Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 08


__ADS_3

EFEK CIUMAN


Happy reading gengks😊😊


Maaf kalo banyak typo bertebaran😘 😘


Aku tidak tau apa yang terjadi denganku, aku merasa marah mengetahui Dinda menyukai kak Dimas, apa aku cemburu? batinku.


Kutatap matanya dengan tatapan yang begitu dalam, entah setan mana yang menghampiriku, kutarik tangan Dinda yang menggenggam tanganku, lalu kuraih wajahnya, dan kucium bibirnya, seketika matanya membulat mungkin dia terkejut dengan apa yang kulakukan.


Aku merasakan pergerakan tubuhnya, dia berusaha melepaskan diri, tapi aku menahannya, kutekan tengkuknya dan memperdalam ciumanku, mungkin ini bentuk kekesalanku. Aku sendiri bingung kenapa aku merasa sangat kesal.


Setelah kurasa Dinda sudah tidak memberontak, kulepaskan pagutan kami, kulihat wajah Dinda merah padam sepertinya dia sangat marah padaku.


"Apa yang kau lakukan,?" tanyanya dengan suara bergetar. Kulihat matanya sudah mulai berkaca-kaca dan mengeluarkan tetesan cairan bening.


"Maaf " ucapku menyesal, aku menunduk takut menatap matanya kerkilat marah.


PLAAKKK !!!


Dinda menampar ku, wajar saja dia marah pada ku atas apa yang telah kulakukan.


Tanpa berkata apa apa dia berlari meninggalkanku, tapi sebelum gadis itu menjauh, aku mengejarnya dan menarik tangannya, tubuhnya tersentak dan berbalik menabrak dadaku, kupeluk gadis manis itu walaupun dia berusaha memberontak, tanpa sadar air mataku pun ikut mengalir, aku menyesal dengan apa yang kulakukan padanya.


"Maaf,,,maaf Din, maafin aku. Aku g maksud nyakitin atau mempermainkan kamu, aku minta maaf,, aku nyesel Din, "


Aku merasakan Dinda masih memberontak tapi tidak seperti tadi, mungkin dia lelah, tapi dia masih memukul dadaku sambil menangis sesenggukan.


"Kamu jahat, Ran"


"Iya aku jahat, aku jahat udah ngelakuin itu ke kamu"


"Kenapa, Ran?"


"Maaf,,,maafin aku, aku nyesel, Din."


Aku hanya bisa bilang maaf, ngga mungkin kan aku bilang kalo aku marah sama kamu karena Dimas,? Batinku.


Aku merasakan Dinda sudah mulai tenang, dia sudah berhenti memukulku, walau masih terdengar sesekali suara tangisan nya lirih, aku mulai melepaskan pelukanku, kugenggam bahunya, dan menghadapkannya didepanku.


Kulihat matanya yang masih digenangi air mata, perlahan kuhapus air matanya dengan kedua telapak tanganku, lalu ku sampirkan rambutnya yang menutupi wajah manisnya.


"Aku minta maaf ya,aku g sengaja, aku beneran nyesel Din." ucapku penuh penyesalan, berharap dia mau memaafkanku.


Dinda tidaak menjawab ucapanku, dia hanya mengangguk, mungkin dia sedang memperbaiki moodnya, kutarik tangannya dan membawanya kesamping taman, disana terdapat bangku panjang, aku mengajaknya duduk agar perasaannya bisa lebih tenang. Tidak ada yang mengeluarkan kata-kata, baik aku ataupun Dinda kami sama-sama terdiam dengan pikiran kami masing-masing.


Setelah merasa lebih tenang, Dinda mengajakku kembali kekelas, kebetulan jam istirahat juga sudah selesai.


Sekembalinya kami ke kelas, tidak ada pembicaraan antara kami hingga jam pulang sekolah, Dinda masih mendiamiku.


Aku menawarkannya untuk pulang bersama, tapi gadis itu menolak dia ingin pulang bersama Vana, katanya ingin mampir ke toko buku.

__ADS_1


@ Dinda POV


Aku tidaak tau ada apa denganku, hari ini Imran tampak aneh dia sedikit lebih pendiam dari biasanya padahal tadi pagi dia baik-baik saja.


Aku berusaha mencari tau apa yang terjadi pada lelaki bodoh itu, tapi apa yang terjadi? dia mengambil First Kiss ku, dan dengan refleks aku menamparnya.


Setelah kejadian ditaman belakang aku jadi sedikit canggung terhadap Imran, entahlah apa yang terjadi padaku, aku berusaha menghindarinya.


Aku malu dengan apa yang kulakukan, tapi mau bagaimana lagi?? mungkin memang sebaiknya aku menghindar darinya untuk sementara waktu.


2 Minggu setelah kejadian itu, aku masih merasa canggung dengan Imran, padahal selama ini kami biasa saja, bahkan Imran biasa mencium keningku, tapi entahlah kali ini perasaanku benar benar berbeda, dan selama ini pula aku berusaha terus menghindarinya.


Biasanya Imran selalu datang menjemputku dirumah sebelum berangkat, tapi aku benar-benar menghindar, aku berangkat lebih pagi agar tak bertemu dengannya, dan setiap Ayah atau Bunda bertanya, kujawab saja harus datang labih pagi karena sebentar lagi akan ujian, agar mereka tak curiga dengan yang terjadi.


