
RINDU YANG TERLARANG
Happy reading gengks
Back to story,,, masih banyak typoπ
"Aku kangen, tapi apa pantas?" gumam Dinda lirih.
Dinda sedang berdiri seorang diri di balkon kamarnya, menikmati dinginnya angin malam yang serasa menembus kulit halusnya, memberi rasa dingin yang kian membuatnya semakin menggigil, namun tetap tak dapat membekukan rasa rindu yang kini sedang terperangkap dalam hatinya.
Dia merindukannya, merindukan seseorang yang kini telah menjadi milik orang lain, namun apa daya dia tak dapat menggapainya.
Sepasang tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang, mendekapnya dalam sebuah kehangatan yang sangat dibutuhkan tubuhnya saat ini, tangan itu menelusup, melingkari perutnya yang rata.
Dinda menikmati pelukan hangat itu, senyum tersungging dibibirnya yang mungil, sebuah kecupan mesra mendarat di leher jenjangnya yang terbuka, mengantarkan sebuah desiran yang membuat aliran darahnya mengalir dengan cepat, perlahan kecupan itu semakin dalam, membuat nafas Dinda naik turun, matanya terpejam menikmati kehangatan yang dia rasakan.
"Aku kangen," ucapnya lirih.
"Aku juga sayang"
Tok,,, tok,,, tok,,,
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk dari arah luar dengan sangat pelan, membuat Dinda tersadar dari lamunannya, kehangatan yang tadi dia rasakan hanyalah khayalan semata, dirinya sadar, rindu yang saat ini sedang mengekangnya tak mungkin berbalas.
Bergegas Dinda membuka pintu, ternyata Twins yang sedang terkantuk-kantuk berada dibaliknya, tanpa berkata apapun, kedua balita itu langsung berjalan masuk dan naik keranjang sang Bunda, kebiasaanya memang saat tengah malam dan tiba-tiba terbangun, Twins pasti akan pergi kekamar Bunda mereka untuk tidur bersama.
Dinda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua balitanya, kemudian dia tersenyum kecil, merasa malu dengan dirinya sendiri, sempat-sempatnya tadi memikirkan bahwa Imran datang memeluknya dari belakang dan memberinya kehangatan di tengah dinginnya malam.
πππ
keesokan paginya
Dinda dan Twins sedang bersiap ke bandara, hari ini mereka bertiga akan kembali ke kota S.
Imran dan Sekar juga sedang bersiap, seharusnya mereka pulang kemarin sore, tapi sebelumnya Imran mendapat pemberitahuan bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi mengalami sedikit masalah tekhnis, dan keberangkatan akan ditunda sampai pagi ini.
__ADS_1
Keduanya berjalan bersama menuju tempat dimana harus check in sebelum keberangkatan, setelah melakukan check in, kemudian Imran membawa Istrinya menuju ruang tunggu, di ruang tunggu tak sengaja Sekar melihat kedua bocah yang di tabrak oleh suaminya saat dipantai tempo hari.
Sekar memperhatikan kedua bocah itu bermain, matanya tak luput memperhatikan tiap lekuk wajah kedua bocah itu, pendapatnya masih sama seperti waktu dipantai, si bocah laki-laki wajahnya sangat mirip dengan mantan seniornya, sedangkan si bocah perempuan, sangat mirip dengan suaminya.
Tak lama, seorang wanita muda terlihat sedang berjalan kearah kedua bocah itu, Sekar hanya melihat punggungnya, lalu kembali melihat kedua bocah kembar yang sedang berlomba lari menghampiri wanita tadi.
"Apakah itu ibunya?" Sekar bertanya-tanya.
"Sayang, ayo!! pesawat udah mau berangkat" ajak Imran, sambil menarik tangan istrinya membuat Sekar terkejut.
"Oh iya mas" diraihnya tas kecil tempatnya biasa menyimpan ponselnya kemudian berjalan mengikuti langkah sang suami.
Pikiran Sekar kemana-mana saat melihat wanita muda tadi, jika dilihat dari posturnya sangat mirip dengan mantan seniornya dulu. "Apakah benar wanita tadi adalah Dinda?, dan Ibu dari kedua bocah itu?" pikirnya.
πππ
Dinda mengajak kedua balita nya memasuki pesawat, kemudian mencari tempat duduk mereka, sebentar lagi pesawat akan berangkat.
Tanpa dirinya sadari, ternyata Imran dan Sekar berada satu pesawat dengannya. Sesaat setelah pesawat lepas landas, tiba-tiba Dinda merasa mual, tak seperti biasanya saat naik pesawat, dirinya tak pernah merasa mual, tapi kali ini dia merasa mabuk udara.
Ditoilet, Dinda mengeluarkan seluruh isi perutnya, ternyata tadi pagi sebelum berangkat, Dinda lupa sarapan, dan saat di Bandara, dia hanya meminum secangkir kopi, yang justru membuatnya merasa mual.
