Sebelah Hati

Sebelah Hati
CH 14


__ADS_3

MEMENDAM RASA


Happy reading😊😊


Mf masih banyak typo bertebaran 😘😘


"Bing,,"


"Hmmm"


"Bisa minta sesuatu lagi ngga?"


"Apaan lagi sih, g usah macem macem deh,"


"Gue mau nyium lo lagi,"


"APAAA"


"Apa gadis ini sudah tidak waras,? mungkinkah tadi Meyra memukul kepalanya dengan gelas, hingga dia semakin bodoh?"


Yang benar saja, dia ingin aku menciumnya lagi? saat ini memeluknya saja sudah membuat jantungku maraton, apalagi sekarang dia memintaku menciumnya lagi?.


Katanya ciumanku menenangkan,? ok girls kamu yang memintanya, bersiaplah.


Aku meraih tengkuknya, lalu ku sesap bibirnya, manis.


Bibirnya terlalu manis, membuatku merasa candu, bibir sahabatku.


Semakin lama tautan itu semakin panas, aku melum** bibirnya yang manis, memberi gigitan gigitan kecil disana, Dinda pun mulai membuka bibirnya, memberi ku akses untuk mengeksplor tiap inci didalam bibir mungil itu, semakin lama pagutan itu semakin menuntut, Astagaaa manis sekali bibir sahabatku ini, rasanya aku tak ingin melepasnya.


Aku merasa Dinda mulai kehabisan nafas, kulepas pagutanku tanpa melepas cengkeraman ku di tengkuknya, lagi, aku masih mau lagi menikmati rasa lychee dibibirnya, aku ketagihan, tapi kubiarkan dia menghirup udara sebanyak mungkin agar aku bisa melanjutkan kenikmatan yang tadi tertunda.


Kembali ku rengkuh kenikmatan itu, pelan tapi pasti aku mengulu*, meluma* dan terus memacu bibir mungilnya, menuntunnya meraih kenikmatan yang merupakan candu baru bagiku, Ya Tuhan maafkan aku, jangan biarkan aku khilaf.


Untuk yang ketiga kalinya aku memacu permainan lidah ini, rasanya aku ingin waktu terhenti, dan kami menikmatinya selama yang kami inginkan, tak bisa, tidak bisa kugambarkan apa yang sedang ku rasakan, bibirnya benar-benar membuatku candu.


Tuhan tolong sadarkan aku dari dosa ini, jangan biarkan aku khilaf, permainan lidah ini memancing hasratku, aku merasakan hawa panas disekujur tubuhku, bahkan bagian bawah celanaku terasa sesak, fikiranku mengatakan agar aku segera menyudahi permainan ini, tapi tubuhku menolak untuk berhenti, Tuhan tolong sadarkan aku dari khilafku, ini terlalu indah, dosa ini terlalu manis hingga membuatku semakin terlena.


Tuhan tolong aku, jangan biarkan aku menodai cintaku dengan dosa yang manis berujung pahit, ya aku akui aku jatuh cinta padanya, cinta pada GADIS KERITINGKU. Jangan biarkan aku merusaknya.


Akupun tersadar, segera kubalik tubuhnya menghadap kearah laut, kubiarkan dia membelakangiku, agar dia tak melihat kondisiku yang berjuang melawan hasratku, kuhirup aroma tubuhnya dalam-dalam untuk mengendalikan nafsuku yang terusik.


Astagaaa jantungku, sudah seperti genderang perang, jangan biarkan dia mendengarnya, wahai jantung berhentilah menari tak karuan.


Kubisikkan sesuatu ditelinganya.


"Aku bukan anak kecil lagi Din, aku pria normal yang memiliki hasrat, maafkan aku Din, aku ngga mau kamu rusak karena hubungan ini, maafkan aku yang melakukan itu padamu, aku sungguh tidak bermaksud menyinggungmu, aku tidak mau persahabatan kita hancur hanya karena nafsuku yang tak dapat kukuasai, tolong jangan bergerak, biarkan seperti ini, agar aku bisa meredam hasratku Din,"


Aku takut Dinda meninggalkanku karena kejadian tadi, jadi aku memintanya menganggap tak pernah terjadi sesuatu, kita akan kembali seperti dulu agar tak menjadi beban dalam persahabatan kami, jujur aku sangat takut Dinda meninggalkanku.

__ADS_1


"Kita akan tetap menjadi sahabat Din, jadi jangan khawatir tidak akan ada yang berubah" ucapku sebelum meninggalkannya didepan rumah.


Yah, tadi aku memang mengantarkan gadis itu pulang, katanya dia sudah lebih baik.


"***Dinda, sayang maafkan aku, aku yang memintamu melupakan kejadian tadi dan menganggap tak terjadi apa-apa, tapi malah aku sendiri yang tak bisa melupakannya."


