Sebelah Hati

Sebelah Hati
SEASON DUA


__ADS_3

ISTRI SAH VS VALAKOR


Happy reading gengks


maaf jika banyak typo.


❄❄❄❄


Dinda bergegas turun dari mobil dan bertanya kepada resepsionis nomor kamar yang ditempati oleh Soraya. Namun karena semua identitas pengunjung adalah privasi, resepsionis tersebut tidak langsung memberitahu informasi yang Dinda inginkan.


Dimas datang dan segera menarik tangan Dinda, membawa wanita itu memasuki lift dan membawanya ke lantai sebelas, dimana Soraya dan Imran tidur bersama semalam.


"Kenapa kamu nanya ke resepsionis, kan ada aku yang bisa tunjukin dimana kamar suami kamu dengan selingkuhannya" Provokasi Dimas.


Pria itu mencoba menghasut Dinda dengan menceritakan semua tentang kegiatan Imran selama berada di sini, dengan bumbu kebohongan yang kental tentunya. Namun Dinda tak bergeming, Ibu tiga anak itu hanya diam dengan beribu pertanyaan dibenak nya.


Sesampainya Dinda dilantai yang dituju, Dimas segera menggiring Dinda ke kamar Soraya yang ada Imran didalamnya.


Awalnya Dinda ragu, karena dirinya curiga kepada Dimas, namun Dimas tau apa yang Dinda rasakan, kembali Dimas mengucapkan kebohongan agar Dinda percaya padanya.


Dinda membuka pintu kamar Soraya dengan sedikit keras, membuat si empunya kamar sontak terbangun.


Pintu kamar itu sengaja tak dikunci oleh Soraya agar Dinda bisa langsung masuk dan memergokinya yang sedang berpura-pura tidur dalam pelukan Imran.


Sebelumnya Dimas sudah mengirimkan pesan bahwa dirinya akan segera datang membawa Dinda, dan Soraya segera membuka kunci kamarnya agar Dinda segera masuk tanpa harus mengetuk.


Dan disinilah dia sekarang, sesuai skenario Soraya, Dinda memergoki Soraya yang tertidur sambil memeluk erat tubuh suaminya.


Rasa panas, marah, kecewa, bercampur menjadi satu dalam diri Dinda, siapa yang tidak terbakar saat melihat suaminya tertidur saling berpelukan dengan wanita lain, apalagi umur pernikahan mereka masih seumur jagung.


Dinda melangkah kesamping Imran yang masih terlelap dan tak menyadari kehadiran Dinda yang sudah nampak seperti penyihir saking menyeramkan nya wajahnya karena emosi yang menggebu, sedangkan Soraya sudah terbangun saat kedatangan Dinda yang masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Bren*sek" pekik Dinda, sambil menyiramkan sebotol air dingin yang terletak diatas nakas ke wajah Imran, sontak membuat pria itu gelagapan karena terkejut.


Soraya pun tak kalah terkejut, saat mendengar suara Dinda yang menggema di setiap sudut ruangan itu, Soraya bangun tergesa sambil memperbaiki letak selimutnya untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, wanita itu tersenyum sinis melihat kilatan emosi dimata Dinda.


"Mampus, kali ini kau benar-benar akan meninggalkan Imran, dan aku akan menggantikan posisimu wanita bodoh" batin Soraya.


Dinda mendelik kearah Soraya yang tersenyum sinis, sedangkan Imran semakin terkejut melihat Dinda dengan sorotan mata tajamnya seakan menghunus jantungnya.


"Kamu disini sayang" tanya Imran heran, masih dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Aku akan buat perhitungan denganmu Mas, tapi tunggu waktunya" ketus Dinda, membuat Imran semakin bingung, nampaknya pria itu belum menyadari apa yang tengah terjadi.


"Ada apa dengan Dinda?" batin Imran.


