Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
73.


__ADS_3

"Dimas, ada pertemuan apa lagi sesudah ini?" Tanya Alex, ketika mereka keluar dari lobi Diamond Hotel.


"Sepertinya tidak ada bos," jawab Dimas ketika tak lagi menemukan jadwal pertemuan yang harus dihadiri sang atasan.


"Baguslah, ayo kembali ke hotel, hari ini aku belum melihat nya." 


"Melihat siapa bos?" Tanya Dimas iseng, tentu saja ia tahu, siapa yang dimaksudkan oleh sang bos.


Namun Alex enggan menanggapi pertanyaan Dimas.


Tanpa banyak bicara Dimas segera menjalankan mobilnya, menuju Twenty Five Hotel.


Segera setelah tiba di hotel, Hal pertama yang Alex lakukan adalah memeriksa lantai 3 tempat berlangsungnya Seminar medis yang dihadiri Stella. 


Namun semangat nya memudar manakala Alex tak mendapati Stella di sana. 


"Kemana dia?" Tanya Alex penasaran.


Alex pun menghampiri petugas yang berjaga di depan pintu ballroom, dan menanyakan keberadaan Stella.


Namun jawaban dari mereka membuat Alex kecewa. Mereka bilang sesi dokter Risa sudah berakhir beberapa jam yang lalu.


Alex mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi wanita yang sejak kemarin sore mengabaikan pesan nya.


Ya Sejak pertemuannya dengan Anindita siang hari kemarin, Stella hampir mengabaikan semua pesan atau panggilan, tak terkecuali dari Alex, satu satunya panggilan yang tak ia abaikan adalah panggilan dari kedua putranya pagi tadi.


Panggilannya terhubung, namun tak mendapat jawaban. 


Alex semakin resah.


'Apa karena aku belum memberinya cincin untuk lamaran itu? Jadi sekarang ia merajuk dan mengabaikanku?' Alex bermonolog, ia mengacak rambutnya yang tak gatal.

__ADS_1


Dia sebenarnya sudah ingin sekali memesan sepasang cincin untuk mereka, namun kesibukannya benar benar membuatnya tak bisa bergerak.


Belum lagi, laporan dari anak buahnya yang mengabarkan bahwa, Abimana diam diam sukses melakukan transaksi narkoba, beberapa jaringan di daerah Jakarta dan sekitarnya sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Dan polisi tidak dapat mengendus, karena kali ini mereka bekerja cepat dan tak banyak pihak yang terlibat, justru mata mata yang ia tempatkan, tak memiliki akses informasi, karena kali ini, Abimana tak ikut menyusun strategi transaksi mereka, Abimana hanya menerima laporan bahwa transaksi mereka berhasil.


drrrt drrrt drrrt


Getar ponselnya membuat Alex menatap layar ponsel nya.


"Ada apa?" 


"Bos, Nyonya ada di sini." 


"Dimana?" 


"Di ruangan anda, tapi …" 


Dengan langkah cepat ia berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai 17 tempat ruangan nya berada.


Dimas dan bu Wanda sudah menantinya di depan pintu.


"Bos, tolong jangan terkejut, anda mungkin tidak akan suka jika melihat kondisi nyonya saat ini,"


"Iya bos, siang tadi nyonya memaksa masuk ke ruangan anda, dia bilang ingin menunggu anda di dalam sambil minum soft drink dan makan camilan, tapi ternyata soft drink yang dimaksud nyonya adalah beberapa kaleng alkohol, jadi sekarang nyonya … "


Alex buru buru masuk ke ruangannya, bau alkohol menyeruak memenuhi ruangan kerja nya.


Sementara Stella sedang tertidur di sofa, penampilannya sungguh berantakan, kemeja formal dan rok span yang ia kenakan pun sudah mulai berantakan, bahkan wajah dan rambutnya pun acak acakan, namun Alex masih bernafas lega, karena setidaknya Stella melakukan ini di ruangannya, apa yang terjadi bila wanita ini melakukan ini di club malam atau bersama pria asing, sungguh Alex tak sanggup membayangkan nya.


Alex duduk bersimpuh di lantai, jari tangannya bergerak merapikan rambut pendek Stella, samar samar Alex melihat lingkaran hitam di kelopak mata Stella, 'apa semalam dia kurang tidur? Kenapa ada lingkaran hitam di bawah kelopak mata nya?' 

