
TERIMA KASIH SEKAR
Happy reading gengks
Banyak typo
Kendaraan yang membawa Dinda dan Imran sudah memasuki halaman rumah minimalis milik Imran, rumah yang dulu dia tempati bersama Sekar, banyak kenangan yang terukir dirumah itu bersama istri pertamanya yang luar biasa.
Setelah menikahi Dinda, Imran mengajaknya tinggal bersama dirumahnya yang mungil, ini semua keinginan istrinya, Dinda menyukai rumah itu, dia tidak ingin kehilangan semua kenangannya bersama mantan juniornya.
Dinda turun dari mobil disusul oleh suaminya, setelah tadi memarkirkan mobilnya. Imran mengajak Dinda masuk, nampaknya rumahnya masih sepi. Tak lama suara dering telfon masuk ke ponsel Dinda, sebuah nama yang tak asing tertera dibenda pipih itu, Bang Rio.
π© : "Assalamu'alaikum bang,"
π¨ : " Waalaikumsalam dek, udah nyampe?" tanya Rio saat mendengar sapaan dari adik iparnya.
π© : " Iya bang, baru aja, nih lagi beresin barang-barang." jawab Dinda sambil mendorong koper kecil, yang berisi pakaiannya saat masih dihotel.
π¨ : "Oh gitu, abang cuma mau bilang, klo Twins sama Sekar, akan nginep dirumah, kamu nikmatin aja waktu kamu dengan suami kamu" tutur Rio.
π© : "Ngga ngerepotin bang?" merasa tak enak.
π¨ : " Ngga kok, malahan Mbak kamu seneng, katanya udah lama rumah ngga rame"
π© : " Ya udah bang, ngga pa pa, makasih ya udah mau direpotin"
π¨ : " Ngga ngerepotin Din, sekarang saatnya kamu nikmati waktu kamu yang terbuang sama suami kamu, dan ingat, kamu harus bahagia."
π© : " Iyah bang, aku pasti akan bahagia, klo gitu aku titip Anak-anak ya bang"
π¨ : "Iyah kamu ngga usah kawatir"
Tuutt,,, tuutt,,, tuutt
Panggilan pun terputus, Dinda melanjutkan pekerjaannya menyusun barang-barangnya di kamar suaminya. Imran berjalan menghampiri sang Istri, memeluk pinggangnya dari belakang, Imran menyandarkan kepalanya dipundak sang istri dan menghirup aroma tubuhnya. Dinda merasa geli dengan apa yang suaminya lakukan.
"Telfon dari siapa sayang?" tanya Imran.
"Dari bang Rio, mas"
"Rio ngomong apa?"
"Katanya Twins dan Sekar bakalan nginap dirumah bang Rio, mbak Manda suka sama anak kecil, jadi Twins dan Sekar pulang besok dianter bang Rio." terang Dinda.
Mendengar perkataan istrinya, timbul ide untuk menggoda Dinda, senyum miring terukir dibibir Imran.
"Berarti malam ini, kita hanya berdua donk" bisik Imran.
__ADS_1
"Ya iyalah, kita hanya berdu-" sadar dengan maksud suaminya yang mengatakan hanya berdua, Dinda kembali mengingat keganasan sang suami semalam dan pagi tadi sebelum mereka pulang. Tubuhnya mendadak merasakan hawa panas, seketika wajahnya menjadi merah padam.
Imran sangat gemas melihat wajah istrinya, kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu seperti abg yang baru saja mengenal cinta padahal mereka telah memiliki tiga buah hati.
"Aku suka liat wajah kamu yang merah"
"Mas jangan macam-macam deh, badanku tuh pegel semua" keluh Dinda.
Seketika Imran tertawa terbahak-bahak, sungguh bahagia bisa menggoda istrinya. Dinda cemberut melihat suaminya yang sedang menertawakan dirinya, kemudian wanita itu menginjak kaki Imran lalu berlari meninggalkannya yang sedang kesakitan.
"Rasain, suka banget godain, aku" ejek Dinda saat berhasil kabur meninggalkan Imran.
"Dasar kamu yah, rubah kecil tunggu pembalasan aku"
Imran berlari mengejar Dinda, rumah yang tidak terlalu luas itu membuat Dinda kesulitan berlari lebih jauh, akhirnya dia memasuki sebuah kamar yang tak lain adalah kamar suaminya.
Imran menyusul Dinda, pria itu masuk kedalam kamar dimana istrinya berada, maka terjadilah aksi kejar-kejaran didalam kamar itu. (Kayak pelem india).
Karena kamar itu tidak terlalu luas, jadi dengan mudah Imran bisa menangkap Dinda, pria itu menarik istrinya hingga keduanya jatuh diatas ranjang. Mereka tertawa bahagia.
