Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 36


__ADS_3

SELAMAT TINGGAL CINTA


Happy reading gengks


typo dimana-mana πŸ™


Rio tak sengaja melihat Imran yang sedang berdiri diujung pintu ruangan, pria yang sudah dianggap kakak oleh Dinda itu menyunggingkan senyum tipis, kemudian dia mengangguk seolah menjawab pertanyaan yang ada dibenak Imran.


"Dinda" Seru Imran.


Merasa namanya disebut, Dinda sontak berbalik melihat kearah suara yang memanggilnya.


Gadis itu terkejut melihat Imran sudah berada dibelakangnya, keadaan pria itu tidak jauh beda dengannya terlihat sangat kacau.


"Sebaiknya aku tinggalin kalian," ucap Rio "kalian selesaiin masalah kalian sampe kelar jangan kayak anak kecil saling memendam rasa" lanjutnya lagi.


Perkataan Rio membuat Dinda mendelik kearahnya, tatapan tajam gadis itu layangkan kearah pria yang sudah dia anggap seperti kakak laki-laki nya sendiri.


Mendapat tatapan mengerikan dari Dinda, membuat Rio bergidik ngeri merasa takut, pria itu langsung berlari meninggalkan kedua anak manusia yang sedang berdiri terpaku yang saling melempar tatapan rindu.


Sebelum pergi, Rio menepuk bahu Imran seolah memberi semangat.


"Good luck bro" ucapnya sebelum dia benar-benar menghilang dari balik pintu.


Imran terus menatap kearah Dinda, tatapan yang sulit gadis itu artikan. Tatapan itu membuat Dinda merasa gugup, keadaan tiba-tiba menjadi canggung, tidak ada yang bersuara diantara keduanya, Imran terus memandangi wajah gadis keritingnya seolah tak pernah merasa puas menatap wajah gadis itu.


Perlahan Imran melangkah mendekati gadisnya, ya bolehkah saat ini pria itu menyebut Dinda sbagai gadisnya?


Perasaan Dinda semakin gugup, melihat Imran yang semakin dekat membuat gadis itu sulit menelan salivanya.


"Ak- aku ma- maksud a- aku i- itu eemmm se - sebenarnya" ucapnya terbata saking gugupnya.


Direngkuhnya tubuh gadis yang saat ini dihadapannya, Lantas pria itu langsung membungkam bibirnya sebelum gadis itu selesai berucap.


******an - ******an kecil dan lembut berubah menjadi semakin menuntut, gigit*an kecil Imran berikan pada bibir gadis yang sekarang berada dalam kungkungannya, perlahan memberikan akses bagi pria itu untuk lebih leluasa mengeksplor bibir manis milik Dinda.


Gadis itu pun ikut terhanyut dalam permainan lidah yang sedang dilakukan oleh sang pujaan hatinya, gadis itu menggenggam erat ujung kemeja Imran sambil memejamkan mata menikmat*i tiap sentuhan dibibirnya yang mungil.


Saling bertukar saliva hingga merasa kekurangan oksigen baru pria itu melepaskan pagut*annya, Imran menyatukan keningnya dengan kening gadisnya, matanya masih terpejam, keduanya saling berebut oksigen untuk memenuhi rongga dada, nafas mereka tersengal karena aktivitas bibir panas yang baru saja keduanya lakukan.


"I Love You Adinda Putri" ucapnya lirih.


Kembali pria merengkuh bibir sang gadis sebelum Dinda menjawab pernyataan cintanya, seolah merasa tak pernah puas dengan yang barusan terjadi, Imran kembali memagu*t sang gadis, memberi ******an ******an yang menggelora, menekan tengkuk gadis itu seolah takut jika ini semua hanya mimpi dan saat terlepas semua akan menghilang.


Hingga kesekian kalinya pria itu menikmati bibir sahabatnya aah bukan, kini gadis itu sudah menjadi miliknya, menjadi gadisnya bukan lagi sahabatnya.


"I Love You Adinda Putri" ucapnya lagi dengan suara lantang seolah ingin memberi tau seluruh dunia tentang perasaannya.


"I Love You too, kambing" balas Dinda disertai ledekan.


Tawa bahagia menggema diruangan itu, kebahagiaan kedua anak manusia yang baru saja saling mengungkapkan perasaan yang selama ini mereka simpan rapi.


Triingg

__ADS_1


Triingg


Triingg


Ponsel Imran berbunyi, SEKAR CALLING tertera dilayar ponsel pria itu.


Yah sejak tadi Sekar mencari kemana kekasihnya menghilang, saat Imran pergi meninggalkan mejanya dan mengejar Rio serta Dinda, waktu itu Sekar sedang ketoilet jadi gadis itu tak tau kemana kekasihnya pergi.


"Siapa" tanya Dinda saat melihat raut wajah prianya tiba-tiba berubah sendu.


"Sekar" jawabnya lirih.


