Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 51


__ADS_3

KISAH DIBALIK KUE DAN ROTI


Happy reading gengks


typo banyak,,,


Sayang,,,rasa itu yang ada di hatinya saat ini. Ada apa dengan dirinya? kenapa mendadak ada rasa sayang ketika melihat mata bocah itu yang sedang berkaca-kaca meratapi es krim yang yang tumpah?


"Abaangg" terdengar sebuah teriakan dari arah belakang bocah tadi. Sepasang kaki kecil sedang berlari menuju dimana sang kakak berada, Si abang yang dipanggil segera menoleh kearah adiknya, wajahnya tampak muram.


Sekar dan Imran terkejut melihat seorang gadis kecil berlari kearah mereka, keduanya langsung berdiri sambil menatap gadis kecil tersebut.


"Siapa gadis kecil itu? apa adik anak ini?tapi jika dilihat usia mereka hampir sama? apa mereka kembar? tapi kok wajahnya,,,?" Sekar tersentak menatap heran kearah kedua bocah itu.


"Abang kenapa?" tanya gadis kecil itu.


"Ai klim abang jatoh dek" tutur bocah laki-laki itu.


"Kok bica bang"


Si abang tidak menjawab, bocah itu hanya menggeleng pelan, wajahnya tertekuk sedih.


"Tadi om ngga sengaja nabrak, tapi om akan beliin yang baru buat permintaan maaf om, gimana?" tawar Imran lagi, pria itu kembali mensejajarkan tingginya dengan kedua bocah di hadapannya.


"Jadi om yang nalbak abang?" suara si gadis kecil galak, tatapannya mengintimidasi, persis banget dengan tatapan Dinda yang tajam.


"aah apa yang kupikirkan, bisanya aku memikirkan Dinda?" ucap Imran dalam hati.


"Maaf, om ngga sengaja tapi om bakalan ganti kok" mohon Imran sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada seolah sedang memohon ampun.


"Ngga udah, Bunda ngga boleh Terima cecuatu dari olang ngga kenal"


"Ngga pa pa, kan om mau tanggung jawab" kekeh Imran.


Sekar tak berkata apapun, dirinya sibuk memperhatikan lekukan wajah kedua bocah itu, si bocah laki-laki sangat mirip dengan Dinda, dan yang perempuan persis dengan suaminya, apakah kedua bocah itu anak mereka?? apakah Imran tidak menyadarinya??


"Maap om, Bunda ngga ngebolehin, om ngga kenal deh" ucap si adek kesal.


"Kalo gitu kita kenalan aja gimana? nama om Imran, nama kalian siapa?" tanyanya, sepertinya Imran sangat menyukai kedua bocah itu, rasanya sangat penasaran ingin mengetahui siapa mereka.


"Ish om, nakal cuka makca - makca, udah bang kita pulang aja," bocah itu kemudian berlalu meninggalkan Imran yang masih bengong karena habis diomeli anak kecil.


"Aku jadi inget kak Dinda" celetuk Sekar tiba-tiba.

__ADS_1


Imran terkejut mendengar perkataan Sekar, dahinya mengernyit merasa heran dengan ucapan sang istri. Imran menoleh menatap kedua manik Sekar, seolah berkata maksud kamu??


"Ngga usah gitu mas liatinnya, itu cuma pendapat aku aja, sifat anak perempuan tadi galak kayak kak Dinda, tapi penyayang sama saudaranya" terang Sekar.


Imran membenarkan ucapan Sekar, bahkan sejak awal melihat kedua anak tadi ada perasaan aneh yang dia rasakan, tidak mungkin kan mereka anaknya dengan Dinda???


"Heehh ngaco pikiran kamu Ran, saking terobsesi nya kamu sama Dinda bahkan kamu berfikir anak orang sbagai anak kamu dengan dia? jangan mimpi kamu, anak kamu didalam perut istri kamu jadi fokus itu aja ngga usah macem-macem" Imran perang batin.


"Ya udah yuk mending kita balik, udah mau malam, besok kita berangkat sore jadi masih sempat ke mall beli cenderamata" ajak Imran.


Akhirnya keduanya meninggalkan pantai, dengan rasa penasaran yang masih ada dibenak Imran, siapa kedua bocah tadi? kenapa saat aku menyentuhnya aku jadi sayang sama mereka? batin Imran.


πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“


"Bundaaa" suara Twins melengking saat memasuki villa tempat mereka menginap.


Saat ini memang Dinda sedang berada di Bali bersama Twins, karena mantan teman kuliahnya dulu akan mengadakan pernikahan, jadi Dinda diundang secara khusus untuk membuat cake pernikahan yang paling Istimewa sekaligus sebagai hadiah pernikahan.


