Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
100. Oh, Dimas.


__ADS_3


Oh, Dimas.



Seorang security tiba tiba berlari menghampiri Yuna, "Nona Meta sudah datang." Ujar nya.


Yuna mengangguk, mau bagaimana lagi, ini adalah bagian dari keteledorannya juga, mau tidak mau semua harus dihadapi dan diselesaikan.


"Kembalilah bekerja, aku akan menghadapi Meta."


Sekertaris dan kedua pegawai baru tersebut meninggalkan Yuna seorang diri.


Yuna memasang senyum ramahnya karena sebentar lagi ia akan berhadapan dengan tamu spesial, dengan tingkahnya yang juga spesial.


Setibanya di ruang tunggu, Sang artis masih disibukkan dengan para MUA yang memperbaiki riasannya, pasalnya sebentar lagi ia akan tampil di depan publik, memamerkan gaun mahal yang dibuat khusus hanya untuknya. 


"Selamat siang nona Meta," sapa Yuna ramah.


"Hmmm," jawab Meta tanpa berkata, karena saat ini bibirnya tengah di sapu dengan olesan lipstik merah khas seorang Meta Permana.


Yuna kembali mengatur nafasnya, ia menatap para wartawan yang mulai berkerumun di depan butik nya, Yuna menghampiri Ratih manajer Meta.


"Ada apa Mbak Yuna?" Tanya Ratih ketika melihat Yuna mendekatinya.


Yuna gugup, kegelisahan mulai melanda hatinya, "sebenarnya ada sedikit masalah dengan gaun itu," bisiknya pada Ratih.

__ADS_1


Sang manajer yang tengah membaca schedule Meta tiba tiba mendelik kaget. Ia pun menatap tajam pada Yuna. "Mbak Yuna jangan bercanda, gaun itu sangat penting untuk Meta." Bisik Ratih dengan suara pelan penuh penekanan.


Yuna meremas ujung kemeja nya.


"Iya aku tahu, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan siapa siapa, karena tanpa sepengetahuan saya gaun tersebut telah terjual," Yuna tak ingin berbohong, agar masalah tidak semakin melebar, "dan lagi, aku juga lupa memberi informasi pada pegawai yang bertugas hari itu." Tambah nya.


Kini bukan hanya Yuna yang pusing memikirkan nasib nya, Ratih pun memikirkan hal yang sama dengannya, Ratih bukan manajer kemarin sore, ia sudah bertahun tahun mendampingi artis, tapi baru kali ini ia menghadapi artis yang banyak maunya seperti Mata Permana.


"Ada apa dengan kalian, dan kenapa wajah kalian nampak pucat seperti tak teraliri darah?"


Tanya Meta yang tiba tiba berdiri di hadapan Ratih dan Yuna, Wajah Meta sudah tampak bersinar dengan polesan make up nya, di tambah lipstik merah membuat penampilannya terkesan berani.


Yuna dan Ratih tertawa gusar. "Ini nona, sebelumnya saya minta maaf," Ujar Yuna masih dengan wajah pucat karena gelisah. 


Meta mengerutkan alisnya, "katakan ada apa, aku tidak punya banyak waktu." 


"Gaun yang anda pesan, sudah di beli orang lain nona." Jawab Yuna.


Namun sesaat kemudian ia tersenyum, manakala mengetahui siapa pembeli gaun yang ia pesan.


✨✨✨


Seorang wanita paruh baya tengah berjalan menuju ruang periksa klinik Obgyn, setelah sebelumnya ia mendatangi laboratorium untuk mengambil hasil pemeriksaan.


Wanita itu nampak kebingungan, karena William Medical Center sungguh luas, dan ini kali pertamanya ia datang seorang diri mendatangi rumah sakit. 


Beberapa kali ia bertanya pada orang orang yang berpapasan dengannya, justru hal itu membuatnya semakin pusing. 

__ADS_1


Sesaat kemudian tatapannya tertuju pada sosok yang teramat ia kenal namun sudah lama tak ia jumpai.


"Stella kan?" Tanya nya, demi meyakinkan penglihatannya.


Stella yang tengah menatap layar ponselnya pun tak kalah terkejut, sudah lama sekali ia tak berjumpa dengan wanita ini, sosok wanita tangguh di belakang suksesnya dokter Alan Mahendra.


Yah beliau adalah Tyas, ibu dari dokter Alan, dulu semasa masih menjalin hubungan dengan Alan, Stella beberapa kali berjumpa dengan bu Tyas, namun setelah menikah dengan Alex, otomatis ia tak pernah lagi berjumpa dengannya.


"Bu Tyas," sapa Stella ramah, ia mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut, namun Tyas nampak tak segan memeluk wanita yang hampir menjadi menantunya.


"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya Tyas.


"Baik bu, ibu juga baik?" Tanya Stella.


"Ibu baik, biasalah kadang masih di hampiri penyakit orang tua," kekeh nya.


"Syukurlah jika ibu sehat, saya senang sekali mendengarnya, ibu mau kemana? Saya antar yah, kebetulan jam praktek saya sudah selesai." Stella menawarkan bantuannya.


"Ini, ibu mau bertemu dokter obgyn untuk mengetahui hasil lab." Jawab Tyas, "tapi ibu lupa membawa kacamata, jadi sejak tadi ibu kebingungan melihat tulisan tulisan ini." Adu Tyas pada Stella.


"Mari saya temani ke ruang praktek Dokter Elga." Ujar Stella setelah ia membaca siapa nama dokter yang tertera di amplop hasil pemeriksaan bu Tyas.


"Silahkan ibu menunggu, biar saya yang mendatangi perawat," Stella meminta bu Tyas menunggu, agar ia tak lelah mengingat usia bu Tyas yang sudah tak lagi muda.


Stella mendatangi meja perawat, dengan membawa serta hasil pemeriksaan bu Tyas, tak lupa ia mengatakan bahwa bu Tyas adalah ibunda dokter Alan, agar bu Tyas menjadi prioritas.


"Tidak ditemani dokter Alan bu?" Tanya Stella usai menyelesaikan proses antrian bu Tyas.

__ADS_1


"Alan bilang, ada operasi darurat, jadi ibu pergi sendiri ke rumah sakit, tadi diantar sopir." Jawab Tyas dengan senyum di wajahnya.


Tak lama perawat memanggil bu Tyas untuk menemui dokter Elga.


__ADS_2