Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
51. Sarapan Pagi.


__ADS_3

Stella masih terdiam di tempatnya, telapak tangannya masih membeku di dada, merasakan debaran jantungnya menggila sesaat, membayangkan apa yang beberapa saat lalu terjadi di ruangan ini.


Pelukan itu … oh ya Tuhan apa yang sudah kulakukan, dia bahkan bukan suamiku lagi, kenapa aku jadi seperti wanita penggoda yang menikmati pelukan seorang duda, yaa walaupun duda itu mantan suamiku sendiri, stella bermonolog dalam hati.


(*****Othor juga garuk garuk nih 😆 maaf ya bos baru kasih bonus peluk***** ****dan ekstra kecup manja****)


Sebenarnya operasi Stella berakhir tengah malam, tapi karena lelah, Stella tertidur di ruangannya, ia terkejut ketika bangun lalu buru buru pulang, niatnya pulang adalah ingin mandi dan melanjutkan tidur, namun kini kelopak matanya justru tak bisa diajak bekerja sama. 


Kini pikiran nakalnya justru membayangkan hal hal yang lain, Stella memukul keningnya sendiri, mungkin jika menatap cermin, kini wajahnya pasti sudah memerah.


Sekali lagi Stella berusaha memejamkan mata, namun wajah tampan mantan suaminya justru makin jelas terlihat.


Merasa usahanya sia sia, Stella pun pergi ke dapur, mencari cari bahan bahan yang ada di lemari pendingin, syukurlah di freezer masih ada daging dan tulang Iga, dengan riang Stella menyiapkan bahan bahan untuk membuat sup daging. 


...🌻🌻🌻...


Stella duduk di meja makan, menanti kedua jagoannya bersiap, semangkuk sup hangat telah berpindah ke perutnya, nyaman sekali.


Sup daging menjadi semacam ritual wajib baginya, setelah selesai melakukan operasi besar, Stella akan memasak sup daging favoritnya sebagai hadiah untuk dirinya sendiri, dan ternyata kebiasaannya itu menular pada Andre.


Kini dua porsi sup hangat, dan dua gelas susu berbeda warna, sudah siap di meja makan, si kembar bisa dikenali dengan mudah hanya dari warna susu yang mereka minum.


"Waaahhh … ini yang ku tunggu tiap mommy selesai melakukan operasi." Andre yang sudah siap dengan seragam sekolahnya, nampak berseri seri menatap sup hangat sudah siap di meja makan.


"Benarkah?" 


"Tentu mom, aku menyukainya, bukan begitu Kev?" Tanya Andre pada saudara kembarnya.


Yang ditanya justru sudah menghabiskan supnya, "mom aku mau lagi." Pinta Kevin dengan wajah berbinar.


Stella tertawa bahagia, "Apa kamu juga menyukai ini?" Tanya Stella ketika menyendokkan sup ke mangkuk Kevin.


"Iya mom, kami bahkan pertama kali bertengkar gara gara sup ini." Jawab Kevin antusias.


"Dia jahat sekali padaku mom, dia bilang aku gadungan." Adu Andre pada Stella.


"Dan dia bilang, wajahku pasaran." Giliran Kevin mengadu, ia tak mau kalah.


Stella hanya tersenyum mendengar pertengkaran keduanya, walau yang nampak hanya pertengkaran, ia sudah bahagia karena  melihat kedua anaknya tengah duduk di hadapannya menikmati sarapan. 


Tiba tiba terdengar bunyi seseorang sedang menekan password pintu utama, dan benar saja, Alex muncul dari sana sudah segar dengan kaos polo dan celana jeans nya, duda matang idaman itu nampak tampan paripurna seperti biasa.


Alex mencium puncak kepala si kembar, kemudian memposisikan dirinya duduk di kursi kosong di samping Stella. 


Stella menatap tajam ke arah nya, "mana sarapanku?" Tanya nya pada Stella.


"Dari mana kakak tahu passwordnya?" 


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja kedua bocah tampan ini yang memberitahuku," jawab Alex santai, "bukankah begitu anak anak?"


Keduanya mengangguk bersama, kekompakan  tiga lelaki berwajah mirip ini justru membuat stella merasa saat ini tengah dikepung tiga orang musuh, namun ia justru seperti robot yang tak bisa melawan ketiganya.


