Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 15


__ADS_3

OSPEK


Happy reading gengks๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Seperti biasa typo masih bertebaran ๐Ÿ™๐Ÿ™


๐Ÿ’4 bulan kemudian๐Ÿ’


4 bulan berlalu sejak kejadian kak Dimas membohongi si gadis keriting selama 3 bulan Dinda berusaha menghindari bertemu dengan Dimas.


Sedangkan Imran sudah seperti satpam komplek, kemana Dinda pergi pasti Imran selalu setia mendampingi, pria itu takut bila Dimas mencoba mendekati atau bahkan berusaha memaksa gadis keritingnya lagi.


Sekarang, keempat sahabat itu sudah menjadi senior, yah tepat sebulan yang lalu mereka telah berhasil menyelesaikan ujian kenaikan kelas dengan nilai yang memuaskan.


Dan disinilah mereka, diruang Osis sedang menyusun rencana penyambutan siswa siswi baru.


Senin besok ospek sudah dimulai, Ivana dan teman senior lain dari organisasi pramuka akan mendampingi kelas X 1,


Kurniawan dan teman dari organisasi PMR akan mendampingi kelas X 2, sedangkan Imran dan Dinda beserta teman dari organisasi basket akan mendampingi kelas X 4.


Untuk kelas yang lain sudah diatur oleh Bu Risma sebagai pembina Osis.


โžฟโžฟโžฟโžฟ


"Baik, sekarang waktunya perkenalan, saya dan senior yang lain akan memperkenalkan diri, setelah itu saya meminta kalian naik memperkenalkan diri didepan satu-satu." ujar Imran sebagai ketua pembina ospek Muba.


"Perkenalkan nama saya Imran Hanan, kalian bisa memanggilku kak Imran," lanjutnya lagi mulai memperkenalkan dirinya.


"Disana ada kak Adinda," sambil menunjuk orang yang dimaksud.


"Kak Rifki, kak Satria, dan kak Yuli,"memperkenalkan satu persatu senior lain.


"Hai semua,"sapa Dinda.


"Hai kaaakkk,!!"


"Baiklah sekarang giliran kalian memperkenalkan diri kalian, dimulai dari ujung sana," tunjuknya pada Muba yang bebadan sedikit gembul.


"Perkenalkan nama saya Yoga, asal dari kota J."


"Perkenalkan nama saya fatur dari kota S."


"Perkenalkan nama saya Syifa dari kota U."


"Perkenalkan nama saya Rifki dari kota X."


"Wah nama kita kembar,"celetuk senior yang bernama Rifki tersebut.


Satu persatu Muba mulai memperkenalkan diri, hingga tiba giliran seorang Muba berparas manis, berhasil menarik atensi para senior pria dikelas itu, termasuk Imran.


"Perkenalkan nama saya Sekar Maharani, saya berasal dari kota X,"


Terlihat Imran menarik salah satu sudut bibirnya ketika Sekar mulai memperkenalkan diri.


Setelah acara perkenalan selesai dilanjut lagi kegiatan yang lain hingga tiba waktunya jam Istirahat.


"Hai," Imran menghampiri gadis manis yang tadi memperkenalkan dirinya bernama Sekar.

__ADS_1


"Hai, kak," jawab gadis itu canggung.


"Kamu udah tau kan nama aku?" tanyanya lagi pada gadis itu.


"U, udah kak" gadis itu tersenyum malu.


"Kantin yuk,?"ajaknya.


Gadis itu terlihat sedang berfikir.


"Kenapa,? tenang aja nanti aku yang traktir," ucapnya sedikit memaksa.


"Aku ngga enak, kak"


"Ngga enak sama siapa,?"


"Sama Muba yang lain, dan,,??" cicit gadis manis itu.


"dan,,??"tanya Imran makin penasaran.


"Dan senior yang lain, kak"


"Kenapa harus ngga enak,? kan aku yang ngajakin," makin gencar aja nih.


Gadis itu tidak menjawab, tapi mengangguk seolah menjawab ajakan seniornya yang sejak tadi memaksanya.


Hal itu tidak luput dari pengamatan sang sahabat, seketika perasaannya menjadi tidak karuan.


Imran menggenggam tangan gadis itu, seolah mereka sudah lama saling mengenal. Atau mungkin dia takut jika gadis itu menjauh dari langkahnya. Perlakuannya pada gadis manis itu membuat rona merah dipipi Sekar terlihat, mendadak tangannya jadi sangat dingin, padahal hawa siang itu cukup terik.


"Semoga pilihan kamu sekarang tidak salah Ran, semoga gadis itu tidak seperti sofie, aku bahagia kalau kamu bahagia, bing" Lanjutnya lagi, memandang kepergian sang sahabat sambil menggenggam tangan Muba yang bernama Sekar itu.


Sofie Adilla, adalah mantan kekasih Imran sejak duduk dikelas X, mereka menjalin hubungan tidak lama, karena sofie bertemu mantan kekasihnya sejak masih remaja, dan gadis itu pergi meninggalkan Imran, demi sang mantan.


