Sebelah Hati

Sebelah Hati
SEASON DUA


__ADS_3

TERIMA KASIH CINTA


Happy reading gengks


typo bertebaran


πŸ’πŸ’πŸ’


* Dinda POV


Resort Forest, Papuma.


Aku membersihkan diri terlebih dahulu setelah tiba di resort, sedangkan Mas Imran membawa twins kekamar mereka dan menidurkan nya.


Setelah selesai bersih-bersih, aku duduk di tepi ranjang menunggu mas Imran sambil bermain ponsel, melihat-lihat foto -foto yang kuambil sore tadi saat kami di bukit Siti Hinggil. Aku tersenyum melihat beberapa foto yang lucu, foto-foto itu adalah foto twins dan Mas Imran, saking asiknya melihat hasil jepretan ku, aku tak menyadari jika Mas Imran telah selesai membersihkan diri, bahkan sudah berpakaian.


Mas Imran memelukku dari samping, sambil menggesekkan hidungnya diceruk leherku, membuat ku tercekat, seketika aroma maskulin dan wangi shampo yang dia gunakan langsung menyeruak ke indra penciuman ku, aku kembali teringat akan sifat suamiku itu, yang aah sudahlah....


"Lagi liatin apa sih, seru banget kayaknya sampe ngga sadar kalo aku udah selesai" ujar Mas Imran sambil terus menggesekkan hidungnya, membuatku geli.


"Ish, Mas geli"


"Habisnya kamu wangi"


"Udah donk, aku geli nih"


"Aku bahagia sayang, kamu bahagia ngga?"


Aku terdiam, sebuah ide konyol melintas di benakku, aku akan menggoda Mas Imran.


"Ngga, aku ngga bahagia"jawabku ketus.


Kulihat raut wajahnya mendadak berubah, seketika Mas Imran melepaskan pelukannya dan menatapku heran, astaghfirullah, rasanya aku ingin tertawa saat ini juga.


"Maksudnya apa sayang?" ucapnya lirih, mendadak suaranya terdengar lesu.


"Aku ngga ngerasa bahagia Mas" sahutku sambil berusaha menahan senyumku.


Wajahnya semakin mendung, Mas Imran terdiam, sepertinya dia sedang berfikir apa yang membuatku tak bahagia.


"Kenapa kamu ngga bahagia? apa ada yang membuat kamu ngga bahagia?" tanyanya sendu.


Lagi, wajahnya membuatku ingin tertawa, astaghfirullah, aku merasa sangat bersalah kepada Mas Imran.


"Hahahahahaha" karena tak sanggup lagi, aku akhirnya tertawa membuat Mas Imran mengernyit heran.


"Kok ketawa?" tanyanya bingung.


"Maaf Mas, aku cuma bercanda" jawabku sambil masih terkikik geli.

__ADS_1


"Jadi kamu cuma ngerjain Mas?" tanyanya lagi, dan aku hanya mengangguk karena tak dapat menjawab.


"Hm jadi cuman ngerjain, udah berani yah ngerjain suami sendiri"


Kulihat Mas Imran bangun dari duduknya, raut wajahnya tak dapat ku tebak, bibirnya tersenyum miring, membuatku sulit menelan saliva, mode siaga tiba-tiba on.


Mas Imran mengangkat tubuhku dan membanting nya keatas ranjang, dia tersenyum smirk, entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Udah berani ngerjain aku yah"


Mas Imran mulai mengelitiki pinggang ku membuatku tertawa keras, rasa geli menyerangku, membuatku tak kuasa bergerak, sampai aku memohon ampun juga tak digubris olehnya.


"Ampun Mas, ampun ngga lagi deh janji" ujarku sambil terus tertawa karena geli.


"Bisa - bisanya kamu ngerjain suami kamu sendiri, hmm" ucapnya masih sambil menggelitik pinggangku.


"Ampun Mas, aku janji ngga lagi deh" mohon ku memelas.


"Janji?"


"Hm, janji ngga gitu lagi" Aku mengacungkan dua jari ku membentuk huruf V, kemudian Mas Imran meraih tanganku dan mengecupnya hangat.


"kamu tau sayang, aku takut kalo kamu ngga merasa bahagia sama aku, aku takut kamu bakalan ninggalin aku lagi, aku ngga mau kehilangan kamu lagi" terangnya dengan suara serak.


Aku melihat kejujuran dimata Mas Imran, sungguh aku tak bermaksud menggodanya, aku hanya bercanda.


