
KECELAKAAN
Happy reading gengks
Maaf banyak typoππ
Dinda terlebih dulu membersihkan diri dari sisa pergumulannya pagi ini bersama Imran. Setelah selesai wanita itu menunggu Imran membersihkan dirinya sebelum akhirnya mengantarkannya pulang.
Saat Imran sedang dikamar mandi ponselnya kembali berdering, diraihnya ponsel sang kekasinh dan melihat nama yang tertera.
IBU CALLING
Dinda melihat nama Ibu memanggil diponsel prianya, tapi tidak berani menjawab panggilan itu karena merasa hal itu tidaklah baik, mengingat ini masih sangat pagi, apa yang nanti Ibu fikirkan saat Dinda menjawab panggilannya.
Tak lama panggilan itu pun berakhir digantikan suara tanda pesan masuk.
Sebuah pesan dari Ibu masuk ke ponsel Imran, diraihnya ponsel itu untuk melihat isi pesan yang dikirimkan wanita yang telah melahirkan prianya.
Tapi sebelum membaca pesan yang barusan masuk, Dinda mengernyit melihat banyaknya panggilan dari Sekar.
"Sepuluh panggilan tak terjawab dari Sekar? Dua belas panggilan tak terjawab dari Ibu?" gumam Dinda dalam hati. "Ada apa yah?" tanyanya lagi.
Ada juga beberapa pesan yang dikirimkan Sekar sebelumnya, mungkin karena pergumulannya semalam sangat hebat sampai Imran tak menyadari pesan yang masuk diponselnya.
Mengingat kembali bagaimana hebatnya aksi Imran semalam membuat Dinda merona, mantan gadis itu tersenyum malu-malu.
Ting,,,
Sebuah pesan terdengar kembali masuk ke ponsel Imran, tapi kali ini dari Abah. Karena penasaran, Dinda nekad membuka pesan itu.
"Imran, kamu dimana? sejak semalam Ibu menghubungi kamu tapi tidak kamu jawab?"
Saat membuka pesan Abah, ternyata bukan hanya itu saja, ada beberapa pesan yang sebelumnya juga dikirimkan Ibu. Bagi Dinda hal itu wajar saja karena saat ini Imran berada jauh dari mereka, apa lagi semalam pria itu tak menjawab satu pun panggilannya.
Tapi, karena merasa semakin penasaran, Dinda iseng membuka pesan yang dikirimkan Ibu juga yang dikirimkan Sekar.
Pesan dari Sekar.
"Assalamualaikum kak, kakak lagi ngapain?"
"Kak? Kok telfonku ngga dijawab?"
"Kak, ada yang pengen aku omongin"
"Kak, plis angkat telfonnya"
"Kak, gimana rencanax?"
"Ibu udah nanya terus, kapan kita bisa adakan acar tunangan itu"
"Kak Imran sibuk? udah ketemu dosenx belum?"
"Ish, kak Imran kemana sih? kok ngga jawab?"
"Kak, ini gimana donk? Ibu udah nyuruh kita cepetan untuk tunangan,"
"Ya udah deh, klo ada waktu cepetan hubungin aku"
DEGG!!!
__ADS_1
Bagai tersambar petir dipagi hari saat Dinda membaca pesan dari Sekar, tubuhnya tiba-tiba menegang hebat.
Kakinya terasa lemas seolah tak kuat menahan bobot tubuhnya, Dinda jatuh terduduk dipinggir ranjang. Tangannya gemetar tapi masih belum juga melepaskan ponsel milik Imran.
"Tu-- tunangan?" tanyanya dalam hati. Mendadak Dinda merasa sesak seolah oksigen dikamar itu tak dapat mengisi seliruh rongga dadanya.
Masih dengan tangan yang gemetar, Dinda kembali membaca pesan yang masuk kedalam ponsel Imran, kali ini pesan dari Ibu.
"Assalamualaikum Imran, gimana kamu disana nak?"
"Sejak sore tadi Ibu hubungi kok ngga jawab?"
"Imran, kapan kamu dan Sekar akan meresmikan hubungan kalian?"
"Ibu harap sepulang kamu dari sana kamu bisa memenuhi permintaan Ibu"
"Imran? kok pesan Ibu ngga dibalas? kamu masih sibuk ya nak?"
"Ya udah, secepatnya kamu selesaikan urusan kamu disana, habis itu kamu pulang, Ibu pengen liat kalian segera bertunangan."
"Kalau udah ngga sibuk segera hubungi Ibu, ya Nak?"
Tenggorokan Dinda mendadak kering, setelah membaca tiap kata yang ditulis oleh Ibu, bahkan untuk menelan salivanya saja terasa sangat berat.
"Aku ngga boleh berfikir negatif, aku harus bertanya langsung sama Imran, semua pasti ada penjelasannya." ucap Dinda mantap.
Dinda berusaha mempercayai Imran, semua janji dan perkataannya.
"Tidak mungkin Imran membohongiku, aku tau betul sifatnya, aku harus tau apa sebenarnya yang terjadi."
CEKLEK!!!
Seketika rasa penasaran Dinda menguap entah kemana, wajahnya yang tadi tegang setelah membaca pesan diponsel prianya kini berubah menjadi merah padam melihat pemandangan dihadapannya saat ini.
