
KECEWA
Happy reading gengksππ
Masih banyak typoπππ
Imran tiba dipantai setelah melakukan perjalanan sekitar tiga puluh menit, wajahnya seketika menegang saat melihat ketiga sahabatnya sedang berjalan - jalan dibir pantai, sesekali bercanda ria bersama.
"Hehh, ternyata mereka disini? dan tidak mengajakku? jadi mereka sekarang melupakanku?" geramnya dalam hati.
"Eeh, bukannya itu kak Dinda, kak Vana, sama kak Wawan ya kak? tunjuk Sekar pada ketiganya. Imran yang ditanya hanya diam tak berniat meyahuti perkataan gadis itu.
Sekar berlari kecil menghampiri mereka.
"Haaiii,,!" serunya.
Seketika ketiganya menoleh, dan terkejut melihat sepasang kekasih itu ternyata sedang berlibur juga kepantai yang sama dengan mereka, padahal rencananya tiga sekawan itu tidak mengajak dua sejoli itu ikut agar bisa menikmati waktu berdua, eeh ternyata!!
"Wah kalian sedang berlibur dan meninggalkan kami," rajuk Sekar.
Tidak tau mau menjawab apa, Vana dan Wawan hanya tersenyum kikuk, sedangkan Dinda memalingkan wajahnya kearah lain.
Tadi Dinda sempat melihat kearah Imran, pandangan keduanya saling bertemu, tapi Dinda buru - buru mengalihkan tatapannya karena melihat tatapan tajam dari sahabatnya itu.
Sekar menoleh kearah Dinda.
"Oh ya kak Dinda, tadi aku ama kak Imran mampir kerumah kakak," seloroh Sekar memberi tau.
"Kerumah aku,? buat apa?" tunjuk gadis itu pada dirinya sendiri merasa heran.
"Buat apa juga kalian kesana." batin Dinda.
"Iya, tadinya kak Imran mau ngajakin kalian berlibur kepantai, eeh taunya kalian udah duluan kesini." ujarnya cemberut.
"Udah g usah cemberut, kalian kan udah nyampe juga, sekarang kita jalan aja gimana? tawar Vana.
"Oh ya kak Dinda, hampir lupa, tadi Bunda titip ponsel kakak, katanya ketinggalan"
"Ahh iya tadi gue lupa ngambil dimeja, trus hp gue kemana?"
"Tuh ada sama kak Imran".
Dinda mendelik saat Sekar menunjuk sang sahabat, sedangkan objek yang tadi ditunjuk oleh sang kekasih hanya diam mematung. Pria itu hanya memasang wajah datar.
Tak lama Imran mendekati mereka, menatap dingin kearah gadis yang menjadi ratu dihatinya.
"Hp lo ada di motor gue, klo mau lo ikut gue" ujarnya datar.
Dinda hanya manut - manut mendengar ucapan Imran, kemudian gadis itu menyusul langkah sang sahabat yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya.
Dinda harus berlari - lari kecil mengejar langkah Imran, langkahnya yang cepat membuat gadis itu sedikit kesulitan menyamakan langkah mereka.
"Jalannya pelan dikit napa, bing?" keluh Dinda yang kesulitan mengikuti Imran dari belakang.
Sedangkan pria itu hanya diam saja tak menjawab.
__ADS_1
"Lo kenapa sih? kayak yang lagi marah gitu? tanyanya heran.
Lagi - lagi Imran tak menjawab pertanyaan gadis itu.
"Bing, lo marah sama gue?"
Perkataan Dinda sontak membuat langkah Imran terhenti, dan membuat gadis itu mau tak mau menubruk punggung sahabatnya.
"Aauuww" pekik Dinda saat keningnya terbentur dipunggung Imran.
"Kalo ngerem bilang donk, biar g nubruk ini,"gerutunya sambil mengusap keningnya yang terasa kebas akibat benturan tadi.
Imran hanya mendelik kearah Dinda dengan wajah yang sangat tak bersahabat, Dia menatap tajam kearah manik indah milik Dinda.
Dinda yang mendapatkan tatapan tajam dari Imran, langsung bergidik ngeri. Seketika dia bungkam, seolah mata itu mengatakan "Senggol bacok."
Kembali Imran melangkah, tanpa menghiraukan gerutu sang sahabat. Dinda hanya merutuk didalam hati dengan kebisuan Imran.
"Nih orang kenapa sih? kayak orang yang lagi pms aja," makinya dalam hati.
"Ngga usah mengumpat," seru pria itu.
Ucapan Imran berhasil membuat Dinda melongo.
"Hahh? kok tau nih orang gue lagi maki? perasaan dia anak pak lurah deh bukan mbak dukun!!!" batinnya.
"Gue udah bilang ngga usah ngomong sembarangan, apalagi mikir aneh-aneh"
"Fix, Imran belajar jadi dukun"
"Kenapa kalian pergi ngga ngasih tau gue" tanyanya kesal.