Sejak saat itu Dinda selalu mencari tau siapa gadis yang Imran dekati, dia tidak mau sang sahabat kecewa untuk kedua kalinya, semua itu dia lakukan semata untuk kebahagiaan sang sahabat.


"Lo ngga kekantin, Ting,,?" tanya Vana.


Dinda, tak menyadari kedatangan sang sahabat, rencananya Vana mau kekantin, tapi melihat Dinda masih berada dikelas yang dia dampingi, membuat gadis tomboy itu menghampiri sang sahabat.


Dinda hanya menggeleng, rasanya malas kemana pun, apalagi dikantin ada sahabatnya sedang makan berdua dengan Muba baru itu.


"Kenapa,?"Vana kembali bertanya. Sepertinya tingkat kekepoan gadis tomboy itu meningkat apalagi melihat keadaan sahabatnya yang tidak bergairah hidup, padahal tadi pagi masih anteng anteng aja.


"Males,"jawab Dinda malas.


"Tumben males, biasanya lo paling semangat klo ngomongin kantin." heran dengan sikap sahabatnya.


"Udah lo kekantin aja, gue lagi males,,mungkin sebentar lagi gue dapet PMS jadi mood gue labil, udah sana gue mau nyelesein tugas gue yang laen." elak Dinda.


Sambil mendorong sang sahabat meninggalkannya sendiri didalam kelas, dia tidak mau kalo sampe sahabatnya tau apa yang sedang dia rasakan.


Vana hanya mengendikkan bahu, dia tau betul sifat Dinda, tidak suka dipaksa dan paling pandai menutupi apa yang selalu mengganjal dihatinya, tapi bila sudah waktunya, gadis itu pasti akan bercerita sendiri tentang masalahnya.


"Gue titip jus alpukat aja Van,,!!"teriak Dinda sebelum Vana menjauh.


"Sori Van, gue ngga maksud boongin lo, gue cuma belum siap cerita sekarang," Batin Dinda.

__ADS_1


๐Ÿ’***Dikantin ๐Ÿ’


Plaakk***


"Lo disini,?" tanya Vana saat melihat Imran dikantin bersama seorang gadis.


Matanya tak luput memandang gadis dihadapan sahabatnya, dia menelisik gadis itu sambil memicingkan matanya.


Sedangkan gadis itu hanya diam, merasa takut. Apalagi saat dia sedang dikantin bersama sang senior, perasaan takut itu membuat sang Muba menunduk semakin dalam dan saling menautkan jarinya karena gugup.


Mungkin gadis itu takut dilabrak sang senior, karena sudah lancang duduk berdua dengan ketua osis, mengingat statusnya sebagai Muba, dia takut dianggap sok akrab dengan senior apalagi yang sedang duduk dihadapannya seorang ketua organisasi tertinggi disekolah. Mana mungkinkan seorang ketua osis tidak memiliki penggemar.


"Lo sendiri,?" bukannya menjawab sang sahabat malah balik nanya.


"Seharusnya gue yang nanya, kenapa lo disini,? dan ini siapa?" tunjuknya pada Muba yang tadi diajak sang sahabat kekantin.


"Tuh kan bener, pasti aku dikira sok akrab nih sama kak Imran, padahal baru sehari jadi Muba, aku udah nyari musuh, mana senior lagi, mampus gue" batin Sekar.


"Dia Muba, namanya Sekar," ucap Imran.


"Sekar, kenalin dia sahabat aku, namanya Vana,,"


Sekar yang merasa namanya disebut, reflek mengangkat wajahnya, dan tersenyum canggung, sambil mengulurkan tangannya hendak berkenalan.


"Sekar,," ucapnya gugup sambil memperkenalkan diri.


"Lo udah tau kan nama gue, trus itu lo kenapa? gugup amat? "


"Ng,, ngga kok kak,"


"Trus kenapa lo gemetteran gitu? kayak yang maling ketangkep?"


"Itu karena lo, lagian lo sama junior jutek amat,,!"kali ini Imran yang menjawab, karena merasa kesal dengan sikap sahabatnya itu.


"Sama junior ngga usah terlalu baik, ntar ngelunjak, lagian disini lo sama dia, trus Dinda kemana? biasanya lo ngga ninggalin dia sendirian,?" Tanya Vana ketus.


"Astagaa gue lupa," Auto tepok jidat.


"Gimana ngga lupa, klo lo sama Muba asik berduaan," Vana masih ketus.


"Lo sendiri kenapa ngga bareng Dinda?"


"Gimana mau bareng, kan gue ngga sekelas yang sekelas ma dia kan elo,?" tunjuknya pada sang sahabat dengan kesal karena melupakan Dinda.


"Sori gue lupa," ucap Imran dengan nada menyesal.


Hmmppt,,, Vana hanya menghela nafas, bersamaan Wawan lewat ingin memesan makanan favoritnya.


"Siapa Dinda,,? apakah Dinda yang kak Vana maksud adalah kak Dinda? mungkinkah kak Dinda pacarnya kak Imran?? aduh mampus gue, ntar kak Dinda ngira aku ganggu pacarnya lagi, gimana nih?"


Tbc


**plis vote like komen gengks๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


mohon tinggalkan jejak yaa


see u all๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜**

__ADS_1


__ADS_2