mencubit pinggangnya.
" Aduh, duh, duh, duh, iyya, iyya, sorri, sorri." Katanya meminta maaf.
" Canda doank, ting. Elah si nyonya menir colekannya pedes amat, kayak nasi goreng nya mang jupri." lanjutnya lagi.
Mang jupri, langganan nasi goreng di ujung gang.
" Assalamualaikum." Teriak ku dan Imran bersamaan.
"Waalaikumsalam." Jawab Ayah dan Bunda kompak.
__ADS_1
" Yah udah Bun, Ayah juga berangkat yah." pamit ayah pada Bunda.
Bunda meraih tangan Ayah untuk dicium, " Iya Yah, udah gak ada yang ketinggalan kan.?" tanya nya kemudian.
" Mmm, kayaknya udah ga ada deh." Jawab Ayah, sambil mencium kening Bunda, " Jangan lupa Bun, doain Ayah yah." Lanjutnya lagi sambil tersenyum. Ah senyum Ayah manis sekali, ππ
" Pasti Yah, Ayah selalu berada dalam Doa Bunda" kata Bunda.
Setelah Ayah berangkat, dan sudah tak terlihat lagi, Bunda pun beranjak meninggalkan teras, dan kembali masuk kedalam rumah melanjutkan aktifitas nya yang lain.
***
Dalam perjalanan menuju sekolah.
" Lo jadi ikutan lomba debat bareng Vana,? Tanya Imran.
" Jadi," jawabku singkat.
" Ting, lo udah buat daftar nama anak - anak yang mau ikutan pertandingan disekolah XX.?" Tanya Imran.
" Udah, ada didalam tas gue." jawabku. " Ntar aku serahin ke Bu Risma," lanjutku lagi.
Setelah percakapan itu, suasana jadi hening.
" Ting,?" Seru Imran.
" Hmm,," aku hanya berdehem menjawab panggilannya, dengan malas.
" Lo molor,,?" tanyanya lagi, karena merasa aku yang tak acuh.
" Nggak, " jawabku malas.
" Terus,,? " Pria itu kembali bertanya.
Karena merasa bingung, Dinda balik bertanya. " Terus.? "
" Iya maksud gue lo kenapa pea, Dari tadi diem aja ?" tanya Imran merasa gemas, karena sahabatnya yang satu ini mendadak jadi TELMI.
" Sebenernya gue merasa bingung. " jawabku.
" Bingung? " Terlihat Imran mengerutkan kening.
" Bingung kenapa? " Tanyanya penasaran.
" Sebenernyaaa..!!" Dinda menggantungkan kalimatnya.
" Sebenernya ? " Imran mulai serius menunggu jawaban yang akan dikatakan Dinda.
" Sebenernyaaa, gue suka sama seseorang.! " ucap Dinda lirih, memulai percakapan.
" Haahh, serius lo ? " Imran cukup terkejut mendengar pengakuan Dinda.
Tbc
*plis vote like n komen
mohon tinggalkan jejak, klo mau kritik boleh tapi jangan pedes ya,,kayak nasi gorengnya mang jupri.
kritik disertai saran donk biar makin semangat.
mf klo ceritanya receh,,soalnya masih pemula.
__ADS_1
*See U Allππ***