Sebelah Hati

Sebelah Hati
SEASON DUA


__ADS_3

TENTANG TWINS


Happy reading gengks


Banyak typo


🌊🌊🌊


Imran tak pernah menyangka jika takdir akhirnya menyatukan dirinya dengan wanita yang sangat dia cintai, Adinda putri.


Terima kasih Sekar, kau wanita terhebat yang pernah mendampingiku dalam suka dan duka ku, tanpa sedikit pun mengeluh bahkan sampai akhir hayatmu aku hanya bisa sebatas menyayangi mu. batin Imran.


"Maafkan aku Sekar" Imran menatap foto mantan istrinya yang telah lebih dulu menghadap sang Pencipta, diusap nya foto itu, tak terasa bulir bening lolos dari pelupuk matanya.


Dinda mengusap air mata suaminya yang mengalir begitu saja, wanita itu tersenyum kearah sang suami.


"Kita semua menyayangimu Sekar Maharani" ucap Dinda ikut memandang foto Sekar diponsel suaminya.


Imran meraih tubuh istrinya kemudian mendekap hangat tubuh yang telah menghadirkan dua buah hati mereka. Tak lupa pria itu mengecup pucuk kepala Dinda sayang.


Dinda balas memeluk erat tubuh suaminya, kehangatan menjalari tubuh mungil wanita itu. Saat ini hanya perasaan bahagia dihatinya.


"Kamu belum cerita sama aku, sayang" celetuk Imran tiba-tiba.


"Cerita apa mas?" tanya Dinda bingung.


"Cerita tentang anak-anak kita, kenapa kamu sembunyikan? bahkan waktu itu kita bertemu dibandara, kamu malah bilang itu anak Rio" sergah Imran


"Aku ngga pernah bilang lo mas mereka anak bang Rio" elak Dinda.


Wanita itu tak terima jika dirinya disalahkan tentang kebenaran Twins.


"Kenapa ngga jujur aja waktu itu?"


"Emang aku harus ngomong apa? aku juga ngga bilang kalo mereka anak Bang Rio, kamu aja yang nyangka kek gitu" gerutu Dinda.


"Ya harusnya kamu ngomong kalo mereka tuh anak aku" Ucap Imran gak mau kalah.


"Trus kalo aku bilang waktu itu kalo Twins anak kamu, kamu bisa apa mas? apa bisa kamu ninggalin Sekar yang lagi hamil anak kamu dan datang ke aku?"


Imran tak menjawab, ucapan Dinda ada benarnya, emang apa yang akan dia lakukan jika saat itu Dinda jujur dan mengatakan bahwa kedua anak yang dia temui dipantai saat di Bali adalah hasil dari malam panasnya bersama Dinda malam itu.


"Ngga bisa jawabkan?" sarkas Dinda.


Wanita itu benar-benar kesal dengan ucapan suaminya, bukan salahnya jika menyembunyikan kedua balitanya, hanya saja waktu itu Imran telah resmi menjadi suami Sekar saat dirinya tiba dirumah Imran dengan niat memberitahukan tentang kehamilannya dan mengakibatkan Dinda kehilangan sosok yang telah melahirkannya kedunia ini.

__ADS_1


Dinda bangkit dari dada bidang suaminya yang tadi dia peluk erat, namun belum sempat beranjak dari ranjang, Imran langsung menarik tangan istrinya, sontak membuat Dinda kembali terjatuh kedada bidang sang suami.


"Maafin aku sayang, bukan maksud aku ngomong gitu" pinta Imran memelas.


Dinda tak menanggapi ucapan sang suami, wanita itu masih kesal dengan apa yang dikatakan suaminya tadi, namun walaupun Dinda kesal, dirinya tetap memeluk erat tubuh prianya.


"Udah donk jangan ngambek lagi hmm" bujuk Imran.


Pria itu kembali mendaratkan kecupan singkat dipucuk kepala sang istri.


"Sekarang mau kan cerita sama aku, gimana kehidupan kalian saat jauh dari aku"


Dinda mengangguk, senyum manis terukir dibibir manis wanita itu, tiba-tiba moodnya membaik.


Dinda mengawali ceritanya dimulai saat sang Ayah yang koma, dan harus dipindahkan kerumah sakit yang lebih besar, saat itu dirinya mulai hilang kontak dengan Imran.


