Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 42


__ADS_3

MALAM PANAS (2)


Happy reading gengks😊😊😊


Typo bertebaran


Siapa sangka malam itu kedua insan yang saling memendam rasa selama bertahun-tahun akhirnya mengakhiri perdebatan mereka diatas ranjang.


πŸ’πŸŒŸπŸ’


Malam itu Imran sangat kecewa mengetahui bahwa Dinda selama ini bersama Rio setelah malam kelulusan itu mereka saling melepaskan rasa yang selama ini tersimpan tapi akhirnya malah bersama pria lain. Rasa marah kecewa rindu bercampur menjadi satu.


Dinda sendiri tidak sadar bahwa dia sudah meminum minuman yang dipersiapkan Sofie, mantan Imran dengan obat perangsang.


Perdebatan hebat diantara keduanya diakhiri ciuman panas dari Imran sebagai luapan kekecewaannya kepada sang gadis pujaan.


Siapa sangka Dinda membalas lebih panas ciuman yang diberikan Imran, gadis itu berada dibawah pengaruh obat perangsang.


Merasa tak ada perlawanan dari gadisnya, Imran semakin berani melakukan hal yang lebih, bibirnya mulai menyusuri leher jenjang Dinda memberi sentuhan - sentuhan yang sensual, tangannya mulai membuka kancing kemeja yang Dinda gunakan.


Dinda yang berada dibawah obat perangsang tentu saja sangat menikmati sentuhan sensual yang diberikan oleh Imran, tubuhnya semaki panas, tapi semua itu diluar kendali gadis itu.


"Ngghh..." sebuah lenguhan semakin menggoda iman Imran, membuat hasrat pria itu kian membara, tangannya sudah berada tepat disalah satu gunung kembar milik Dinda, kembali pria itu melu*mat bibir gadisnya.


Malam ini Imran sudah nekad melakukannya, difikirannya hanya satu mungkin dengan cara ini Dinda akan menjadi miliknya selamanya


Semakin lama pagu*tan itu semakin menuntut lebih, entah siapa yang memulai, keduanya sudah polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.


Dinginnya AC dalam kamar itu tak dapat mengurangi rasa panas yang menguasai kedua insan yang saling berpacu mencapai puncak.


Darah pera*wan sudah menodai seprei putih dikamar hotel itu, desa*han demi desa*han keluar dari bibir kedua insan yang sedang dimabuk gairah.


Entah berapa kali Imran melakukannya malam itu, kenikmatan yang baru kali ini dia rasakan membuatnya seketika candu terhadap tubuh Dinda.


Seolah tak ingin membiarkan waktu terbuang sia-sia Imran kembali memacu senjatanya memasuki surga kenikmatan milik Dinda hingga gadis aah mantan gadis itu kelelahan dan akhirnya terkulai lemas dalam pelukannya.


Dikecupnya kening wanitanya dengan sangat dalam penuh sayang diakhir pelepasannya yang kesekian kalinya, Imran berjanji setelah malam panas itu tidak akan membiarkan Dinda lepas dari genggamannya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Keesokan paginya, suara dering telfon membangunkan Dinda terlebih dulu, saat mata mantan gadis itu terbuka samar-samar matanya menerawang dimana dia berada saat ini.


Dinda berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih beterbangan sekelebat bayangan malam panasnya dengan Imran melintas difikirannya membuat mantan gadis itu tersadar segera.


Setelah mendapatkan seluruh kesadarannya, Dinda justru tidak dapat bergerak, saat ini mantan gadis itu tengah berada didalam dekapan hangat sang sahabat.

__ADS_1


Menyadari hal itu, Dinda lantas menutup mulutnya dengan telapak tangannya, terkejut? pastinya!


"Astaga jadi benar yang aku lakukan semalam sama Imran?" tanyanya dalam hati.


Dinda menyibak selimut yang menutupi tubuh polos keduanya, lebih terkejut lagi saat melihat tubuhnya tak tertutupi sehelai benang pun kecuali selimut tebal itu.


"Apa yang aku lakukan, kalo Ayah dan Bunda tau bagaimana?" Dinda mencoba berfikir, dan kembali mengingat kepingan kejadian semalam.


Mantan gadis itu mengingat dengan jelas bagaimana panasnya pergumulan mereka semalam, bukannya menolak justru Dinda membalas tindakan Imran tak kalah liar.


"Ada apa denganku, kenapa aku bisa seliar itu semalam" gumamnya dalam hati.


Saking seriusnya memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, Dinda tak menyadari bahwa pria yang bersamanya melewati malam panas itu sudah terjaga.


"Pagi sayang," suara serak khas bangun tidur menyapa indera pendengaran Dinda, wanita itu terkesiap.


