Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 27


__ADS_3

CURAHAN HATI DINDA


Happy reading gengks😊😊


Typo masih suka ngikutπŸ™πŸ™


Udah?" tanyanya.


"Kok lo masih disini?" tanpa menjawab justru balik bertanya.


"Ya nungguin lo, apalagi?"


"Nungguin gue buat apa?"


"Yah pulang lah, emang apa lagi"


"Ngga usah, gue bisa pulang naek bis,"


"kenapa?"


"apanya yang kenapa?"


"Yah kenapa lo ngga mau pulang bareng gue? ngga usah naik bis, buruan naik, biar gue yang anterin lo balik"


"Gue udah bilang, gue bisa pulang sendiri" tolak Dinda.


"Napa sih lo, suka banget bikin gue emosi" Sungut Imran.


"Lo aja yang mau emosi, gue biasa aja tuh" jawab Dinda enteng.


"Sebenarnya lo kenapa Din,? lo beda ngga kayak dulu, lo seolah ngehindarin gue," selorohnya mulai terpancing emosi.


"Gue ngga pa pa, gue cuma ngga mau bergantung terus sama lo" ucap Dinda menimpali.


"Biasanya juga lo, gue anter jemput tapi sekarang kenapa lo jadi risih,?"


"Lo tau betul jawabannya, karena gue ngga mau Sekar,--"


Buru-buru ucapan gadis itu dipotong oleh Imran.


"Lagi-lagi Sekar lo bawa bawa, kenapa sih Din, Sekar ada salah sama lo?" hardiknya dengan penuh emosi.


"Justru karena Sekar ngga salah sama gue, jadi gue ngga mau Sekar salah faham sama gue" ucap Dinda tak kalah sengit.


"Sekar ngga akan salah faham sama lo, dia tau kita sahabatan sejak dulu, dia cwe yang pengertian"

__ADS_1


"Gue cwe bing, Sekar juga cwe, gue tau gimana rasanya gimana liat cwo gue jalan ama cwe lain, meskipun cwe itu sahabatnya sendiri."


Setelah mengatakan itu, Dinda langsung beranjak pergi meninggalkan Imran yang terdiam mematung. Sedangkan pria itu hanya bisa menatap nanar kearah Dinda yang kian jauh melangkah.


"Kenapa Din, seakan lo ngejauhin gue? padahal gue pacaran sama Sekar itu demi lo, agar lo tetap jadi sahabat gue, seandainya lo punya rasa yang sama kayak gue, lo bakalan jadi milik gue bukan Sekar." batin Imran.


"Maafin gue bing, bukan karena Sekar, tapi karena gue takut kalo gue ngga bisa buat ngelepasin lo dengan Sekar, plis bing jangan buat gue semakin dalam terpuruk dengan rasa yang gue simpen buat lo"


Dinda berlalu dari hadapan Imran, bulir kristal yang sedari tadi ingin tumpah akhirnya tak dapat lagi dia bendung, air mata mengalir dari kedua netranya yang indah.


Gadis manis itu menumpahkan semua rasa sakit yang saat ini bersarang dihatinya, sungguh mencintai seseorang yang hanya menganggapnya sahabat sangat membuatnya tersakiti, tapi mau bagaimana lagi sampai saat ini, bahkan setelah melihat kemesraan sang sahabat dengan kekasihnya, bukannya rasa itu menghilang, justru semakin membesar, diliputi rasa kehilangan yang sangat dalam.


πŸŒŸπŸ’πŸŒŸ


Saat ini Dinda sedang berada dirumah Vana, dia butuh teman untuk berbagi.


Yah memang saat pulang, gadis itu tidak langsung menuju kerumahnya, Dinda pergi menemui sang sahabat, sepertinya saat ini gadis itu sudah siap berbagi cerita mungkin dengan begitu perasaannya akan sedikit lebih ringan, walaupun dia tahu Vana mungkin tidak dapat membantunya melupakan Imran.


Tok,,,


Tok,,,


Tok,,,


Terdengar suara pintu diketuk dari luar, Vana sang pemilik rumah bergegas membuka pintu menyambut kedatangan sang sahabat.


Rumah Vana tidak terlalu jauh dari rumah Dinda, selisih dua gang, saat pertama datang kekota ini, orang yang paling pertama menjabat jadi sahabatnya adalah Vana.


Sebenarnya Dinda bukan berasal dari kota ini, gadis itu dulunya tinggal dikota A, dekat dengan rumah Pakde Ikhsan yang merupakan adik Ayahnya. Tapi karena Dinda mendapatkan beasiswa disekolah yang sekarang tempatnya menimba ilmu, mengharuskan mereka pindah dikota ini, Dinda memang tidak berasal dari keluarga yang berada, tapi bukan berarti gadis itu harus menyerah dengan kerasnya hidup, Dinda berjuang dengan kecerdasan yang dia miliki hingga memperoleh beasiswa.


