Sebelah Hati

Sebelah Hati
SEASON DUA


__ADS_3

BERLIBUR


Happy reading gengks


Typo bertebaran


💖💖💖


Begitu sampai di gardu pandang bagian atas, pemandangan terbuka ke segala arah akan langsung tersaji dengan begitu indah. Letaknya yang ada di ketinggian membuat seluruh Tanjung Papuma terlihat dengan begitu jelas.


Tampak Tanjung Papuma yang terdiri dari dua pantai berpasir putih. Satu pantai menghadap ke timur, sementara satunya lagi menghadap ke barat. Kedua pantai itu memiliki keindahan dan eksotismenya tersendiri.


Pantai bagian barat yang berakhir di sebuah bukit besar yang menjorok ke laut terlihat begitu menawan. Di sekitarnya masih tampak beberapa batuan karang yang seakan tidak mau ketinggalan menghias panorama.


Sementara di ujung barat daya, Pulau Nusa Barong yang merupakan cagar alam terlihat begitu jelas. Pulau kosong itu tampak begitu dekat, padahal jarak dari Tanjung Papuma masih sekitar 15 kilometer.


*Dinda POV


Aku berdiri dipinggir pagar menara pandang bukit Siti Hinggil yang berhadapan langsung dengan hamparan laut yang membentang sepanjang tanjung Papuma, pandanganku mengarah kedepan menikmati indahnya pemandangan yang menyejukkan mata, sungguh luar biasa.


Sepasang tangan kekar melilit di pinggangku, memeluk erat perutku yang rata, aku tahu pasti siapa pemilik tangan itu.


"Kamu suka sayang?" bisik Mas Imran ditelingaku, aku dapat merasakan nafas panasnya menyapu tengkuk ku, aku hanya terdiam sambil mengangguk, membalas pertanyaannya.


"Mas tau tempat ini dari mana?" ku dekap tangan Mas Imran yang memeluk pinggangku dengan satu tangan dan tanganku yang satunya membelai lembut rahang kokoh milik Mas Imran yang bersandar dibahuku.


"Hm, waktu Mas diajakin klien, setelah kasusnya selesai,"


Aku hanya Ber"oh"ria, sungguh pemandangan dipantai tanjung Papuma membuatku sangat terpukau.


Menara pandang bagian atas ditujukan untuk menikmati panorama dan berfoto. Sementara bagian bawah bisa digunakan untuk duduk dan bersantai. Bagian bawah juga terlindung dari sinar matahari sehingga bisa digunakan untuk berteduh.

__ADS_1


Kulihat Twins sedang asik bermain di bagian bawah menara pandang Siti Hinggil, seutas senyum ku lemparkan ke arah kedua bocah ku, kebahagiaan yang kurasakan saat ini, tidak pernah terbayangkan selama hidupku.


"Kita nginap disini Mas?" tanyaku.


"Hm, besok sore kita kembali ke kota, Mas sudah menyewa kamar di Resort Forest Papuma"


Setelah puas menikmati senja di Bukit Siti Hinggil, aku bersama Mas Imran dan Twins turun menuju Resort Forest, pemandangan Di Resort tidak kalah saat berada di Bukit Siti Hinggil.



Kami memasuki resort untuk segera membersihkan diri, setelahnya, Mas Imran mengajak Aku dan Twins berjalan- jalan menikmati suasana malam dipantai Papuma, sambil mencari makanan untuk santap malam kami.


Di Papuma, ada beberapa warung yang masih berjualan hingga malam hari, apalagi disaat weekend seperti ini.


Mas Imran mengajak kami ke Cafe Ever green yang letaknya tak jauh dari Resort, karena letaknya yang tidak jauh dari laut, cafe ini menjajakan banyak makanan seafood, namun tidak hanya itu, di Cafe Ever Green ini juga menyediakan makanan Jenin lalapan, Ayam, lele, hingga nasi pecel dan nasi rawon.


Aku duduk bersama El, sedangkan Mas Imran duduk bersama Abang Al, kami saling berhadapan. Tak berselang lama, pelayan di Cafe itupun menghampiri meja kami.


Kami menunggu agak lama untuk bisa menyantap ikan dan udang bakar yang kami pesan. Aroma bakaran ikan cukup menyengat di indra penciuman dan membuat kami semakin kelaparan. Sambil menunggu makanan yang dipesan, kami pun habiskan waktu untuk berbincang dan melihat bulan purnama terbit.


Sesekali aku dan Mas Imran tertawa saat mendengar Twins yang berceloteh, terkadang saling beradu mulut, bukannya kesal, justru ucapan keduanya membuat aku dan Mas Imran gemas.


Sekitar lima belas menit menunggu akhirnya pesanan kami datang juga. Aku cukup kaget dengan porsi ikan kakaktua yang ternyata sangat besar. Jenis ikan kakaktua ini memiliki daging yang tebal dan bagian durinya hanya ada di tengah badan saja. Ikan bakarnya enak, bumbunya pas, tidak terlalu manis. Sajian ikan bakar ini semakin pas disantap dengan sambal tomat atau sambal kecap yang sudah disediakan.




Setelah puas bersantap di Evergreen, kami Mas Imran kembali mengajak kami berjalan dibibir pantai Papuma, Mas Imran sambil menggendong El, dan mengenggam tangan Al di sisi sebelah kiri, sedangkan aku menggenggam tangan Al di sisi sebelah kanannya, Al berada ditengah antara Aku dan Mas Imran.


"Bunda, Abang ngantuk" celetuk Al.

__ADS_1


Kulihat wajahnya yang sudah sangat kelelahan, matanya sayup menahan kantuk, aku berjongkok menyamakan tinggi badanku dengannya, Mas Imran pun melakukan hal yang sama.


"Abang ngantuk?" tanya Mas Imran, sambil membelai sayang rambut abang Al dan dijawab anggukan lemah oleh Al.


"Duh, kasian anak ayah, sini biar ayah yang gendong" Mas Imran menarik Al kedalam pelukannya kemudian menggendong Al bersama dengan El.


Aku menepuk pelan bahu mas Imran.


"Mas ngga berat?" tanyaku saatas Imran berdiri sambil mengangkat Abang kepuncak satunya disebelah El.


Mas Imran tersenyum tipis menatap wajah ku.


"Inilah tanggungjawab bu sebagai ayah, yang tidak pernah kulakukan" jawabnya sambil berjalan mendahuluiku.


Aku menyunggingkan senyum, kutatap punggung mas Imran yang sedang berjalan, dalam hati diam-diam aku bersyukur atas segala kebahagiaan yang diberikan oleh Allah.


💝💝💝


Tbc


tolong dukung author yaa...


caranya like vote komen dan tinggalkan jejak 👍👍👍👣👣👣


Jangan lupa Novel Miss difavoritkan


klik tanda love ❤❤❤


Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " Sakit Tak Berdarah "


See U All😘😘

__ADS_1



__ADS_2