
MEMULAI SEMUA DARI AWAL
Happy reading gengks
Typo dimana - mana,
mohon tinggalkan jejak yaa biar Miss semakin semangat
sudah memasuki chapter konflik
Bergegas Dinda menarik lengan Rio meninggalkan Rumah sakit dimana mereka berada saat ini, gadis itu tidak ingin jika Imran menemukannya.
"Kamu kenapa sih Thy? kok pucet gitu? kamu sakit?" tanya Rio bertubi-tubi melihat raut wajah gadis kecilnya yang mendadak pias setelah dari dalam tadi.
Dinda tidak menjawab satupun pertanyaan yang Rio lontarkan, gadis itu hanya terus menarik lengan kekar milik sahabat kecilnya tanpa mau mengucapkan sepatah kata.
"Kamu udah ketemu sama Ibunya Imran?" tanya pria itu lagi makin penasaran dengan gadis yang sedang terburu-buru menarik lengannya seolah menghindari seseorang.
Dinda masih bergeming, gadis itu belum berniat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pria yang saat ini duduk manis didepannya mengendarai kuda besinya melaju membelah jalanan.
Rio terdiam, pria itu tak lagi kembali bertanya dia tau betul sifat sahabatnya satu ini, tak ingin dipaksa jika bukan keinginannya sendiri untuk bercerita.
β¨β¨β¨
Disebuah cafe sederhana, Rio memarkirkan kuda besinya, pria itu mengajak Dinda istirahat sebentar sebelum melanjutkan kembali perjalanan mereka kembali kekota dimana gadis itu tinggal sekarang.
"Sebenernya ada apa? sebelum kita kesini kamu bahagia banget, tapi belum lima menit aku tinggal ketoilet kamu udah kayak kuntilanak, mukanya tiba-tiba pucat emang Imran ngomong apa sama kamu?" tanya Rio hati-hati takut menyinggung perasaan Dinda.
"Thy klo kamu ada masalah kamu cerita sama aku, kali aja aku bisa bantu kamu" bujuknya lagi.
Tak disangka oleh Rio tiba-tiba Dinda menangis, pria itu mendadak panik, bukan apa-apa pasalnya saat ini mereka menjadi pusat perhatian karena Dinda yang menangis sesenggukan.
Jangan sampe deh Rio disangka pria brengs*ek yang sedang ditangisi oleh kekasihnya seolah ketahuan selingkuh.
Rio meringis tatkala mendapati sebagian mata pengunjung yang berada disekitar mejanya dan kebanyakan berjenis emak-emak sedang menatap horor kearahnya.
Pria itu hanya tersenyum kikuk menanggapi tatapan mengintimidasi yang dia terima sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Hal itu membuat pria tampan itu jadi sulit menelan salivanya.
__ADS_1
"Thy, udah donk jangan nangis kek gitu nanti emak-emak itu mikir aku udah nyakitin kamu" bisik Rio.
Tak membutuhkan waktu lama akhirnya Dinda berhasil menguasai emosinya, diteguknya jus Alfokat yang menjadi minuman favoritnya hanya dalam sekali teguk.
Gadis itu tak peduli bagaimana tatapan pengunjung lain yang sedang berada dicafe itu juga.
"Kamu mau ngga kepantai,?" tanya Rio.
Lagi-lagi gadis itu tak menjawab hanya anggukan kecil yang masih sempat dilihat oleh Rio sebagai tanda bahwa gadis itu setuju dengan ajakannya.
Dipantai, Dinda melepas semua bebannya, gadis itu tak ingin terus larut dalam kesedihan
Dinda kemudian menceritakan apa yang dia lihat saat tiba dirumah sakit, Dinda melihat Imran yang sedang memeluk erat Sekar sambil tersenyum bahagia.
Dinda berharap bahwa Sekar dan Imran akan hidup bahagia, dan berjanji tidak akan mengganggu hubungan mereka.
