
KECEWA
Happy reading gengks
Typo dimana-mana
Akhirnya Dinda memutuskan untuk pulang ke rumah, mungkin lebih baik gadis itu menunggu kabar dari Imran saja, tapi sampai subuh Imran tak jua menghubunginya.
"Apa yang terjadi? apa semua yang kamu ucapkan itu bohong?"
Puluhan panggilan tak ada satupun yang Dijawab.
"Kamu dimana? aku akan berangkat kekota pagi ini, tolong segera hubungi aku." pesan chat yang kesekian yang Dinda kirim ke pria yang baru semalam memberinya kebahagiaan luar biasa.
Tapi semesta seolah kembali menentang jalinan kasihnya dengan pria yang menduduki tahta dihati gadis itu, setelah semalam menunggu tak satupun balasan yang dia terima jangankan telfon, pesan yang gadis itu kirimkan bahkan tak satupun yang terbaca.
"Mungkin aku terlalu berharap banyak sama kamu, atau mungkin ini karma aku yang berusaha merebutmu dari Sekar, maaf Imran mulai saat ini aku akan kembali melupakanmu." diusapnya wajah yang sejak tadi dia pandang, sebuah foto kenangan mereka berdua Imran dan Dinda yang sedang digenggam gadis itu.
"Selamat tinggal semua, selamat tinggal Cinta, kutinggalkan semua rasa disini yang pernah terukir dihatiku bersamamu, semoga kalian bahagia."
βΏβΏβΏ
Sesampainya dikota, Dinda bergegas menuju kerumah pakde sedangkan Rio kembali kerumah besar keluarga Anggara.
Untuk sementara ini keluarga Ayah Imam menumpang tinggal dirumah pakde Ikhsan, adik dari Ayah Imam.
Dikota ini rencananya Dinda akan melanjutkan pendidikannya, bermodal rekomendasi beasiswa dari SMA nya yang dulu, gadis itu akan berusaha menggapai cita-citanya menjadi seorang Desainer Interior.
Seperti rencana awal, Ayah dan Bunda akan mencoba membuka toko roti kecil, dibantu oleh Mbak Manda.
Sedangkan Rio melanjutkan pendidikannya disekolah kepolisian mengikuti jejak sang Ayah. Setelah lulus pria itu berencana melamar wanita pujaannya.
πππ
Seminggu berlalu setelah malam kelulusan itu, berkali-kali Dinda mencoba menghubungi Imran tapi tak satupun panggilannya dijawab begitu juga pesan yang dikirimkan gadis itu, tak satu pun yang dibalas.
Dinda mencoba berfikir positif, mungkin saja terjadi sesuatu hingga sampai saat ini pria itu tak jua menghubunginya.
RIO CALLING
Sebuah panggilan dari Rio masuk diponsel Dinda.
π§ : "Halo, Assalamualaikum kak,"
π¦ : "Waalaikumsalam Thy, apa kabar?" tanya Rio dari seberang telfon.
π§ : "Aku baik, kak Rio sendiri gimana?"Dinda balik bertanya.
π¦: " Alhamdulillah aku juga baik Thy,"
__ADS_1
π§: " Tumben nelfon, ada apa nih?"
π¦: "Ngga pa pa sih, cuman kangen aja, oh iya udah ada kabar dari Imran belom?"
π§: "Belom" jawabnya lesu.
π¦: "Kok lemes gitu jawabnya, ngga seneng ya kakak nelfon?"
π§: "Bukan gitu, kak"Dinda gelagapan merasa tak enak hati.
π¦: "Udah ngga usah sedih, gimana kalo hari minggu aku anterin kamu kerumah Imran, sapa tau dia lagi ada masalah jadi belum sempat ngabarin kamu" usul Rio.
π§: "Beneran?" jawab Dinda antusias.
π¦: "Iya bener dong, masa aku bohong. Lagian nanti hari minggu aku free kok jadi bisa nganterin kamu."
π§: "Ok, aku tunggu" Dinda tersenyum sumringah.
Kurang lebih sekitar setengah jam keduanya ngobrol hingga Rio lebih dulu memutuskan sambungan telfonnya. Dinda merasa bahagia karena Rio mengajaknya bertemu Imran, tapi gadis itu tidak tau bahwa senyuman nya akan berubah duka.
Hari minggu, sesuai janjinya Rio mengajak Dinda kembali kekotanya yang dulu, tadi pagi-pagi sekali Rio sudah datang menjemput gadis itu.
Setelah beberapa saat menunggu Dinda bersiap, akhirnya gadis itu selesai juga.
Dua jam waktu yang diperlukan Dinda dan Rio menempuh perjalanan kembali kekota kecil dimana gadis itu menghabiskan masa remajanya.
Dan disinilah mereka, RS Medika Nusantara tempat dimana Ibu dari pria yang Dinda cintai dirawat.
Ivana menceritakan tentang kondisi wanita paruh baya yang sering mereka sebut dengan nama Ibu, yang tak lain adalah Ibu dari Imran.