Dinda melangkah ketempat dimana Soraya yang sedang memandangnya remeh, wanita itu langsung menjambak Soraya dan menariknya hingga terjatuh ke lantai, selimutnya tersingkap dan nampaklah bahwa tubuhnya tidak sepenuhnya telanjang, Soraya masih memakai pakaian dalam sejenis kemben, yang melilit di tubuhnya, karena tertutup selimut, jadi nampak seperti tidak memakai apa-apa, sedangkan Imran sendiri hanya bertelanjang dada.


Dinda menjambak rambut Soraya hingga dirinya terjatuh ke lantai, sontak bokongnya mencium dinginnya lantai kamar hotel itu dan membuat gadis itu meringis, Kejadian itu begitu cepat, Akhirnya Imran pun sadar dengan kemarahan yang Dinda rasakan saat ini.


"Breng*sek, dasar wanita tidak laku, beraninya kau menjebak suami ku, kau belum lihat bagaimana aku akan membuatmu menjadi botak" raung Dinda emosi, sedangkan Soraya terus meronta-ronta karena kepalanya terasa sangat sakit akibat jambakan Dinda, Soraya berusaha melepaskan diri, namun tampaknya Dinda tak akan melepaskan mangsanya kali ini, seperti seekor Harimau yang kelaparan, dan akhirnya berhasil mendapatkan kijang buruannya, kemudian bersiap mencabik-cabik daging kijang tersebut.


Dimas yang melihat Dinda begitu emosi, segera menghampirinya, namun belum sempat menyentuhnya, sebuah bogem mentah mendarat tepat di rahang pria itu, tentu Imran lah pelakunya.


"Jangan sentuh istriku" ancam Imran.


Imran bukanlah orang bodoh yang tak tau membaca situasi yang terjadi, Imran tau pasti semua ini rencana Soraya dan Dimas menjebaknya, apalagi dengan sangat kebetulan Dimas berada sama dengannya diwaktu yang bersamaan ditempat yang sama pula.


Imran lantas menarik Dinda keluar dari kamar itu, dan membawanya ke kamarnya setelah mengenakan bajunya yang tergeletak di lantai.


Dimas hendak mengejarnya, namun karena kurang hati-hati dirinya terpeleset di lantai yang basah akibat percikan air yang tadi Dinda siramkan ke wajah Imran, dan lebih parahnya lagi Dimas jatuh tepat diatas Soraya yang kesakitan, alhasil keduanya pun terjatuh dan lagi-lagi merasakan sakit pinggang.


Imran membawa Dinda yang meronta ke kamarnya, setelah sampai Imran langsung mendekap erat tubuh Dinda, walaupun ratunya itu menolak.

__ADS_1


"Kamu percaya sama aku, aku dan Soraya ngga ngapain semalam, aku bahkan ngga tau kalo aku tidur dikamar wanita itu" tutur Imran lembut di sela dekapannya.


Dinda terus memukuli punggung Imran, melampiaskan segala kemarahannya dan rasa sakit yang dia rasakan, airmatanya pun tak hentinya mengalir.


Merasa sedikit lebih tenang, akhirnya Dinda pun berhenti memukul punggung Imran, Dinda justru memeluk erat sang suami, dirinya benar-benar takut kehilangan, Dinda percaya bahkan sangat percaya kepada Suaminya, Imran tidak akan pernah mengkhianatinya dan anak-anak mereka.


Imran merasakan Dinda tak lagi memberontak, justru ikut mendekapnya sangat - sangat erat.


Imran menguraikan pelukannya, ditatapnya mata sang istri yang bengkak karena banyak menangis, lalu menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi kekasih halalnya itu.


"Kamu percayakan sama aku?" tanya Imran lembut, dan dijawab anggukan oleh Dinda.


Imran mengajak Dinda duduk disofa, memberinya air dingin, dan kembali mendekapnya, dirinya benar-benar menyesal telah bersikap bodoh hingga bisa terjebak oleh permainan busuk Dimas dan Soraya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Tbc


Terima kasih buat yang masih setia nungguin Miss...


tolong dukung author yaa...


caranya like vote komen dan tinggalkan jejak πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£


Jangan lupa Novel Miss difavoritkan


klik tanda love ❀❀❀


Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " SAKIT TAK BERDARAH" dengan Cover yang baru


See U All😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2