Sebuah ciuman singkat mendarat dibibir Dinda.


"Morning kiss" ucap Imran.


Dinda diam mematung, mantan gadis itu tak tau harus berbuat apa.


"A- apa yang ki- kita lakukan" tanya Dinda terbata.


"Yang seharusnya terjadi" jawab Imran Ambigu.


"Kita melakukannya sayang, dan sekarang kamu sudah menjadi milikku seutuhnya, tak akan aku biarkan kamu pergi lagi dariku." bisik Imran.


Seketika bulu kuduk Dinda meremang.


"Hiks,,,hiks,,, apa yang harus aku katakan sama Ayah dan Bunda." ucap Dinda terisak.


Tangisan Dinda membuat Imran terhenyak, pria itu langsung bangkit sambil memeluk erat wanitanya, dikecupnya sayang kening Dinda mencoba menenangkan.


"Jangan nangis sayang, bagaimanapun aku cinta sama kamu Adinda putri dan akan segera meminangmu jadi kamu jangan takut ok" jelas Imran.


"Tapi aku takut Ran, dan bagaimana dengan Sekar?" tanya Dinda masih terisak.


"Kamu jangan takut sayang, dan masalah Sekar, aku udah lama putus dengan dia, jadi kamu ngga usah khawatir" tuturnya lembut, sambil mengusap rambut Dinda penuh kasih sayang.


"Tapi waktu itu aku liat kamu memeluk Sekar, dan terlihat sangat bahagia." tanya Dinda.


"Oh ya? kapan?" Imran balik bertanya.


"Seminggu setelah malam kelulusan, waktu itu aku pengen jenguk Ibu dirumah sakit, tapi aku malah liat kamu meluk Sekar."

__ADS_1


"Apa itu sebabnya kamu pergi?"


Dinda mengangguk dalam dekapan hangat prianya.


Kembali sebuah kecupan sayang Imran daratkan dikening Dinda, sebuah senyum tipis tersungging dibibir pria itu.


"Kamu ngga usah khawatir, sekarang aku milik kamu, dan tidak ada Sekar diantara kita." terang Imran.


Imran melerai dekapannya, ditatapnya wajah wanita pujaannya, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menjuntai diwajah wanitanya, merasa diperhatikan seperti itu membuat Dinda merasa sangat malu, semburat rona merah terlihat jelas diwajah wanita itu, saking malunya Dinda tidak berani menatap wajah pria dihadapannya itu.


"Kenapa liatinnya kek gitu sih, aku malu" rengek Dinda.


"Aku suka liat rona merah ini, kamu jadi tambah cantik" jawab Imran sekenanya.


Semakin salah tingkah saja Dinda mendengar ucapan Imran.


Kembali Imran melu*mat bibir mungil Dinda dengan lembut, makin lama luma*tan itu makin hebat dan semakin menuntut, tangannya satu menahan tengkuk Dinda dan satunya lagi sedang mendaki digunung kembar milik Dinda.


"Sshhh" kembali sebuah desa*han tertahan lolos dari bibir Dinda saat Imran kembali memberi sentu*han sensual dileher jenjang gadis itu, hanya kecupan singkat namun dapat membangkitkan gairah yang menggelora.


Imran tidak ingin meninggalkan jejak percintaan ditubuh sang wanita pujaannya, pria itu tidak ingin jika wanitanya mengalami masalah jika Ayah atau Bunda melihat hasil karyanya ditubuh Dinda dan mengakibatkan Dinda berada dalam masalah.


"Jangan ditahan sayang, aku suka dengar desa* han kamu" bisik Imran, suaranya terdengar sangat parau menahan gairah yang siap meledak.


Dan kembali kedua insan yang dimabuk asmara itu melakukan penyatuan dipagi hari sebagai awal untuk memulai hari.


πŸ—» Astagaaaa


Bisa juga yaa othor bikin adegan panas, padahal aku nulis part ini sambil nahan nafas lo semoga readers suka.


➿➿➿


Dinda terlebih dulu membersihkan diri dari sisa pergumulannya pagi ini bersama Imran. Setelah selesai wanita itu menunggu Imran membersihkan dirinya sebelum akhirnya mengantarkannya pulang.


Saat Imran sedang dikamar mandi ponselnya kembali berdering, diraihmya ponsel sang kekasin dan melihat nama yang tertera.


IBU CALLING.


**Tbc


plis vote like n komen gengksπŸ‘πŸ‘πŸ‘


jangan lupa jejak yaa😊😊


Aku ngos-ngosan sendri waktu nulis part ini.

__ADS_1


semoga reader suka, masih ada konflik lebih berat di part selanjutnya jadi tetap stay, okπŸ‘ŒπŸ‘Œ


See U All😘😘**


__ADS_2