
AKU PERCAYA SAMA KAMU
Happy reading gengks
Maaf jika masih banyak Typo.
ππΈππΈπ
"Benar ini rumah saudari Adinda Saputri?"
"Iya Pak, kebetulan saya sendiri" jawab Dinda.
Awalnya mengira bahwa kedua pria itu mencari suaminya, ternyata justru menyebut namanya, Dinda kembali bingung.
"Bisa ikut kami ke kantor Nyonya?" tanya salah satu pria yang bertubuh lebih besar. Dari nametagnya tertulis jelas EKO PERWIRA.
" Tapi ada apa yah pak, kok saya harus ikut?" Dinda semakin dibuat bingung oleh para polisi yang menyambangi kediamannya.
Terdengar suara langkah kaki datang dari arah belakang Dinda, "Ada apa yank, siapa yang datang pagi-pagi?" suara Imran yang menyapa indera pendengarannya sontak membuat Dinda menoleh kearah sang suami dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Ngga tau mas, aku bingung" jawab Dinda, kedua netranya menatap kearah Imran yang sedang berjalan kearahnya.
Imran menautkan kedua alisnya, kala melihat perubahan ekspresi sang istri. Imran kemudian berjalan semakin dekat ketempat Dinda, guna memastikan semua baik-baik saja.
Sesampainya dipintu depan, Imran dibuat terkejut dengan kehadiran dua orang pria berseragam aparatur negara, Eko Perwira dan Ridwan Hasyim, tertulis di nametag masing-masing. Imran tau betul siapa mereka, mengingat profesinya yang seorang advokat kasus kriminal, tak sulit mengenali siapa yang sedang istrinya ajak bicara, namun yang membuatnya heran, apa tujuan keduanya datang menyambangi kediamannya.
"Maaf Pak, ada apa yah?" tanya Imran heran.
Dinda bersembunyi dibalik lengan suaminya, semenjak namanya disebut oleh salah satu pria itu, tubuhnya menjadi lemas, seakan kedua lututnya tak lagi mampu menopang bobot tubuhnya.
__ADS_1
Imran yang melihat Dinda merangkul tangannya
dengan keras, semakin dibuat heran.
"Bukankah anda Imran Hanan. S.H?" tanya salah satu polisi itu yang bernama Ridwan.
"Iya Pak, saya Imran, kalo boleh tau, apa maksud dan tujuan bapak-bapak kerumah saya, pagi-pagi begini?" Tanya Imran to the point.
"Kami mendapat laporan bahwa saudari Adinda Saputri terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan, untuk lebih jelasnya, kami meminta kerja sama pak Imran dan Ibu agar mengijinkan kami membawa yang bersangkutan kekantor untuk memberi beberapa kesaksian" tutur pak Eko, salah satu polisi yang berdiri tepat dihadapan Imran.
"Itu ngga mungkin pak, istri saya ngga mungkin melakukan itu" jawab Imran tak Terima.
"Mohon maaf sekali lagi pak Imran, tolong jangan mempersulit tugas kami, bapak sebagai seorang pengacara terkenal, pasti tau benar bagaimana prosedurnya, jadi kami mohon kerja samanya" ucap Pak Ridwan.
"Kami hanya meminta Saudari Dinda untuk memberikan keterangan" Ujar Ridwan.
"Maaf Pak, kami hanya menjalankan tugas, sekali lagi kami memohon kerjasamanya, jangan sampai kami membawa saudari Dinda dengan paksaan" ucap Pak Eko dengan suara lantang, nampaknya pria itu sudah mulai kehilangan kesabaran.
Namun Imran tak gentar mendapatkan peringatan dari Pak Eko, dirinya bersikukuh mempertahankan Dinda agar kedua polisi itu tak membawanya.
"Maaf Pak, saya sebagai suaminya sekaligus pengacara istri saya, tidak membicarakan siapapun membawanya tanpa persetujuan saya, istri saya tidak bersalah dan tidak ada bukti yang menunjukkan dirinya bersalah" bela Imran.
"Seperti yang kami katakan sejak awal Pak, kami hanya menjalankan tugas, untuk lebih jelasnya silahkan anda ikut kekantor, dan sampaikan semua disana" Polisi yang bernama Pak Eko segera mengeluarkan sebuah amplop dari balik sakunya, dan segera menyerahkannya kepada Imran.
Imran meraih amplop tersebut, dia sudah tahu apa isinya, tidak lain adalah surat penangkapan atas nama Adinda Saputri. Imran menghirup nafasnya dalam kemudian menghembuskannya secara kasar.
"Brengsek kau Soraya" Umpatnya dalam hati.
Imran menyerahkan kembali amplop tersebut, "Maafkan saya Pak, bukan maksud saya mempersulit pekerjaan bapak" ucapannya terjadi, Imran kembali menghela nafasnya pelan, "tapi saya mohon Pak, beri saya waktu, biar saya yang membujuk istri saya, saya akan membawanya kekantor polisi, percaya sama saya Pak" ucap Imran.
__ADS_1
Dirinya sudah tak tahu lagi harus bagaimana membujuk kedua aparat yang berada dihadapannya agar tak membawa istrinya, kepalanya menunduk seraya memohon agar kedua polisi tersebut mau menuruti permohonannya, hanya dengan cara begini dia bisa membantu sang istri, pikirnya.
Kedua polisi tersebut saling memandang, tak lama salah satunya berucap, "Baiklah Pak Imran, kami mengenal anda dengan baik, kami memohon kerjasama anda untuk membawa istri anda kekantor guna dimintai keterangan, kalau begitu kami permisi, selamat pagi" setelah mengatakan hal itu, kedua aparat itu pun pergi meninggalkan rumah Imran, hingga keduanya menghilang dari penglihatan, baru Imran masuk dan segera menutup pintu rumahnya.
Dinda yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, ternyata sedang bersembunyi dibalik pintu, selama Imran berbicara dengan kedua polisi tersebut, dirinya beringsut mundur kebelakang pintu.
Dinda menutup kedua netranya, sejak salah satu aparat negara tadi menyuruhnya ikut kekantor polisi, dirinya kembali teringat peristiwa pada hari dimana dirinya disekap seminggu yang lalu, bayang -bayang menakutkan yang sudah sempat dia lupakan kini kembali menghantui pikirannya.
Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya, kejadian demi kejadian terekam jelas dibenaknya, mulai dari saat dirinya sebelum pingsan dan sampai terbangun dari pingsannya hingga mendapati dirinya di sebuah ruangan yang entah dimana itu, semua terputar jelas di ingatannya bagaikan sebuah kaset film yang sedang diputar, begitulah dirinya melihat tiap kejadian yang dia alami hari itu.
Rasa takut berkecamuk didalam dirinya, bahkan saat kedua polisi tadi pergi meninggalkan rumahnya, Dinda seakan tak menyadarinya, dirinya seperti sedang berada di alam yang berbeda.
Hingga suara yang sangat dia kenali seolah menariknya kembali ke dunia nyata.
"Din, Dinda, sayang kamu kenapa?" tanya Imran khawatir. Melihat istrinya yang sudah bermandi keringat dingin, sontak membuat dirinya diserang rasa panik, Imran mencoba mengguncang tubuh Dinda agar segera membuka matanya.
πΌβπΌβπΌ
"Mas, kamu harus percaya sama aku"
"Iyah sayang, aku percaya sama kamu"
πππππ
Tbc
Nah loh,,, kenapa tuh Dinda???
Jangan lupa like, vote, or comment gengks
__ADS_1