Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 26


__ADS_3

BERTENGKAR


Happy reading gengks 😊😊😊


Typo masih ngikutπŸ™πŸ™πŸ™


Dua bulan berlalu saat Imran meminta maaf waktu itu, hari-hari yang Dinda lewati sudah kembali seperti semula, nampaknya gadis itu sudah berusaha membiasakan diri melihat kemesraan sang sahabat dengan kekasihnya, tak bisa gadis itu pungkiri bahwa dia masih merasakan nyeri dihati saat melihat Sekar menggandeng mesra tangan Imran, dan tersenyum bahagia bersama.


"Kenapa masih saja terasa sakit?" gumamnya dalam hati.


"Ting, kantin yuk?" ajak Vana.


"Duluan aja deh, aku belum lapar" ucapnya tak semangat.


"Lo sakit" tanya sang sahabat khawatir.


Imran yang duduk dibelakang gadis itu seketika menoleh saat mendengar ucapan Vana.


Yah memang Imran akui, saat ini Dinda masih betah berada diatas singgasana ratu dihati pria itu, walaupun Imran sudah sangat berusaha mencoba membuka hati untuk Sekar, bahkan terkadang bersikap mesra, tapi sampai saat ini nama Dinda belum ingin lengser dari posisinya dihati Imran.


Merasa khawatir, itu yang saat ini Imran rasakan.


"Lo sakit Ting," pria itu menempelkan punggung tangannya dikening sang sahabat.


"Ishh apaan sih,"Dinda menepis tangan Imran dikeningnya merasa kesal dengan perlakuan sang sahabat, bukannya tak senang diperhatikan oleh pria yang selalu hadir dalam mimpinya, hanya saja, lagi - lagi Sekar menjadi alasan sikap jutek gadis itu.


"Ngga usah lebay deh" sungutnya kesal.


"Duh jutek amat, pms lo?"


"Ya ngga usah pegang - pegang juga, kan bisa?"


Imran hanya mendelik, merasa kesal dengan sikap Dinda yang terus jutek dengannya, sialnya Dinda adalah wanita yang sangat dia cintai.


"Kenapa sih lo, jutek mulu ama gue?" tanyanya kesal.


"Gue cuma ngga mau Sekar sa--" ucapan gadis itu terpotong saat Imran membentaknya.


"Sekar lagi Sekar lagi, kenapa sih selalu Sekar yang jadi alesan lo?" hardik Imran.


"Yah karena dia cwe lo, gue ngga ---" lagi-lagi ucapannya dipotong.


"Udah cukup," Imran mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan ucapan Dinda. "Sekar cwe gue, tapi lo sohib gue, kita temenan udah lama, bisa ngga sih kita kayak dulu lagi,?" tanyanya bersungut.


Dinda hanya diam, tak berniat menjawab. Sedangkan Vana dan Wawan hanya jadi penonton. Ingin melerai tapi tak berani, karena mereka tau itu bukan urusannya, biar Imran dan Dinda menyelesaikan masalah mereka sendiri, toh mereka bukan anak kecil lagi.


Imran pergi meninggalkan kelas, pria itu pergi menuju kelas sang kekasih, sepertinya Sekar bisa membantunya meredakan emosinya yang kini sedang meluap.


Sekar terkejut melihat kedatangan sang ketua osis tiba-tiba, dan tampak dari raut wajahnya pria itu pasti sedang sangat kesal.


Sekar memang tau akhir-akhir ini Imran dan Dinda sering sekali bertengkar tapi gadis itu tidak tau kalo dialah penyebab kedua sahabat itu suka bertengkar.

__ADS_1


"Bertengkar lagi kak?" tanyanya lembut saat sang kekasih sudah duduk disampingnya.


Inilah yang paling Imran sukai dari Sekar, tutur bicaranya yang lembut, dapat membuatnya sedikit lebih tenang.


Pria itu tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan sang kekasih. Imran duduk disamping Sekar, pria itu menangkupkan kedua tangannya diwajahnya, berusaha meredam gejolak didadanya yang membuatnya sesak.


Sedangkan Sekar yang berada disampingnya, hanya bisa mengelus punggung kekar milik kekasihnya, berusaha membuatnya tenang.


"Sebenarnya ada apa sih kakak ma kak Dinda? akhir - akhir ini aku perhatiin kalian sering banget bertengkar?" tanya gadis yang bernama Sekar itu.


Imran menggeleng.


"Aku ngga tau Kar, akhir-akhir ini emang Dinda suka mancing emosi, dia udah ngga kayak dulu, Dinda sekarang seperti orang lain." Ucapnya mengadu.


