
KENANGAN
*Author POV
Motor metic yang dikendarai Imran terlihat memasuki lapangan sekolah, sesampainya di parkiran, Dinda bergegas turun dari tempat duduk kuda besi yang tadi dinaiki nya, membiarkan Imran memarkirkan metic kesayangan Abah.
Baru beberapa langkah Dinda berjalan, dia merasa ada yang menarik tangannya, membuatnya terhuyung kebelakang dan hampir saja terjatuh seandainya ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Tarikan itu otomatis membuatnya terkejut, terlebih lagi saat dia berbalik kebelakang dan reflek menabrak dada bidang milik seorang pria yang tadi menariknya.
Dinda mengangkat wajahnya untuk melihat siapa pelaku dari insiden tarik menarik diparkiran. Yang tidak lain adalah Sahabatnya sendiri. Yah, siapa lagi klo bukan Imran.
"Ehh, kambing,,!"pekik Dinda saat tau bahwa sang pelaku adalah sahabatnya. "ngapain lo narik narik gue,? lo kira gue kambing, maen narik narik aja,!!" ucapnya Dinda kesal.
"Emang siapa yang lo suka,?" tanpa menjawab pertanyaan Dinda, Imran balik bertanya.
"Emang napa,,?" Dinda balik bertanya juga.
"Nggak pa pa, gue cuma penasaran.!" jawab Imran.
Dinda memicingkan matanya, berusaha menelisik raut wajah sang sahabat, sambil mengerutkan kening, merasa aneh dengan sikap sahabatnya yang satu ini. Tak lama ia pun tersenyum penuh arti.
"Napa lo, tumben nanya - nanya,?" senyum smirk timbul di bibir mungil Si usil.
"Apa jangan jangan loooo,,," Dinda menggantungkan kalimatnya,
"Apa, apa, g usah mikir macem macem, gue cuma nanya" jawab Imran ketus.
"Alah, bilang aja lo jeles, kan." tuduh Dinda sambil mengacungkan jari telunjuk tepat depan hidung sang sahabat.
"Buahahahaha." seketika tawa Imran meledak.
"Napa lo ketawa." jawab Dinda, merasa tak terima ditertawakan.
"gue jeles,? ngaca dong, mana mungkin gue jeles ma lo, keriting." jawab Imran sambil memegangi perutnya, yang terasa kram karena kebanyakan ketawa.
"gue tuh cuma kasian sama cwok yang lo suka,"ucap Imran sambil sesekali terkekeh kecil menhan senyum.
"Emang napa,?"tanya Dinda penasaran, sambil mengerutkan keningnya.
"Yah kasian lah, klo dia harus pacaran samaaaa,," Imran menggantungkan ucapannya, sambil matanya menelisik tubuh Dinda dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Samaaa," Dinda ikut berucap karena penasaran dengan ucapan Imran.
__ADS_1
Kemudian Imran sedikit menunduk, dan berbisik ditelinga Dinda, "Sama gedebong pisang macem lo,," Ucap Imran.
Lalu dia kembali tertawa, melihat ekspresi Dinda si gedebong pisang.
"Jiaaahahahhaha,"suara Imran terdengar lebih keras dari pada yang tadi.
sedangkan Dinda, jangan ditanya lagi. Wajahnya sudah merah padam menahan kekesalan, apa yang dikatakan Imran benar benar membuatnya terdiam dan tak dapat berkata apa-apa.
Karena merasa kesal dengan Imran yang terus menertawakan nya, Dinda langsung pergi meninggalkan Imran, tapi sebelum itu dia menginjak kaki Imran dengan sangat keras, membuat si empu nya kaki memekik kesakitan.
"Aduuuhhh,,," pekik Imran.
"Ups, sorri sengaja, hahahahaha,,," Teriak Dinda sambil berlari meninggalkan Imran yang meringis kesakitan.
"Awas lo, Ting" Serunya lagi.
"Rasain lo, siapa suruh tuh bibir g disinkron sama otak," sungut Dinda. Merasa kesal karena pagi ini dia dikerjain terus ma Imran.
***
DIRUMAH DINDA
Bunda terlihat sedang membersihkan sebuah kamar, yang biasanya ditempati barang bekas, rencana nya ruangan itu bakalan Bunda pake untuk dijadikan warung. Yah Bunda memang berniat membuka warung kecil - kecilan, untuk membantu masalah keuangan Ayah.
