Sebelah Hati

Sebelah Hati
SEASON DUA


__ADS_3

MEMPERSINGKAT WAKTU


Happy reading gengks


Maaf jika masih banyak typo


😘😘😘


Dimas membenarkan ucapan Soraya, dirinya memang tidak rugi jika bisa menik*mati keindahan tubuh wanita itu, Toh bukan dirinya kan yang meminta? tapi Soraya sendiri yang menawarkan.


Seperti kata orang jaman dulu, "Kucing mana yang disodorkan ikan segar, akan menolak? hanya kucing bodoh" begitu juga Dimas, pria mana yang disodorkan tubuh yang begitu menggoda dan menggiurkan bisa menolak? pikirnya.


Dimas mendorong tubuh Soraya agak keras hingga jatuh keatas ranjang, tak membuang kesempatan, Dimas langsung menindih tubuh Soraya yang masih mengenakan bathropenya dan sedikit tersingkap hingga menampilkan lekuk tubuh Soraya yang setengah telan*jang terpampang dihadapannya, Dimas juga menekan kedua tangan Soraya agar wanita itu tidak berkesempatan untuk berontak.


Soraya mendesis karena merasa sedikit nyeri dikedua pergelangannya yang ditekan oleh Dimas.


"Kau kasar sekali" keluh Soraya.


"Bukankah kau suka bermain kasar? sangat nik*mat buka?" bisik Dimas tepat dikuping Soraya, kemudian menggigit leher wanita itu dan meninggalkan jejak kissmark.


Dimas segera melucuti pakaiannya yang masih melekat, has*ratnya benar-benar sudah terbakar, dengan kasar dia menyentakkan miliknya kedalam inti Soraya, memacu dengan ritme yang cukup cepat, dan sontak membuat wanita yang berada dibawah kunkungannya menge*rang nik*mat.


"Aahhh..... Mmmm.... " era*ngan seketika lolos dari bibir Soraya, permainan Dimas kali ini memang terkesan sedikit kasar, mungkin karena dirinya masih merasa sangat kesal terhadap apa yang Soraya perbuat kepada Dinda. Namun dirinya tak memungkiri bahwa saat ini masih sangat membutuhkan Soraya sebagai pelampiasan naf*sunya.


Soraya merasakan sedikit perih karena permainan Dimas yang sangat kasar, namun Soraya tak menampik bahwa dirinya sangat menik*mati permainan Dimas yang terkesan brutal dan baru kali pertama dia lakukan pada dirinya.


Dimas membalikkan tubuh Soraya layaknya seperti seorang joki menunggang kuda, lalu Dimas kembali menancapkan miliknya memacam Soraya dengan cepat, keduanya sangat menik*mati permainan panas mereka.


Dimas kembali merubah gayanya, kali ini Soraya yang berada diatas, memimpin permainan, membuat wanita itu semakin meracau tak karuan.


"Aahh... Dim... asss" des*ah Soraya.


"Hmm... Faster baby" kali ini Dimas yang kembali memegang kendali.


🍁🌸🍁🌸🍁


Waktu terus berlalu, tak terasa pertempuran Dimas dan Soraya sudah hampir dua jam lamanya, Dimas terus saja memacu Soraya diatas ranjang king zise milik hotel dimana dirinya menghabiskan waktu. Entah berapa kali Soraya mencapai pelepasannya, Dimas pun nampaknya sudah mencapai puncak berkali-kali, namun staminanya masih saja stroongg untuk terus menggempur Soraya, permainannya pun sudah tak sekasar saat pertama mereka melakukannya tadi.


Dimas memeluk Soraya dari belakang, yah posisinya saat ini menyamping, dengan Dimas yang berada dibelakang Soraya, tak lupa salah satu tangannya masih aktif meremas kedua gundukan milik Soraya.

__ADS_1


"Aahhh... Dim- Dimas.. Ak- Aku mau ke-keluar lagi" erangan Soraya terdengar samar, namun masih dapat didengar oleh sekitarnya.


"Yeah, babe, I'm coming, kita sama-sama" bisik Dimas, sambil menge*cup tengkuk polos Soraya.


