
AMANDA
Happy reading gengksπππ
Typo masih rapatππ
*Dinda POV
Hari ini aku berencana ke pantai bersama Vana dan Wawan. Awalnya aku ingin melupakan semua yang terjadi, mungkin dengan begitu rasa sakit ini akan berkurang.
Tak kusangka Sekar dan Imran juga datang kemari, aku terkejut melihatnya, sekilas kulihat matanya menatapku tajam, wajahnya tampak tak bersahabat.
"Haahh,,sepertinya dia sangat kesal, karena kami tak mengajaknya" gumamku dalam hati.
Buru - buru kualihkan pandangan ku saat tatapan kami bertemu. Aku takut menatap maniknya yang seolah memancarkan api. Hiihh aku bergidik dibuatnya.
Sekar menghampiriku dan mengatakan bahwa ponselku ada pada si bunglon, katanya tadi mereka sempat kerumah untuk mengajakku dan yang lain berlibur kepantai, tak tahunya kami sudah berada disini lebih dulu.
Aku mengikuti si bunglon keparkiran, katanya ponsel yang dititipkan oleh Bunda, dia simpan dimotornya, tapi bukannya mengambil ponsel, Imran justru melakukan hal yang membuatku sangat kecewa, aku melihat kemarahan terpancar dari maniknya yang indah.
Tapi kenapa dia marah? apa karena kami meninggalkannya? tapi kan niat kami hanya ingin memberi waktu buat mereka berdua,,!!
"Kenapa bing, kenapa lo lakuin ini ke gue? harus gimana gue lupain lo, klo lo terus buat gue merasa berat buat lepas lo? apa gue harus rebut lo dari Sekar? ngga mungkin,, Sekar seperti adek gue, ngga mungkin gue rebut lo dari dia,,trus gue harus apa bing?"
Aku memandang hamparan bunga Mawar yang sedang bermekaran, banyak kupu-kupu yang beterbangan mengelilinginya, kupu-kupu itu saling berkejaran, aku jadi teringat dengan sahabat - sahabatku, dulunya kami seperti kupu-kupu itu, bebas tanpa beban, tapi sekarang aku merasa tersiksa dengan rasa yang tiba-tiba datang bagaikan badai dan hanya meninggalkan luka.
Cinta,,
Satu kata berjuta makna, kata itu yang sekarang mengikat hatiku dan selalu membuatku tersiksa.
Aku tersadar dari lamunan saat ada sebuah bola yang menggelinding ke kaki ku, seorang anak laki-laki tampan mengenalkan namanya Kevin, bocah itu sangat lucu, seketika membuat mood ku lebih baik.
Tak lama seorang wanita muda, yang usianya sepertinya tidak berbeda jauh dengan saudaraku dari pakde Ikhsan, jika dilihat dari wajahnya, sepertinya wanita muda itu ibunya Kevin.
Kami sedikit berbincang dan saling memperkenalkan diri, namanya Amanda dan benar bahwa wanita itu adalah ibu dari sang bocah yang bernama Kevin.
Merasa lebih baik, aku memutuskan untuk pulang kerumah. Hari ini sangat melelahkan, rasanya aku ingin cepat pulang dan merebahkan tubuh lelahku diatas ranjang kecilku yang empuk.
Cukup sudah cerita hari ini, aku hanya ingin melupakan semuanya, kuharap hari esok akan lebih baik, kalau bisa aku ingin semua kwmbali seperti dulu, seperti saat rasa itu belum hadir.
Hmm mungkinkah itu bisa terjadi???
ππππ
*Author POV
Dinda melangkah memasuki rumah, seketika atensi gadis itu teralihkan dengan suara yang sedang berbincang dari arah dapur.
__ADS_1
Rumah Dinda memang tidak besar, hanya ada 3 kamar tidur, 1 ruang keluarga sekaligus ruang tamu, dan 1 dapur.
Gadis itu memasang indera pendengarannya dengan baik. Berusaha mendengarkan suara siapa yang sedang berbincang dengan Bunda.
"Bunda ngomong sama siapa,"gumamnya dalam hati.
"Assalamualaikum, Bundaaa,,!!" Seru Dinda dari luar.
Bunda yang sedang asik berbincang dengan seseorang didapur, bergegas keluar setelah mendengar lengkingan suara putri semata wayangnya.
"Eehh, anak gadis baru pulang udah teriak - teriak, kayak lagi dihutan aja," tegur Bunda.
"Aduh Bun, kalo ada yang bilang Assalamualaikum tuh dijawab Bun, bukannya diomelin"
Bunda yang disinggung oleh anak gadisnya hanya nyengir. "Heh, iya waalaikumsalam, kamu juga sih dateng-dateng udah teriak- teriak, emang lagi latihan paduan suara?"tanya Bunda.
Kini giliran Dinda yang nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eehh ngapain kamu, ketawa kayak kuda? mau pamer gigi? masih kalah putih sama Bunda"
Dinda dibuat melongo oleh perkataan Bunda.