Dinda terkenal sebagai pemilik toko kue yang paling direkomendasikan, buatannya sudah tidak dapat diragukan lagi rasanya, bakat membuat kue dan roti diturunkan oleh almarhum kedua orang tuanya.


πŸ„Flashback on


Dinda ingat saat masih kecil dan sang ayah belum memiliki pekerjaan yang tetap, saat itu Dinda ingin sekali membeli kue yang dipajang di etalase sebuah toko kue paling enak dulu, tapi karena kesulitan ekonomi Dinda kecil hanya bisa menatap dari luar toko tersebut.


Ayah ingat masih memiliki ponsel jadul yang jika dijual harganya tidak seberapa, tapi lumayan lah bisa membelikan putrinya kue yang sangat diidamkannya.


Akhirnya ayah menjual ponsel jadul tersebut, demi sang putri tersayang, lakunya hanya Seratus ribu rupiah.


Pulang dirumah, Ayah memanggil Dinda pergi menemaninya ke toko tadi, Dinda tidak tau kemana Ayah membawanya, saat tiba di depan toko, Dinda terkejut, gadis itu menatap sang Ayah, dan Ayah hanya tersenyum melihat kebingungan putrinya.


Setelah masuk, Ayah menyuruh Dinda memilih kue yang dia inginkan, satu persatu kue di liriknya, harganya woww pikirnya.


Kue yang paling kecil harganya Enam puluh ribu, yang berukuran sedang tujuh puluh lima ribu, ada juga seratus ribu, bahkan lebih dari itu.


"Ngga ahh Yah, Dinda ngga suka" ucap Dinda kecil menolak.


"Kok ngga mau?" tanya Ayah heran, padahal tadi Ayah lihat dengan jelas bagaimana putrinya itu menatap kue yang tersusun di etalase.


"Jadi beli ngga nih?" tanya pelayan toko ketus dengan tatapan yang merendahkan.


"Maaf mbak, saya tanya anak saya dulu, mbak tunggu sebentar yaa" jawab Ayah sopan.


"Cepetan pak, banyak yang ngantri mau beli juga, kalo ngga punya duit mendingan ngga usah sok mau beli kue mahal" sentak pelayan toko itu lagi, suaranya sedikit lebih tinggi.

__ADS_1


"Maaf mbak ngerepotin"


"Udah tau ngerepotin, ya udah sana saya masih banyak pelanggan" usirnya.


"Ayah, maafin Dinda yaa? karena Dinda, Ayah jadi dimarahin penjual kue itu" cicit Dinda kecil.


Ayah hanya tersenyum, kudian membelai sayang rambut putrinya.


"Dinda ngga salah kok, ini salah Ayah yang belum bisa bahagiain putri Ayah" elak Ayah sedih.


Dinda kecil menggeleng, tak terasa air matanya sudah membasahi kedua pipinya yang chubby.


"Bukan salah Ayah kok, Dinda bahagia sudah sangat bahagia Ayah, Dinda ngga mau kalo Ayah berfikir begitu, Ayah adalah pahlawan Dinda, Dan Bunda adalah malaikat Dinda kalian berdua yang terpenting buat Dinda" tutur Dinda disela isakannya.


Ayah terharu mendengar perkataan putri kecilnya, betapa dewasanya pemikiran anaknya, didekapnya Dinda dalam pelukan hangatnya, tanpa dirinya sadari bulir bening ikut mengalir dari kedua matanya. Keduanya menangis dalam diam.


"Ayah?"


"Hmm"


"Gimana kalo kita buat kue aja sama roti juga siapa tau enak, mungkin bisa dijual" usul Dinda.


"Betul juga perkataan Dinda, kenapa ngga dicoba" batin Ayah.


"Ya udah kalo gitu kita kepasar beli bahan-bahannya, trus kita buat roti sama kuenya" timpal Ayah.


"Setuju"


Akhirnya Dinda dan Ayah pergi ke pasar membeli bahan kue dan roti yang diperlukan, sepulang dari pasar, Bunda terkejut melihat banyak barang yang dibawa Ayah dan Dinda, Bunda menatap Ayah seolah meminta penjelasan.


"Uang dari mana?"


"Maaf Bun, tadi HP Ayah jual, dan inilah hasilnya" jelas Ayah, seolah tau apa maksud tatapan Bunda.


Siapa sangka ternyata kue dan roti buatan Ayah sangat lezat, akhirnya mereka memutuskan membuat kue dan roti dan menjualnya berkeliling karena tak bisa menyewa ruko untuk berjualan. Tapi hal itu tidak masalah asalkan bisa memberikan kehidupan yang layak walaupun jauh dari kata mewah untuk istri dan putrinya serta anak yang sedang dikandung Bunda.


πŸ„flashback off


**Tbc


plis vote like n komen gengks πŸ‘πŸ‘πŸ‘


jangan lupa πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£**

__ADS_1


See U All😘😘😘


__ADS_2