"Mmm, sebenernya kita ng- ngga m- mau ngegangguin lo ma Sekar." Desisnya.
Pria itu diam sejenak, tampak sedang berfikir.
"Lo bisakan kasih tau gue, Ting?"
"Kan udah gue bilang, kita cuma ngga mau lo keganggu." jawabnya keukeh.
Bruuuaaakk!!!
Imran memukul dinding dimana tempatnya saat ini berada, dia merasa kesal dengan ucapan gadis itu.
"Lo tau ngga Ting, gue merasa udah ngga dibutuhin lagi, kalian bersenang-senang tanpa gue? tega kalian."
"Sorry" cicit Dinda.
"Sorry?? enak banget lo ngomong? selama ini gue jagain lo dari Dimas dan ini balesan lo?" hardik Imran.
Pria itu kembali melayangkan tatapan tajamnya.
"lo kok bawa - bawa Dimas? lo ngga ikhlas bantuin gue?" sergahnya mulai terpancing emosi.
"Oh jadi sekarang lo ngga terima, gue nyebut nama laki-laki brengs**ek itu, HAHH? suara Imran memekik.
__ADS_1
Dinda terperanjat dengan bentakan Imran, tidak biasanya pria itu membentaknya hanya karena hal sepele.
Dinda hendak keluar dari balik dinding tempatnya tadi bersitegang dengan sang sahabat, tanpa berniat menjawab.
"Cih, dasar bunglon." rutuknya dalam hati.
Sebelum gadis itu beranjak, Imran terlebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
"Mau kemana lo?" menahan Dinda. Kini suaranya terkesan sedikit lebih lembut.
Dinda menghempaskan tangan yang mencekalnya dengan kasar, gadis itu benar-benar kesal dibuatnya.
Rencananya datang buat menenangkan fikiran malah otaknya terasa semakin kacau.
Kembali Imran menarik Dinda sedikit lebih keras, membuat gadis itu tersentak, dan berbalik menabrak dada bidang milik sang sahabat.
Kesempatan itu Imran gunakan untuk meluapkan kekesalannya terhadap sang sahabat yang sialnya adalah wanita yang sangat dia cintai.
Pria itu meraih tengkuk gadisnya, menahannya kemudian mendaratkan cium**an dibibir mungil sang gadis. Dinda terhenyak dengan apa yang Imran lakukan, gadis itu membulatkan matanya lebar - lebar seakan bola matanya akan keluar dari tempatnya.
Dinda meronta dalam dekapan sang sahabat, gadis itu berusaha melepaskan diri dengan memukul - mukul dada pria itu, bukannya melepas justru Imran semakin mengeratkan dekapannya, Bibirnya bermain main di bibir mungil milik Dinda, semakin lama ciuman itu semakin memanas, *******an demi *******an dia berikan kepada gadis keritingnya.
Entah mengapa pria itu merasa sangat kesal saat Dinda mengacuhkan dirinya, dan sekarang dia sedang meluapkan kekesalannya dengan memaksa Dinda menikmati pagut**an itu.
Imran meluma**t bibir mungil Dinda dengan kasar dan rakus tanpa mengetahui apa yang tengah gadis itu rasakan.
Merasa kehabisan nafas, Imran pun melepaskan pagutannya terhadap Dinda, dan.
Plaakk!!!
Dinda menampar Imran, gadis itu sangat kecewa dengan apa yang dia lakukan, wajahnya mendadak pias, saking emosinya dengan perlakuan pria itu padanya.
Dinda tak menyangka Imran akan melakukan hal itu padanya, sahabat yang selalu menjaganya justru membuatnya sangat kecewa.
Dinda akui bahwa gadis itu pernah menikma*ti ciuma**n dari sang sahabat, tapi sekarang keadannya berbeda, Imran sekarang sudah memiliki kekasih, tidak sepantasnya mereka melakukan itu.
Dinda tidak ingin jika Sekar melihatnya sedang berciuma**n dengan Imran dan membuat gadis itu salah faham, dan menganggap Dinda adalah orang ketiga diantara mereka.
Sungguh Dinda tidak ingin hal itu terjadi, dia tidak pernah berniat merebut siapa pun, termasuk Imran.
Bagi gadis itu, Imran hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih, walaupun Dinda akui hatinya telah terisi oleh nama pria itu.
Dinda meninggalkan Imran sendiri yang masih mematung menatap kepergiannya. Gadis itu terluka dengan sikap Imran yang seenaknya.
Dia berlari keluar dari area pantai menuju halte terdekat. Niatnya ingin segera pulang, meninggalkan sahabat - sahabatnya, tanpa pamit terlebih dahulu.
Tak seorang pun yang melihatnya pergi kecuali Imran sedangkan pria itu dengan egonya tak berniat mengejarnya. Dia hanya terdiam sambil mengusap pipinya yang diberi kenang - kenangan oleh Dinda.
Tbc
plis vote like n komen yaa gengksππ
Jangan lupa tinggalkan jejak.
See u allπππ
__ADS_1