
IKATAN DENGAN MANTAN
Happy reading gengks
Typo masih banyak
Pukul Enam sore lewat tiga puluh menit, Sekar baru terbangun, di liriknya suaminya yang sedang terlelap disebelahnya sambil mendekap erat dirinya, keduanya masih polos akibat kelelahan bertempur sore tadi, belum sempat membersihkan diri, keduanya tertidur saling berpelukan.
Sekar tersenyum saat teringat aktivitas panasnya tadi sore, setelah menunggu sekian purnama berganti, Akhirnya hari ini dirinya menjadi istri yang sesungguhnya.
Sekar bangkit dari tempat tidur, inti tubuhnya terasa sangat perih, maklum jarang dimasukin sang suami, sudah dapat dipastikan milik Sekar masih sangat sempit, apalagi mengingat ukuran yang dimiliki Imran,
πaahhh udahlah ngga usah dibayangin Miss jadi ngga konsenππππ.
Sekar merona membayangkan alat tempur milik Imran yang baru menyapanya dua kali selama pernikahannya yang sudah empat tahun, wajahnya memerah mirip sekali seperti tomat matangπ π π
πkan udah dibilangin, ngga usah bayangin alat tempurx Imran bege, Miss jadi ngga konsen.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Sekar menghampiri suaminya, ditatap nya wajah teduh milik Imran.
"Maafin aku mas, kamu jadi terpisah dengan cinta kamu, aku tau betul kamu tersiksa tapi kamu berusaha menutupi semuanya demi melihat aku bahagia dan tidak tersakiti, Terima kasih mas, terimakasih banyak atas semua kebahagiaan yang kamu berikan, aku janji akan menggantikan semua rasa sakit yang kamu rasakan saat takdir terus mempermainkan hati kamu, dengan kebahagiaan yang tak pernah kamu sangka sebelumnya." batin Sekar.
Sekar membelai sayang rambut suaminya, pergerakan itu membuat Imran terjaga.
"Sekar" panggil Imran dengan suara khas bangun tidur.
Sekar tersenyum.
"Bangun mas, katanya kita mau berangkat BABYMOON le Bali?" tanya Sekar lembut.
"Jam berapa sayang"
"Udah hampir jam Tujuh malam mas, emang kita berangkat jam berapa?"
"Di tiket yang mas pesan, jam sembilan lewat empat puluh lima,"
"Ya udah, mas bersih-bersih dulu biar aku siapin keperluan kita, sekalian menyiapkan makan malam sebelum kita berangkat, biar nanti sampe disana kita ngga usah singgah dan bisa langsung istirahat." terang Sekar.
"Iya sayang, mas bersih-bersih dulu ya"
"Iya, aku akan siapin baju mas, abis itu aku tunggu mas dibawah yaa"
Imran mengangguk, kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Sekar membereskan barang-barang yang akan mereka bawa, setelah itu mempersiapkan pakaian yang akan Suaminya pakai.
__ADS_1
Setelah menyiapkan semua, Sekar keluar dengan menggeret dua buah koper yang akan mereka bawa ke Bali.
πππ
Pukul tujuh malam Dinda baru sampai dirumah, setelah tadi menenangkan diri dipantai karena harus kembali bertemu dengan ayah kedua balitanya membuat luka yang sudah sedikit mengering kembali tergores akibat kelakuan sang mantan yang tidak pernah Ibu dua anak itu bayangkan.
Hidupnya sudah cukup sulit, dia tidak ingin Sekar ikut terluka seperti dirinya, apalagi saat ini Sekar sedang mengandung, jika ada yang harus tersakiti cukup dirinya saja, Sejak awal dirinyalah yang membuat Sekar ikut masuk kedalam kehidupan sahabatnya, seandainya dulu dia tidak ngotot menjodohkan Sekar dan Imran sudah dapat dipastikan Sekar tidak akan tersakiti.
Cukup sudah, biar seperti ini saja, hidup bertiga bersama balita kembarnya sudah cukup membuatnya bahagia walaupun tanpa ayah si buah hati mendampingi.
Langkahnya yang gontai saat memasuki rumah dihentikan oleh suara yang tak asing menyapa indera pendengarannya.
"Huh Bunda kebiacaan, tuka pulang malem-malem." omel Al, dengan suara cadelnya, si sulung yang sedang berdiri didepan pintu sambil bertolak pinggang seperti orang dewasa.
"Iya nih Bunda, ck ck ck" El si bontot ikutan ngomel sambil bertolak pinggang juga. Benar-benar persis Ayahnya jika sudah mengomel.
"Astagaaa, Bunda kok malah diem melongo,? emang abang lagi baca dongeng,?" Kembali suara Abang Al, melengking sambil menepuk jidatnya karena gemas melihat Bunda nya masih diam terpaku.
Seketika tawa Dinda meledak, "astagaaa" satu kata keramat milik Imran saat sahabatnya sekaligus ayah dari D' Twins benar-benar sedang merasa kesal dengan dirinya, kedua anak ini sungguh menuruni sifat Imran yang tukang ngomel.
