Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 13


__ADS_3

MAAF JIKA AKU MENCINTAIMU


Happy reading yaa gengks๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Mf typo masih bertebaran๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya tanpa berniat menjawab, aku juga sedang berusaha meredam gemuruh dihatiku, ada apa ini kenapa aku merasa sakit saat dia menyebut aku sahabatnya? apa yang terjadi? bukankah aku memang hanya sahabatnya? tapi kenapa aku


merasa sakit? aku tak terima disebut hanya sebatas sahabat? ya aku memang sahabatnya, dan itulah kenyataannya.


Mungkinkah aku menginginkan lebih dari sekedar sahabat?apakah mungkin aku sudah jatuh cinta pada pria bunglon ini?


"AKU JATUH CINTA PADANYA, YAA BENAR AKU MENCINTAINYA,,,YA TUHAN APA YANG HARUS KULAKUKAN"


๐ŸŒŠ๐ŸŒŠ๐ŸŒŠ


Kami sudah sampai didepan rumah, Imran mengantar ku pulang setelah perasaanku lebih tenang, dan aku berharap semua kembali seperti biasanya, aku tidak mau perasaan ini menyiksaku suatu hari nanti.


"Makasih Bing," ucapku sebelum turun dari kendaraannya.


"Hmm, sebaiknya lo istirahat, g usah mikirin Dimas lagi, dia itu brengse*" memberi peringatan.


Aku hanya mengangguk, rasanya hari ini sangat melelahkan.


"Ya udah lo masuk gih, salam buat Bunda sama Ayah," Ucapnya.


"Besok aku jemput seperti biasa ok, inget apa pun yang terjadi kita udah janji semuanya ngga akan ada yang berubah Hmm,?"Imran membelai rambutku sayang, sambil tersenyum.


Ahh aku rasanya mau pingsan, kayaknya aku ngga bisa menepati janjiku, maaf Bing, lo terlalu indah buat dilupain.


Akhirnya dia pergi, kutatap kepergiannya menghilang dibalik belokan ujung gang, tak terasa air mataku mengalir.


"Maaf bing, kayaknya aku ngga bisa menganggap semua biasa aja, semua yang terjadi begitu mendadak disaat yang bersamaan, apakah aku bisa mengubur rasa ini?" gumamku lirih.


Rasa ini datang begitu saja, seperti badai yang datang lalu pergi meninggalkan kehancuran yang dahsyat, seperti itu juga dirimu yang berhasil memporak - porandakan hatiku.


๐Ÿ’Flashback๐Ÿ’


Masih dipantai.


"Din, apapun yang terjadi kita tetap sahabat yah, jangan pernah menghindar dari gue lagi, lo segalanya buat gue, gue sayang sama lo, jadi gue mohon tetaplah jadi sohib gue." ucapnya memelas.


"Apaaa? jadi dia tetap hanya menganggapku sebagai sahabatnya? semua yang terjadi tidak berarti apa - apa buatnya,? astagaa apa yang kufikirkan?memang apa lagi yang kuharapkan dari hubungan ini? memang sejak awal kami hanya sebatas sahabat, baiklah aku akan berusaha melupakan semuanya, menganggap tidak ada yang terjadi antara kita, aku janji akan melupakan semuanya dan kembali seperti dulu karena aku pun tak sanggup jika menyimpan rasa ini terlalu lama, aku tidak ingin kau menjauhi ku hanya karena perasaan ini, aku janji" batinku.


Aku mengangguk, lalu tersenyum.

__ADS_1


Aku berusaha bersikap biasa, aku tidak ingin kalau Imran menjauhiku hanya karena tau aku menyimpan perasaan padanya, aku tidak ingin kehilangan sosok sahabat yang selalu melindungiku, walaupun akhirnya aku harus melupakan cintaku.


"Gue mau pulang, bing" ucapku.


"lo yakin?"tanyanya tak yakin.


Aku berbalik dan tersenyum padanya, berusaha bersikap seperti biasa, seperti yang dia inginkan.


"Hmm yakin, gue merasa lebih baik sekarang,"


"Ya udah yok, gue anter lo balik,"


Disepanjang jalan tidak ada yang berbicara, hingga tiba dirumah.


๐Ÿ’Flashback off๐Ÿ’


"Maafin aku bing, aku benar-benar ngga bisa ngelupain semuanya begitu aja, aku ngga bisa menganggap seolah tidak terjadi apa - apa, tapi kamu tenang aja, aku akan berusaha bersikap seperti biasa, demi kamu demi persahabatan kita."


"Imran Aku mencintai kamu, dan Rasa Ini Pasti Akan tetap Tersimpan hingga suatu hari nanti dia akan menghilang dengan sendirinya."


โ™จโ™จ Imran POV


Sore ini aku akan membuntuti kemana Dimas akan membawa Dinda, tidak akan kubiarkan dia mempermainkan gadis keritingku.


