Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 17


__ADS_3

SEKAR MAHARANI


Happy reading gengks😊😊


Maaf masih banyak typoπŸ™πŸ™


Telah Ku Coba Untuk Bertahan


Dari Kisah Cinta Menyakit Kan


Luka Yang Kau Beri Begitu Dalam


Sungguh Sakit Kurasakan


Sudah Ku paksa Untuk Mengerti


Walau Hatika Ku Ini Terluka


Bukan Salah Ku Tak Mencintai


Karna Sikap Mu Memaksa Ku Pergi


Adakah Karna Dia Yang Lebih Sempurna


Hingga Engkau Pergi Bersama Dirinya


Kini Ku Sendiri Meratapi


Hati Yang Terluka


Maaf Kan Lah Aku Yang Tak Bisa


Membuat Mu Bahagia Dalam Cinta


Ku Yang Harus Pergi Tinggal Kan Mu


Untuk Selamanya


Andai Hatiku Dapat Berbicara


Tak Kan Pernah Sanggup Engkau Mendengar nya


Tangisan Hatiku Meraung Di Jiwa


Sedih Hatiku Kini Yang Ku Rasa


Adakah Karna Dia Yang Lebih Sempurna


Hingga Engkau Pergi Bersama Dirinya


Kini Ku Sendiri Meratapi


Hati Yang Terluka


Maaf Kan Lah Aku Yang Tak Bisa


Membuat Mu Bahagia Dalam Cinta


Ku Yang Harus Pergi Tinggal Kan Mu


Untuk Selamanya


Karena Dia...


Mira putri - karna dia


➿➿➿➿


"Ya Tuhan, apa yang kulakukan pada gadis keritingku, sampe dia terlihat sangat kacau," batin Imran.


Imran mengajak Dinda kekantin, karena tau kalo gadis itu pasti belum makan, tapi kali ini bukannya setuju malah dia menjawab dengan jawaban yang membuatnya kesal.

__ADS_1


"Ngga nafsu".


Astaga ada apa dengan ketiga sahabatku, mendadak jadi ngga nafsu makan, apa mereka sedang diet berjamaah ???


"Plis Din, "bujuknya lagi dengan wajah memelas.


Dinda lagi-lagi menggeleng.


"Lo kenapa sih, Din?" Suara Imran sedikit membentak, membuat seisi kelas terkejut termasuk Dinda.


Sadar dengan kelakuannya, Imran pun meminta maaf.


"Sekarang lo ikut gue, mau ngga mau," ucap Imran.


Kemudian Imran menarik tangan Dinda menuju kekantin, pria itu lalu memesankan semangkok bakso kesukaan gadis keritingnya, tapi baru 2 sendok yang masuk kedalam mulutnya, gadis itu menolak untuk melanjutkan makannya.


Imran terus memaksanya menghabiskan makanan itu, tapi yah mau bagaimana, Dinda adalah orang yang tidak suka dipaksa, hal itu membuatnya reflek berdiri ingin meninggalkan kantin, tapi lebih dulu tangannya dicekal.


"Ok, sorry kalo gue terus maksa lo,,tapi lo ikut gue, ada yang pengen gue omongin."


Tanpa banyak bicara, pria itu menarik tangan gadisnya, membawanya menuju ketaman belakang, dimana tadi dia membawa Sekar duduk berdua. Dinda hanya bisa pasrah mengikuti kemana Imran membawanya, menolak pun rasanya tidak sanggup.


Imran mengajak Dinda duduk dikursi panjang tepat disamping bunga Mawar sedang bermekaran. Pria itu masih menggenggam erat tangan Dinda.


"Lo kenapa,?" tanyanya lembut.


Lagi lagi Dinda hanya bisa menggeleng.


"Kalo ada masalah cerita,, jangan dipendam sendiri" bujuknya lagi.


Gadis itu hanya diam, menatap kosong kearah bunga-bunga yang sedang bermekaran.


Merasa diabaikan, Imran menarik tubuh Dinda menghadap kearahnya. Pria itu memegang kedua lengan Dinda dan memaksanya menatap matanya.


"Lihat gue Din,! lo kasih tau gue lo kenapa..?" serunya mulai kesal karena sejak tadi Dinda hanya diam.


"Gue ngga pa pa bing," akhirnya gadis itu menjawab.


Sekali lagi gadis itu hanya menggeleng.


"Astagaaa Dinda lo kenapa?" Imran mulai terpancing emosi.


Tiba-tiba cairan bening yang sedari tadi gadis itu tahan akhirnya meluap, dia sudah tidak sanggup menahan airmatanya yang sedari tadi ingin tumpah.


Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil menangis tersedu sedu.


Hu,,,hu,,,hu,,,hu,,,


Imran yang terkejut karena Dinda tiba-tiba menangis, langsung meminta maaf, pria itu menarik sang sahabat kepelukannya untuk menenangkannya.


"Maaf Din, gue ngga maksud bentak lo,,"ucapnya penuh penyesalan.


........


"Din, sebenarnya lo kenapa? hari ini lo murung terus, penampilan lo kacau banget, klo ada masalah cerita sama gue, gue sahabat lo siap dengerin keluh kesah lo hmm,"


"Gue kangen Reza,,," cicit Dinda tapi masih dapat didengar oleh Imran.


"Cuman itu?"


Dinda tidak menjawab, dia hanya mengangguk.


"Maaf bing, gue ngga bisa cerita sekarang, nanti ada saatnya gue bakal kasih tau lo tentang perasaan gue, tapi bukan saat ini," batin Dinda.


