
KEVIN
Happy reading gengksππ
Typo masih bertebaran πππ**
Dinda pergi meninggalkan Imran yang masih mematung, sambil mengusap bekas jejak lima jari milik Dinda diwajah tampannya.
Gadis itu berlari tak tentu arah, tujuannya saat ini ingin segera pulang, Dinda keluar area pantai dan meninggalkan sahabatnya tanpa pamit terlebih dahulu. Fikirannya saat ini sangat kacau, awalnya dia kepantai untuk mengurangi sakit yang selama ini dia pendam tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Dinda merasa kecewa dengan sikap Imran yang seenak hati menciumnya, walaupun dia pernah menikmati bibir itu, tapi sekarang situasinya sudah berbeda, Imran sudah memiliki kekasih dan dia tidak ingin disebut sebagai perusak hubungan orang, apalagi itu sahabatnya sendiri, walaupun dia sangat mencintai pria itu bukan berarti dia harus merusak hubungannya dengan kekasihnya.
Sepanjang ia berlari, airmatanya terus mengalir, sebagai luapan kekecewaannya pada sang sahabat.
Saat ini dia sudah berada dihalte bis, menunggu bis sebentar lagi tiba.
Ditempat lain.
Imran yang masih diam terpaku setelah menerima tamparan dari gadis keritingnya, kini mulai kembali kedunia nyata setelah Dinda menghilang dari pandangannya.
Dia baru sadar kalau dirinya lagi - lagi membuat Dinda kecewa.
"Dindaaaa!!!"
Dia berlari berusaha mengejar gadis yang tadi dibuatnya menangis, namun saat dia melihatnya, pria itu terlambat, Dinda sudah naik kedalam bis.
"Sial" umpatnya.
Imran kembali ketempat dimana motornya terparkir, menyalakannya kemudian menjalankan kuda besi itu segera menyusul bis yang telah membawa sang gadis yang amat ia cintai.
Namun sayang, saat Imran hampir berhasil menyusul bis itu, justru lampu merah malah menghentikan laju kuda besinya.
"Brengs**ek" umpatnya dalam hati.
πππ
selayaknya engkau tahu
betapa ku mencintaimu
kau tenangkanku dari mimpi burukku
selayaknya kau mengerti
betapa engkau ku kagumi
kau telah tinggal di dalam palung hati
betapa hancur hatiku
melihat engkau bersamanya
namun ku mencoba tuk tegar menghadapinya
jangan kau menangis lagi
tak sanggup aku melihatnya
sekarang kau pilih diriku atau dirinya
kau tuliskan cerita tentang engkau dan dia
yg membuat hatiku semakin terluka
sudah usai sudah cerita engkau dan aku
ku anggap sebagai bingkisan kalbu
ku tulis cerita tentang aku dan dia
__ADS_1
sehingga membuatmu terluka
sudah usai sudah, jangan menangis lagi
kurasa sampailah di sini
Tentang Aku Kau Dan Dia
Β Kangen Band.
Sebuah lagu mengalun indah ditelinga Dinda, kristal bening tak henti mengalir dari kedua manik indahnya, membuat wajahnya basah karena air mata, walaupun gadis itu terus menghapus air yang keluar dari pelupuk matanya tetap saja buliran bening itu tak mau berhenti mengalir.
Seperti biasanya, Dinda selalu mendengarkan earphone, gadis itu tidak ingin mendengar suara apapun yang mengganggu indera pendengarannya, dia hanya membutuhkan ketenangan hanya dengan mendengarkan alunan musik yang menjadi hobbynya.
Sebuah lagu dari band lawas, mengalun indah di indera pendengarannya, seolah mewakili rasa yang saat ini menguasai hatinya. Sepertinya gadis manis itu pecinta lagu-lagu lawas.
β¨β¨β¨
Imran sampai dirumah Dinda, setelah tadi pria itu mengejar bis yang membawa gadis keritingnya, dan lajunya terhambat oleh lampu merah bahkan setelah mencari jejak bis itu justru ia tak melihat gadisnya didalam bis.
Yah memang tadi pria itu sempat memberhentikan laju bis saat dipersimpangan, tapi ketika dia mencari kedalam justru pria itu tak menemukan jejak Dinda didalam bis itu padahal tadi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Dinda naik di bis itu. Apa yang Imran lakukan membuat sopir bis tersebut geram kemudian menyuruhnya untuk segera turun.
"Apa mungkin, Dinda di bis lain" pikirnya.
Dan disinilah pria itu sekarang, didepan rumah Dinda, gadis manis yang telah memenuhi hatinya.
Tok,,,
tok,,,
tok,,,
"Assalamualaikum". Ucapnya memberi salam.
"Waalaikumsalam" terdengar suara wanita menyahut dari balik pintu tersebut.
Kriieett
Wanita itu tak lain adalah Bunda, orang yang telah melahirkan gadis keritingnya.
