Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 28


__ADS_3

SAATNYA MELEPASKAN


Happy reading gengks๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Maaf yee kalo kang typo masih ngikut๐Ÿ™๐Ÿ™


Sejak dari rumah Vana, Dinda merasa lebih lega seolah beban yang ada dipundaknya menghilang. Gadis itu bertekad untuk melepaskan semua, yaa dia memang harus melepaskan semua rasa itu, mungkin dimulai dengan mengikhlaskan sang sahabat dengan gadis yang dia pilih.


"Gue udah ikhlas bing, bagi gue lo bahagia, gue juga bahagia." Ucapnya.


Dinda sedang memandang foto yang menjadi wallpaper ponselnya, fotonya bersama ketiga sahabatnya.


Dalam foto itu, mereka terlihat sangat bahagia, tawa lepas yang menghiasi bibir mereka menunjukkan bahwa tak ada beban diantara keempat sahabat itu.


Dinda mengusap wajah Imran didalam foto tersebut.


"Gue sayaang sama lo bing, maafin gue yang selalu buat lo marah, bukan tanpa sebab hanya saja gue takut kalo gue semakin sulit melupakan rasa ini."


"Gue janji mulai besok kita akan kembali seperti dulu, sekarang saatnya melepaskan dan mengikhlaskan semua."


Dinda tertidur sambil memeluk benda pipih berbentuk persegi yang sejak tadi dia pandangi.


Berharap besok pagi akan lebih cerah.


Keesokan paginya.


Seperti biasa, tiap habis menunaikan ibadah subuhnya Dinda menyempatkan diri untuk membantu sang Bunda mengemas roti yang akan dibawa oleh Ayah.


"Tumben bangun pagi" tegur Bunda saat melihat anak gadisnya sudah duduk manis dimeja dapur.


Emang beberapa hari ini si anak gadis Bunda udah jarang bantuin ngemas roti, biasanya bangunnya kesiangan. Tapi hati ini Dinda udah bertekad untuk melepaskan semuanya, gadis itu tak ingin terus berlarut-larut dalam keterpurukan hati.


"Iya Bund, Dinda mau bantuin Bunda ngemas roti" ucap gadis itu sambil meraih nampan yang dibawa sang Bunda.


Setelah semua roti selesai dikemas, Dinda kemudian bersiap untuk kesekolah, dulu dia terbiasa dijemput oleh Imran namun beberapa hari ini pria itu tak lagi menjemputnya.


"Bunda perhatiin, Imran udah ngga pernah jemput kamu Din,?" tanya Bunda.


"Iya Bun, Emang napa?"


"Yah ngga sih, Bunda cuma nanya doank, kan biasanya bocah itu nyempilin kamu kerumah, ini udah bener bulan Bunda ngga liat batang idungnya, jadi Bunda tanya." jrlas Bunda panjang lebar.


"Imran udah punya pacar Bun, jadi Dinda larang kesini takut cwr nya salah faham." terang Dinda senatural mungkin.


Bunda hanya manggut-manggut tanda wanita paruh baya itu setuju dengan ucapan anak gadisnya.


Bunda membenarkan sikap Dinda, emang sudah seharusnya sebagai perempuan yang baik harus menjauhi kekasih orang kan.


"Ya udah Bun, Dinda berangkat deh udah jam berapa juga." pamitnya pada sang Bunda.


Dinda melangkah kearah sang Bunda, sambil meraih tangan wanita yang telah melahirkannya untuk dia cium, dari arah luar tampak sang Ayah melangkah mendekati kedua wanita beda generasi itu.

__ADS_1


"Sudah Bun,?" tanya Ayah.


"Iya yah, ini baru selesai dikemas udah dimasukin kekardus juga, Ayah tinggal bawa aja" terang bunda sambil menunjuk tumpukan kardus roti yang tersimpan diatas meja.


"Yah, Dinda berangkat yaa" sahut Dinda sambil menarik tangan tua milik sang ayah juga kemudian dicium.


Ayah membelai sayang rambut anak gadisnya, sambil menyunggingkan senyum yang sangat menawan.


Senyum yang membuat sang Bunda jatuh hati kepada sang asisten dosen, Eeh maaf ralat sang mantan yang sekarang sudah berstatus suami tercinta.


"Hati-hati sayang, hmmm." pesan Ayah. "Imran g jemput? kayaknya udah lama Ayah ngga liat anak itu? kalian berantem?"


Dinda menggeleng.


"Ngga kok Yah, Kita baik-baik aja" kilah Dinda, malas membahas tentang Imran.


"Ya udah Dinda pamit"


Tak ingin berlama-lama, Dinda langsung ngacir, takut diinterogasi Ayah dan Bunda.


Sesampainya disekolah Dinda langsung mencari Vana, tapi si gadis tomboy sahabatnya ternyata belum datang, malahan si Bunglon yang duluan nangkring, didampingi sang kekasih pujaan, siapa lagi kalo bukan Sekar.


"Aduh pagi-pagi udah liat hal yang bikin sesak, sabar Din, kamu hanya butuh waktu buat melepaskan semuanya." gumamnya dalam hati.


Sambil menghela nafas pelan, dan mengelus dada, Dinda mencoba menetralkan irama degub jantungnya yang sedang bergoyang tobelo. Kali ini Dinda harus benar-benar siap mental jika ingin melepaskan semua.