__ADS_1


Ia jadi teringat peristiwa beberapa tahun lalu, kala itu selepas palu perceraian di ketuk, ia benar benar menghancurkan dirinya sendiri dengan meminum Alkohol hingga entah berapa hari, dan malam itu Alex setengah sadar tengah melihat Stella menangis pilu di sisi tempat tidur, sementara tangannya sibuk mengusapkan handuk basah ke wajah dan tubuh nya.


..."Takdir kita memang buruk kak, aku pun tak ingin berpisah, tapi bertahan pun tak akan membuatku bahagia, mungkin kita hanya akan saling menyakiti,"...


Alex memang sedang setengah sadar, tapi kalimat yang diucapkan Stella menempel dengan jelas di kepala nya.


..."Kakak harus sehat, dan mulai belajar mengurus diri sendiri, aku akan sangat bahagia melepasmu, jika kakak juga bahagia bersama wanita yang kakak cintai," ...


..."Bagaimana aku membalasmu, jika belum apa apa kamu sudah menyerah, aku ingin balas dendam padamu, aku juga bisa menemukan pria yang akan mencintaiku dengan tulus, kamu juga Harus menyaksikan kebahagiaanku bersamanya, agar aku puas membalasmu, kamu paham?"...


"Wanita sebaik dirimu, mana bisa membalaskan dendam," Alex mengusap air matanya sendiri, "alih alih membalas dendam, kamu justru menerima dan memaafkan aku kembali." 


Kini Alex mengusap setetes air mata yang tiba tiba mengalir dari kelopak mata Stella. 


Merasakan ada yang menyentuh wajahnya, Stella pun membuka mata.


"Oh … dudaku sudah datang." Ujarnya dengan senyum lebar di wajahnya, jelas sekali Stella benar benar tak menyadari apa yang ia ucapkan.


"Kamu sudah bangun?" 


"Hei … siapa bilang aku tidur, aku tak tidur," stella pun duduk, ia merentangkan tangannya. "Peluk …" pinta nya.


Alex menghela nafas nya. Ia kemudian duduk di sofa untuk mengabulkan permintaan wanitanya, namun di luar dugaan Stella justru berpindah, dan kini duduk di pangkuannya.


Alex menelan ludahnya, dia kaget bukan kepalang, kini tubuhnya membeku, bahkan ketika stella menjatuhkan kepala di dadanya, hanya dia dan tuhan saja yang tahu apa yang kini ia rasakan, sementara Stella sudah memeluk erat tubuhnya.


"Kak, aku sangat mencintaimu, bahkan ketika kamu menduakan ku, aku masih tak bisa membencimu," Stella kembali berbicara, "kak Richard bilang, aku bodoh, karena setelah kamu mengkhianatiku, aku masih menyimpan perasaan cinta untukmu," Stella menjeda kalimat nya, "dan yang lebih lucu, setelah 14 tahun berpisah, tak sedikitpun aku bisa membencimu, aku masih menyimpan semua hal tentangmu di kepalaku, bahkan di ponselku, aku masih menyimpan nama 'suami kesayanganku' aku pasti perempuan paling bodoh, iya kan?" Alex menggeleng kuat.


Setelah itu Stella mendongak menatap Alex. "Berjanjilah, kakak tak akan mengkhianati ku lagi," Air mata nya menetes, dan suaranya sayup sayup berganti dengan suara nafas yang naik turun dengan teratur.


Alex hanya mampu menatap wajah mantan istrinya, betapa rapuhnya wanita ini, wanita tangguh yang biasa ia lihat, ternyata memiliki sisi lemah yang tak bisa ditebak.

__ADS_1


Alex memeluk erat Stella yang kini terlelap di pelukannya, dibelainya wajah dan rambut wanita itu, dulu ia juga sering pulang dalam keadaan tak sadar, tapi Stella dengan sabar menunggu, bahkan melayaninya diatas tempat tidur, padahal ia sendiri pasti kelelahan setelah seharian berjibaku merawat si kembar. tak pernah sekalipun Stella mengeluhkan sikap nya kala itu, bahkan setelah sadar keesokan paginya, ia justru menemui Anindita.


__ADS_2