"Aku percaya sayang" Mas Imran mengecup keningku sayang. Sungguh rasanya ingin ku hentikan waktu saat ini juga dan menikmati semua kebahagiaan ini hingga aku tak sanggup lagi bernafas.


"Aku Cinta kamu Adinda"


"Aku juga Cintaaaa banget sama kamu, Mas Imran ku sayang"


Kutatap kedua mata Mas Imran, kami saling berpandangan, tatapannya mengunci tatapanku, perlahan Mas Imran membelai lembut wajahku, mulai dari mata turun ke hidung sampai di bibirku, aku menutup kedua mataku menikmati tiap sentuhannya.


Dapat kurasakan hembusan nafas hangat Mas Imran menerpa kulit wajahku, seketika tubuhku meremang saat Mas Imran membisikkan sesuatu ke indera pendengaran ku.


"Aku menginginkanmu malam ini sayang" bisiknya parau.


"Jadi cuma malam ini, selanjutnya?..." tanyaku dengan suara yang tak kalah parau.


"Selanjutnya juga, tapi untuk saat rasanya aku mau memakanmu sampai habis"


"Hm, Mas kira aku makanan"


"Yah kamu memang makanan yang lezat dan nikmat, dan tak pernah habis" bisiknya lagi.


Mas Imran langsung melu*mat lembut bibirku, aku kembali memejamkan mata menikmati tiap lum*atan - lum*atan yang diberikan Mas Imran.


Gigitan kecil yang diberikan Mas Imran, membuatku membuka mulut, memberinya akses untuk mengeksplor tiap sudut yang berada didalam mulutku.

__ADS_1


Lidah kami saling membelit, mencecap rasa manis yang terasa, perlahan Mas Imran turun mengecup leherku dan membuat tanda merah keunguan.


Setiap kec*upan yang dilakukan Mas Imran, membuatku menahan nafas, perlahan tangannya membuka kancing piama hotel yang ku kenakan, tak lama akhirnya kedua tubuh kami polos tanpa sehelai benang pun.


Adegan perang perangan pun dimulai, Mas Imran melakukannya sangat lembut, setiap hent*akan yang dia lakukan membuatku terasa melayang jauh ke awan.


Hen*takan demi hen*takan mengantarkan kami merasakan kenikmatan yang luar biasa, berawal dengan kelembutan, makin lama hen*takan yang dilakukan Mas Imran makin kuat, membuat aliran darahku berdesir hebat, entah sudah yang ke berapa kali aku mengalami pelepasan, tapi suamiku itu masih juga belum nampak kelelahan, justru semakin liar.


"Maaaassss" des*ahku, sambil menggigit bibir bawah ku karena merasakan kenik*matan dari tiap gerakannya.


"Sebentar lagi sayang, kita sama - sama yah"


Tak lama kurasakan hen*takan keras dari tubuh Mas Imran, sepertinya suamiku itu telah mencapai pelepasannya.


"Aaahhh" suaranya terdengar serak menyapa pendengaranku.


Aku bisa merasakan cairan hangat seperti terpompa masuk kedalam rahim ku, Mas Imran menumpahkan seluruh cairannya kedalam diriku, setelah selesai, Mas Imran mengecup keningku dan menghapus peluh yang membasahi wajahku.


"Terima kasih, Terima kasih cinta" bisiknya, setelah itu tubuhnya ambruk kesamping. Aku tak menjawab, hanya anggukan pelan dan senyum tipis sebagai balasan dari ucapannya barusan.


Mas Imran menarik selimut yang tergeletak di bawah kaki ranjang, karena perang peluh barusan membuat selimut itu terhempas dan jatuh kebawah.


Mas Imran menutup kedua tubuh polos kami, kemudian menarik ku kedalam dekapannya, kembali sebuah kecupan hangat mendarat di keningku.


"Tidurlah, besok kita akan melihat matahari terbit dipantai, kamu pasti suka" ujarnya.


"Iya, kebetulan aku sangat lelah"


Akhirnya kami pun tidur saling berpelukan.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Tbc


part unyu menuju konflik, tetap stay ok πŸ‘ŒπŸ‘Œ


tolong dukung author yaa...


caranya like vote komen dan tinggalkan jejak πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£


Jangan lupa Novel Miss difavoritkan


klik tanda love ❀❀❀


Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " Sakit Tak Berdarah "


See U All😘😘


__ADS_1


__ADS_2