Selesai menonton aku masih membuntuti mereka, kulihat mereka memasuki sebuah foodcourt yang terletak dilantai tiga mall xx, tidak ada yang aneh dengan gelagatnya, apakah aku salah menduga kalo Dimas bukan orang yang baik? mungkin memang benar dia pria yang baik, sepertinya aku harus membebaskan gadis bodoh itu dengan pilihannya, walaupun aku sangat berat melepasnya.


Sebenarnya ada apa dengan hatiku, kenapa aku merasa sangat tidak rela Adinda dengan pria lain. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh, tapi tunggu apa itu, astagaaa,,!!!


Apa Dinda melihat ku,?


Aku harus bagaimana?


Apa yang harus kulakukan jika dia menghampiri ku?


Ya, sekilas tadi kuliat dia menoleh kearahku, tapi saat kuintip kembali ternyata dia sudah mulai kembali mengobrol dengan Dimas.


Yah mungkin inilah saatnya Din, aku merelakanmu dengannya, semoga saja kalian bahagia.


Triiingg triiingg triiingg


ponselku berdering,,kulihat nama yang tetera, Ibu Calling.


"Ibu, nelfon ada apa yah?" gumamku.


Aku keluar dari foodcourt untuk menerima telfon Ibu, sekitar 15 menit aku berbicara dengan ibu ditelfon selama itu pula aku tidak menyadari apa yang terjadi didalam foodcourt, kulihat sekelompok orang berkerumun, dan aku mendengar suara seorang wanita sedang berteriak histeris.

__ADS_1


"Apa yang terjadi,?" gumamku dalam hati.


Aku mendekati kerumunan, saat sampai aku terkejut, melihat Dinda berdiri dengan keadaan yanga sangat berantakan, wajah dan bajunya basah seperti habis diguyur air, astaagaaa apa yang terjadi pada gadisku.


Yang lebih membuatku terkejut adalah wanita yang sedari tadi histeris,,,Meyra???


Tunggu dia mendekati Dinda, apa yang akan dia lakukan??? apa dia akan menyerang gadisku?? dan lihat si pengecut itu, dia hanya diam saja?? brengs** pasangan ini benar-benar membuatku geram.


Kulihat Meyra mengangkat tangannya, dia akan menampar wajah Dinda, tapi lebih dulu kucekal tangannya, dan menghempaskannya kasar, seenaknya saja dia mau menampar gadisku?? Dindaku?? Hhehh enak saja.


Meyra menuduh Dinda merebut kekasihnya yang tidak lain adalah pria brengs** itu, aku tidak akan tinggal diam, kucium Dinda didepan semua orang agar aku bisa membuktikan bahwa bukan gadis ku yang salah, tapi wanita gila itu.


Aku mencium Dinda didepan semua orang yang ada di foodcourt itu dan pastinya didepan Dimas, si pengecut yang hanya bisa jadi penonton, melihat Dinda dipermalukan oleh Meyra,,dasar pria brengs**.


Setelah drama ini berakhir, aku menarik Dinda keluar dari mall, sebelumnya aku memakaikan jaketku, ku rau dia kedinginan setelah diguyur air oleh Meyra, astagaaa wanita itu benar-benar sudah tidak waras.


Kubawa Dinda ke pantai, aku tau dia sangat menyukai pantai, kami bersahabat bukan setahun dua tahun tapi sejak kami masih remaja, jadi aku tau tempat dimana bisa mengembalikan moodnya jadi lebih baik.


Sekian lama kami terdiam dengan fikiran kami masing-masing, hingga Dinda berterima kasih, dan memintaku memeluknya, tapi aku malah mengejeknya, bukan sengaja aku lakukan, tapi sebenarnya aku merasa gugup saat gadis bodoh itu meminta hal yang aneh.


Sejujurnya aku bahagia bisa memeluknya, tapi jujur saja aku merasa sangat gugup, aku aku takut kelepasan,,astagaa ada apa dengan diriku???


Kupeluk sahabatku yang bodoh itu, sengaja aku memeluknya dari belakang agar dia tidak dapat melihat bagaimana ekspresi wajahku, astagaaa bagaimana jika dia melihatku?? dia pasti menertawakanku.


Kupejamkan mataku untuk menetralkan detak jantungku, ku hirup dalam-dalam aroma tubuhnya, yaa Tuhaaann tolong jangan biarkan gadis bodoh ini mendengar jantungku yang berdebar sangat keras.


"Bing,,"


"Hmmm"


"Bisa minta sesuatu lagi ngga?"


"Apaan lagi sih, g usah macem macem deh,"


"Gue mau nyium lo lagi,"cicitku.


"APAAA"


Tbc


nah kira-kira siapa sih yang duluan jatuh cinta???


plis vote like n komen yaa ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


jangan lupa tinggalkan jejak gengks๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜**

__ADS_1


__ADS_2