
RENCANA SORAYA
Happy reading gengks
maaf jika banyak typo
ββββ
Kemesraan Imran dan Dinda membuat Soraya seakan terbakar, gadis itu menghirup nafas dalam mencoba bersikap setenang mungkin, dia sudah menyiapkan sebuah rencana dan malam ini rencana itu harus berhasil.
Soraya melangkah dengan percaya diri ketempat dimana Imran sedang bersama istrinya.
Soraya tersenyum miring, "Moment yang pas" gumamnya.
"Hai sayang, selamat yah" Soraya langsung memberi kecupan mesra dipipi Imran.
Imran yang tak tahu bahwa akan mendapat kejutan dari Soraya sontak tak sempat menghindar, pria itu terhenyak dengan kedatangan Soraya ditambah lagi dengan berani Soraya mengecup pipinya dihadapan Dinda.
Dinda yang melihat apa yang dilakukan gadis muda di hadapannya itu membuatnya sangat terkejut, siapa sangka ada wanita yang dengan berani mencium sorang pria tepat dihadapan istrinya.
Soraya menampilkan senyuman termanis nya, kemudian gadis itu menyodorkan sebuah kotak kecil sebagai kado untuk Imran.
Imran menerima pemberian Soraya, membuat gadis itu tersenyum lebar merasa Imran mulai luluh olehnya, namun tak lama senyum Soraya pun sirna karena dengan keras Imran membanting kotak itu ke lantai.
"Apa yang kau lakukan Soraya?" hardik Imran tegas, wajahnya sangat menyeramkan, tatapannya seakan ingin mencabik tiap jengkal daging ditubuh gadis yang sudah dengan berani menantangnya bak singa yang sedang kelaparan.
Soraya meringis melihat perubahan diwajah pria itu, tak dipungkiri, ia sempat gemetar mendapat bentakan dari pria yang selama ini menjadi incarannya, namun sebisa mungkin dirinya tetap tenang, tak ingin jika lawannya mengetahui bahwa dirinya saat ini sedang ketakutan.
"Aku datang memberimu selamat sayang, kenapa kau marah begitu" suaranya terdengar sangat lembut dan manja, bahkan Soraya masih nekad membelai dada bidang Imran walaupun saat ini tangannya masih nampak sedikit bergetar.
Imran mencengkram kuat kedua tangan Soraya yang sudah dengan berani menyentuhnya membuat gadis itu kembali meringis kesakitan, lalu dia hempaskan dengan kasar, membuat tubuh langsing gadis itu terjerembab ke lantai.
Dinda diam saja melihat tingkah Soraya, dan Imran yang menghempaskan tubuhnya, semua orang menatap kearah mereka karena mendengar suara teriakan dari sang pemilik acara.
"Pergi dari sini, jangan ganggu kehidupanku sebelum kubuat kau menyesal" tekan Imran dingin.
"Apa yang kau lakukan Imran, aku kesini untukmu dan kau memperlakukan ku seperti ini" raung Soraya.
Imran tak menggubris perkataan Soraya, pria itu tetap saja mengusir Soraya.
"Kubilang keluar dari rumahku, kau tidak punya tempat disini" temannya sekali lagi.
__ADS_1
Soraya bangkit dari jatuhnya, dia kembali mendekati Imran.
"Tapi aku mencintaimu Imran" ucapnya lembut, rencananya hampir gagal namun dia masih tak mau menyerah.
"Aku sangat.... "
PLAAAKKKK!!!!
Ucapan Soraya terputus karena Dinda langsung memberinya sebuah salam lima jari, tapi bukan dengan menjabat tangan gadis itu melainkan memberinya stempel diwajahnya yang cantik, dan sontak membuat Soraya lagi-lagi meringis nyeri.
"Wanita tak tau malu, apa saking tidak lakunya dirimu sampai berani mencoba mengganggu suamiku" berang Dinda.
Raut wajahnya yang biasa teduh berubah bak seorang penyihir yang menyeramkan, yang siap menyihir musuh-musuhnya.
Soraya membulatkan mata saat pipinya di sapa oleh jari-jari milik rivalnya, dia tidak menyangka bahwa Dinda yang menurut informasi adalah wanita lemah lembut bisa berubah seperti serigala saat merasa terusik
"Kau berani menamparku?" raung Soraya.