πππ
Dua tahun berlalu, kini Dinda lebih fokus melanjutkan pendidikannya, gadis itu tidak lagi memikirkan apa yang telah terjadi dua tahun yang lalu.
Dinda benar-benar memulai kembali kisah hidupnya dari awal, melupakan semua yang pernah terjadi, melupakan semua rasa yang selama ini gadis itu simpan.
Tidak seperti waktu masih menempuh pendidikan dibangku sekolah menengah atas, kehangatan keluarga yang dulu Ayah dan Bunda tunjukkan sudah tidak lagi dia rasakan.
Imran berfikir mungkin kedua orang tua Dinda tak merestui hubungan mereka, terpaksa pria itu mundur dan lebih memilih menghilang dari hidup gadis keritingnya.
Sebenarnya Ayah dan Bunda tidak tega bersikap seperti itu pada Imran, sahabat dari putri semata wayang mereka yang sudah mereka anggap saperi anak sendiri tapi itu semua permintaan Dinda.
Dinda sudah menceritakan yang terjadi antara dia dan Imran tapi tidak dengan apa yang pria itu lakukan di aula malam itu, dan gadis itu juga bercerita tentang perasaan Sekar, Dinda tidak mau menjadi penghalang antara Imran dan Sekar.
Ayah dan Bunda setuju dengan keputusan putri mereka, justru terkesan mendukung sang putri akhirnya kedua orang tua itu lebih memilih bersikap dingin jika Imran datang, sampai akhirnya pria itu menyerah.
Dinda disibukkan dengan beberapa tugas dari dosennya, sudah dua tahun ini gadis itu berjuang menyelesaikan pendidikannya, dan tak lama lagi gadis itu akan diwisuda.
Dinda menempuh pendidikan desainer interior dengan program D3 jadi rencananya tahun depan gadis itu akan menjadi wisudawati.
"Bun, Dinda berangkat ya" pamit Dinda sambil mengecup punggung tangan wanita yang telah melahirkannya.
__ADS_1
"Hati-hati sayang, oh iya kamu ngga lupa kan dengan rencana kita minggu depan?" tanya Bunda.
"Iya Dinda inget kok,"
"Ya sudah berangkat sana"
"Hmm, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setengah jam waktu yang ditempuh Dinda untuk sampai kekampus dimana tempatnya mengenyam pendidikan.
Begitu banyak tugas yang harus dikerjakan oleh gadis itu, ditambah jam kuliah yang cukup padat tidak membuat gadis itu patah semangat, cita-citanya sudah didepan mata, selangkah lagi untuk menggapainya.
Sore harinya Rio datang menjemput gadis itu, selama seminggu ini Rio mendapatkan libur jadi pria itu bebas mengantar jemput Dinda.
"Baru selesai,?" tanya Rio yang sudah menunggu Dinda didepan kampusnya, sambil menyodorkan helm.
"Iya nih kak, capek banget tapi aku seneng, bentar lagi aku akan menggapai cita-cita aku, dan membantu keuangan Ayah dan Bunda" jelasnya panjang lebar sambil tersenyum sumringah.
"Kamu inget kan rencana keluarga kita minggu ini?" tanya pria itu saat sudah berada dijalan melajukan kuda besinya.
"Inget kok, elah di ingetin mulu" keluh Dinda. "Emang kak Rio serius mau ngelamar?" lanjutnya lagi.
"Serius dong, aku pengennya tunangan dulu, selesai pendidikan aku bakalan langsung nikahin, pendidikan aku kan tinggal setahun lagi." ucap Rio.
"Hmm aku setuju," Jawab Dinda mengiyakan.
Kuda besi yang dipacu oleh Rio terlihat memasuki area rumah Dinda, setelah memarkirkan kendaraannya Rio pun turun dan menyapa Bunda yang menyambut mereka didepan pintu.
**Tbc
Plis vote like n komen gengks πππ
jangan lupa tinggalkan jejak
konflik besar akan terjadi tetap stay ok
__ADS_1
See u allπππ**