Selama 2 minggu ini Imran juga sering mengajakku keluar, dia sering mengajakku jalan, atau sekedar nonton film, tapi aku menolak, aku benar-benar tidak ingin terlihat gugup didepannya, jujur saja Ciuman itu sangat berpengaruh terhadap hatiku. Bahkan kak Dimas yang sudah kutunggu tunggu kepulangannya, tidak pernah lagi terfikirkan olehku, Duniaku seakan teralihkan.


🌊🌊🌊🌊


Siang itu aku pergi ke toko buku sendirian, sebenarnya aku mengajak Ivana, tapi dia sedang sibuk membantu ayahnya berjualan dipasar, yah ayah Vana adalah seorang penjual sayur dipasar.


Aku berjalan menyusuri rak rak buku ditoko tersebut, mengamati buku buku yang berjejer rapi, mencari buku yang menjadi tujuanku datang ketempat itu, tanpa sengaja aku melihat sosok yang tidak asing sedang duduk dengan seorang gadis berambut panjang disebuah kafe yang letaknya berseberangan dengan toko buku tempatku berada sekarang.


"Kak Dimas," gumamku.


Yah, sosok yang tak asing itu adalah kak Dimas, tapi sedang apa dia disana,? dan siapa gadis itu,? dia sangat cantik, kulitnya putih dan bila dilihat dari postur tubuhnya sepertinya dia masih Smp. Aku bertanya tanya dalam hati.


Apa mungkin mereka berkencan,? Masa iya kak Dimas berkencan,? tapi jika dilihat, dia seperti masih Smp, masih sangat kecil, dan kak Dimas berpacaran dengan anak remaja,?batinku. Aku bengong melihat keakraban mereka.


Mereka terlihat sangat bahagia, kulihat kak Dimas menggenggam tangan gadis itu,,dan tersenyum lembut kearahnya.


"Aauuuu" aku meringis, merasakan perih dikeningku.


Siapa sih yang beraninya nyentil keningku, dan pelakunya Adalah.


"Lo,?"tanyaku terkejut.


"Iya, napa lo bengong?" Pria itu balik bertanya.


"ngapain lo disini.?" tanpa menjawab pertanyaannya.


"Yyee, ditanya bukannya ngejawab, malah balik nanya, kebiasaan lo ting,"


Yah, pria itu tidak lain adalah si kambing, yang sudah mencuri ciuman pertamaku.


"Gue nanya ngapain lo bengong,?" dia kembali bertanya.


"bukan urusan lo," jawabku ketus.


Seketika mood ku ancur, udah ngeliat Sang pujaan hati megang tangan cwe lain, sekarang malah si kambing dateng kayak jelangkung, makin buat aku tambah kesal.


Aku mendengus dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"udah dibilangin tuh bibir jangan suka di monyong monyongin," ucapnya gemas sambil mencubit bibirku, sontak aku terkejut dan reflek memukul tangannya yang jahil.


"Isshh apaan sih," aku mendadak gugup, sekilas bayangan saat kami berciuman melintas difikiranku, membuatku termenung.


Imran melambaikan tangannya dihadapan ku.


"Woy, ting,, yyeee malah ngelamun lagi,"


"Apaan sih lo, g ada kerjaan banget, gangguin gue mulu."


"Lo ngapain sih ngelamun terus, mikirin apa coba"


"udah gue bilang kambing, ini bukan urusan lo."aku masih saja menjawab ketus, aku mau kalo Imran sadar akan kegugupanku.


"lo sohib gue, urusan lo urusan gue juga, iting."tekannya.


Aku tidak menyahutinya lagi, langsung saja kutinggalkan dia sendiri.


"Eeh malah pergi, dasar cwe aneh,"gerutu Imran.


"Woy, tungguin"


"Ogah" aku berlari sambil tertawa, kulihat Imran mengejarku.


"Tunggui gue itiing," teriaknya.


"kejar gue klo bisa,,wleee"


"awas aja lo klo ketangkep"


Tanpa sengaja aku menabrak seseorang, karena tidak bisa menjaga keseimbangan aku limbung dan hampir terjatuh, andai saja Imran tak menopangku dibelakang.


"Kak Dimas," gumamku.


Yah, orang yang kutabrak itu adalah kak Dimas, dia sedang berjalan keluar kafe bersama gadis yang tadi tangannya dia genggam.


"Dinda." jawabnya terkejut.


"maaf kak," ucapku lirih sambil menunduk, tidak berani memandang wajahnya.


"Kamu ngapain disini,? tanyanya lagi.


"Kami sedang mencari buku buat persiapan ujian, dan sekarang kami akan segera pulang, permisi."


Kali ini bukan aku yang menjawab, tapi Imran. Dari nada bicaranya sepertinya pria itu sangat kesal.


Dia menarikku meninggalkan sepasang kekasih itu, apa iya mereka memang kekasih,?aku membiarkan Imran menarikku, kulihat wajah kak Dimas berubah sendu, dan gadis disampingnya menatapku tajam, seolah aku sudah merebut kekasihnya.


**Tbc


plis vote like komen

__ADS_1


tinggalkan jejak gengks


see u all😘😘😘**


__ADS_2