Dinda berjalan mendekati kedua balitanya yang sebentar lagi genap berusia empat tahun itu, sambil masih sedikit terkekeh di peluknya sang buah hati dengan penuh rasa sayang, matanya berkaca-kaca entah bagaimana dia menggambarkan perasaannya saat ini, sedih, marah, kecewa, tapi ada rasa bahagia.
"Ihk Bunda bau, belom mandi" El yang memiliki sifat pembersih seperti almarhum sang nenek, menolak untuk dipeluk oleh Bunda nya.
"Maaf deh" ucap Dinda memelas sambil menjewer telinganya sendiri.
"Kok No" Tanya Dinda heran.
"Bunda celing minta maaf, tapi macih cuka ulangi" kini El sang adek yang jawab.
Dinda nampak berfikir, cara apalagi yang harus dia lakukan untuk membujuk D'Twins.
"Hmm trus Abang sama adek maunya gimana?"
"Bunda mandi dulu deh, bila ngga bau, nanti Abang kaci tau " jawab Abang Al.
"Ya udah Bunda mandi dulu, habis itu kita makan ok,"
"Ok Bunda" jawab Twins kompak sambil mengacungkan dua jempol kecilnya.
β¨β¨β¨
Imran dan Sekar tiba di Bali sudah tengah malam waktu setempat, mengingat istrinya sedang hamil, segera Imran mencari hotel terdekat dengan Bandara.
__ADS_1
Salahnya juga sih, istri hamil dibawa-bawa tengah malam. Sesampainya dihotel Imran segera menyuruh Sekar bersih -bersih kemudian istirahat sedangkan dia akan mengevek beberapa email kasus yang sedang dia tangani yang tadi sempat dikirimkan oleh kliennya.
Rencananya, Imran akan berada di Bali selama seminggu karena dua minggu lagi dirinya akan menghadapi sidang dengan kasus tabrak lari.
Sebelumnya Imran sudah menghubungi kliennya bahwa akan bepergian selama beberapa hari, jadi jika ada yang ingin disampaikan bisa langsung mengirim pesan saja ke emailnya.
Setelah pekerjaannya selesai, Imran membersihkan dirinya dan menyusul sang istri yang sudah terlebih dulu memasuki alam mimpinya.
Keesokan harinya Imran mengajak Sekar berkeliling pantai, tapi sebelumx Imran mencari hotel yang letaknya dekat dengan pantai. Karena semalam tak sempat mencari hotel dekat dengan pantai hanya yang dekat dengan Bandara mengingat mereka tiba tengah amalm ditambah keadaan sang istri yang tengah hamil muda, tidak memungkinkan mencari hotel yang lebih jauh.
Berjalan bersama Sekar disepanjang bibir pantai, menggenggam erat jemari istrinya, Imran berusaha sebaik mungkin menjadi suami yang diharapkan Sekar.
"Aku jadi inget kak Dinda, lagi apa ya dia sekarang?" Tiba-tiba Sekar melontarkan pertanyaan yang membuatnya mengingat masa lalunya.
Dinda, wanita itu sangat menyukai pantai, lagi dan lagi Imran kembali mengingat kenangannya dipantai saat mencium Dinda.
Aah kenapa sangat sulit melupakan wanita itu.
Imran diam saja, tak ada niat menjawab pertanyaan istrinya.
"Kalo ngga salah kak Din-" ucapannya buru-buru dipotong oleh suaminya.
"Cukup Sekar, tolong jangan bahas Dinda saat ini, mas ingin kita tidak membahasnya sekarang, disini hanya ada kita, kamu, aku dan anak kita" sergah Imran.
"Maaf mas" cicit Sekar menyesal.
"Jangan minta maaf, kamu ngga salah, mas hanya ingin kita bisa menghabiskan waktu dan mengukir kenangan disini, lupain yang lain." ucap Imran sambil menarik istrinya kedalam dekapannya.
Sungguh saat ini seandainya bisa Imran ingin melepaskan semuanya, melupakan segala hal tentang Dinda tapi entah mengapa semakin pria itu berusaha semakin membuatnya merasa terikat dengan gadis keritingnya, seolah ada sesuatu yang membuatnya menolak melupakan sang mantan.
Ada sesuatu yang mengikatnya dengan sang mantan, entah itu kenangan manis, ataukah kenangan dimalam panas mereka dan meninggalkan suatu kesan yang memiliki makna sangat dalam.
Hanya Othor yang tau
heheheh
Tbc
plis vote like n komen gengksπππ
jangan lupakan jejakπ£π£π£
Kira-kira apa sih yang membuat Imran terikat dengan Dinda??? hanya Othor yang tau dan readers yang bisa menebak.
__ADS_1
selamat berfikir, jangan emosi yaa ini hanya bentuk kehaluan dari Othor.
See u allπππ