Setelah aksi kejar-kejaran, Dinda pun turun untuk menyiapkan makan siang, sedangkan Imran pergi keruangan kerjanya memeriksa beberapa email yang baru saja dikirimkan oleh kliennya.
Dinda menyusuri tiap sudut dirumah mungil itu, rumah yang pernah di tempati Suaminya bersama Sekar dulu. Saat melintasi ruang keluarga, tak sengaja matanya menangkap sebuah lukisan yang masih terpajang didinding, lukisan Suaminya bersama Sekar, istrinya yang pertama, dia pun tersenyum tipis.
Satu jam kemudian, makanan sudah tersedia diatas meja, ada cumi asam manis, tumis kangkung, dan juga telur balado kesukaan Imran, setelah semuanya siap, Dinda bergegas memanggil suaminya untuk makan siang bersama.
Dinda mengambilkan makanan di piring Imran, suasana hening saat keduanya sedang asik bersantap, namun sesekali keduanya saling melemparkan senyum manis.
Tok,,, tok,,, tok
Suara pintu diketuk, Imran yang sedang asik membaca email, seketika perhatiannya langsung teralihkan.
"Mas, aku buatin kopi" Dinda masuk membawa nampan yang berisi kopi.
"Makasih sayang" Imran tersenyum melihat Dinda.
"Masih sibuk?" tanya Dinda melirik berkas - berkas yang berserakan diatas meja kerja sang suami.
"Sedikit lagi sayang" Imran menjawab tanpa menoleh kearah Dinda.
"Jangan lupa mas, sore ini kita akan mengunjungi Sekar" Ucap Dinda mengingatkan.
"Aku ingat sayang, tunggu sebentar lagi yah"
"Hm, yah udah aku mau mandi dulu kalo gitu"
"Mau ditemenin ngga" goda Imran, ahh pria satu ini sangat suka menggoda istrinya.
__ADS_1
Dinda mendelik mendengar ucapan sang suami, kemudian wanita itu mendengus.
"Ngga ada yah mas, aku capek" keluhnya.
Seketika Imran tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema diruangan sempit itu, hingga pria itu tak sadar sudut matanya berair.
πππ
Imran dan Dinda sudah berada didalam mobil, saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju dimana Sekar berada. Tawa dan canda menghiasi perjalanan kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu.
Imran mampir disebuah toko bunga, diraihnya sebuket bunga lily berwarna Putih yang sangat cantik, setelah membayarnya dikasir, Imran menyerahkan bunga itu kepada istrinya tercinta.
Kembali Imran melajukan mobilnya membelah jalan ibukota, hari sudah mulai sore saat Keduanya tiba ditempat tujuan, Imran turun lebih dulu kemudian disusul sang istri.
Diraihnya tangan Dinda, kemudian pria itu menggenggam erat jemari wanitanya seolah takut jika wanita itu menjauh.
Akhirnya Dinda dan Imran sampai ditujuannya, sebuket bunga lily yang taxi Imran beli, Dinda letakkan diatas tembok berbentuk persegi panjang itu, air matanya tiba-tiba mengalir dari kedua sudut matanya, rasa sedih bercampur penyesalan yang kini dirasakan oleh Dinda.
Imran melihat istrinya yang kembali terpuruk, setelah beberapa waktu lalu sempat drop dikarenakan strees yang berlebihan dan baru saja kembali normal seminggu yang lalu. Diraihnya bahu sang istri kemudian menariknya kedalam dekapan hangat dan membelai punggungnya dengan penuh kasih sayang.
Mencoba menguatkan, walaupum dirinya sendiri sempat rapuh. Dinda menangis tersedu dipelukan suaminya.
"Kamu yang sabar sayang, semua akan baik-baik saja.
Setelah merasa lebih baik, akhirnya Dinda dapat mengendalikan emosinya, wanita itu mengusap batu nisan bertuliskan sebuah nama yang memberinya kehidupan yang baru.
Dinda menatap gundukan tanah yang masih sangat basah dihadapannya.
"Hai, apa kabar? maaf baru sempat mampir, aku bawakan bunga kesukaan kamu, aku harap kamu tidak marah"
Setelah mengatakan yang ingin dia katakan, Dinda berdiri, kembali wanita itu menatap pusara dihadapannya.
Sebelum pergi, Dinda kembali berkata.
"Trima kasih, terima kasih Sekar, atas semua Pengorbanan mu, aku janji akan menyayangi Sekar."
Di pusara itu tertera sebuah nama yang indah. SEKAR MAHARANI
Terima kasih Sekar.
Tbc
jangan lupa dukung author,
Like vote or comment dan tinggalkan jejak π£
Oh ya, jangan lupa mampir dikarya Miss yang lain judulnya "Sakit Tak Berdarah"
__ADS_1
See U Allπππ