Sebelah Hati

Sebelah Hati
SEASON DUA


__ADS_3

PRIA ASING


Happy reading gengks


Maaf jika banyak typo


❄❄❄❄


"Dimas" desis Soraya.


Gadis itu sangat terkejut bukan main mengetahui siapa yang sedang tertidur disampingnya, lebih terkejut lagi saat melihat tubuhnya dan Dimas sama - sama polos.


Kepingan demi kepingan ingatan tentang kejadian semalam mulai terkumpul dan menyatu, saling berhubungan seperti puzzle yang disusun hingga menghasilkan sebuah gambar yang memiliki arti, begitu pula Soraya mencoba mengingat apa saja yang dia lakukan semalam hingga dirinya berakhir dengan Dimas diatas ranjang apartemennya dengan balutan selimut tebal menutupi kedua tubuh polos mereka.


Diawali saat dirinya diusir dari rumah Imran, semua rencananya untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil pria yang dia cintai gagal total, membuat dirinya kecewa dan melampiaskannya dengan minum - minum di club malam, setelah itu Imran datang menghiburnya, dan berakhir dengan pertarungan sengit yang menguras peluh diatas ranjang.


Perlahan Soraya kembali mengingat seluruh kejadian itu, tapi kenapa sekarang yang disampingnya adalah mantan kliennya? Dimas.


"Benarkah yang semalam itu Imran? ataukah hanya halusinasi ku mengira Dimas adalah Imran? monolog Soraya.


Perlahan Dimas mulai terjaga, pria itu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


"Apa yang terjadi Dimas?" Sebuah suara menyadarkan pria itu dari kantuknya.


Seperti orang bingung, Dimas menatap Soraya yang juga sedang menatapnya tajam.


Semalam Dimas tidak terlalu mabuk, jadi tidak butuh waktu lama pria itu untuk mengingat apa yang terjadi semalam.


Dimas tersenyum, saat kembali mengingat betapa liarnya wanita dihadapannya itu semalam.


"Kenapa kau tersenyum? aku bertanya apa yang terjadi? dan kenapa kau... " Soraya tak mampu meneruskan ucapannya, dia hanya menunjuk tubuh Dimas seolah mengatakan bahwa kenapa kau bisa berada disini? dengan telunjuknya yang mengarah kearah pria itu.


"Wah, kau ternyata pelupa nona Soraya? bukankah semalam kau yang menyerangku secara liar?" ujar Dimas sambil sesekali terkekeh.


"Aku tidak melakukan itu, seharusnya bukan dirimu" elak Soraya.


"Kau benar-benar lupa? bahkan semalam kau selalu memanggilku Imran di setiap pelepasanmu"


Soraya terdiam mendengar ucapan Dimas, "berarti benar aku hanya berhalusinasi" gumam Soraya dalam hati.


"Kenapa kau diam nona Soraya? apakah kau masih penasaran?" ledek Dimas.


"Diam kau" hardik Soraya.


Gadis itu menarik selimut untuk membungkus tubuhnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setengah jam kemudian Soraya pun selesai, saat keluar dari kamar mandi, Dimas sudah tidak berada dalam kamarnya, mungkin pria itu sudah pergi, pikirnya.

__ADS_1


Saat akan mengambil pakaiannya dilemari, tak sengaja kedua netra hitam miliknya melihat secarik kertas diatas nakas berisi note dari Dimas yang dia tinggalkan sebelum pergi dari apartemen Soraya.


NOTE:


Kau hebat nona Soraya, permainanmu sangat liar, sudah lama aku tidak merasakan kenikmatan seperti yang ada dalam dirimu, aku berharap suatu hari nanti kita bisa bermain lebih liar dari yang semalam.


Soraya merasa geram membaca note yang ditinggalkan oleh Dimas, gadis itu kemudian meremas kertas itu dan melemparkannya ke tong sampah.


Soraya tidak menampik permainan Dimas semalam, berbeda saat dirinya melakukannya dengan kekasihnya diluar negri dulu, namun sejak awal memang bukan Dimas yang dia inginkan, melainkan Imran, si pengacara tampan itu.


πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“


Di kediaman Imran.


Seperti biasa, Dinda selalu terbangun lebih dulu, setelah melakukan segala aktivitasnya barulah dia akan membangunkan suaminya.


Hari ini Dinda berencana mengunjungi toko roti milik ayahnya yang dia kelola saat hamil Twins, semenjak bersama Imran, Dinda jadi jarang sekali mengunjungi tokonya, segala keperluan toko itu dipercayakan kepada Yuni, asistennya yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri.


"Pagi Yun" sapa Dinda.


Yuni yang mendengar namanya disebut, menoleh ke asal suara tersebut, dan gadis itu pun berbinar saat mengetahui siapa yang memanggilnya.


"Mbak Dinda" seru gadis itu.


"Ini anak mbak?" tunjuk Yuni kearah balita yang sedang berada dalam gendongan Dinda, dan dijawab anggukan oleh wanita itu.


"Wah cantiknya" Yuni merasa gemas dengan Sekar, gadis itu mencubit kedua pipi Sekar hingga balita itu meringis dan ingin menangis.


"Gimana keadaan toko Yun?" tanya Dinda.


Kedua wanita itu kini duduk berhadapan dimeja yang letaknya di sudut, dari sini kita bisa melihat pemandangan luar dan orang-orang yang sedang berlalu lalang.


Yuni dan Dinda menghabiskan waktu bersama, saling mengobrol tentang perkembangan toko roti miliknya, hingga kisah kehidupan masing-masing.


Sekar tertidur dalam gendongan Dinda, Yuni menyarankan kepada majikannya itu agar Sekar di tidurkan diruangannya yang dulu.


Diruangan Dinda memang terdapat sebuah kamar kecil yang sengaja dipersiapkan jika sewaktu-waktu dirinya merasa lelah dan butuh istirahat, tidak banyak yang berubah diruangan itu, walaupun sudah lama tidak ditempati, ruangan itu masih tetap bersih, Yuni selalu membersihkan ruangan Dinda walaupun tak dihuni.


Setelah menidurkan Sekar, Dinda pergi menuju dapur, tujuannya ingin membuatkan suaminya dan kedua balita kembarnya sebuah cheese cake dan rainbow cake yang menjadi best seller ditoko tersebut, kebetulan sudah sangat lama dirinya tidak berkutat didapur itu.




Dengan cekatan Dinda pun membuatkan Cake yang sangat disukai oleh kekasih halalnya, dan juga anak-anaknya.

__ADS_1


Setelah selasai, Dinda segera membungkus cake tersebut dan siap menunggu Suaminya yang akan datang menjemput.


Sekar sudah terbangun sejak tadi, namun Yuni dengan senang hati mengajak balita itu bermain, Yuni mengingat adiknya dikampung, itu sebabnya gadis itu sangat menyukai anak-anak.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, sebentar lagi Imran akan datang menjemput mereka, Dinda membersihkan peralatan kuenya dan segera kembali ketempat Sekar berada.


Saat keluar, dirinya tak sengaja menabrak dada bidang seorang pria, sontak membuatnya hampir terjatuh seandainya pria itu tak memegangi tangannya.


"Maaf" ucap Dinda sambil menunduk.


Pria itu menelisik tiap wajah Dinda, membuat Dinda jadi risih, Dinda kemudian pamit, merasa tak enak dengan tatapan pria itu, pasalnya dia adalah seorang wanita bersuami, ditatap oleh pria selain suaminya tentunya mbuat Dinda merasa risih.


Saat Dinda akan melangkah, tiba-tiba pria itu menyebut namanya.


"Dinda? kau Adinda putri bukan?"


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Bonus couple Dinda dan Imran. 😘😘😘





πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Tbc


Terima kasih buat yang masih setia nungguin Miss...


tolong dukung author yaa...


caranya like vote komen dan tinggalkan jejak πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£


Jangan lupa Novel Miss difavoritkan


klik tanda love ❀❀❀


Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " SAKIT TAK BERDARAH" dengan Cover yang baru


See U All😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2