Akhirnya gadis itu bisa mengatur detak jantungnya dan bersikap senormal mungkin.


"Ehmm" Dinda berdehem.


"Eeh kak Dinda?" Sekar terlonjak saat melihat kakak kelasnya yang juga merupakan sahabat dari sang kekasih.


Namun Imran hanya diam saja tak bergeming, pria itu hanya menatap sekilas lalu kembali menoleh kearah Sekar. Tatapannya sangat dingin. Dinda dibuat sangat heran dengan perubahan sikap Imran.


"Cihh dasar bunglon" cicitnya.


โ™จโ™จโ™จ


"Ting, mau kekantin ngga?" tanya Vana.


Dinda menggeleng, "Ngga Van, tapi gue mau nitip, boleh?" pintanya pada sang sahabat.


"Emang lo mau nitip apaan"


"Juz alvokad aja, bisa?"


"Kenapa ngga kekantin aja sih?"


"Ngga pa pa, cuma tugas gue ada yang kelupaan jadi harus segera gue selesaiin, tolong yah Van" ucapnya memelas.


Vana mengangguk, dan tak lama Sekar yang merupakan kekasih salah satu personil anggota organisasi sekolah, terlihat melangkah memasuki ruangan Dinda dan menghampiri kekasihnya.

__ADS_1


Imran tersenyum menawan menyambut kedatangan sang kekasih, setelah itu keduanya pergi meninggalkan Dinda dan Vana tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Dinda hanya menatap pasangan sejoli itu dengan sendu, ada guratan kesedihan tampak diwajahnya. Padahal gadis itu sudah bertekad melepaskan semuanya tapi hati tak dapat dibohongi, sungguh melupakan seseorang yang pernah hadir dalam hidupmu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Udah ngga usah diliatin terus, ntar sakitnya ngga ilang - ilang, yang ada malah tambah sakit. Kan kemarin udah aku ingetin, klo suka ngomong klo dah telat ya lupain" jelas Vana panjang kali lebar kali tinggi.


Dinda menunduk, kemudian gadis itu mengangguk.


"Lo bener Van, emang gue udah bertekad buat lepasin Imran, tapi melupakan tak semudah membalik telapak tangan. Sekarang gue udah berusaha lupain mereka." ujar Dinda lirih.


"Ya udah si, lo ngga usah mandangin mereka terus klo gitu, bikin tambah meradang hati lo ntar" Nasehat Vana.


"Ngga kok, gue cuma lagi belajar siapin mental buat liat kemesraan mereka" kilah Dinda sambil tersenyum paksa.


"Iddih, gue ngeri liat senyum lo yang kepaksa gitu,! ngga usah nyengir, serem gue liatnya" ledek Vana sambil bergidik.


Dinda cemberut diledek oleh sahabatnya sendiri, tiba-tiba Wawan datang menghampiri kedua gadis manis itu.


"Jadi bener lo naksir ma Imran?" tanyanya to the point.


Dinda terkesiap mendengar perkataan Wawan. Darimana juga sahabatnya ini tau klo Dinda naksir ama Si Bunglon?


"Emang siapa yang ngomong" Tak menghiraukan pertanyaan Wawan justru Dinda balik bertanya.


"Tadi gue denger kalian cerita" Jawabnya jujur.


Plaaakkk


"Addawww," Wawan menjerit sambil mengusap kepalanya yang kena tabokan maut dari si gadis tomboy Vana.


Pria itu memberenggut kesal dengan ulah sang sahabat yang terkenal ketomboy-annya, Wawan ditabok Vana setelah mengatakan bahwa dia mendengar ucapan kedua gadis itu.


"Makanya kalo ngomong tuh ngga usah pake loudspeker, suara lo kenceng banget Oon" timpal Vana kesal dengan suara cempreng Wawan yang suka over limit klo ngomong.


"Maksud lo apaan sih Van? maen tabok aja?" sungut Wawan.


"Itu cangkem lo kayak ember tetangga gue yang panta*nya bocor, tau ngga? ngomong ngga difilter dlu asal jeblak aja lo, mana ngomongnya kenceng amat kayak lagi balapan ama si gemoy" ucap Vana tak kalah sengit.


"Gue masih ngga ngerti lo ngomong apaan pea" Wawan menoyor kening Vana karena perkataan gadis itu membuatnya semakn bingung.


"Ya lo bisa kan ngga usah bilang klo Dinda naksir ama Imran, ntar ada yang denger, SETAN" ucapnya dengan penuh penekanan dikalimat SETAN.


"Itu cangkem ngga usah dimonyong-monyongin gitu ngomong Setannya, pea" kata Wawan merasa gemas dengan tingkah Vana, sambil menjawil bibir seksi gadis tomboy itu.


Dinda hanya bisa menggeleng melihat tingkah kedua sahabatnya.


**Tbc


plis vote like n komen yaa


Tolong dukung author donk gengks walaupun hanya like dan komen, karena respon dan dukungan kalian menambah semangat.

__ADS_1


Like n komen kalian adalah mood boster bagi para author, jadi Miss sangat berharap dukungan like komen pun ngga papa biar Miss tau apa ada yang suka sama novel ini atau ngga๐Ÿ™๐Ÿ™


see u all๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜**


__ADS_2