Walaupun Dinda dan Imran sudah melakukan hubungan yang cukup intim, tetap saja saat ini dia merasa masih sangat malu ketika secara sadar mendapatkan tubuh yang menggempurnya semalam berada dihadapannya dengan setengah telanjang, Dinda langsung memalingkan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus kearah lain. Tak ingin lama-lama menikmati pemandangan itu, bisa jadi Dinda malah khilaf.
Eeh kok Dinda yang khilaf?
Imran menyadari apa yang terjadi pada wanitanya, pria itu tersenyum smirk saat mendapatkan ide untuk menggoda Dinda.
Perlahan Imran berjalan kearah Dinda yang masih terduduk disisi ranjang, pria itu kemudian ikutan duduk dibelakangnya dan memeluknya dari belakang, menciumi bahu Dinda, dan berbisik ditelinganya.
"Kenapa kamu berbalik hm? kamu malu, bukannya semalam dan tadi pagi kamu udah liat aku kek gini? bahkan kamu menikmatinya." bisik Imran sambil menggesekkan hidung mancungnya diceruk leher Dinda.
Dinda langsung meremang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Imran, bulu kuduknya terasa berdiri semua, mendadak mantan gadis itu sulit menelan saliva.
Imran tersenyum penuh kemenangan saat melihat kegugupan Dinda.
Dinda mengerjapkan mata berulang-ulang, berusaha mengontrol perasaannya yang bergejolak, wanita itu kembali ingat, bahwa ada hal penting yang harus dia tanyakan.
"Ra- Ran, ja-jangan kek gini dong, a- aku" ucap Dinda terbata saking gugupnya, namun belum selesai perkataannya langsung dipotong oleh Imran.
"Kenapa hm?" kembali Imran menggesekkan hidungnya dileher Dinda, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanitanya yang membuatnya candu.
"Ada yang pengen aku tanyakan"
"Apa itu," tanya Imran.
Pria itu masih asik menggoda Dinda.
__ADS_1
"Kamu pakai baju dulu deh, aku jadi ngga konsen kalo gini." pinta Dinda.
Seketika tawa Imran meledak saat mendengar ucapan Dinda.
"Ya udah, aku pakai baju dulu baru kita bicara, Ok" jawab Imran sambil menjawil pelan hidung wanitanya.
Setelah berpakaian, Imran keluar mencari keberadaan Dinda, ternyata wanita itu sudah tidak ada ditempatnya tadi duduk, melainkan sudah berada dibalkon kamar.
Imran memeluk Dinda dari belakang, dan memberi kecupan dibahunya.
"Kamu mau ngomong apa tadi?" tanya Imran.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba ponsel Dinda berdering, panggilan dari kak Rio.
"Sebentar, aku angkat telfon dulu." jawabnya.
π§ : "Assalamualaikum kak," Suara Dinda menyapa.
π¦ : "Waalaikumsalam Din, kamu dimana?" terdengar suara Kak Rio dari seberang telfon, nampaknya pria itu sesang panik.
π§ : "Mmm, akuu--" Dinda tampak ragu-ragu menjawab, tidak mungkinkan dia mengatakan bahwa saat ini sedang berada didalam pelukan hangat Imran dikamar hotel? bisa jadi adonan roti dia.
π¦ : "Thy, mobil yang dikendarai Ayah dan Pakde kecelakaan, dan saat ini mereka dilarikan dirumah sakit kota, buruan kamu kesini." tanpa mendengar jawaban Dinda sebelumnya, Rio langsung memberi tau kabar yang sangat mengejutkan.
π§: "Apaaa? kecelakaan? Ok, aku kesana sekarang"
Dinda menutup panggilannya, wanita itu terlihat sangat terkejut sekaligus terpukul mendengar berita kecelakaan yang dialami kedua orang tuanya, bersama orang-orang yang dia sayangi.
"Hey, sayang ada apa? siapa yang kecelakaan?" tanya Imran melihat kepanikan Dinda.
"Ayah sama Bunda," jawab Dinda terisak.
Imran memeluk wanitanya, mencoba memberinya rasa tenang.
"Ya udah, kita kesana sekarang biar aku anterin ok," bujuk Imran.
Dinda tak menjawab, dia hanya mengangguk mengiyakan ajakan kekasihnya.
Imran meraih kunci motor yang tergeletak diatas nakas, mengambil jaketnya dan segera menyusul Dinda diluar kamar. Keduanya berjalan bersama menuju tempat dimana kuda besi milik Imran terparkir.
Saat tiba diparkiran, kini giliran ponsel Imran yang kembali berdering, nampak sebuah panggilan dari Abah masuk.
ABAH CALLING
**Tbc
plis vote like n komen yaaπππ
jangan lupa jejak, gengks.
Rasanya Miss pengen istirahat nulis deh biar para reader penasaranπ
kira-kira klo lagi seru gini terus Miss hiatus gimana yaa
Hehehe canda.
Tetap stay ok, tunggu kelanjutan Imran dan Dinda, kenapa mereka bisa pisah?
See u allπππ**
__ADS_1