Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 41


__ADS_3

MALAM PANAS


Happy reading gengks 😊😊


Maaf masih banyak typo


Siapa pun yang melihat kedekatan bang Rio bersama Dinda pasti menyangka mereka sebuah keluarga bahagia dengan sepasang balita kembar tapi yang sebenarnya Rio hanya menganggap Dinda tidak lebih dari seorang adik yang harus pria lindungi, begitupun Dinda hanya menganggap Rio tidak lebih dari seorang kakak laki-laki.


Tampak Rio berjalan mendekati Dinda dan teman yang lainnya setelah tadi menerima panggilan dari sang istri tercinta.


"Kenapa Bang?" tanya Dinda.


"Manda ngga bisa jemput Twins, katanya Sheira kurang enak badan, mendadak demam dan harus segera dibawa kedokter" jelas Bang Rio.


Sheira adalah anak Mbak Manda dengan Bang Rio.


Mbak Manda memang istri Bang Rio, mereka menikah tiga bulan setelah Twins lahir. Sheira prasetyo Adik dari Kevin.


"Trus gimana Bang? kita pulang aja yah, kasian Mbak Manda pasti kerepotan." usul Dinda.


"Manda bilang ngga masalah, Sheira juga agak mendingan sebaiknya abang aja yang jemput Twins."


Dinda mengangguk, interaksi keduanya tidak luput dari pendangan Imran. Sejak tadi pria itu bungkam dan hanya memandang wanita yang pernah hadir dihidupnya itu walau hanya sesaat dengan ekspresi yang tak dapat ditebak.


Setelah Bang Rio berangkat menjemput Twins, Dinda pamit ingin ketoilet. Wanita itu tau, sejak tadi Imran terus memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan membuatnya salah tingkah.


"Van, Kar aku ketoilet dulu yah" pamitnya.


Dinda berjalan menyusuri lorong hotel mencari letak toilet, Imran yang melihat Dinda menjauh dari lokasi acara reuni merasa ini kesempatan yang tepat untuk membicarakan sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai pria itu tak bisa menghubunginya setelah malam panas itu.


"Sekar, aku ketoilet dulu ya" pamitnya pada sang Istri.


Sekar mengangguk, wanita yang tengah mengandung itu tak curiga saat sang suami ternyata berniat menyusul pujaan hatinya.


Imran berjalan menyusuri jalan menuju toilet dimana wanita yang telah memporak-porandakan hatinya berada, pria itu mencari keberadaan Dinda, setelah menemukan wanita itu, Imran segera masuk ketoilet dimana saat ini Dinda sedang membasuh wajahnya, dan segera mengunci pintu dari dalam.


Dinda terkejut saat mendengar suara pintu terkunci, dan lebih terkejut lagi saat tau bahwa pelakunya adalah pria yang mati-matian wanita itu hindari, inilah salah satu sebabnya Dinda tidak pernah mau menghadiri reuni yang diadakan sekolahnya dulu.


Imran menatap tajam wanita yang berada dihadapannya saat ini, Dinda diam terpaku memandang pria yang sangat dia hindari, rasa takut sekaligus rindu menyeruak seketika didalam rongga dadanya, namum wanita itu berusaha tetap tenang.


"Wah nyonya Rio, tak ku sangka kita bertemu lagi" sarkas Imran.

__ADS_1


"Apa mau kamu?" tanya Dinda tenang.


"Mauku?" Imran tersenyum miring, "Aku mau kamu jelaskan kemana kamu selama ini, setelah berhasil menipuku dan akhirnya kamu ninggalin aku bersama Rio."


"Aku ngga pernah nipu kamu"


"Oh yaa" remeh Imran. "Lalu kemana kamu setelah malam panas kita? hm?" tanyanya lagi menuntut.


Pria itu berjalan semakin mendekati Dinda mengikis sedikit demi sedikit jarak diantara keduanya.


"Jangan mendekat" pekik Dinda tanpa menjawab pertanyaan Imran. Rasa takut kini semakin dirasakan wanita itu, satu tangannya terangkat untuk menghentikan langkah Imran tapi pria itu tak jua urung mendekati wanita yang selama ini sangat dia rindukan dalam diam.


"Kenapa sayang, kamu takut? bukannya malam itu kamu sangat menikmati sentuhanku, bahkan kamu lebih liar sayang" sarkas Imran.


"Stop, jangan kamu ingatkan aku pada malam terkutuk itu" kembali suara Dinda memekik didalam ruangan yang terkunci itu.


"Terkutuk? kamu bahkan menikmatinya dan kamu bilang itu malam terkutuk? iya itu malam Terkutuk dan kamu pasti menyesal karna Virginmu bukan Rio yang nikmati, tapi aku kan? jawab Dinda" teriak Imran terpancing emosi.