Padahal di rumah sakit ia sungguh garang dan ditakuti para preman anak buah Abimana.


Tanpa dilihat oleh si kembar yang tengah sibuk menghabiskan sup mereka, Alex mendekatkan wajahnya ke telinga Stella, "bukankah angka itu tanggal keramat kita? Jadi dengan mudah aku bisa mengingatnya." Bisik Alex.


Stella membeku, ia hanya bisa menelan ludahnya, 'bodoh bodoh bodoh kamu Stella, bagaimana mungkin kamu memakai tanggal pernikahanmu sebagai password pintu utama, pasti pria ini makin besar kepala' gerutu Stella dalam hati, ia mulai gugup manakala menyadari kebodohannya, namun mencoba terlihat biasa.


Sementara Alex mengulum senyum nya, senang sekali ia berhasil menggoda mantan istrinya, terlebih kini wajah Stella terlihat gugup, sungguh menggemaskan.


Stella hanya mencepol asal rambutnya, dan memakai baju rumahan ala kadarnya, namun hal itu justru membuat Alex teringat ketika dulu wanita ini kerepotan mengurus si kembar yang masih berusia satu tahun, penampilan Stella memang nampak acak acakan seperti saat itu, tapi mantan istrinya terlihat semakin menarik di matanya.


(Ya iya lah bos, semua yang dilihat dengan cinta akan terasa indah, gimana rasanya jatuh cinta lagi bos … othor mode baik nih bos, jangan berani macem macem 😘)

__ADS_1


"Kenapa malah melamun? Mana sarapanku? Aku harus segera mengantar Andre ke sekolah." Sekali lagi Alex berucap santai, seolah mereka memang keluarga utuh, dan seolah tidak ada apa apa di antara mereka.


Dengan wajah malas Stella beranjak menuju dapur, di lemari pendingin ia hanya menjumpai 2 buah apel, karena ia memang belum berbelanja.


"Hei, seharusnya jangan masuk sekolah dulu." 


Stella mendengar Alex berbicara.


"Tentu dia harus ke sekolah pi, dia merindukan Belinda." Kevin menjawab ucapan Alex.


"Belinda?" Alex bertanya seraya mengerutkan kedua alisnya.


"Yeah, gadis yang menyukai nya." Kevin kembali menjawab rasa ingin tahu Alex.


"Hei … darimana kamu menyimpulkan itu? Belinda itu teman baikku." Andre membantah.


"Oh yah? Benarkah hanya teman baik?" Ejek Kevin "yang ku lihat tidak begitu."


Andre terdiam.


"Apa papi tahu, Belinda bahkan melotot padaku ketika ia terpaksa meninggalkan Andre di sekolah bersamaku, karena waktu itu kami sedang di hukum." 


Alex tertawa mendengar laporan Kevin. "Wow, rupanya kamu sudah memiliki penggemar." Kini Alex ikut menggoda Andre.


"Itu karena … " Andre terlihat kikuk "ya … berhentilah menggodaku, aku serius, Belinda dan aku hanya teman." 


Alex dan Kevin tertawa puas, karena berhasil membuat Andre nyaris meledakkan emosinya.


Stella menyodorkan dua buah Apel dan sebilah pisau kecil pada Alex.


"Kenapa tidak dikupas." Tanya Alex seraya memanyunkan bibirnya.


"Tidak sempat, aku harus segera bersiap ke rumah sakit." Stella berlalu menuju kamar nya, membiarkan ketiganya mendebat hal hal yang tidak penting.


Stella heran karena ruang makan terlihat sepi, padahal beberapa saat lalu ada tiga lelaki sedang berdebat disana, Stella hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian berjalan menuju pintu.


Alangkah terkejutnya ia, melihat Alex dan si kembar tengah menunggunya di depan pintu. 


Ketiganya nyengir kuda menyambut kedatangan Stella.


"Kenapa kalian masih disini?" Tanya Stella.


"Kami menunggumu mom …" jawab si kembar bersamaan.


"Menunggu untuk?"


"Mengantar mommy ke rumah sakit." 


"What …?" Pekik Stella."Hey … mommy masih sehat, dan bisa ke rumah sakit sendiri." Stella memprotes.


