
AKU MENCINTAINYA,,,
Happy reading gengks๐๐
Typo bertebaran๐๐
"Bukti? kau ingin bukti?, baiklah,, setelah ku buktikan dia kekasihku, kuharap kau minta maaf nona Meyra,"
Bukti? bukti apa yang akan dimaksud Imran? Apa yang akan dia lakukan?
Imran berbalik kearahku, dia berdiri tepat dihadapanku, lalu tersenyum dan mengedipkan sebelah mata. Aku bingung dengan kelakuannya.
"Apa yang akan bunglon ini lakukan,?" tanyaku dalam hati.
Dia mulai menggenggam tanganku, tangan satunya meraih tengkukku, lalu.
Cup...
Dua benda kenyal nan lembut mendarat tepat dibibirku, reflek aku membelalakkan mata, dia melepas genggaman tangannya kemudian merengkuh tubuhku kedalam pelukannya, perlahan tapi pasti dia mulai meluma* bibirku, memberi gigitan kecil pada bibir bawahku.
Aku menikmatinya,, yaa aku menikmati ciuma* pria bunglonku, tanpa sadar aku ikuti permainannya, kupejamkan mataku dan kugenggam erat bajunya, lalu kubalas ciumannya, kami saling meluma*, menikmati permainan bodoh itu. Rasanya menenangkan.
Merasa kehabisan nafas, Pria bunglonku melepas pagutannya, dia membersihkan sisa ciuma* itu dibibirku, sambil tersenyum, aah tatapannya benar-benar membuatku terhanyut.
Imran berbalik menatap Meyra.
"Bagaimana nona,? sekarang kau percaya dia kekasihku?" sarkasnya.
"Sekarang apa kalian percaya bahwa gadis ini kekasihku?" tanyanya pada pengunjung foodcourt yang sedari tadi menyaksikan drama kami.
Heehh, sepertinya mereka ada pecinta sinetron ikan terbang, yang judulnya PALAKORRR.
"Kalian bisa menilai sendiri, jika gadis ini bukan kekasihku mana mungkin kan dia membalas cium*nku," ucapnya lagi penuh penekanan, sambil tersenyum smirk tapi kali ini dia seolah menyindir kak Dimas.
"Apa tadi dia melihatku menolak ciuman kak Dimas? Ohh Astaga malunya aku" batinku.
"Pasti dia akan menolak, hmmm? dan lagi kalian bisa lihat dan menilai sendiri jika orang yang tidak bersalah sikapnya akan lebih terkendali tidak bar bar seperti anda nona," tunjuknya pada Meyra.
"Baiklah, sesuai kesepakatan, aku sudah membuktikan Dinda adalah kekasihku, sekarang minta maaf," tekannya.
Kulihat wajah Meyra berubah merah padam, tanpa berkata apa-apa dia langsung pergi begitu saja, dengan kekesalannya.
Kak Dimas? jangan ditanya, Saat ini dia terlihat sedang berusaha menahan gejolak didalam dirinya, sejak tadi wajahnya memerah, dan tangannya terus mengepal, apalagi tadi didepan matanya Imran menciumku, dan aku pun membalasnya, aku tidak bisa membohongi perasaanku, bahwa ciuma* pria bunglonku ini benar benar menenangkan.
Imran membuka jaketnya, dan memakaikannya ditubuhku, aku sempat kedinginan, karena bajuku yang basah, dia menarikku keluar dari mall itu.
Imran mengajakku kepantai, dia memang sahabat terbaikku, dia tau pantai tempat favoritku, disini biasa aku menenangkan diri jika sedang sedih.
Tak ada yang berbicara diantara kami, sampai satu jam berlalu kami tetap saja bungkam satu sama lain, sepertinya kami hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Terima kasih" ucapku memulai pembicaraan.
"Buat?" tanyanya, tanpa menatapku.
__ADS_1
"Buat semuanya"
Imran hanya tersenyum.
"Lo sahabat gue, apa pun yang terjadi gue harus lindungin lo,"
"Tetep aja, klo lo ngga dateng, mereka pasti bakalan lebih menghina gue,"
"Udah gue bilang lo sohib gue, dan gue udah janji sama Ayah buat jagain lo, sampe lo nemuin seseorang yang bisa ngelindungi lo,"
"Hmm, lo bener, suatu saat gue pasti ketemu sama orang itu, tapi belum tentu dia bisa ngelindungi gue kayak lo,"
"Gue g akan ngelepasin lo ke orang yang g tepat kayak Dimas,!! ngerti lo"
Aku hanya mengangguk.
"Bing, boleh ngga gue minta sesuatu?" tanyaku.
"Apaan? asal jangan lo minta traktir, soalnya Abah belom gajian,"ucapnya sambil nyengir.
Aku ikut terkekeh mendengar candaanya.
"Lo bisa ngga peluk gue,?" tanyaku lagi, Aahh benar-benar saat ini aku butuh pelukannya untuk menguatkan hatiku.
Dia menoleh menatapku, pandangan kami saling bertemu, lalu dia tersenyum.