"Cukup...cukup tinggalkan aku sendiri Imran" pekik Dinda tak kalah keras.


Bukannya pergi Imran malah semakin mendekat, bahkan nekad memaksa mencium Dinda.


PLAAKKK!!!


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulus Imran saat Dinda berhasil lepas dari kungkungan pria itu. Wajahnya merah padam saking kuatnya menahan emosi yang bergejolak didadanya.


Nafasnya naik turun berusaha meredam amarah yang kini menguasainya. Bulir bening mengalir dari kedua pelupuk matanya yang indah, sebagai tanda betapa kecewanya Dinda atas sikap pria yang pernah menjadi sahabat dekatnya itu.


"Kamu fikir aku tidak punya perasaan? setidaknya fikirkan perasaan Sekar jika dia tau apa yang baru saja kamu lakukan." ucap Dinda sebelum wanita itu pergi meninggalkan Imran diam terpaku sendiri menatap Dinda yang semakin jauh langkahnya, diusapnya pipinya yang tadi diberi salam oleh tangan lembut Dinda.


"Beginikah rasanya sakit tak berdarah?" ucapnya dalam hati.


Dinda keluar dari toilet dimana tadi Imran menguncinya, wanita itu mencoba mengendalikan perasaannya tak ingin jika temannya curiga dengan yang barusan terjadi.


Tak lama bang Rio datang sambil menggenggam dua tangan mungil Twins, melihat kedatangan kedua putra putri kembarnya seketika moodnya membaik, tapi sepertinya Dinda harus segera pulang, dia tidak ingin jika terjadi suatu hal yang tak pernah dia duga sebelumnya seperti peristiwa tadi.


Setelah berpamitan kepada teman-temannya Rio dan Dinda akhirnya pulang lebih dulu, Rio tau sesuatu terjadi saat pria itu menjemput Twins. Tapi bukan Dinda namanya jika wanita itu dipaksa bercerita.


"Bang aku turun didepan yah, ada suatu tempat yang mau aku kunjungi, tolong anterin Twins kerumah abang aja ntar pulang aku jemput." pinta Dinda.


"Imran ngomong apa kekamu?"tebak Rio.

__ADS_1


"Aku butuh waktu Bang" ucap Dinda tanpa menghiraukan pertanyaan Rio.


"Inget Thy, ada abang, mbak Manda, juga Twins yang butuh kamu." pesan Rio sebelum menurunkan Dinda ditempat yang tadi ditunjuknya.


"Aku tau bang, aku hanya perlu waktu menenangkan diri."


" Ya udah, abang balik dulu, pulangnya jangan kemaleman"


Dinda hanya mengangguk pelan, membuat Rio mendengus dengan sikap adik iparnya satu ini.


🌊🌊🌊


Dinda berjalan sendiri menikmati suasana yang sangat menenangkan baginya. Saat ini wanita itu sedang duduk berhadapan dengan hamparan laut didepannya, ya saat sedang sedih pantai adalah tempat yang paling baik untuk melupakan semuanya.


Dinda memandang hamparan laut yang membentang luas, fikirannya menerawang jauh kembali ke malam panas antara Imran dan dirinya, yang akhirnya menghadirkan Twins dalam hidupnya.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Flashback on


Malam itu adalah acara lamaran Rio kepada wanita yang menjadi ratu dihatinya sejak kecil, Amanda satu nama yang selalu tersimpan rapi dihati pria yang sedang menempuh pendidikan di akademik itu.


Setelah bertunangan rencananya Rio akan mengajak Dinda makan malam sebagai ucapan terimakasih atas usahanya untuk menyatukan sang kakak dengan pria teman masa kecilnya itu.


Tapi siapa sangka dihotel yang sama Rio dan Dinda bertemu Imran teman SMA mereka dulu, Rio tau Mereka saling mencintai jadi Rio memberi kesempatan untuk keduanya menyelesaikan masalah mereka agar keduanya dapat bersatu seperti dirinya dan Manda, tapi Rio tidak tau bahwa disitulah awal masalah yang sebenarnya.


Imran berfikir bahwa Dinda meninggalkannya demi bersama Rio tanpa tau cerita yang sebenarnya.


Diwaktu yang bersamaan mantan kekasih Imran saat masih duduk dibangku kelas sepuluh juga berada ditempat yang sama bahkan merencanakan suatu kelicikan tapi ternyata malah salah sasaran.


Awalnya Dinda ingin bertanya kelanjutan hubungan antara Imran dan Sekar, namun siapa sangka justru malam itu berubah menjadi malam panas antara keduanya.


**Tbc


plis vote like n komen yaaπŸ‘πŸ‘πŸ‘


jangan lupa jejak sayang biar othor makin semangat


Flashbacknya masih lanjut tetap stay ok


See U All😘😘**

__ADS_1


__ADS_2