"Aahhhh.... " Akhirnya keduanya pun tumbang dengan posisi Soraya membelakangi Dimas, yang memeluknya setelah kurang lebih dia jam berpacu diatas ranjang.


Dimas mengecup pucuk kepala Soraya, kemudian menarik selimut yang teronggok dilantai untuk menutupi kedua tubuh polos mereka, tak lama keduanya pun terlelap karena kelelahan dan tak sempat membersihkan tubuh mereka terlebih dahulu.


⭐🌊⭐🌊⭐🌊


Pagi hari dipulau Ayer


Dinda terbangun lebih dahulu, ketika maniknya telah terbuka, dirinya bisa melihat dengan jelas Imran, yang masih menempel di ceruk lehernya, sambil mendekap Dinda dengan sangat erat


"Mas, mas Imran" panggil Dinda dengan sangat lembut dan sopan.


Imran menggeliat, kedua netranya masih betah terpejam.


"Mas, mas bangun, nanti Twins bangun loh, dan liat kita kayak gini" Ucap Dinda lagi.


"Hmmm..." Imran hanya berdehem sebagai jawaban, pria itu justru semakin erat memeluk sang istri.


"Kamu kenapa aku sayang?" tanya Imran panik, karena masih setengah sadar.


"Aku sesak mas" gerutu Dinda merajuk.


"Maaf sayang, mas kirain tadi guling" ucapnya.


"Enak aja, aku disamain guling" Lagi-lagi Dinda menggerutu kemudian menepuk pindang sang suaminya.


"Mas mandi dulu atau aku yang duluan?" tanya Dinda saat Imran benar-benar telah bangun.


"Emang udah jam berapa sih?" alih-alih menjawab, Imran justru melontarkan pertanyaan yang lainnya.


"Jam setengah enam pagi mas"


Baru juga setengah enam sayang, belum juga pagi, matahari aja masih sembunyikan sinarnya. Lagian masih gelap juga kan, udah tidur aja dulu lagi" Imran mengucek kedua matanya yang masih terasa kantuk, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya. Imran lantas kembali menarik tangan Dinda membuat wanita itu terjerembab atas tubuh Imran.


Ish, kamu tuh mas, ntar keburu twins bangun dan liat kita yang telanjang kayak gini" keluh Dinda kesal.

__ADS_1


"Iya, iya sayang kita mandi" sahut Imran malas, Dinda menggeleng melihat kelakuan suaminya.


"Kamu duluan, atau aku yang duluan mandi, mas? kembali Dinda mengulang pertanyaan.


Imran tak menjawab, dirinya buru-buru turun dari ranjang dan bergegas menuju kekamar mandi, dari pada mendengar ceramah ibu negara yang panjang kali lebar.


" Baguslah, masih ada waktu satu ronde sebelum twins bangun" gumam Imran dalam hati, pria itu kemudian tersenyum penuh arti.


Dinda mengira suaminya ingin mandi terlebih dahulu, namun siapa sangka ternyata Imran berbalik dan langsung menggendong Dinda menuju kamar mandi, membuat wanita itu memekik terkejut.


"Mas kamu.... " ucapan Dinda langsung terpotong karena bibirnya sudah dibungkam terlebih dulu oleh Imran.


"Kita mandi sama-sama untuk mempersingkat waktu"


Satu jam kemudian, Imran dan Dinda baru menyelesaikan ritual mandinya, lebih tepatnya ritual mempersingkat waktu menurut versi Imran, Dinda yang lebih dulu keluar, tampak menekuk wajahnya karena merasa kesal.


"Itu mukanya kok, kayak gitu sayang? masih pengen yah?"


β„πŸ’–β„πŸ’–β„


Tbc


Nah loh, itu yang suka bilang mempersingkat waktu ujung-ujungnya modus, tunjuk tangan βœ‹βœ‹


Jangan lupa dukungannya


like vote or komen


Jempolnya di goyang, lovenya di tekan


n jejaknya jangan lupa,


mampir ke karya othor yang satunya juga yah


"Sakit Tak Berdarah"


see u all😘😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2