Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 02


__ADS_3

IMRAN HANAN


...*Author POV...


Imran Hanan adalah salah satu teman terbaik Adinda, dia adalah seorang ketua kelas sekaligus Ketua Osis yang baru. Imran seorang pria tinggi berkulit putih, wajahnya lumayan tampan. Dia salah satu siswa terpopuler disekolahnya, orangnya sangat baik dan perhatian kepada sesama teman-teman nya, terutama kepada para sahabat nya.


Imran bukan berasal dari keluarga yang berada, tapi dia anak salah satu pejabat daerah. Ayahnya seorang Lurah Didesa.


Imran memiliki cita-cita menjadi seorang pengacara, dulu dia punya seorang teman yang tewas bunuh diri karena merasa tertekan dengan masalah hidup yang dia dan keluarganya alami.


*Flashback


Tok tok tok suara pintu terdengar diketuk sangat keras siang itu. Seorang anak remaja sedang berdiri menatap seutas tali yang digantungkan di balok kayu penyangga atap sebuah rumah. Haris Dirga, seorang remaja yang merasa frustasi akan hidupnya yang sangat melelahkan, akibat selalu dirundung masalah yang tiada berkesudahan.


Diawali ayahnya yang dituduh telah menggelapkan sejumlah dana hasil perkebunan tempatnya bekerja, dan harus berakhir mendekam dibalik jeruji besi.


Sedangkan ibunya meninggalkan nya bersama sang ayah, dan lebih memilih pergi bersama mantan kekasihnya yang kembali dari luar negri.


Ayah Haris hanya seorang buruh petik di sebuah perkebunan teh, tapi karena dedikasinya swlama belasan tahun di perkebunan tersebut, sang mandor yang tidak lain adalah anak dari sang pemilik perkebunan tersebut, memberinya kepercayaan untuk menyimpan hasil dari perkebunan tersebut. Mungkin hari itu adalah hari sial bagi Ayah Haris, uang yang dia simpan lebih dari 2 minggu tiba-tiba raib tak berbekas, entah kemana perginya uang itu.


Tiba saatnya sang mandor akan menyetor uang tersebut, tapi Pak Hasan ayah dari Haris, tak kunjung muncul batang hidungnya, hingga sang mandor lelah menunggu dan akhirnya dia mendatangi kediaman keluarga Haris hari itu juga. Dia menuduh Pak Hasan telah menggelapkan Uang yang sudah dia percayakan kepadanya, alhasil pak Hasan pun digiring ke kantor polisi guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hal itu sudah pasti sangat mempengaruhi mental Haris, Ayah yang dia bangga bangga kan ternyata seorang koruptor. Entahlah siapa yang dengan tega mempermainkan keluarga itu, mungkin karena rasa iri, atau yang lain hanya Tuahn yang tau.


"Riiisss,,, Hariiiissss ,,!!!" Terdengar suara Imran memanggil Haris dari luar rumah.


"Riiisss,,, buka pintunya Riss,,!!!" teriaknya lagi.


"Riiisss,,, lo jangan nekat Ris,, lo harus percaya sama ayah,, dia gak mungkin ngelakuin itu Ris,,, !"


" Cepetan Risss,, buka pintunya,,,"


Dug,,dug,,dug kembali Imran menggedor pintu rumah Haris, sedangkan si empunya rumah tetap diam terpaku meratapi nasibnya sebagai anak yang tak berguna.

__ADS_1


Kurang lebih setengah jam menggedor pintu rumah Haris, Imran beranjak meninggalkan rumah itu lantaran tak ada respon yang dia terima dari si empunya rumah, dia berinisiatif memanggil para warga untuk membantunya mendobrak pintu rumah Haris, merasa sudah tak mendengar lagi kegaduhan dari arah pintu depan, Haris lantas meraih simpul tali yang tergantung apik di balok rumahnya, dia kemudian memasukkan kepalanya dan berucap


" MAAFKAN HARIS AYAH, HARIS ANAK YANG TIDAK BERGUNA "


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Haris pun nekad mengakhiri perjalanan hidupnya yang melelahkan, jiwanya yang masih haus akan kasih sayang seorang ibu, kini telah berpindah alam, kini Haris sudah berada ditempat yang berbeda dengan sahabatnya.


Apa yang bisa dilakukan seorang anak yang beranjak remaja, diusianya yang tebilang masih dini, 13 tahun dia dihadapkan dengan berbagai kenyataan hidup yang begitu menyakitkan, ditinggalkan seorang ibu, ayahnya masuk penjara karena tuduhan penggelapan dana. Dia merasa sendiri, saat semua meninggalkannya. Satu-satunya yang terlintas dibenaknya adalah dengan mengakhiri hidupnya dia tidak akan lagi merasakan sakitnya seorang diri.