"Eeh nak Imran?" tanyanya merasa heran karena pria muda yang sekarang berada dihadapannya datang kembali, soalnya belum sampai 1 jam anak muda itu datang dan sekarang kembali lagi.
"Apa ada yang ketinggalan" pikir wanita paruh baya tersebut.
"Bund,,apa Dinda sudah pulang?" tanyanya.
Bunda menggeleng.
"Belum, memangnya ada apa nak?" tanya Bunda, wanita paruh baya itu mengernyit heran.
Imran tersenyum simpul, tak ingin membuat ibu dari gadisnya khawatir.
"Ngga pa pa bu, soalnya tadi Imran g liat dirumah Vana, jadi Imran fikir mungkin Dinda sudah pulang, ya udah Bun, klo gitu Imran pamit," Ucapnya berbohong.
Imran sengaja tidak mengatakan bahwa tadi dia dan Dinda bertengkar, bisa dipecat dia jadi sahabat Dinda.
Imran mencium punggung tangan Bunda, kemudian berlalu dari rumahnya.
Pria itu menghirup nafas dalam - dalam, dan membuangnya kasar.
"Kemana kamu Din," gumamnya dalam hati.
πππ
Disebuah taman, seorang gadis sedang duduk memandang kosong kearah bunga Mawar yang sedang bermekaran, kupu-kupu tampak saling mengejar satu sama lain memutari bunga Mawar tersebut.
Matanya tampak sembab, sepertinya hari ini dia terlalu banyak menangis. Wajahnya terlihat pucat, keadaannya sangat kacau, dan bibirnya sedikit bengkak karena ciuman panas yang tadi dilakukan oleh sang sahabat.
Ya gadis itu adalah Dinda, tadi dia turun dari bis saat melewati taman kota, dia butuh waktu sendiri.
__ADS_1
Sebuah bola menggelinding kearah kakinya membuat atensi gadis manis itu teralihkan, seorang anak kecil laki-laki berusia sekitar tiga tahun datang menghampirinya.
"Itu bola Kevin, tante" tunjuknya pada bola yang berada dibawah kaki Dinda.
Gadis itu menunduk, lalu mengangkat bola itu.
"Yang ini?" tanyanya pada anak kecil itu.
Anak yang lucu itu mengangguk.
"Nih,"ucap Dinda sambil menyodorkan bola yang dia pegang.
Anak kecil itu, maju pelan - pelan untuk mengambil bolanya.
Dinda berjongkok, kembali gadis itu menyodorkan bola tadi kepada anak kecil tersebut.
"Nama kamu siapa?" tanyanya lembut.
"Kevin tante"
"Waahh nama yang bagus, ibumu mana?"
"Tuh," tunjuknya pada seorang wanita muda yang sedang berjalan kearah mereka.
Dinda mendongak ingin melihat siapa ibu dari anak tampan tersebut.
"Kayaknya aku pernah liat? tapi dimana?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Sayang," panggil wanita muda itu pada sang anak.
"Mamaa" panggil Kevin.
"Maaf dek, klo anak aku mengganggumu" tuturnya lembut.
Dinda menyunggingkan senyum, gadis itu lalu menggeleng pelan.
"Ngga kok mbak, Kevin tadi cuma mau ngambil bola" ujar Dinda sambil mengusap puncak kepala Kevin. Sedangkan bocah yang menjadi objek pembicaraan hanya acuh tak peduli.
"Kalo begitu saya pamit dlu dek,mau kerumah keluarga soalnya." ucapnya berpamitan.
Dinda mengangguk, kemudian berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan bocah tersebut.
"Nanti klo main jangan jauh-jauh ya" pesan Dinda sebelum anak itu pergi.
Kevin hanya mengangguk mendengar perkataan Dinda, anak itu kemudian berlari meninggalkan keduanya.
"Nama kamu siapa?" tanya wanita muda itu.
Dinda mengulurkan tangannya dan wanita yang merupakan mamanya Kevin, menjabat tangannya.
"Nama saya Amanda, kamu bisa manggil saya mbak Manda, oh ya ngomong - ngomong nama kamu mirip dengan adek sepupuku, tantenya Kevin" ujarnya.
"Nama mbak juga mirip dengan anak pakde,"
"Kalo gitu mbak pergi dlu yah, nanti kapan - kapan kita ketemu lagi, ok"
"Iya mbak, daahhh Keviiinn!!" seru Dinda, sambil melambaikan tangan kepada Kevin.
"Da daaahh tante" anak itu juga melambaikan tangannya..
Setelah bertemu Kevin, perasaan Dinda menjadi sedikit lebih baik, tadinya wajahnya tampak murung dan sekarang gadis itu sudah mulai tersenyum lagi. Sepertinya Kevin menjadi Moodbooster hari ini bagi gadis manis itu.
Dinda memutuskan untuk pulang kerumahnya, perasaanya jauh lebih baik sekarang. Kebetulan saat itu, waktu juga sudah sangat sore.
**Tbc
plis vote like n komen yaa gengksππ
jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
See u allπππ**