
MEYRA ARTAMEVIA
Happy reading gengks😊😊
Typo bertebaran🙏🙏
🌊Dinda POV
Sore harinya aku janjian ketemuan dengan kak Dimas, rencananya malam ini kami mau nonton.
Antara senang dan gelisah.
Aku senang karena sekarang aku sudah menjadi kekasih kak Dimas, dan gelisah karena ada sesuatu yang mengganjal dihatiku, tapi aku tak tau apa itu.
Tepat pukul lima kak Dimas datang menjemput ku, pertama kami akan ke toko buku mencari buku yang dimaksud kak Dimas, setelahnya kami akan kebioskop.
Aku dan kak Dimas berjalan menyusuri mall, setelah tadi kami membeli buku, disinilah kami sekarang mall xx, disepanjang jalan kak Dimas tak henti-hentinya bercerita sesekali bercanda, aku awalnya merasa gugup lama kelamaan bisa sedikit lebih rileks, kak Dimas selalu membuatku tertawa.
"Kak Dimas ternyata bisa ngelawak juga yah?"tanyaku sambil sesekali terkekeh.
Pria itu tak menjawab, dia hanya menampilkan senyumnya yang menawan.
"Udah, sebaiknya kita masuk, filmnya akan segera dimulai," ucapnya sambil menggenggam tanganku, dan menariknya lembut.
Aku kembali gugup, jantungku berdebar kencang.
"Aduh jantungku,"gumamku dalam hati.
Sekarang kami sedang menonton film dibioskop.
MILEA
Film romantis, yang sedang booming.
Saat adegan Milea yang sedang bertengkar dengan Dilan, aku tiba-tiba teringat seseorang, sahabat bunglonku.
"Kenapa tiba-tiba dia muncul difikiranku,?" ucapku dalam hati.
Sekelebat bayangan saat kami saling berciuma* waktu itu tiba-tiba melintas di otakku, seolah mengisyaratkan bahwa aku merindukan sentuhan bibirnya.
Astagaaa apa yang kufikirkan,? apakah aku sudah tidak waras? kenapa aku bisa berfikir mesum begitu,? bukankah sekarang aku dan kak Dimas sedang jalan berdua? tapi kenapa aku malah memikirkan si bunglon itu sih?
Aku menggeleng untuk menghilangkan fikiran kotorku, kak Dimas menatap aneh kearahku.
"Kamu kenapa Din,?" tanyanya bingung.
"Haahh, ng,,ngga,,ngga pa pa kok kak" jawabku terbata, mendadak aku jadi salah tingkah.
Ada apa sih denganku, semenjak ciuma* itu aku jadi tidak bisa berfikir jernih, bahkan kemarin kak Dimas hampir saja menciumku, tapi aku menolak, entahlah aku jadi merasa bersalah tapi pada siapa? pada kak Dimas, karena menolak ciumannya, padahal sekarang kan dia pacarku? ataukah pada Imran? apa aku merasa bersalah padanya karena ciuman itu?. Aahh kepalaku pusing.
Sehabis nonton, kak Dimas mengajakku makan di foodcourt yang terdapat dilantai tiga mall tersebut, saat kak Dimas memesan makanan, sekilas aku melihat seperti bayangan seseorang yang kukenal, tapi saat aku bangkit hendak memastikannya, bayangan itu sudah menghilang dan bertepatan dengan kak Dimas yang sudah kembali dari memesan makanan.
Sambil menunggu pelayan mengantarkan pesanan kami, kak Dimas bercerita tentang masa kecilnya dan aku menjadi pendengar yang baik, ditengah cerita perasaanku mendadak gelisah, aku merasa seseorang sedang mengawasiku dari jauh, aku menengok kekiri dan ke kanan tapi tak satupun orang kukenal disana selain pria dihadapanku ini.
"Ahh sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja," gumamku.
Tak lama pesanan kami datang dan langsung saja aku melahap makanan itu, habis laper banget sih.
__ADS_1
Sehabis makan kami berencana akan pulang, tapi kak Dimas minta izin ketoilet sebentar, sambil menunggunya aku memainkan ponselku dan,
BYURRRRR
"Astagaaa" pekikku, terkejut.
"lo,,?" tunjukku pada gadis didepanku.
"Iya,, gue,, kenapa? heran lo" pekik gadis itu.
Aku hanya melongo melihat tingkahnya yang kurang ajar. Dia datang seperti jailangkung, dan tiba-tiba menyiram wajahku dengan air, sialan.
"Apa maksud lo nyiram gue?" tanyaku penuh emosi.
"Salah lo sendiri, beraninya lo rebut cwo gue," teriaknya tak kalah sengit.
"Maksud lo apa sih?" tanyaku lagi masih dengan nada bicara keras.
"Kak Dimas cwo gue, dan lo udah ngerebut dia dari gue,"sarkasnya.
"Apaaa"
Aku terkejut, ternyata kak Dimas dan Meyra pacaran?