"Ya udah sekarang lo tenangin fikiran lo, setelah tenang gue anter lo ketempat Reza, ok" bujuknya.


Dinda kembali mengangguk, sambil menghapus jejak airmata yang tadi mengalir dipipinya.


Imran masih memeluk Dinda, berusaha memberi ketenangan untuk gadisnya itu.


Setelah merasa tenang, Imran mengajak Dinda menemui Reza dipemakaman sekalian mengirimkan doa dan berziarah, rasanya sudah lama dia tidak berkunjung kemakam sang adik dari gadis yang sangat dia sayangi.

__ADS_1


Sehabis dari makam, Imran tidak langsung mengantar Dinda pulang tapi mengajaknya makan terlebih dahulu mengingat sekarang sudah pukul tiga sore, dan Dinda juga belum makan sejak tadi.


🌊🌊🌊🌊


Seminggu berlalu, waktu penyambutan Muba sudah selesai, sekarang semua kembali ke aktivitas masing-masing.


Dinda dan Imran juga sudah kembali seperti biasa, Dinda mencoba untuk lebih bersikap terbuka, dia tidak mau egois, kalau memang Imran menyukai gadis Muba itu, apa yang bisa dia lakukan, bukankah sejak awal Imran sudah berpesan bahwa apapun yang terjadi mereka tetap sahabat, jadi bersikap terbukalah, agar rasa sakit itu tidak terlalu terasa.


Bukankah melihat orang yang kita cintai bahagia adalah kebahagiaan yang sebenarnya?? Dan disinilah Dinda sedang berdiri didepan kelas X 4, gadis itu sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan membantu sahabatnya mendapatkan wanita pujaannya.


"Sekar" panggil Dinda.


Gadis yang bernama Sekar segera menoleh kearah suara yang sedang memanggilnya, kemudian tersenyum manis.


"Kak Dinda,," sapanya.


"Hai Kar, kamu lagi ngapain ?" Tanya Dinda basa basi.


"Lagi nyelesein tugas kak, ada apa emang,"


"Ngga pa pa sih, cuma mau ajak kamu kekantin bareng," seloroh Dinda.


"Hmm boleh deh, tapi tunggu aku selesein dlu ya kak, kakak duluan aja, ntar aku nyusul."


"Ok aku tunggu dikantin" ucapnya sambil berlalu meninggalkan kelas Sekar.


βžΏπŸ’žπŸŒŠπŸ’žβžΏ


Dikantin sudah ada Imran juga Vana menunggunya, sedangkan Wawan tidak bisa ikut bergabung karena harus mempersiapkan diri untuk ikut lomba debat Sains antar sekolah di Bandung. Setelah menemukan dimana kedua sahabatnya duduk, Dinda langsung menghampiri mereka.


"Gimana ting,,?" tanya Imran tak sabar.


"Tenang ntar dia nyusul, soalnya masih ngerjain tugas"


Imran tersenyum sumringah mendengar ucapan Dinda.


"Tuh dia gebetan lo," tunjuk Dinda pada gadis yang baru saja masuk kekantin.


"Sekar" panggilnya sambil melambaikan tangan.


Terlihat Sekar ikut melambaikan tangan kearah mereka bertiga.


Setelah memesan, Sekar menghampiri ketiganya, berhubung tempat kosong yang tertinggal hanya disamping Imran mau tak mau dia duduk disamping pria itu dan berhadapan dengan Vana, sedangkan Dinda berhadapan dengan Imran.


10 menit kemudian pesanan mereka datang, tak ada yang berbicara saat makan, hanya suara dentingan sendok saling beradu didalam mangkok bakso tersebut.


Setelah makan semua kembali kekelas masing-masing tapi Imran terlebih dulu mengantar Sekar kembali. Baru dia juga kembali kekelasnya sendiri.


Sebenarnya Imran menyukai Sekar sifat gadis itu yang ceria dan juga ramah membuat Imran merasa nyaman, tidak bisa dipungkiri bahwa dia juga bisa jatuh hati pada gadis itu.


Hanya saja cintanya pada Dinda membuatnya tidak berani menjadikan gadis itu kekasihnya, dia takut bila suatu hari Sekar mengetahui bahwa dia hanya dijadikan pelarian maka gadis itu akan membencinya seumur hidup.


Yah Imran memang mengakui bahwa Sekar dapat membuatnya nyaman, dengan kata lain dia sangat menyukai gadis itu, Sekar adalah gadis yang baik, hanya saja untuk mencintainya sepertinya tidak mungkin karena cintanya hanya untuk gadis keritingnya.


➿➿➿


Sekar maharani, gadis ceria juga ramah, siapa pun yang mengenalnya pasti akan menyukainya, hal itu pun diakui oleh Dinda, maka dari itu Dinda setuju kalau Imran menjalin hubungan asmara dengan Sekar.


Sekar adalah anak seorang perwira polisi. Adam Harun.


Ibunya sudah lama meninggal karena kecelakaan tunggal 4 tahun yang lalu. Dia mempunyai seorang adik yang sedang menempuh pendidikan disalah satu sekolah swasta.


Sebenarnya Imran tidak percaya diri untuk menjadikan Sekar sebagai kekasihnya, dia takut tidak bisa mencintai Sekar seperti dia mencintai Dinda, tapi justru Dinda sendiri yang selalu mendukungnya, dan Imran semakin yakin kalau Dinda benar-benar hanya menganggapnya sahabat.


Tbc


**plis vote like n komen gengks😊😊


Jangan lupa jejak jejak jejak


See u all😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2