Sekar menghela nafas pelan, gadis itu hanya tersenyum tipis.


"Mungkin kakak yang buat kak Dinda kesel?"


Imran mencebik mendengar perkataan kekasihnya.


"Kamu tuh,"


"Aku kenapa?" tanya Sekar tak faham.


"Yah kamu, kok malah nyalahin aku"


"Aku ngga ada nyalahin kakak, cuma nanya doang kak, elah sensi amat sih"


Pria itu hanya diam.


Mereka pun beranjak dan pergi menuju kekantin, saat masuk, Sekar melihat tiga sekawan yang tak lain adalah Dinda, Ivana, juga Wawan sudah ada duduk manis ditempat yang letaknya berada dipojok ruangan.


"Kita kesana kak," ucap gadis itu, sambil menarik tangan sang kekasih.


Imran hanya mengikuti kemana Sekar membawanya, sebenarnya dia malas bergabung dengan para sahabatnya apalagi ada Dinda disana, Pria itu masih kesal dengan sikap Dinda sampai mengajaknya bertengkar tadi.


"Wah, kakak disini semua?" ucap Sekar saat sampai didepan meja para sahabat kekasihnya.


"Boleh gabung ngga nih kak" tanya gadis itu lagi.


Dinda menyunggingkan senyum manisnya, dan Imran sempat melihat senyum itu, seketika sudut bibidnya ikut terangkat tanpa ada yang menyadarinya.


Senyum itulah yang selalu menjadi moodboster pria itu, saat mereka masih dekat, hal itu yang membuatnya sulit menghapus nama Dinda dihatinya. Perasaanya tiba-tiba menjadi lebih baik saat menatap senyum manis sang sahabat.


"Boleh dong," ujar Dinda mempersilakan.


""Yuk kak," ajaknya pada sang ketua osis yang sejak tadi hanya diam.


Wajah Dinda menjadi sendu melihat kehadiran pria yang menjadi penghuni hati gadis manis itu.


"Harus siap mental nih liat kemesraan mereka lagi." batin Dinda.

__ADS_1


Tepat seperti dugaannya, saat ini Sekar sedang mode manja dengan kekasihnya dimana Imran dengan senyum yang menawan tak lepas dari bibirnya yang tebal, sedang asik menyuapi sang kekasih, sambil sesekali menjawil manja hidung gadis manis itu.


"Gue bilang juga apa, hadeww. Sabar Din, akan ada waktunya Imran akan lengser dari tahta dihati lo, biar waktu yang menjawab." ucapnya dalam hati.


"Andai lo yang sekarang bermanja sama gue Din, bahagianya hidup gue, dan gue janji ngga akan lepasin lo" batin Imran.


Sesekali Dinda mencuri pandang ke Imran saat pria itu tak melihatnya, begitupun Imran yang suka curi - curi pandang ke Dinda tanpa gadis itu melihatnya.


Sungguh menyimpan rasa itu sakitnya membuat sesak dan sulit untuk bernafas, tapi untuk mengungkapkan juga terasa sangat berat.


♨♨♨


Saat jam pulang sekolah, Dinda sedikit terlambat karena dia harus menyelesaikan daftar hadir yang diminta oleh wali kelasnya, Imran tau Dinda belum selesai jadi pria itu menyuruh sang kekasih pulang terlebih dahulu dengan dalih sebagai ketua kelas harus membantu sekretaris kelas mempersiapkan daftar hadir yang ditugaskan pada Dinda.


Dan disinilah mereka sedang seriusnya menyelesaikan daftar hadir tersebut.


"Aah akhirnya selesai juga," Ujar Dinda, sambil meregangkan tangannya.


"Ya udah buruan kamu serahin ke pak Andre"


Dinda mengangguk, dan segera membereskan kertas - kertas itu.


Tok,,,


Tok,,,


Tok,,,


Suara pintu ruangan pak Andre saat Dinda mengetuknya.


"Permisi pak" ucap Dinda.


Pak Andre yang sedang memeriksa tugas murid-muridnya, seketika mendongak melihat siapa yang datang.


"Oh kamu Din, udah selesai?" tanya pak Andre.


"Udah pak" Dinda menyodorkan kertas yang dia pegang.


"Hmm, ya udah kamu boleh pulang"


"Baik pak"


Diluar ternyata masih ada Imran yang setia menunggunya.


"Udah?" tanyanya.


"Kok lo masih disini?".


**Tbc


plis vote like n komen yaa😊😊

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak gengksπŸ˜‰πŸ˜‰


See u all😘😘😘**


__ADS_2