Ya gadis gila yang datang seperti jailangkung itu adalah Meyra Artamevia, dan yang lebih mengejutkan anak pindahan dari Jogja itu mengaku pacarnya kak Dimas? berarti kak Dimas udah bohong sama aku? bodohnya aku percaya begitu saja.
"Kenapa lo diam,? ngga bisa ngomong kan lo?" ujarnya ketus.
Dan memang benar semua ini begitu mengejutkan, kejadian ini mengundang perhatian pengunjung foodcourt, terdengar samar ditelingaku mereka berbisik bahwa aku adalah perebut pacar orang, aku tidak bisa berkata apa apa lagi, kenyataan memang aku merebut pacar orang.
Aku terdiam mematung, cairan bening mulai mengalir di pelupuk mataku, kulihat Meyra menatap remeh sambil tersenyum sinis padaku.
"Ada apa ini? Dinda? kenapa kamu basah?"
Kak Dimas melangkah maju kearahku, tapi sebelum sempat dia menyentuhku terlebih dahulu ku hentikan langkahnya.
"STOOPP" tegasku, sambil mengangkat tangan dan melarangnya maju.
Aku merasa sesak, seperti kehabisan oksigen aku berusaha bernafas dan mengatur detak jantungku yang bergemuruh.
"Ada apa Din," tanyanya lembut.
Kututup kedua telingaku, sambil menggeleng. Tidak, aku tidak mau mendengar suaranya yang lembut, aku tidak mau tertipu lagi, cukup sudah.
"STOOP,,, STOOOP,,, STOOOOPPP" teriakku.
"Meyra ada apa ini, jelaskan padaku?" kak Dimas mulai gelisah.
"Dinda?"
"CUKUP CUKUP KAK DIMAAAS, Tolong jangan berkata apapun, aku tidak mau mendengarkan apapun, cukup kumohon cukup," ucapku memelas.
"Tapi ada apa, tolong jelaskan Din, apa yang terjadi," Dimas semakin bingung.
"Mey ada apa?"
"Kau meninggalkan ku hanya karena wanita itu kan kak? akhirnya gadis itu bicara.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan Mey?"
"Wanita itu sudah merebutmu dariku,,!!" teriaknya.
"Aku tidak pernah meninggalkanmu Mey,"
"Buktinya kemarin kau nyatakan perasaanmu padanya, itu artinya kau menduakanku kak" sarkasnya lagi.
"Itu tidak benar Mey, kamu yang sudah meninggalkanku,!!" seru Dimas tak kalah sengit.
"Tapi di Jogja kak Dimas bilang mau memulai dari awal, aku bahkan rela pindah kesekolah kakak, tapi wanita itu berniat merebutmu dariku," sarkasnya.
"Sebaiknya kamu pulang Mey, kita bicarakan ini nanti,"
"Ngga, aku ngga mau, kamu pasti mau berduaankan sama wanita itu?" gadis itu kembali berteriak.
Kami benar-benar menjadi pusat perhatian, ternyata kak Dimas berbohong, dia mempermainkan perasaanku.
"Pulanglah Mey, "bujuknya.
"Nggaaaa pokonya aku ngga mau pulang," gadis itu makin histeris.
"Meyraaaa" Bentak Dimas.
Pria itu benar-benar marah, sampai dia membentak kekasih kecilnya, kulihat wajahnya memerah, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal.
"Aahhhh dasar wanita sialan, karena kau kak Dimas membentakku," dia semakin histeris.
Gadis itu maju hendak menamparku, tapi sebuah tangan kokoh mencekal tangannya, lalu menghempaskannya, Meyra nyaris terjatuh seandainya kak Dimas tak menangkap tubuhnya.
Aku mendongak menatap wajah orang yang menolongku, malaikat tak bersayapku, Bunglonku. IMRAN.
"Jaga ucapanmu nona, sekali lagi kau menghina kekasihku, kupotong lidahmu," ucapnya penuh penekanan.
Pembawaannya selalu tenang menghadapi tiap masalah, aah aku benar-benar beruntung memiliki sahabat seperti Bunglonku. Tanpa kusadari aku tersenyum.
Meyra bangkit dan tersenyum sinis,
"Hehh, kau kira semua orang akan percaya kalian pacaran,? klo memang kalian pacaran kenapa kekasihmu berada dengan kak Dimas disini? kau pikir bisa membodohi kami.?" ucapnya dengan nada tinggi.
"Wanita penggoda tetap saja wanita penggoda," lanjutnya lagi.
"Tutup mulutmu, sekali lagi kau menghinanya kurobek mulut manismu itu." teriak Imran tak kalah keras.
" Baiklah, kalau dia memang kekasihmu, coba buktikan, klo dia bukan wanita penggoda," tantang Meyra.
"Bukti? kau ingin bukti?, baiklah,, setelah ku buktikan dia kekasihku, kuharap kau minta maaf nona Meyra,"
Bukti? bukti apa yang akan dimaksud Imran? Apa yang akan dia lakukan?
Tbc
Kira-kira bukti apa yahhhh hmmm tunggu aja deh next episodex
plis vote like n komen yaa
jangan lupa tinggalkan jejak gengks😊😊
__ADS_1
See u all😘😘