Sepasang Mantan

Sepasang Mantan
55. Membujuk Kevin


__ADS_3

"Terima kasih sayang." Stella memeluk Kevin erat, menyalurkan bonding seorang ibu, yang selama ini tak Kevin dapatkan. "Kenapa menyusul kemari?" 


"Aku bosan mom, om Dimas kerja, dan aku bahkan ikut Mr. Tom mengantar Andre ke sekolah." Keluhnya manja.


Stella mengusap punggung Kevin, ia jadi teringat jika Kevin sudah terlalu lama meninggalkan sekolah nya.


Stella mengusap kepala Kevin yang kini bersandar di dadanya, "Kev … kamu tidak rindu sekolahmu?" 


"Tidak sebesar rinduku padamu mom." Jawab Kevin polos.


Stella tersenyum simpul, Apa Kevin diam diam punya bakat merayu wanita, karena Stella sering berbunga bunga ketika menerima pujian darinya, "hahahaha … kamu pandai merayu rupanya? Siapa yang mengajarimu?" 


"Tentu saja om Dimas." 


Si tersangka yang dituduh mendadak diam membeku, karena kini Alex dan Stella menatap tajam ke arahnya. "Tidak nyonya, bos, sungguh saya tidak pernah mengajarinya."


"Om Dimas memang tidak mengajari ku secara langsung mom," kevin mendongak dan berbisik ke telinga Stella. 


Stella tertegun. "Bicara saja yang jelas jangan berbisik," Alex menimpali, karena dia pun mendengar percakapan mereka sejak tadi.


"tapi aku mendengar om Dimas sering mengucapkan itu, ketika di dekat papi." 


Kali ini Alex yang bereaksi, ia menggulung beberapa kertas kemudian mumukulkan ke bahu dimas berkali kali, "lihat hasil perbuatanmu? Kamu membuat anak anak meniru perilakumu yang salah." Hardik Alex.


"Ya maaf bos, tapi aku sungguh sungguh menyayangimu bos," Dimas tetap bersuara lirih, bahagia rasanya bila bos kesayangannya sudah terpancing.


"Yaaaaaaa … sekali lagi kamu mengucapkan itu, bonus bulananmu hilang," ancam Alex. "Lagi pula, jika seleramu memang belok, jangan bawa bawa aku, aku masih 100% normal." 


"Bos … tega amat sih bosss." Rengek dimas.


"Mom, selera berbelok itu apa?" 

__ADS_1


2 pria dewasa sumber dari pertanyaan Kevin pun terdiam.


Tak terkecuali Stella, ia belum siap mendapat pertanyaan tak terduga tersebut. "mmm gimana yah, begini, anggap saja, rata rata orang indonesia wajib makan nasi," Stella mencoba menjelaskan dengan perumpamaan sederhana, "tapi sebagian kecil orang indonesia juga ada yang tidak makan nasi, jadi seleranya dianggap aneh oleh kebanyakan orang, dengan kata lain seleranya gak sejalan dengan orang orang pada umumnya, faham maksud mommy?" 


Kevin mengangguk paham, karena penjelasan Stella masih masuk akal.


(mungkin kalau dilanjutkan, kevin makin mumet, ntar aja kalo sudah dewasa baru diteruskan lagi🤓)


"Baiklah mommy harus konfirmasi kehadiran, pikirkan ucapan mommy, kamu harus segera kembali sekolah." Dengan kata lain Stella juga mengusir Alex, agar tak membuat hari harinya kacau.


Kevin mengangguk lesu "iya mom,"


"Dimas terima kasih sarapannya." Ucap Stella berlalu pergi tanpa sedikitpun menyapa mantan suaminya.


"Sama sama nyonya." Jawab Dimas sopan.


"Dia mengabaikanku," gerutu Alex tak terima.


✨✨✨


Kevin kembali mengikuti Mr. Tom menunggu kepulangan Andre dari sekolah, selama perjalanan, ia resah karena perkataan mommy Stella pagi tadi yang memintanya kembali ke sekolah, Kevin baru saja merasakan bahagia bersama mommy dan saudara kembarnya, terlebih sekarang ada papi diantara mereka, Kevin masih merasa seperti bermimpi, memiliki keluarga utuh, bahkan sekarang ia lebih memilih tidur berdesakan dengan Andre di apartemen mommy, daripada tidur di kamar mewah Twenty Five Hotel.