"Lo sebenarnya kenapa sih Ting? akhir - akhir ini gue liat lo sering banget berantem ma si mbek, sebetulnya ada apa? cerita ke gue," ucap Vana memulai pembicaraan.


Saat ini kedua gadis belia itu sudah berada didalam kamar Vana. Rumah Vana hampir mirip dengan rumah Dinda, hanya sedikit lebih kecil.


Dirumah Vana hanya terdapat 2 kamar, yang satunya milik Sang Abah, dan satunya lagi milik gadis itu. Maklum mereka juga bukanlah berasal dari keluarga sultan.


Bagi mereka, walaupun hidup dengan segala keterbatasan merupakan suatu yang patut disyukuri, dengan rasa syukur itu akan menciptakan ikatan kekeluargaan yang harmonis.


Dinda menggeleng, sambil sesekali menghapus buliran kristal yang masih intens mengalir dipipinya, sungguh saat ini hatinya terasa sangat gamang.


"Gue ngga tau Van, harus mulai dari mana?" ucapnya dengan suara serak khas orang habis nangis.


Vana menghela nafas pelan, gadis itu juga bingung bagaimana bisa membantu sahabatnya kalo begini?


"Ya udah, lo bisa mulai cerita dari awal, sebenarnya apa yang terjadi sama lo?" bujuk Vana lembut.

__ADS_1


"Sebenarnya gue ngga tau Van, kapan rasa ini mulai datang," ucap Dinda mulai bercerita.


Dinda menarik nafas dalam-dalam, mencoba menghembuskannya pelan. Vana menyimak dengan seksama apa yang sahabatnya ucapkan.


Gadis itu terdiam sambil sesekali mengangguk, tapi tak mengucapkan sepatah kata pun, Vana hanya menatap iba sahabatnya., Seperti pendengar yang setia, Vana terus memperhatikan sahabatnya berbicara tanpa berniat memotong cerita sang sahabat.


Setelah puas mengeluarkan semua yang Dinda pendam pada sang sahabat, gadis itu kembali menghirup udara sebanyak banyaknya untuk mengisi rongga dadanya.


Rasanya lega setelah berbagi masalah dengan Vana, ahh sungguh sahabat adalah tempat yang paling pas untuk menceritakan segala keluh kesah dalam hidup.


"Sejak kapan Ting?" tanya Vana.


Dinda hanya menggeleng.


"Aku ngga tau Van, mungkin saat first kiss waktu itu, atau mungkin sejak Sofie ninggalin Imran, waktu itu gue sakit banget liat dia yang sedih saat ditinggalin sofie, tapi gue ngga tau apa itu Cinta" tuturnya panjang lebar.


"Seharusnya lo ungkapin perasaan lo, biar lo g merasa sakit Ting" Ucap Vana menasehati.


"Waktu Imran ajak gue kepantai, gue bilang klo gue minta dia nyium gue, aku ngga tau kenapa gue pengen dicium lagi sama dia, satu yang gue tau sentuhannya membuat gue merasa aman, apalagi dia selalu ada saat kak Dimas dan Meyra suka ganggu dan nyakitin gue terus, berada didekatnya buat gue merasa terlindungi."


"Saat itu gue mau ungkapin perasaan gue, tapi setelah ciuman itu, Imran tiba-tiba bilang, APAPUN YANG TERJADI KITA TETAP SAHABAT. Jadi gue urung ngasih tau dia, gue takut Van, klo Imran tau perasaan gue justru dia malah ngejauhin gue, karena gue cuma sahabat buat dia."


Buliran bening kembali mengalir dari kedua manik indah milik Dinda, sungguh sakit saat mengenang semuanya yang pernah mereka lalui.


"Trus kenapa lo setuju bahkan malah jadi penghubung antara Sekar ama si mbek?"


"Sekar gadis yang baik, gue tau Imran suka sama dia, buat gue kalo Imran bahagia gue juga ngerasa bahagia Van,"


Vana merasa bingung dengan situasi ini, gadis itu tak tahu jalan keluar yang bisa membantu sang sahabat.


Bagaimana pun caranya Cinta itu tidak akan hilang dengan mudah.


"Gue g tau ting harus ngomong apa," tampak Vana kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya.


"Satu-satunya cara ya lo harus hadapi, biar waktu yang jawab ok"


Dinda mengangguk tanda setuju dengan ucapan Vana, gadis itu mengakui apa yang dikatakan sahabatnya memang benar adanya, hanya waktu obat paling ampuh mengobati luka hati.


Setelah mengeluarkan beban hatinya, Dinda memutuskan untuk pulang ke rumah, perasaanya sedikit lebih baik.


Tbc


plis vote like n komen yaa😊😊


Jangan lupa jejaknya

__ADS_1


See u all😘😘😘


__ADS_2