DINDA MAAF KARENA AKU MENCINTAIMU, TAPI AKU TAK INGIN KAU MENJAUHIKU SETELAH MENGETAHUI ISI HATIKU, BIARLAH RASA INI TERSIMPAN RAPI DIDALAM SUDUT HATIKU. I LOVE YOU ADINDA PUTRI***.


🌊🌊🌊🌊


Keesokan paginya.


Pagi ini Dinda bangun agak terlambat, semalam gadis yang sebentar lagi memasuki usia 18 tahun itu tidak dapat memejamkan mata, dia terus teringat ciuma* panasnya saat dipantai.


Seperti biasa Imran datang menjemput Dinda dirumahnya setelah berpamitan dengan Ayah dan Bunda, mereka pun berangkat seperti biasa.


Benar-benar merasa takut kehilangan sosok yang sudah memenuhi hati mereka dengan berjuta rasa cinta, akhirnya kedua anak manusia itu memutuskan memulai semuanya dari awal lagi, benar-benar seperti tidak terjadi sesuatu.


🌊🌊🌊🌊


πŸ’žDinda POV πŸ’ž


"Din aku mau ngomong sesuatu," Ternyata kak Dimas, sedang menunggu didepan kelas, dia mencekal tanganku, tapi dengan cepat kuhempas tangannya, rasanya tidak sudi pria ini menyentuhku setelah kebohongan yang dia lakukan.


Aku benar-benar ngga nyangka orang yang dulu kukagumi tidaak lebih dari seorang pembohong besar.


"Ngga ada yang perlu di omongin, semua sudah jelas" jawabku sinis.


Aku muak dengan sikapnya yang sok lembut.


"Maaf" Kutinggalkan dia sendirian didepan kelas, aku merasa sesak berada didekatnya.


"Dinda, Din,,,plis Din,, kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya Din,,plis plis aku mohoon Din,,"


Kak Dimas mengejarku, dan meraih tanganku lagi.


"Lepasin" jawabku memekik.


"Ngga,, ngga akan aku lepasin sebelum kamu dengerin penjelasanku," tekannya.


Aku melihat kilatan kemarahan terpancar dimatanya, wajahnya seketika menegang.


"Sakit kak, lepasin" aku meringis, karena genggamannya semakin kuat.


"Kamu ikut aku, atau aku ngga akan lepasin kamu,"


"Sebenarnya kak Dimas mau apa sih?" kesabaranku mulai teruji.


"Aku cuma mau kamu dengerin penjelasan aku," pintanya memelas, nada bicaranya lebih lembut dari yang tadi, genggamannya pun tak sekuat tadi, dan kesempatan ini aku pergunakan untuk segera berlari meninggalkannya.

__ADS_1


Kuhempaskan tangannya dengan kasar.


"Ngga ada yang perlu dijelasin, aku muak sama kakak" pekikku lalu berlari.


"Dindaaaa, Diiinn,,, aarrrghhh shit, brengse*" teriaknya sambil menendang kursi yang ada didekatnya.


BRRUUUAAKKK


suara keras dari kursi yang tadi dia tendang.


Aku berlari tak tentu arah, tujuanku sekarang adalah taman belakang, aku ingin bersembunyi.


Bersembunyi dari kak Dimas, aku benar-benar ngga mau ketemu dia lagi.


"Imran, kamu dimana?" tanyaku dalam hati.


Ya aku membutuhkan Imran, sebenarnya kemana pria bunglon itu? tadi katanya dia izin entah kemana dan sekarang dia belum kembali.


"Imraann"


Aku tiba disebuah ruangan kosong disamping taman, rencananya aku ingin bersembunyi, karena aku masih dengar suara kak Dimas memanggilku, aku takut saat menatap matanya, seperti ada hal buruk yang akan terjadi.


"Diiinn,, Dindaaa,, kamu dimana Din,,,,"


Aku masih mendengar suara kak Dimas memanggilku, aku takut, ya Tuhan dimana aku harus bersembunyi??


pasti sebentar lagi kak Dimas akan menemukanku, astagaa Imran kamu dimana sih, aku beneran takut.


Aku berjalan kearah sebuah ruangan yang kuketahui adalah bekas gudang.


"Diiinnn,, kamu dimana Dindaaa,,,sampai kapan kamu bersembunyi, haahh?? aku pasti akan menemukanmu,"


"Plis Din, kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya,"


Astaga suara kak Dimas semakin dekat, tiba-tiba.


"Hmmm mmmmm mmmmm,,Siapa yang membekap mulutku,"


"Sssstttt,, jangan berisik nanti Dimas tau lo disini"


9o


"Suara itu berbisik ditelingaku, tapi sepertinya aku mengenali suara itu, Imran kaukah itu?"


Tak lama suara kak Dimas menghilang aku dan Imran kembali ke kelas, jujur saja aku masih takut bertemu kak Dimas, aku ngga mau dipaksa, hanya Imran yang selalu melindungiku.


**Tbc


Plis vote like n komen yaa

__ADS_1


janganl lupa tinggalkan jejak😊😊


see u all😘😘**


__ADS_2