Sebelah Hati

Sebelah Hati
SEASON DUA


__ADS_3

PEMERIKSAAN


Happy reading πŸ“–πŸ“–πŸ“–


maaf masih banyak typo keluyuran


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Imran membawa kendaraannya melaju membelah jalanan yang lumayan padat pagi itu, Dinda duduk tepat disebelahnya namun pandangannya terus tertuju ke jendela samping. Tatapannya kosong, kedua bola matanya hanya menatap kendaraan yang terus berlalu lalang di luar, entah apa yang sedang Dinda pikirkan saat itu, bahkan suara gaduh yang ditimbulkan Twins juga tak mampu menarik atensinya.


Sekar terlelap dipangkuan sang Bunda, gadis kecil itu nampaknya masih sangat mengantuk saat Dinda membangunkannya dan mengajaknya pergi, namun Dinda pun merasa tak tenang harus meninggalkan bayi mungil itu dirumah, walaupun ada ART yang disewa oleh Imran, dirinya lebih tenang menitipkan Sekar pada Mbak Manda.


"Bundaa"


"Bundaa"


"Bundaa"


Twins bergantian memanggil sang Bunda yang sejak tadi terlihat asyik didunianya sendiri, namun Dinda masih terus menatap kearah samping tanpa memperdulikan panggilan kedua anak kembarnya.


Merasa ada yang aneh, Imran pun mengguncang pelan bahu istrinya, seketika Dinda tersentak dan sadar dari lamunannya.


"Ada apa, Mas?" tanya Dinda bingung.


"Kamu kenapa sayang, sejak tadi Twins manggil kok ngga dijawab? lagi mikirin apa sih?" Imran bertanya balik, sambil tetap fokus menyetir, sesekali menoleh menatap sang istri yang terlihat muram sejak pagi tadi.


Dinda menoleh kearah Twins yang sejak tadi memperhatikannya, Bunda kedua anak kembar itu mencoba mengulas senyum, tak ingin melihat kedua anaknya khawatir.


"Bunda ngga pa pa sayang, cuma lagi capek aja" ucap Dinda, kemudian membelai rambut Twins dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Bunda yakin?" Tanya Abang Al memastikan.


Dinda mengangguk dengan senyum yang semakin lebar diwajahnya, dirinya tak ingin jika kedua anaknya mengetahui apa yang saat ini membuatnya gelisah.


Dinda menoleh kearah Imran, disaat yang bersamaan Imran pun melirik kearah istrinya, Imran lalu menggeleng pelan seolah memberi isyarat bahwa Dinda tak boleh lemah. Dinda mencoba kembali tersenyum, berusaha mengurangi kegundahan yang sedang dia rasakan, walaupun berat namun dia yakin semua pasti akan berlalu dan dia pasti bisa melewati semuanya.


Lima belas menit kemudian, kendaraan Imran akhirnya tiba dirumah Mbak Manda, setelah menitipkan Sekar pada saudaranya, Dinda bergegas meninggalkan rumah itu dan mengantar Twins kesekolah. Setelah itu dia dan Imran akan kekantor polisi untuk segera menyelesaikan masalah yang melibatkan dirinya.


🌺🌺🌺🌺


Dinda masih setia menatap keluar jendela, pikirannya berkecamuk, entah apa yang akan dia katakan dikantor polisi nanti, sejujurnya dirinya bingung dengan apa yang dia alami karena malam itu dia tak sadarkan diri, tau tau sudah berada di ruangan yang membuatnya terjebak.


Tak lama, kendaraan Imran akhirnya tiba ditempat yang menjadi tujuannya.


...POLRES METROPOLITAN JAKARTA UTARA...


Imran segera memarkirkan kendaraannya begitu memasuki gedung yang sudah tak lagi asing bagi pria yang berprofesi sebagai pengacara tersebut, di liriknya sang istri yang masih asik termenung, setelah mobilnya parkir dengan sempurna, Imran kemudian menggenggam tangan Dinda yang terasa dingin.


"Sayang" tegur Imran.


Dinda menoleh menatap sendu kearah sang suami yang begitu luar biasa dalam mendampinginya, kembali Dinda mencoba mengulas senyum dibibirnya walaupun saat ini perasaannya tak karuan.


"Aku takut Mas" sahut Dinda lirih.


Air matanya tiba-tiba lolos dari kedua maniknya yang menghitam seperti mata panda. Akhirnya Dinda bisa mengutarakan apa yang saat ini membuatnya gelisah.


Imran segera menarik Dinda kedalam dekapannya, mencoba menyalurkan kekuatan agar sang istri tegar dan kuat dalam menjalani pemeriksaan nanti, sekuat tenaga Imran akan membela mati-matian kekasih halalnya dan tak akan membiarkan Dinda terluka sedikit pun.


"Kamu bisa sayang, kamu ngga salah dan kamu harus buktikan itu, aku akan selalu disampingmu dan akan terus mendampingi kamu apapun yang terjadi" tutur Imran memberi semangat.

__ADS_1


Seketika perasaan Dinda menghangat setelah mendapat dukungan yang sangat besar dari sang suami, perasaan takut yang sempat Dinda rasakan sejak pagi tadi menguap entah kemana. Dirinya yakin bahwa dia bisa, dan akan membuktikan bahwa dia tidak bersalah dan semua hanya kesalahpahaman.


Imran mengurai pelukannya, pria itu tersenyum manis kearah Dinda, kemudian memberi kecupan di keningnya. Setelahnya, Imran mengajak Dinda turun dan segera masuk kedalam gedung tersebut.


🍁🌼🍁🌼🍁


Imran dan Dinda berdiri tepat didepan pintu masuk, sebelum kakinya melangkah memasuki gedung tersebut mendadak kedua lututnya kembali gemetar, namun Imran dengan sigap kembali menggenggam tangan Dinda, dan mencoba memberinya kekuatan, Dinda menoleh kearah Imran dengan kening yang berkerut, seolah mengerti arti tatapan sang istri, Imran tersenyum sambil mengangguk dan mengajaknya memasuki gedung tersebut.


Dengan sisa keberanian yang Dinda miliki, akhirnya Dinda berhasil melawan rasa takutnya, Dinda menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan, "Ayo Dinda, kamu bisa" ucapnya dalam hati, memberi semangat pada dirinya sendiri.


"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu petugas yang sedang berdiri dibalik pintu tersebut, nampaknya pria itu belum menyadari bahwa lawan bicaranya adalah salah satu pengacara yang cukup terkenal.


Belum sempat Imran menjawab, tiba-tiba ada suara yang membuat semua orang ditempat itu terpaku, terlebih Dinda.


"Itu dia pak, pembunuhnya"


TBC


Cukup lama Miss ngga up


jangan lupa dukung terus yah


like vote komennya


Mampir ke karya Miss yang lain


judulnya "Sakit Tak Berdarah"


See U All😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2