"Ayolah mom cepat, sebelum aku terlambat ke sekolah." Andre memeluk lengan Stella, begitu pun Kevin yang tak mau kalah memperebutkan mommy nya, sementara Alex hanya berjalan di belakang mengikuti.


Keempatnya kini di dalam lift yang akan membawa mereka turun ke lantai dasar.


"Benar mom, kasihan Andre, dia sudah tak sabar bertemu Belinda." 


"Jangan bicara sembarangan," protes Andre.


"Dengar mom, selagi aku dan papi masih di sini, aku akan selalu mengantar dan menjemput mommy, jadi mommy tidak boleh protes." Kevin berbicara panjang lebar, Stella pun hanya terdiam tanpa bisa protes.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


thor … emang kuda bisa nyengir 😁


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


othor mau promo novel bestie nih gaeess cheki cheki yah, yang berkenan silahkan mampir 🥰🥰🥰


...💟💟💟



...


"Jadi selama ini dia tidak pulang karena bersama Mike?" Tantra bergumam dalam hatinya.


Tantra mengepal tangannya erat. Ia sangat geram dengan sikap Laura. "Pulang sekarang!" Gigi Tantra merapat keras. Ia berusaha menahan emosinya.


"Apa dia merepotkanmu honey?" Tanya Mike dengan sok jagoan. "Apa perlu aku menghajarnya supaya dia pergi dari sini?" Mike mengepalkan kedua tangan tepat di depan wajahnya untuk memberi ancaman.


"No! Jangan sayang! Jangan melukai mesin pencetak uangku! Dia sudah bekerja keras sehingga kita bisa menikmati uang Papa dan bersenang-senang! Ha.. ha.. ha.."


Ucapan Laura ini membuat Tantra muntab. Kemarahannya sudah tidak bisa dibendung lagi. Tantra menggendong tubuh Laura dengan posisi tubuhnya di atas pundak Tantra. Tantra membawa gadis itu pulang seperti sedang menggendong karung beras.


Laura berteriak meminta meminta tolong. Namun Tantra berkata dengan tegas. "Jika ada yang berani menghalangiku dan istriku pulang, aku pastikan tempat ini akan rata dengan tanah sebelum matahari terbit besok!" 


Tantra hanya diam selama diperjalanan. Ia mengabaikan Laura yang terus meronta dan tak berhenti memakinya.


Hingga sampai dirumah, Tantra kembali menggendong Laura dan berjalan masuk ke kamar. Semua pelayan di rumah itu sampai menghampiri mereka berdua karena suara Laura yang menggema keras memenuhi setiap sudut rumah.


Sampai di dalam kamar, Tantra masih belum melepaskan Laura. Ia membawa istrinya masuk kedalam kamar mandi.


Tantra melepaskan Laura. Ia mengambil shower dan menyiram tubuh Laura dengan air dingin. Tantra juga menyiram kepala Laura dengan air dingin itu sehingga membuat Laura berteriak.


"Aaaaggghhhh!!!! STOP!! STOP IT!!" 


Tantra seolah tak peduli dengan teriakan Laura. Ia terus saja menyiram kepala gadis itu.


"STOP IT!! MANTRA!! STOP!!"


Laura beringsut dan jatuh terduduk di kaki Tantra. Ia mulai menangis terisak. "Please! Mantra! Stop it!"


Tantra mematikan air dan menaruh shower itu. Ia tidak tega melihat kondisi Laura yang menangis terisak.


Tantra mengambil handuk besar dan melingkarkannya di pundak Laura. Tantra menyentuh pundak Laura dengan kedua tangannya. Ia mengangkat tubuh istrinya itu perlahan.


"Bersihkan tubuhmu! Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Tantra menaruh bathrobe di gantungan lalu ia pergi meninggalkan Laura.


Tantra pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat untuk istrinya.


Tiba-tiba seorang kepala pelayan menghampirinya seraya menundukkan badan. "Permisi Tuan muda. Anda diminta menemui Tuan Besar di ruang kerjanya."


"Baiklah, aku akan segera kesana." Jawab Tantra. Ia pun segera menuju ruang kerja untuk memenuhi panggilan mertuanya.


selanjutnya langsung ke lapak othor ZIA TAMALA😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2