*Flashback
"Rim,,aku sayang sama kamu," Ucap Imam kepada Arimbi.
"Hmmm akuuu.."Arimbi menggantungkan ucapannya.
Dengan hati yang berdebar, Imam menunggu jawaban pernyataan cintanya pada gadis pujaannya yang selama ini ia pendam.
Imam saputra, seorang mahasiswa terbaik di kampus X, dia juga merupakan asisten dosen. Kehidupan yang keras mengajarkannya bagaimana menghargai hidup, berjuang ditengah kerasnya keadaan.
Ayahnya sudah meninggal saat ia masih duduk dibangku Smp, dia memiliki seorang adik laki-laki bernama Ikhsan saputra. Ibunya seorang buruh cuci dirumah orang orang kaya.
Kehidupannya yang keras sepeninggal Ayahnya tidak membuatnya gampang berputus asa, karena dia masih memiliki tanggung jawab yaitu menyekolahkan adiknya yang masih duduk dibangku sekolah dasar,ditambah dengan Ibunya yang sudah renta.Imam tau betul bahwa Ketika sang Ayah harus pergi meninggalkan mereka, tanggung jawab seorang Ayah akan berpindah padanya sebagai anak sulung.
Arimbi Mahesa, Gadis berparas manis, berasal dari keluarga berada, putri tunggal seorang pengusaha terkenal, Ferdi Mahesa.
Tuan Ferdi sangat menyayangi putri semata wayangnya, tapi itu tidak membuat seorang Arimbi menjadi sombong, dan semena mena terhadap orang yang tidak sepadan dengannya.
__ADS_1
Arimbi, adalah gadis periang, dan murah hati, walaupun dia terlahir dalam keluarga yang berkecukupan dan merupakan putri satu-satunya, tidak lantas membuatnya tinggi hati, sifat itu ia dapatkan dari sang Ayah tercinta.
Dan disinilah mereka. Rooftop kampus.
Imam masih menunggu jawaban Arimbi yang tak jua keluar, tentu saja itu sangat membuat nya penasaran.
"Aku juga sayang sama kamu, mas." jawab Arimbi lirih, karena merasa malu.
seketika senyum manis terbit dibibir sang Asisten dosen,
"Benarkah,?"tanyanya masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Karena masih merasa malu, Arimbi hanya mengangguk untuk memastikan jawaban yang dia berikan pada Imam adalah benar.
Saking bahagianya Imam langsung menarik Arimbi kedalam pelukannya.
Setelah beberapa saat berpelukan, Imam melepas rangkulannya dan memandang wajah Arimbi lamat lamat,
Arimbi,? jangan ditanya lagi saking malunya dia hanya menunduk, tidak mau menatap wajah pria yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu.
Imam meraih dagu Arimbi, mengangkat wajahnya, agar bisa melihat rona merah di wajah Arimbi, dia sangat senang melihat rona merah itu, perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya kehadapan wajah Arimbi. Mata keduanya saling bertemu, membuat jantung kedua insan yang sedang kasmaran itu, menari nari tak karuan.
"Ya Tuhan, jantungku,"batin Arimbi.
"Masya Allah, sungguh sempurna ciptaanmu Ya Robb."batin Imam.
Hening sekejap, tanpa ada suara terdengardari keduanya.
perlahan Imam semakin mendekatkan wajahnya didepan wajah Arimbi, dengan gerakan yang lembut, dia mulai menyisipkan anak rambut yang menutupi wajah Arimbi.
Cup
sepasang benda kenyal mendarat diatas bibir mungil milik Arimbi, peristiwa itu sontak membuatnya membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh kekasih barunya, tapi dia juga tak kuasa untuk menolak.
Perlahan tapi pasti, Imam mulai ******* lembut bibir mungil yang berada didalam kuasanya, dia tau Arimbi masih belum bisa mengimbangi ciumannya, ini kali pertama buat gadis manis -itu, sama halnya dengan dirinya ini juga merupakan hal yang pertama.
Tbc
*plis vote like n komen
mohon tinggalkan jejak ya gengks
__ADS_1
kadih kritik n saran yang baik, jangan pedes pedes yah, biar Author semangat dan g down
see u allππ