Sudah seminggu tepatnya saat hari diadakannya malam kelulusan mereka bertepatan Ibu mengalami kecelakaan, jatuh dari kamar mandi dan segera dilarikan ke RS Medika Nusantara dimana gadis itu sedang berpijak sekarang.
Sekarang Dinda mengerti kenapa sampai saat ini Imran tidak juga menghubunginya sejak malam itu, bahkan pesannya tak satupun yang dibalas.
Dinda melangkah masuk kerumah sakit, bertanya pada resepsionis dimana kamar rawat Ibu Anggara. Setelah resepsionis memberi tahu, gadis itu ditemani oleh orang yang sudah dianggap seperti kakaknya bergegas mencari ruangan yang dimaksud oleh resepsionis tadi.
Ting,,,
Suara lift yang terbuka menandakan keduanya sudah sampai dilantai yang mereka tuju, lantai tiga dimana ruangan Ibu dirawat.
Seketika tubuh Dinda menegang saat tak sengaja melihat adegan yang tak pernah gadis itu duga sebelumnya, senyum yang menghias bibir mungilnya sejak semalam tiba-tiba menghilang digantikan buliran bening yang mengalir dari kedua maniknya yang indah.
Bergegas gadis itu berbalik sebelum pria yang menjadi tujuannya datang kemari, berbalik dan melihat keberadaannya.
"Ternyata aku memang hadir diantara kalian, maaf " gumamnya dalam hati.
Gadis itu berjalan menyusuri koridor yang tadi dia lewati bersama Rio, tapi kali ini Dinda berjalan sendiri, karena Rio sedang berada ditoilet jadi pria itu tak melihat apa yang Dinda lihat.
β¨Flashback
__ADS_1
"Thy aku ketoilet dulu yah," izin Rio begitu pintu lift terbuka.
"Iya" jawab Dinda masih dengan senyum sumringah dibibirnya.
Setelah tiba didepan ruang rawat Ibu, tak sengaja Dinda melihat Imran yang sedang memeluk erat Sekar, senyum bahagia terpancar dari wajah pria yang berhasil memporak-porandakan hatinya.
Buru-buru Dinda berbalik sebelum Imran menyadari kehadirannya, gadis itu tidak ingin diketahui bahwa dia ada ditempat itu.
β¨Flashback Off
"Thy, udah ketemu sama Ibu?" tanya Rio saat kembali dari toilet.
Dinda terkejut saat mendengar suara Rio, tapi gadis itu buru-buru kembali bersikap biasa agar pria yang berada dihadapannya saat ini tak curiga.
"Ngga kak, kayaknya bukan disini deh" kilah Dinda.
"Trus gimana donk?"
"Ya udah kita balik aja, lain kali deh baru kita ketemu sama Ibu" ucap Dinda tenang.
Rio merasa aneh dengan sikap sahabat kecilnya yang satu ini, tidak biasanya gadis itu seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu, tapi Rio tak ingin ikut campur, karena dia tau itu bukan urusannya.
ππππ
Sementara ditempat lain, tepatnya didepan pintu ruangan rawat inap Ibu, Seorang pria yang baru saja menyelesaikan pendidikan dibangku SMA itu merasa bahagia sampai tak sadar memeluk gadis yang ada disampingnya, yang selalu setia menemaninya sejak Ibunya mengalami kecelakaan.
Malam itu setelah mengungkapkan perasaanya pada gadis keritingnya tanpa sadar langsung pergi meninggalkan gadis itu sendiri diaula sesaat setelah menerima kabar bahwa sang Ibu tercinta terjatuh dikamar mandi.
Parahnya lagi saking paniknya, Imran tidak menyadari bahwa ponselnya terjatuh saat sedang mengendarai kuda besinya menuju kerumah sakit dimana sang wanita tercinta terbaring.
Itulah sebabnya Imran tak bisa menghubungi Dinda, juga tak bisa menerima panggilan juga pesan yang dikirimkan oleh gadis yang selalu menjadi ratu dihatinya.
Selama seminggu ini Imran benar-benar sibuk mengurus Ibunya yang terbaring lemah tak berdaya di ranjang pembaringan.
Pria itu tak dapat menghubungi sang gadis pujaan, selain itu Imran juga ingin mengatakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Dinda kepada Sekar, gadis yang selalu menemaninya saat merawat Ibu yang sedang terbaring lemah.
Dan saat Imran sudah mengungkapkan semua yang ingin dia sampaikan pria itu tak pernah menduga reaksi Sekar.
Gadis itu tersenyum manis mendengar dengan seksama penjelasan sang kekasih yang sebentar lagi menyandang gelar MANTAN.
Sebuah pelukan kebahagiaan Imran berikan kepada sang mantan, pria itu tersenyum bahagia karena Sekar dapat mengerti dan menerima apa yang diinginkan oleh hatinya.
Tanpa pri itu sadari gadis yang bertahta selama ini dihatinya menyaksikan semua yang pria itu lakukan pada sang mantan.
**Tbc
plis vote like n komen
tinggalkan jejak donk biar semangat nulisnya
__ADS_1
chapter konflik sampe, paling enak denger sambil dengerin lagunya wali - Sakit tak berdarah.
See u allπππ**