Seketika perasaan Dinda kembali kacau, rasa bersalah menyeruak kedalam benaknya, gadis itu lupa kalau ada Sekar diantara mereka, apalagi Dinda tau betul bagaimana perasaan gadis itu terhadap Imran.


"Maaf" cicit Dinda.


Imran bingung, dahinya nampak berkerut.


"Kenapa minta maaf hmm?" tanyanya lembut sambil membelai rambut Dinda.


"Seharusnya aku sadar ada Sekar diantara kita"


"Maksud kamu?" tanya Imran tak paham.


"Kamu milik Sekar, dia sangat mencintai kamu, ngga seharusnya kita kek gini Ran"


Imran terkejut mendengar ucapan Dinda, pria itu membenarkan apa yang gadis itu ucapkan, bisa-bisanya dia melupakan Sekar yang selama ini hadir dalam hidupnya.


"Kamu tenang aja, biar aku yang ngomong sama Sekar." Ucapnya coba menenangkan.


"Tapi--"


"Ssttt" buru-buru pria itu membungkam bibir Dinda dengan telunjuknya.


"Ngga usah mikir yang macem-macem, bukan salah kamu tapi semua salah aku yang udah melibatkan gadis itu dalam perasaan kita" sergahnya " aku cinta sama kamu dan kamu cinta sama aku, itu yang penting hm?" lanjutnya lagi.


Dinda mengangguk tanda setuju dengan ucapan pria dihadapannya ini, kemudian Imran kembali memberi ciuman kecil dibibir gadis itu membuat Dinda tersipu, kini wajahnya merona karena malu.


"Aku suka liat kamu merona, gemes banget rasanya aku pengen nyium kamu lagi dan lagi" goda Imran.


"Ishh apaan sih" sebuah cubitan mesra singgah diperut pria itu.


"Aduh sakit sayang" keluh Imran sambil mengusap bekas capitan diperutnya.


"Jangan dicubit sayang tapi dicium kayak gini" lagi-lagi pria itu mengambil kesempatan untuk menggoda kekasih barunya.


"Imraann" rengek Dinda manja karena merasa semakin malu, kekasihnya tak henti-hentinya menggoda.


Saat akan kembali mencium Dinda, ponsel pria itu kembali berdering dan masih tertera nama Sekar disana.


"Angkat aja sapa tau penting" usul Dinda.


"Iya iya aku angkat nih"

__ADS_1


"Halo Sekar, ada apa"


"Kak Imran dimana?" tanyanya panik.


"Aku masih diaula emang ada apa?"


"Kak Ibu nya kakak masuk rumah sakit, jatuh dikamar mandi" ucapnya memberi tau.


"Apaaa, rumah sakit mana? aku kesana sekarang" jawab Imran ikutan panik, saking paniknya pria itu langsung berlari meninggalkan aula yang masih ada Dinda didalamnya, bahkan saat gadis itu memanggilnya dia tidak menoleh.


"Ada apa yah, kok Imran panik gitu? trus tadi katanya ada yang masuk rumah sakit? siapa? apa mungkin Sekar? sebaiknya aku telfon deh"


tuuttt tuuttt tuuttt


1 kali


2 kali


3 kali


sampai panggilan kesepuluh tak ada jawaban, pria itu tak mengangkat panggilannya.


"Kamu kemana Ran, kenapa kamu tiba-tiba pergi? terus kenapa panggilan aku ngga kamu jawab? apa kamu sedang bersama Sekar? dan ngga mau keganggu,? itu sebabnya kamu ngga angkat telfon aku? tapi siapa tadi yang masuk rumah sakit?" banyak pertanyaan yang muncul dalam benak gadis itu.


"Coba sekali lagi aku hubungi mungkin kali ini bakalan dijawab" ucapnya mantap.


"Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi" terdengar suara dari seberang tapi bukan suara yang diharapkan oleh gadis itu.


Berusaha berfikir positif, mungkin saja saat ini ponsel Imran sedang lowbat.


Sebaiknya aku tunggu.


Tak lama Rio datang menghampiri Dinda dan mengajaknya pulang, Dinda menceritakan yang baru saja terjadi antara dia dan Imran, Rio merasa bahagia melihat senyum manis yang kembali tersungging dibibir mungil gadis kecilnya , yang sempat hilang beberapa hari terakhir.


Rio mengajak Dinda, pulang mungkin lebih baik kalau gadis itu menunggu Imran dirumah saja, Dinda setuju kebetulan waktu juga sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan acara kelulusan pun sudah selesai.


Tapi sebelum pulang, Dinda meminta Rio mengantarkannya kerumah Imran, ingin memastikan apa yang terjadi tapi saat tiba disana rumah itu justru tampak tak berpenghuni.


Kemana mereka semua. pikirnya.


➿➿➿


Keesokan pagi.


"Selamat tinggal semua, selamat tinggal cinta" semoga kita segera bertemu.


**Tbc


plis vote like n komenπŸ‘πŸ‘πŸ‘


jangan lupa jejaknya gengks


See U All😘😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2