Dinda juga bercerita saat pertama kali dirinya mengetahui bahwa sedang hamil, lalu datang meminta pertanggungjawaban Imran, namun pria itu sudah menikah, dan akhirnya membuat nyawa sang Bunda melayang, menyusul suaminya yang lebih dulu menghadap sang pencipta karena merasa gagal menjaga anak gadisnya sendiri, hanya Bang Rio dan Mbak Manda yang selalu memberinya support bahkan menyuruh Dinda mengajarkan pada kedua anak kembarnya memanggil papa kepada Bang Rio.


Semua itu Dinda lakukan karena tak ingin jika kelak ada yang bertanya "Dimana papamu?" dan Twins tak bisa menjawabnya.


Bang Rio adalah kakak ipar Dinda, jadi Twins memanggil papa Rio sedangkan dengan Mbak Manda, Anak-anak memanggilnya mama.


Semua itu semata-mata Dinda lakukan hanya untuk menutupi status Twins yang sebenarnya tak memiliki ayah. Dinda tak ingin jika ada yang mengetahui status kedua anaknya dan menyebut mereka anak haram.


Imran mempererat dekapannya ketubuh sang istri, dikecupnya kening Dinda berulang kali sambil terus melontarkan pernyataan maafnya.


Setelah lelah berbagi cerita bersama, keduanya pun terlelap menuju ke alam mimpi, tak ada drama percintaan ataupun pertempuran seperti malam pengantin mereka.


πŸ’πŸ’πŸ’


Pagi harinya Dinda terbangun lebih dulu, namun wanita itu masih memejamkan mata karena suaminya mendekap erat tubuhnya dari belakang. Dinda tersenyum merasakan kehangatan tubuh suaminya.


Ternyata ditengah kehangatan itu ada yang mengganjal dibalik punggung Dinda, wanita itu dapat merasakan pergerakan dibelakangnya, sebuah benda seperti tongkat namun sedikit lebih pendek, bertengger manis dibalik punggungnya.


Seketika wajahnya memanas membayangkan benda tersebut, benda yang berhasil memporak-porandakan pertahanannya, yang mampu membuatnya tak berdaya saat bergelung diatas ranjang.


"Astagaa, apa yang kupikirkan" gumamnya pelan, namun masih sempat didengar oleh pria yang sedang mendekapnya dari belakang.


Ternyata sejak tadi Imran sudah terbangun, merasa terganggu dengan pergerakan istrinya yang risih saat senjata pria itu mengganjal di punggung Dinda.


Namun Imran sengaja tak membuka matanya, pria itu justru semakin mendekapnya erat, bahkan terkesan sengaja mendorong senjatanya yang dalam mode On semakin menekan punggung Dinda, pria itu tersenyum miring karena rencana berhasil, sang istri semakin gelisah karena merasakan benda yang mengganjal di punggungnya terasa semakin menekannya.


"Maasss" rengek Dinda manja, namun suara itu terdengar sangat sexy ditelinga Imran, lebih mirip suara des*ahan saat wanita itu berada dibawah kungkungannya.


"Kenapa sayang" bisik Imran ditelinga istrinya, kemudian pria itu memberi kecupan - kecupan kecil di ceruk leher sang istri.

__ADS_1


"Itunya-"


"Apanya sayang" des*ah Imran.


"Itunya bangun"


"Hm mm, aku udah bangun sayang"


"Bukan mass" rengek Dinda lagi.


"Trus apa donk" tanya Imran sok polos.


"Itunya, mas bangun"


"Itu apa sih sayang, ngomong yang jelas"


"Itunya mas gede banget"


Sontak perkataan Dinda membuat Imran terbahak, pria itu tak bisa menahan tawanya saat berhasil menggoda sang istri.


"Kamu takut"tanya Imran sambil menahan tawanya.


Dinda mengerucutkan bibirnya, wanita itu sangat kesal karena Imran suka sekali menggoda dirinya.


"Jangan ngambek donk" bujuk Imran sambil menjawil manja hidung Dinda.


Imran meraih Istrinya kedalam pelukannya, kemudian terjadilah perang Dunia Shinobi keempat didalam kamar itu.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Tbc


tolong dukung author yaa...


caranya like vote komen dan tinggalkan jejak πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£


Jangan lupa Novel Miss difavoritkan


klik tanda love ❀❀❀


Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " Sakit Tak Berdarah "


See U All😘😘


__ADS_1


__ADS_2