"Ya kali Bun Dinda kayak kuda, Emang ada kuda secantik Dinda" ucap Dinda tak terima dirinya disamakan dengan kuda.
"Ada kok," jawab Bunda.
"Mana coba" tantang gadis itu lagi.
"Maksud Bunda?"
"Ya kaamu kudanya" Bunda terkikik dengan ucapannya sendiri.
"Bundaaa" rengeknya manja.
Seorang wanita yang tadi berbincang dengan Bunda terlihat berjalan keluar dari arah dapur, disusul seorang anak kecil berlarian.
"Loh kamu?" ucap wanita itu terkejut.
"Loh mbak?" tunjuk Dinda pada wanita tadi.
βΏπβΏ
l
"Aku ngga nyangka ternyata mbak adalah anaknya pakde" kata Dinda.
"Aku juga ngga nyangka kalo kamu itu Dinda, adek kecil mbak" ucap wanita itu yang tidak lain adalah Amanda.
__ADS_1
Yah, wanita yang sedang bersama Bunda tadi didapur adalah Amanda, wanita yang tadi bertemu dengannya ditaman, Amanda adalah anak dari pakde Ikhsan saudara Ayah.
Tak lama Bunda keluar dari arah dapur membawa 4 cangkir teh, dan meletakkannya diatas meja.
"Bunda ngga nyangka kalian udah ketemu tadi"
"Iya Bun, tadi Dinda ketemu sama mbak Manda ditaman, sama Kevin juga."
Bunda menyunggingkaan senyumnya, wanita paruh baya itu masih sangat cantik diusianya yang sebentar lagi memasuki kepala empat.
Bunda, Ayah dan Dinda serta Manda berbagi cerita tentang kehidupan mereka, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kevin sudah terlelap sejak tadi, satu persatu mereka meninggalkan ruang keluarga menuju kamar masing-masing.
βΏπππβΏ
Amanda saputri, adalah anak pakde Ikhsan. Sebenarnya mbak Manda bukan anak kandung pakde.
Mbak Manda diangkat dari panti asuhan saat berusia tujuh tahun. Waktu itu usia Dinda masih tiga tahun, jadi selisih keduanya tidak terlalu jauh.
Pakde Ikhsan menikah dengan Bukde Rima, tiga tahun setelah Ayah dan Bunda menikah, saat itu usia Dinda masih satu tahun, tepatnya lima bulan setelah kakek kembali kepangkuan sang ilahi.
Bukde Rima adalah istri Pakde Ikhsan, Bukde memiliki riwayat penyakit kista yang membuatnya sulit memiliki anak. Tapi sebuah keajaiban terjadi, Satu tahun setelah menikah, Bukde dinyatakan positif hamil.
Namun tampaknya Tuhan berkehendak lain.
Bukde mengalami keguguran saat kandungannya berusia tujuh bulan, Bukde tak sengaja terpeleset dan jatuh dikamar mandi.
Perut Bukde mengalami benturan yang sangat keras, mengakibatkan anaknya cedera dan tak dapat diselamatkan.
Bukde mengalami shock, dokter menyatakan bahwa Bukde tidak dapat mengandung lagi. Rahimnya pecah, dan harus diangkat, pecahan rahim Bukde bisa mengancam nyawanya jadi terpaksa harus dioperasi.
Selama 6 bulan Bukde menjalani perawatan, Pakde Ikhsan dengan sabar merawat Bukde hingga sembuh. Setelah sembuh, Bukde dan Pakde memutuskan untuk mengadopsi seorang anak, tapi mengingat kondisi Bukde yang tidak stabil, jadi Pakde mengadopsi mbak Manda yang saat itu sudah berusia tujuh tahun.
Mbak Manda tumbuh menjadi gadis yang cantik, hingga suatu hari kekasihnya memanfaatkan Cintanya.
Karena mbak Manda sangat mencintai Gilang, kekasihnya mbak Manda rela menyerahkan harta satu-satunya yang dia miliki, yang selama ini dia jaga, tapi setelah menyerahkannya, Gilang justru meninggalkannya sendiri.
Gilang pria brengs**ek yang telah menghancurkan masa depan mbak Manda, pria itu hanya menikahi mbak Manda lalu meninggalkannya bersama anak yang sedang dia kandung.
Sejak saat itu mbak Manda memutuskan menjadi single parent, dia tidak ingin Kevin kekurangan kasih sayang.
Amanda wanita kuat dan mandiri, menjadi single parent diusia yang masih terbilang muda, disaat semua teman-temannya masih menikmati masa mudanya, wanita itu justru menghabiskan waktunya membesarkan si buah hati.
Mengawali pagi dengan memandang senyum sang buah hati, dan Mengisi hari-harinya dengan kebahagiaan sang anak yang tampan.
**Tbc
plis vote like n komen
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak gengksππ
See u allπππ**