
MURID BARU
Maaf ya gengks hari ini telat up, soalnya rumah Miss kebanjiran jadi harus beres beres dulu, tapi tenang Miss tetap update kok, chapter semampu Miss nulis, soalnya ide masih beterbangan, mumpung masih punya banyak inspirasi jadi Miss bakalan update yang banyak, tetap pantengin yaa,,
**Happy reading gengksπππ
Maaf masih banyak typoππ**
"Siapa Dinda,,? apakah Dinda yang kak Vana maksud adalah kak Dinda? mungkinkah kak Dinda pacarnya kak Imran?? aduh mampus gue, ntar kak Dinda ngira aku ganggu pacarnya lagi, gimana nih?"
Sekar mulai merasa takut jika benar yang dimaksud sang senior adalah Dinda yang sedang mengospeknya bersama sang ketua osis, adalah benar kekasih orang yang sedang berada dihadapannya sekarang, kalau iya benar kekasihnya maka sudah dapat dipastikan gadis itu akan di cap sebagai Muba ganjen.
"Wann,," pekik Vana ketika melihat Wawan sedang dikasir memesan makanan.
Wawan yang namanya dipanggil segera menoleh keasal suara, dan melihat Vana juga Imran yang berada disusut ruangan kantin, bersama seorang Muba.
"Apaaa" balasnya.
"Pesenin gue jus alpukat dua," suara Vana menggema dikantin.
"Yup, lo tunggu disitu."
"Geser lo, bing" ketus Vana, sambil memukul lengan Imran.
"Kasar amat sih lo jadi cwe, pantesan betah jomblo" sindir Imran.
"Bodo, dari pada pacaran ujung-ujungnya ditinggalin," Vana balas menyindir.
"Lo nyindir gue?" Imran terpancing emosi.
"Ngga tuh, tapi klo lo merasa ya mau gimana?" ucap Vana santai.
"looo,," perkataan Imran terputus saat Wawan datang membawa pesanan Vana.
Pria itu hanya mendengus kesal, karena merasa tersindir dengan ucapan sang sahabat.
"Tumben 2 gelas, abis maraton lo?" tanya Wawan heran karena baru kali ini sahabat tomboynya pesan 2 jus tanpa makanan.
"Yup ini pesenan, Dinda"
"Lah emang Dinda kemana? tumben ngga kekantin?"
" Ada tuh dikelas, lagi murung, mungkin karena ditinggalin sendiri jadi ilang semangat," Ucap Vana sambil berdiri dan meraih 2 gelas jus alpukat yang dibawa Wawan.
"Lo sendiri ngga makan, Van?" sepertinya Wawan type emak emak pecinta sinetron ikan terbang yang tingkat kekepoannya melebihi penggemar Arya saloka.
"Ngga ah males, mendadak nggak nafsu," ucapnya lagi tapi kali ini kata-katanya sarat akan sindiran.
Sedangkan Imran yang merasa tersindir sekali lagi, hanya diam malas meladeni sang sahabat apalagi sedang dalam mode jutek on.
Akhirnya sang kompor mleduk pergi meninggalkan mereka bertiga. Yup Vana emang lebih mirip kompor mleduk, klo juteknya sedang berada dalam mode on, Atau moodnya sedang dalam situasi yang buruk.
"Itu sapa bing?" tanya Wawan saat melihat sang sahabat bersama seorang gadis sedang makan berdua dikantin.
__ADS_1
"pantesan juteknya si tom tom dalam mode on, apa karena si kambing lagi makan berdua dan lupa ngajak iting kekantin? mungkin itu juga sebabnya iting g mau kekantin," batin Wawan.
"Muba" jawab Imran malas.
Hmmpptt,,Wawan menghela nafas kasar mendengar jawaban sahabatnya.
"Udah tau gue juga bing itu Muba, maksud gue itu sapa lo??nyari masalah nih orang pantesan si tom tom nyindir terus dari tadi," kembali Wawan hanya membatin.
"Lo beneran lupa ngajak Iting makan?" tanya Wawan, sepertinya mode kepo Wawan kembali on.
"ngga usah kepo deh lo" jawab Imran ketus.
Semenjak mendengar omelan Vana, mendadak mood Imran jadi buruk, dia merasa kesal pada dirinya sendiri, kenapa bisa lupa dengan Dinda.
"Gue ngga kepo, gue cuma heran ma sikap lo, kemaren aja lo kayak satpam komplek, kemana mana ngga mau lepas dari Dinda nah sekarang lo malah lupa sama dia," sanggah Wawan tak kalah ketus.
Setelah mengucapkan itu, Wawan langsung beranjak dari tempat duduknya, bahkan pria itu tidak menghabiskan makanannya, tiba-tiba moodnya pun memburuk.
"Mau kemana lo" tanya Imran merasa heran dengan sahabatnya yang tiba-tiba beranjak tanpa menghabiskan makanannya, padahal kan sahabatnya yang satu ini paling doyan klo menyangkut makanan.
"Balik"jawabnya acuh.
"Makanan lo ngga lo abisin ta??"