*Flashback off


" MAAFKAN AKU IMRAN, KAU SAUDARA KU YANG TERBAIK."


Tak terasa air matanya menetes, saat membaca pesan terakhir yang ditinggalkan Haris untuknya, dia berjanji pada dirinya sendiri dia akan meraih cita-citanya menjadi seorang pengacara terkenal, hanya untuk memperjuangkan hak-hak orang miskin yang selalu dijadikan kambing hitam oleh orang orang yang ingin menang sendiri demi kepentingan pribadi nya.


"Aku janji Ris,, aku akan mewujudkan impian kita waktu kecil, kita berjanji untuk menjadi seorang pengacara hebat dan akan membanggakan orang tua kita,,!!" gumam Imran pelan.


Imran memandang sebuah foto digenggamannya, nampak dua orang anak laki-laki sedang berjabat tangan, sambil tertawa bahagia. Ya anak dalam foto itu adalah Haris dan juga Imran saat mereka masih duduk di bangku Sekolah dasar. Dia memandangnya lamat lamat, lalu berkata pada dirinya sendiri


" Ayah,, Haris,, kalian udah bahagia disana,,?"


Ayah Haris, Pak Hasan juga sudah berpulang ke sisi yanf Maha Kuasa, ketika Pak Hasan mendengar berita tentang anaknya yang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Pak Hasan jadi sakit - sakitan, beliau malas makan, fikiran nya buntu. Dia tidak bisa berfikir dengan jernih, difikirannya hanya ingin cepat menyusul sang anak yang telah berpulang terlebih dahulu, untuk apa hidup, toh satu-satunya harta yang Dia miliki sudah tiada.


KEESOKAN PAGI


"Raaannnn,,, Imraaannnn,,,!!"


terdengar suara seorang wanita paruh baya memanggil anaknya yang telah lama dia tunggu namun tak jua menampilkan batang hidungnya,,


"Raaann, sarapan sudah siap nak..!!" Wanita paruh baya yang tidak lain adalah sang ibunda tercinta dari seoang Imran Hanan, itu kembali berseru tapi kini suaranya lebih lembut, karena merasa sudah melihat sang anak yang sedari tadi dipanggil tak kunjung hadir.


"Tumben lama Ran,,?" Tanya ibu, saat si anak sulung sudah mendaratkan bokongnya di benda berbentuk persegi itu.

__ADS_1


"Iya nih bu, alarm ku batre nya abis, jadi bangun nya telat deh,," jawab Imran sambil mengoles selai diatas roti yang telah dia taruh diatas piringnya.


" Ya sudah, kamu makannya cepetan biar gak telat.,,"


" Iya bu,,"


Aku mengunyah roti yang tadi ku olesi selai, dengan terburu-buru, soalnya waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh lewat lima menit, untung saja jarak dari rumah kesekolah tidak begitu jauh, jadi masih sempat terkejar waktunya sebelum bel jam pelajaran pertama berbunyi.


"Bapak mana bu,,?" tanyaku pada ibu, karena sedari tadi aku tak melihat sosok yang sering ku panggil Bapak.


" Bapakmu sudah berangkat, kebetulan hari ini ada Inspeksi mendadak di Kantor Kelurahan yang dipimpin langsung oleh pak Camat, jadi Bapak harus berangkat pagi-pagi.." ucap ibu sembari membereskan piring kotor kedalam wastafel didapur, sisa sarapan barusan.


" Yaudah deh bu, Imran pamit." Ucapku sembari berdiri dari tempatku duduk, dan meraih tangan ibu untuk ku cium.


"Iya nak, hati-hati ya bawa kendaraan nya, jangan ngebut." ibu memperingatkan


"Baik bu,,!!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam" ibu menatap kepergianku sampai aku menghilang dipersimpangan jalan, setelah ibu tak melihat ku lagi, beliau melanjutkan rutinitas nya dirumah.


Tbc


*Masih pemula readers, klo masih berantakan mohon maaf yaa,,,


Yang mau kritik silahkan,, tapi jangan pedes pedes yah,,,


jangan buat author down,,kritik boleh tapi diiringi dengan masukan juga donk...


Aku sangat mengharapkan masukan para readers, karena kalean adalah moodbooster ku😊😊😊

__ADS_1


*jangan lupa tinggalkan jejak,,,vote like komen ok


*see u all😘😘*


__ADS_2