
LAGI?
Happy reading gengks
Maaf jika bayak typo
ππππ
Mobil yang dikendarai Imran tampak memasuki halaman rumah sederhana tepatnya dan keluarga kecilnya bernaung. Imran segera turun setelah memarkirkan mobilnya. Pria itu segerabukakan pintu mobil dimana sang istri duduk, setelah mempersilahkan Dinda turun, dirinya disambut senyum manis oleh kekasih halalnya itu.
"Makasih mas" sahut Dinda lembut, sungguh berbeda saat pagi tadi dimana dirinya menyaksikan secara live sang istri yang berubah layaknya harimau betina yang terluka hingga mencabik-cabik lawannya sampai tak berdaya.
Dinda kali ini bersikap sangat lembut, terlihat sangat rapuh namun tak terlihat lemah, wanita itu memang sangat pandai menutupi sakitnya.
Imran membawa Dinda langsung menuju kamar mereka, genggamannya masih sama saat masih berada di mobil tadi, bahkan semakin erat. Kali ini Imran sudah berjanji pada dirinya sendiri tak akan pernah melepaskan Dinda apapun yang terjadi, semampunya Imran akan menjaga Dinda dengan segenap jiwanya.
Setelah sampai dikamar, Imran mengajak Dinda duduk di tepi ranjang, pria itu kemudian menyibak beberapa helai rambut sang istri kemudian diselipkan dibelakang telinganya.
"Kamu kenapa sayang? ngomong dong, jangan diemin mas kayak gini, mas sakit liat kamu diem" ucap Imran lembut, pria itu membelai lembut wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.
Dinda hanya diam tak menjawab, dirinya sendiri tak tahu apa yang tengah ia rasakan saat ini, ada rasa sakit saat mengetahui bahwa pria yang sangat dia cintai justru tertidur sambil memeluk wanita lain, walaupun Imran secara tak sadar melakukannya, namun rasa sakit itu nyata.
Namun disisi lain, dirinya tidak seharusnya menyalahkan sang suami, karena semua hanya jebakan yang sengaja dilakukan Soraya dan Dimas untuk menghancurkan kebahagiannya, tidak seharusnya dirinya marah, karena dalam hatinya dia sangat hafal bagaimana sifat mantan Sahabatnya itu.
Tak mendapatkan jawaban dari ibu negaranya, Imran kembali membelai wajah istrinya.
"Kamu kenapa sayang? kamu masih marah sama mas? hm?"
Dinda masih bergeming, sebuah gelengan pelan sebagai jawaban pertanyaan pria yang sedang tersenyum lembut dihadapannya saat ini.
"Trus kenapa diem sayang?" lagi Imran bertanya kepada sang ibu negara.
"Aku sayang sama mas" sebuah jawaban yang mampu membuat pertahanan seorang pengacara berkelas bernama Imran Hanan runtuh seketika, kembali rasa bersalah itu menyelimuti hatinya.
Imran menarik sang istri kedalam dekapannya, di peluknya wanita yang berhasil memporak-porandakan perasaannya itu dengan sangat erat, layaknya anak kecil yang memeluk bonekanya dengan kuat hingga tak ada seorang pun yang dapat mengambil boneka itu.
Imran memberi kecupan dipucuk kepala istrinya bertubi-tubi, Dinda pun memeluk erat tubuh kekar suaminya tak kalah erat, keduanya saling menumpahkan rasa yang sedari tadi mengganjal dihati masing-masing.
Tidak seperti masih berada dihotel, Dinda kini bersikap lebih tenang, bahkan dirinya hanya menangis dalam diam di dekapan sang suami.
__ADS_1
"Maaf, maafkan mas sayang" Imran kembali memberi kecupan dipucuk kepala sang istri sambil terus melontarkan pernyataan sesalnya.
Dinda masih setia dalam diamnya, ibu dari tiga anak itu sedari tadi hanya mengangguk, ataupun menggeleng setiap menjawab pertanyaan suaminya.