"Ngga nafsu"
Wawan langsung pergi meninggalkan keduanya dikantin. Dia merasa kesal dengan sikap Imran yang melupakan sahabatnya sejak mereka remaja, demi seorang Muba.
Sebenarnya Wawan tau tentang perasaan yang Dinda pendam, tanpa perlu diberi tau oleh yang bersangkutan, dia memiliki feeling yang sangat tajam hanya dengan melihat gerak gerik Dinda dia sudah bisa menebak bahwa gadis itu menaruh hati pada sahabatnya, tapi itu bukan haknya untuk memberi tau kan pada Imran, bukan karena tidak perduli, tapi cenderung takut jika disebut lancang, melihat tingkah Imran yang pandai menutupi perasaannya, dia tidak mau ikut campur masalah mereka biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri toh mereka bukan anak kecil lagi kan?
Saat ini mereka sedang berada ditaman belakang. Imran mengajak Sekar ke taman untuk menemaninya menenangkan diri.
"Hmm" sahut pria itu tanpa menoleh.
"Maaf"cicit gadis itu, tapi masih sempat didengar oleh sang ketua osis.
"Untuk?" tanyanya heran.
"Karena aku, kakak jadi bertengkar dengan teman-teman kakak,"
Imran meraih tangan gadis itu, kemudian menggenggamnya erat.
"Itu bukan salah kamu, tapi disini aku yang salah, aku yang udah ninggalin Dinda sendirian, aku juga gak dah bersikap ketus dengan Vana dan Wawan jadi semua itu bukan salah kamu,,hmm" ucapnya berusaha menenangkan gadis itu.
"Tetap aja ini salah aku, seandainya kak Imran ngga ngajak aku kekantin pasti ini semua ngga akan terjadi" Keukeh Sekar.
"Udah ngga usah dibahas," ucap Imran mengakhir perdebatan.
Tatapan mereka saling beradu menciptakan kecanggungan, diantara kedua anak manusia itu.
"Hmm" pria berdehem untuk menghilangkan kecanggungan.
Sekar berpaling menatap bunga yang ada ditaman, gadis itu tidak ingin kalau seniornya melihat kegugupannya, tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang sedang memandang mereka dari jauh.
__ADS_1
Dinda, awalnya gadis itu ingin menenangkan diri ditaman, entah mengapa kakinya mengiringi langkahnya menuju ketempat itu, semenjak kejadian dimana Imran tiba-tiba menciumnya, taman belakang seolah menjadi tempat favoritnya, langkahnya gontai menyusuri koridor membawanya ketempat yang dia tuju, setelah kepergian Vana dan Wawan. Kedua sahabatnya itu sudah kembali kekelasnya masing-masing.
Saat sampai ditaman, bukannya tenang malah merasa semakin sesak melihat pemandangan dihadapannya, sahabat yang selalu mendampinginya kemana pun, selalu membantunya ditiap kesulitan, yang selalu ada saat dia butuh, kini sedang menggenggam tangan gadis lain, tapi dia harus apa?? sedangkan Imran sudah dengan jelas mengatakan bahwa mereka hanya sahabat dan akan tetap seperti itu.
Setelah jam istirahat selesai, akhirnya Imran dan Sekar kembali kekelas, pria itu melihat gadis keritingnya duduk menyandar di sandaran kursi, gadis itu menutup matanya dan sedang asik mendengarkan lagu dari earphone ponselnya.
Tapi kenapa wajahnya sembab??apa Dinda habis nangis?? kenapa?? apa karena gue lupa ngajak dia kekantin??
"Rif, gue minta tolong"
"Apaan"
"Tolong lo pimpin ospek hari ini, sampe jam pulang"
"Emang lo mau kemana?"
"Ada urrusan dikit gue ama Dinda"
Rifki yang dimintai tolong oleh sang ketua osis cuma manggut manggut.
"Din,," panggilnya lembut.
"Hmm" gadis itu menjawab dengan malas.
"Kantin yuk,"ajaknya.
Dinda yang diajak kekantin merasa heran, inikan udah bukan jam istirahat? Dinda membuka matanya dan menatap Sang sahabat, dia tidak sadar matanya sembab.
"Ngapain?"tanyanya lemah, seolah tidak punya tenaga lagi bahkan untuk mengeluarkan suara pun rasanya sangat berat.
"Ya Tuhan, apa yang kulakukan pada gadis keritingku, sampe dia terlihat sangat kacau," batin Imran.
Pria itu berjongkok didepan Dinda sambil menggenggam tangannya.
"Kamu belum makan kan,?"tanyanya lembut.
Dinda menggeleng, mungkin dia terlalu lemah untuk menjawab.
"Ya udah, sekarang kita kekantin, aku traktir hmm" bujuknya lagi.
Kembali Dinda menggeleng.
"Loh kenapa?" merasa heran dengan Dinda karena biasanya dia yang paling semangat kalo diajak kekantin.
"Ngga nafsu,"
**Tbc
plis vote like n komen gengksππ
dan jangan lupa tinggalkan jejak.
Malam ini Miss pengen nulis banyak chapter, sambil siaga satu jaga banjir. Semoga bisa dapet yaaa, pengennya nulis sampe chapter konflik pertama.
__ADS_1
See u allπππ**