Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 34


__ADS_3

CURAHAN HATI SEKAR


Happy reading gengks😊😊😊


Maaf masih banyak typoπŸ™πŸ™


πŸ’Dinda POV


Hari ini aku seneng, kak Rio adalah orang yang selalu menjagaku sejak kecil kini telah kembali. Sosok seorang kakak yang selalu melindungi adiknya itulah yang paling aku kagumi darinya.


Usia kami tidak terpaut jauh hanya berselisih dua tahun tapi kami sekelas sejak masih duduk dibangku Tk. Sejak kecil, Aku, kak Rio dan Mbak Manda sudah menjadi sahabat.


Weekend ini kak Rio mengundang kami sekeluarga diacara syukuran yang diadakan Ayah Angga dan Ibu Vera, begitu biasa aku memanggil kedua orangtua kak Rio sejak kecil, sayang Ayah dan Bunda tidak bisa ikut.


Banyak hal yang aku ceritakan kepada Ayah dan Ibu, tentang kehidupan kami, dan juga tentang kepergian Reza adikku, karena sakit. Mendengar kabar kematian Reza, sontak membuat Ayah dan Ibu terkejut, mereka tak menyangka bahwa Reza akan berpulang secepat itu.


Tapi semua adalah kehendaknya dan Yang Maha Kuasa lebih menyayangi Reza, mungkin Tuhan tidak ingin melihat adikku lebih tersiksa.


Ibu sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri, kerena wanita yang kupanggil ibu itu tidak memiliki anak perempuan.


Dirumah kak Rio, aku merasa kembali menjadi diriku sendiri, kak Rio memang paling tau apa yang bisa membuatku bahagia.


Acara barbeque yang diadakan ditaman belakang, ternyata dapat sedikit membuatku lupa dengan rasa sakit yang kusimpan rapi disudut hati, apalagi saat melihat Imran semakin dekat dengan Sekar. Tak bisa ku pungkiri bahwa rasa itu masih bersemayam direlung hatiku yang terdalam.


Tak terasa waktu sudah hampir senja, satu persatu tamu yang hadir akhirnya pamit undur diri, tersisa aku, dan Sekar yang rencananya akan menginap atas permintaan sang tuan rumah yang tak lain adalah Ibu Vera.


Sedangkan Ivana dan Wawan pulang untuk mengambil pakaian ganti, dan akan datang kembali nanti malam. Begitu pun dengan Imran.


Sore itu saat aku sedang membantu kak Rio membereskan sisa acara tadi, Sekar datang menghampiriku.


"Kak Dinda" panggilnya.


Aku menoleh kearahnya.


"Iya, ada apa Sekar?"tanyaku penasaran.


"Boleh bicara sebentar ngga?"


"Boleh, tunggu bentar ya"


Setelah selesai merapikan meja dan beberapa peralatan yang tadi digunakan, aku pun menghampiri Sekar yang sejak tadi menungguku, gadis itu mengajakku duduk dibangku taman yang letaknya sedikit jauh dari tempat acara tadi.


"Ada apa Sekar?"tanyaku sesaat setelah mendaratkan bokongku ditempat duduk yang terdapat disana.


"Aku pengen curhat sama kak Dinda? boleh?"


Aku mengangguk, merasa bingung dengan juniorku satu ini, "ada apa dengannya?" tanyaku dalam hati.


"Boleh, emang ada apa?"


"Aku ngga tau harus dari mana ngomongnya, tapi aku merasa cuma kak Dinda yang bisa bantu aku" ucapnya sendu.


"Gue?" tunjukku pada diriku sendiri.


Sekar mengangguk, gadis itu menggenggam tanganku erat, kulihat matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Lo kenapa Sekar? sekarang lo cerita sebenernya ada apa?" tanyaku lembut, sambil mengusap tangan gadis itu yang mendadak terasa dingin.


"Aku ngga tau kak, belakangan ini kak Imran kayak beda gitu" tuturnya memulai percakapan.


"Beda? beda gimana maksud lo?" rasa penasaran ku meningkat kala nama sang pemilik hati disebut.


"Iyah kak, kayaknya kak Imran menyembunyikan sesuatu, tapi dia ngga mau ngomong apalagi berbagi sama aku"


"Gue juga ngga tau Sekar, mungkin memang ada yang sedang difikirkan Imran, emang lo udah nanya dia kenapa?"


"Udah kak, tapi jawabannya selalu ngga pa pa"


"Yah lo yang sabar yah, mungkin emang Imran belum siap untuk berbagi." ucapku memberi semangat.


"Iyah kak, aku pikir mungkin kak Dinda tau ada apa denagn kak Imran jadi aku nanya ke kakak"


"Maaf Kar, tapi emang belakangan ini gue jarang komunikasi ama Imran"


"Ngga pa pa kak, maaf udah ngerepotin"


Aku tersenyum mendengar permohonan maaf Sekar, gadis ini memang begitu baik, pantas Imran jatuh cinta dengannya, pikirku.