"Kau pikir aku tidak berani" Dinda tak kalah emosi.
"Kau tau, dengan siapa kau berurusan?"
"Aku tidak tau, dan tidak mau tau siapa pun dirimu"
"Jangan bermimpi wanita murahan"
"Kau... "
"Keluar dari rumahku sekarang juga, kau tidak mendengar suamiku sudah mengusirmu" Dinda menggelayut menjadi di lengan Imran, seakan memberi tahu posisinya dan posisi Soraya.
Soraya semakin tersulut, "Kau... " ucapannya terputus, karena saat itu juga Imran ******* bibir Dinda, memperlihatkan didepan gadis itu bahwa dirinya sangat mencintai sang istri, dan tak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi Dinda sebagai ratunya.
Dinda membalas tiap pag*utan suaminya, mereka tak lagi memikirkan berapa banyak pasang mata yang tengah menatap kearah mereka, yang dipikirkan oleh Dinda dan Imran hanyalah memberi tahu dunia bahwa mereka saling memiliki.
Soraya membulatkan kedua netranya, geram.
"Kau sudah lihatkan, tak ada satupun yang bisa menggantikan posisi Dinda sebagai ratu dihatiku, jadi jangan berharap lebih, karena kau hanya sebatas rekan kerja bagiku, jadi pergi dari sini sekarang juga" terang Imran dingin.
Soraya pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang sangat kecewa dan juga sakit, semua rencananya gagal total.
Awalnya Soraya ingin menciptakan kesalah pahaman antara Imran dan Dinda, dengan begitu akan sangat mudah baginya merebut hati Imran jika Dinda meninggalkannya, namun siapa sangka jika Dinda tak mempan dengan tipu muslihat nya.
__ADS_1
Soraya memacu kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi, tujuannya saat ini ingin menenangkan pikiran di sebuah club malam.
ππππ
Dinda masuk kedalam kamar dengan perasaan yang sangat kesal, bagaimana tidak, suaminya dicium mesra tepat didepan matanya, walaupun dia tau bahwa itu semua tidak sesuai kehendak Imran.
Setelah pesta usai, lebih tepatnya sengaja diselesaikan karena insiden Soraya tadi, Dinda langsung meninggalkan Imran kekamar, pria itu kebingungan sendiri melihat sang istri yang tiba-tiba merajuk padahal tadi Dinda terlihat baik-baik saja.
Memangnya siapa yang bisa baik-baik saja jika kejadian seperti tadi menimpa dirinya, begitu pun Dinda, yang dilakukannya tadi hanyalah bentuk pertahanan seorang istri.
"Sayang, kok kamu ninggalin Mas?" Imran menyusul sang istri kekamar, saat ini mereka hanya berdua, twins ikut kerumah Mbak Manda.
Dinda tak menjawab pertanyaan Imran, dirinya benar-benar kesal dengan Soraya.
Dinda memalingkan wajahnya saat Imran hendak duduk di depannya.
Imran tak menyerah membujuk sang ratu, pria itu meraih dagu Dinda dan menolehkan wajah kekasih halalnya agar menghadap kearahnya. Dinda menurut, dalam hatinya, tak menyalahkan sang suami, karena memang sejak awal gadis itulah biang keroknya.
"Kamu marah?" tanya Imran lembut, dan Dindaenggeleng sebagai jawaban
"Trus kenapa diem?" Lagi-lagi Dinda menggeleng, entahlah saat ini perasaan Dinda benar-benar kacau.
"Kamu harus percaya sama Mas, Mas cintanya sama kamu" dan membelai lembut wajah sang istri, dikecup nya kening Dinda lembut dan mendekapnya penuh kehangatan.
ππππ
Tbc
selamat menunaikan ibadah puasa ya bagi yang menjalankan, πππ
Miss cuma minta dukungan dari para readers,,,
tolong dukung Miss yaa...
caranya like vote komen dan tinggalkan jejak ππππ£π£π£
Jangan lupa Novel Miss difavoritkan
klik tanda love β€β€β€
Sekalian mampir di karya Miss yang baru judulnya " Sakit Tak Berdarah "
__ADS_1
See U Allππ