Sedangkan diluar, ada Imran yang ingin buang air, naik pesawat membuat pria itu sering buang air kecil, pria itu menunggu didepan toilet dimana ada Dinda didalamnya.
Dinda keluar dari toilet, saat keluar wanita itu terkejut melihat Imran didepan matanya, dia berfikir itu semua hanya halusinasi seperti yang dialaminya semalam akibat rindu yang terlarang yang saat ini dia rasakan, Dinda tertawa, wanita itu menertawakan dirinya sendiri, yang sampai saat ini masih sangat,, sangat mencintai suami dari juniornya.
Sama halnya Dinda, Imran pun sangat terkejut melihat Dinda ada dihadapannya, pria itu terdiam, rasanya ingin sekali memeluk wanita dihadapannya saat itu juga, tapi tiba-tiba dia tersadar saat mendengar tawa Dinda, dahinya mengkerut karena heran melihat Dinda yang tiba-tiba terkekeh.
Disaat yang bersamaan pesawat mengalami turbulensi, sontak membuat kedua insan yang sedang dilanda rindu terlarang itu oleng dan hampir tumbang. Dengan gerakan reflek, Dinda menarik tengkuk Imran agar dapat menopang tubuhnya yang hampir terjatuh akibat turbulensi barusan, sama halnya Imran pun terkejut saat melihat Dinda yang hampir jatuh, diraihnya pinggang wanita itu, kemudian menariknya ke dalam pelukannya, menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.
Peristiwa itu, menyadarkan keduanya, mereka tidak sedang bermimpi ataupun berhalusinasi, karena dekapan Imran di tubuhnya membuat tubuh Dinda mundur diikuti tubuh Imran yang sedang mendekapnya, keduanya masuk kedalam toilet, sesaat mata keduanya bertemu, saling memandang, tatapan Dinda terkunci kedalam tatapan Imran yang begitu sendu, sarat akan kerinduan yang mendalam.
Tak ada yang bersuara, saat ini mereka hanya saling menikmati momen yang sangat mereka rindukan.
"Imran" sahut Dinda lirih.
__ADS_1
"Dinda" balas Imran tak kalah lirih.
Diam,,, hening,,,
Saat ini keduanya sedang larut dalam perasaan masing-masing, rasanya tidak benar dengan situasi saat ini, fikiran Dinda menolak tapi tubuh dan hatinya sangat merindukan dekapan hangat itu.
Dinda berusaha berontak, ingin melepaskan tangan Imran di pinggangnya, tapi karena toilet di pesawat itu sempit justru membuat dekapan Imran semakin kuat.
Imran mendorong tubuh Dinda ke tembok, perlahan pria itu mengikis jarak diantara keduanya, Dinda masih sadar, dan terus mencoba berontak.
"Im- Imran, ini ngga bener" ucap Dinda gugup.
"Aku rindu Din, sangat Rindu" suara Imran serak.
"Ta-tapi--" Dinda gak bisa melanjutkan perkataannya karena bibirnya sudah terlebih dulu dibungkam oleh Imran.
Sebuah ciuman hangat membuat Dinda ikut terhanyut, inilah sebenarnya yang paling Dinda hindari, karena tiap sentuhan bibir dari Imran dapat membuatnya tenggelam dan lupa diri, bahkan melupakan bahwa Imran bukan lagi pria yang bisa dia miliki.
Saat itu dengan tegas dia menolak Imran menyentuhnya karena tak ingin ikut terbawa arus dari tiap sentuhan pria itu, tapi saat ini Dinda berada didalam toilet pesawat jangankan menghindar, melepaskan diri dari dekapan hangat sang mantan saja terasa begitu sulit.
Perlahan dan pasti, luma*tan yang diberikan Imran berubah menjadi ciu*man panas, awalnya Dinda tak membalas karena takut akan terlena, tapi bukan Imran namanya jika tidak bisa membuat Dinda mengikuti permainannya.
Imran memberi gigi*tan kecil dibibir bawah Dinda agar wanita itu membuka bibirnya, tepat seperti dugaannya Dinda mulai merespon ciu*man pria itu, perlahan Imran menyusupkan lidahnya mengabsen tiap inci di dalam mulut Dinda, semakin lama semakin panas, keduanya saling memburu untuk melepaskan semua rindu terlarang yang selama ini mengekang keduanya.
Merasa kehabisan oksigen, Imran melepaskan pag*utannya, kemudian menempelkan keningnya di kening Dinda, menangkupkan kedua tangannya di rahang lembut milik sang mantan, sedangkan tangan Dinda menggenggam erat kedua tangan Imran yang sedang membingkai wajahnya, mata keduanya masih terpejam, mereka saling berebut udara untuk mengisi rongga dadanya yang kempis, dan mengatur irama detak jantungnya yang saling memburu.
"Maaf".
Tbc
Plis vote like n komen gengks πππ
jangan lupa jejak π£π£π£π£
Wah wah wah Rindu terlarang itu ternyata sangat menakutkan ckckck
__ADS_1
See U Allπππ