"Kenapa lo, doyan banget gue peluk? jangan - jangan lo naksir ama gue,"
"Iddiihhh najis,"
"Lo mau peluk gue atau mau ngajak gue ribut sih?" kesalku.
"Ya udah sini gue peluk, untung lo cwe" sambil menarik tanganku.
"Emang napa klo gue cwo?" tanyaku sok polos.
"Iddihh najis gue meluk lo, dikira gue doyan pisang kali? masa iya pisang doyan pisang, pedang pedangan donk,,!!"
Hahahahhaha
Aku berdiri dan masuk disela kakinya, lalu duduk membelakanginya dan bersandar didadanya.
Tangannya melingkar didepan dadaku memelukku seperti seorang kekasih, aah sahabatku ini memang paling bisa membuatku tenang.
"Bing,,"
"Hmmm"
"Bisa minta sesuatu lagi ngga?"tanyaku saat aku sudah berada dipelukannya.
"Apaan lagi sih, g usah macem macem deh,"
"Gue mau nyium lo lagi,"cicitku.
__ADS_1
"APAAA" Teriaknya.
"Adduuuh g usah teriak napa sih, gitu aja heboh banget," aku berdecak kesal.
Dia menyentuh keningku dan keningnya bersamaan.
"Ngga panas" gumamnya lirih tapi masih dapat kudengar.
"Yeyy, emang siapa yang bilang gue panas,"
"Ya gue heran aja kok, lo minta cium, padahal waktu ditaman belakang lo nampar gue, lah sekarang malah lo yang minta? lo kenapa sih,"
"Ngga papa, udah lupain aja, anggap aja gue lagi ngigo," jawabku asal.
"Ya kali lo ngigo sambil melek, lagian kenapa coba lo tiba-tiba minta dicium?"
"Ngga tau, gue cuma mau nenangin diri, tadi gue bener-bener terkejut, dan waktu lo nyium gue, perasaan gue jadi tenang, tapi klo lo ngga mau ngga pa pa kok, gue g maksa,"
Aku berbalik kearah laut sambil memejamkan mata, kembali bersandar didada pria bunglonku.
Aku merasakan sebuah tangan kokoh menarik tengkukku, memaksaku berbalik kearahnya, dan
Cup...
Kurasakan dua benda kenyal kembali mendarat diatas bibirku, pagutan itu sangat dalam, seakan menuntut lebih, tapi aku tidak bisa menolaknya, sensasinya menembus jantungku.
Kami saling meluma*, bertukar saliva, seolah menumpahkan segala rasa yang tersimpan, makin lama ciuma* itu semakin menuntut, merasa kehabisan nafas, Imran melepas tautan bibirnya dibibirku, dia menempelkan keningnya dikeningku, kami saling berebut udara, mencoba menstabilkan irama detak jantung yang menari nari tak karuan.
Setelah cukup udara yang kami hirup, Imran kembali menyatukan bibir kami, memagutnya perlahan tapi pasti, lama kelamaan ******* itu kembali memanas, menuntut sesuatu yang lebih, sekali lagi Pria bunglon itu melepaskannya agar tidak terbawa nafsu.
Sampai ketiga kalinya kami melakukan hal yang sama berulang-ulang, jujur aku takut klo Imran kelepasan, tapi untungnya pria itu adalah Imran ku yang tak bisa dikalahkan oleh nafsu, Tiga kali kami mengulangi ciuma* itu akhirnya dia kembali memelukku dari belakang berusaha meredam hasratnya.
"Aku bukan anak kecil lagi Din, aku pria normal yang memiliki hasrat, maafkan aku Din, aku ngga mau kamu rusak karena hubungan ini, maafkan aku yang melakukan itu padamu, aku sungguh tidak bermaksud menyinggungmu, aku tidak mau persahabatan kita hancur hanya karena nafsuku yang tak dapat kukuasai, tolong jangan bergerak, biarkan seperti ini, agar aku bisa meredam hasratku Din,"
Suaranya terdengar sangat parau, ketika membisikkan itu ditelingaku, aku tau dia sedang berusaha meredam hasratnya yang timbul karena ciuma* panas kami.
Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya tanpa berniat menjawab, aku juga sedang berusaha meredam gemuruh dihatiku, ada apa ini kenapa aku merasa sakit saat dia menyebut aku sahabatnya? apa yang terjadi? bukankah aku memang hanya sahabatnya? tapi kenapa aku
merasa sakit? aku tak terima disebut hanya sebatas sahabat? ya aku memang sahabatnya, dan itulah kenyataannya.
Mungkinkah aku menginginkan lebih dari sekedar sahabat?apakah mungkin aku sudah jatuh cinta pada pria bunglon ini?
"AKU JATUH CINTA PADANYA, YAA BENAR AKU MENCINTAINYA,,,YA TUHAN APA YANG HARUS KULAKUKAN"
**Tbc
Kira-kira siapa nih gengks yang jatuh cinta duluan?
Adinda atau Imran??
plis vote like n komen yaaa
jangan lupa tinggalkan jejak๐๐
__ADS_1
See u all๐๐๐**