"Lo sayang banget sama Imran?"


Pertanyaan konyol itu lolos begitu saja dari bibirku, dan membuat wajah Sekar merona. Tampak gadis itu tersipu dan tersenyum malu-malu.


"Iyah aku sayang sama kak Imran, dia memperlakukan aku sangat lembut siapa yang tidak akan jatuh hati dengannya."


"Iyah lo bener, bahkan gue udah jatuh sedalam dalamnya dengan perasaan yang tak terbalaskan, siapa juga yang bisa menolak pesona Imran" batinku.


Bersalah karena telah membiarkan perasaan ku terjatuh dalam kubangan cinta yang seharusnya tidak pernah hadir.


Diakhir cerita, Sekar berkata.


"Aku berharap bisa bersatu dimasa depan dengannya"


"Dan gue pun berharap kalian akan bahagia." gumamku dalam hati.


"Bentar lagi malam, kita masuk yuk" ajakku pada Sekar.


Saat ingin beranjak, Sekar mencekal tanganku, membuatku urung dan kembali menatap gadis itu. Kulihat wajahnya tampak serius, tatapannya sangat dalam.


"Ada apa?" tanyaku.


"Apa kak Dinda pernah jatuh cinta dengan kak Imran?"


Sebuah pertanyaan yang sulit kujawab, kutatap kedua mata Sekar, tatapannya begitu sendu dan dalam.


"Iyah, Gue cinta sama Imran?" ucapku.


Kulihat reaksi gadis itu, tampaknya dia sangat terkejut, bisa kutebak dari raut wajahnya yang tiba-tiba memucat.


Aku tergelak melihat reaksi gadis itu, Sekar semakin heran melihatku tertawa sampai sudut mataku basah.


"Kenapa kakak tertawa?" tanyanya polos.

__ADS_1


"Ya kali gue serius, muka lo udah kayak anak kecil yang ngga dikasih permen tau," jawabku masih sambil terkekeh.


"Lagian, kenapa sih lo nanya kek gitu?"


"Aku cuma nanya kak, selama ini kan cuma kakak yang paling deket sama kak Imran" sergahnya kesal.


"Trus kalo gue suka sama Imran kenapa? lo mau ngalah sama gue?" tantangku dan masih terus menertawakannya.


"Mau, asalkan kak Imran bahagia sama kak Dinda"


Perkataan Sekar membuatku terperangah, tidak kusangka gadis ini begitu serius menanggapi apa yang kukatakan.


"Ngaco lo, Imran bahagia sama lo, dia sukanya sama lo bukan gue, Imran cuman Sohib gue"


"Tapi aku serius kak"


"Udah ah, kenapa sih lo ngomong kek gitu" tanyaku mulai merasa kesal.


"Bukan gitu kak, aku cuma-"


"Udah ngga usah dibahas, sekali lagi gue bilang Imran cuma sohib gue"


Setelah mengatakan itu, aku pergi meninggalkan Sekar yang masih terdiam terpaku ditaman sendiri, tanpa kusadari ternyata Imran ada disana menyaksikan perdebatan kami.


"Maaf Sekar, gue emang sayang sama Imran tapi hubungan kami hanya sebatas sahabat." batinku.


"Ternyata memang rasa ini hanya bertepuk sebelah tangan Din," batin Imran.


Saat berjalan masuk, aku berpapasan dengan kak Rio.


"Kamu dari mana Thy" tanyanya.


Aku tidak menjawab, difikiranku saat ini hanya butuh seseorang untuk menceritakan semua keluh yang kurasa, dan Kak Rio adalah orang yang tepat.


Kupeluk erat tubuh kak Rio, menumpahkan semua rasa sakit yang kembali hadir menyapa, buliran kristal yang sedari coba kutahan akhirnya tumpah membasahi baju pria yang saat ini sedang mendekapku erat.


Tangannya mengelus punggungku, berusaha membuatku merasa lebih tenang, Kak Rio membiarkanku menangis dibahunya, baru pria itu mengajakku kekamar tamu yang akan kutempati malam ini.


Didalam kamar, kak Rio berusaha membuatku lebih tenang, saat ini yang kubutuhkan adalah pria itu, kucurahkan segala rasa yang selama ini tersimpan dilubuk hatiku, pria itu hanya diam sambil mendengarkan, sesekali menyeka airmata yang terus mengalir dari sudut mataku.


Setelah meluapkan semua yang kurasa, kak Rio kembali mendekapku, seolah mengalirkan energi kekuatan agar aku bisa menghadapi perasaanku sendiri.


Lagi-lagi Imran melihatku saat berada dipelukan Kak Rio. Pria itu tak sengaja lewat, dan melihat ku dipeluk kak Rio, melalui pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Gue udah kehilangan lo Din" gumamnya dalam hati.


**Tbc


plis vote like n komen πŸ‘πŸ‘πŸ‘


tinggalkan jejak yaa gengks


Konflik mendekat, tetap stay ok.


See U All😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2