Setelah puas meluapkan semua kegelisahan hatinya, Dinda sedikit merasa lebih tenang, Imran menguraikan pelukannya, menghapus tiap jejak air mata yang mengalir di kedua pipi chubby istrinya, kedua sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah lengkungan yang menghiasi wajah tampan pria itu.
"Udah tenang?" tanya Imran memastikan.
"Udah" jawab Dinda dengan sebuah anggukan kecil.
"Mas sayang sama kamu, dan kamu harus percaya sama mas, sampai kapan pun hanya kamu dihidup mas" tutur Imran lembut.
"Aku percaya mas, sangat percaya"
"Makasih sayang"
Imran kemudian membenamkan bibirnya kedalam hangatnya bibir kekasih halalnya, tak ada hasrat maupun nafsu hanya sebatas kecupan penenang.
Imran tahu jika saat ini Dinda masih butuh waktu untuk menenangkan hatinya, pria itu hanya memberi kecupan hangat agar semua kembali seperti biasa.
Setelah mengecup bibir sang istri, Imran kembali mengecup sayang kening Dinda, setelah itu menyuruh ibu dari anak-anaknya itu untuk beristirahat.
Dihotel xxx
Soraya kembali uring-uringan dikamar hotelnya, gadis itu merasa sangat kesal karena rencananya kembali gagal.
"Sialan, dasar wanita kurang ajar, beraninya dia menjambakku" umpat Soraya geram.
Soraya nampak mondar-mandir dikamarnya, otaknya sedang berputar keras mencari cara bagaimana memisahkan Imran dan Dinda, gadis itu menggigiti ujung-ujung kukunya sambil terus berjalan kekiri dan kanan, sesekali mengusap kasar rambutnya karena belum juga mendapat rencana yang bagus.
"Aku harus cari cara memisahkan mereka" gumam Soraya.
Butuh waktu hampir satu jam berfikir, akhirnya Soraya menemukan cara yang paling bagus untuk melancarkan aksinya, gadis itu tersenyum licik.
"Aku tahu, apa yang harus aku lakukan" Soraya bermonolog.
Gadis itu meraih gawainya diatas nakas, nampaknya dia akan menghubungi seseorang.
Tutt.. Tutt.. Tutt
__ADS_1
Terdengar suara nada sambung saat benda pipih itu melekat di telinganya, tak lama sebuah suara berat Seorang pria menyapa indera pendengaran gadis itu.
"Hallo" suara dari seberang gawainya terdengar menyapa.
"Hallo Dad," balas Soraya.
Ternyata Soraya menghubungi sang ayah yang sedang berada di Jerman.
"Ada apa Soraya, tumben menghubungi Daddy"
"Soraya butuh bantuan Daddy, bisakah membantuku Dad?" tanya Soraya, suaranya dibuat sangat manja, layaknya anak kecil yang merengek meminta dibelikan lollipop.
"Bantuan apa yang kau butuhkan dari Daddy, dear?"
"Aku ingin Daddy membantuku mengurus seseorang" pinta Soraya.
Terdengar sebuah helaan nafas berat dari seberang, pria paruh baya itu nampak tak suka jika Putri kesayangannya menelfon hanya untuk mengurus seseorang yang artinya adalah menghancurkan hidup orang tersebut.
Sejak awal memang Ayah Soraya tak suka jika Soraya mengatakan ingin mengurus seseorang, yang berarti menghancurkan hidup orang tersebut, namun karena kasih sayangnya pada sang putri semata wayang, dia bahkan rela melakukan apapun, terlepas dari profesinya yang seorang Jaksa.
ππππ
Tbc
Terima kasih buat yang masih setia nungguin Miss...
tolong dukung author yaa...
caranya like vote komen dan tinggalkan jejak ππππ£π£π£
Jangan lupa Novel Miss difavoritkan
klik tanda love β€β€β€
Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " SAKIT TAK BERDARAH" dengan Cover yang baru
See U Allπππ
__ADS_1