Karena tenggelam dalam lamunan nya Kevin tak menyadari kini Andre sudah duduk disampingnya. "Kau ini, sudah resmi jadi pengangguran rupanya." 


Mr. Tom kembali melajukan mobilnya membelah ramainya jalanan, Andre menyempatkan diri melambai pada Belinda yang hendak menghampiri Mr. Roger Smith sang papa.


Kevin tersenyum getir, ia benar benar iri dengan Andre yang selalu bisa bersama mommy mereka. "Hei … kenapa menatapku seperti itu?" Protes Andre.


Bukannya menjawab, Kevin justru mencebikkan bibirnya, kemudian membuang pandangannya ke luar melalui jendela mobil.


Andre sendiri jadi serba salah menghadapi sikap kembarannya, "Ayolah … katakan apa yang terjadi, kenapa kamu murung, dan Terlihat seperti marah padaku?" Selidik nya.

__ADS_1


Kevin menghela nafas sebelum mulai bicara, "Mommy menyuruhku kembali ke Indonesia, karena aku sudah terlalu lama meninggalkan sekolahku." 


"Kenapa, bukankah itu bagus?" 


Kevin menautkan kedua alisnya, ia tak paham jalan pikiran saudara kembarnya tersebut. "Maksudmu apa?" 


"Jika kamu di Jakarta, kita jadi punya alasan mendekatkan mom and dad, bahkan mungkin lama kelamaan mom akan memutuskan tinggal di jakarta, atau sebaliknya." Andre menjelaskan apa yang kini ada di benaknya, walaupun ia sendiri tak tahu, apakah rencana mereka nanti akan bisa berjalan lancar. "Sudah tenang saja, mungkin dengan berjauhan, mom and dad punya kesempatan untuk berpikir jernih, sekarang kita tinggal menikmati proses nya, yang harus kita lakukan, hanyalah memancing mereka agar sering bertemu, walau jarak yang ditempuh lumayan jauh, aku akan sering mengatakan pada mommy, kalau aku merindukan kalian,"  Andre menatap kembarannya.


"Benar yah, aku pegang janjimu, karena aku juga akan sering sering bilang pada papi, kalau aku ingin bertemu mommy dan kamu," Kevin sungguh tak bisa lagi menahan air matanya, di saat seperti ini ia sungguh tak peduli jika dikatakan bertingkah seperti pria cengeng.


Andre memeluk erat kembarannya yang mulai menangis, ia pun tak ingin berpisah dari kevin, hari harinya sedang bahagia, ia kini memiliki teman bermain, selama ini ia hanya ditemani ruangan kosong selagi menunggu mommy Stella pulang dari rumah sakit, terutama lagi Andre tak ingin lagi jauh dari papi, tapi ia harus logis, kedua orang tuanya sudah bukan sepasang suami istri lagi, mereka sudah lama berpisah, akan terasa aneh jika mereka tiba tiba bersama, ia harus berusaha sebisa mungkin membujuk Kevin, bahwa mereka harus sedikit bersabar, jika ingin mom dan papi kembali bersama.


✨✨✨


Tubuh Pria itu sudah bermandikan keringat, namun ia masih terus melangkahkan kaki nya di treadmill, karena menurut dokter, untuk saat ini ia masih harus menjaga kondisi, jadi olahraga yang masihlah aman untuk dilakukannya adalah berjalan ringan di treadmill.


Abimana sengaja membuka lebar jendela ruangan fitness nya tersebut, agar paru parunya teraliri udara segar di pagi hari.


Andy sang asisten pun, nampak tengah menemaninya, ia menunggu sembari melakukan angkat beban, suara keributan di luar membuat Abimana kembali menurunkan kecepatan treadmill nya, Gerry menerobos masuk,  wajahnya tampak bahagia, entahlah walaupun kondisi wajahnya yang sebagian tertutup tato itu terlihat seram, namun Abimana mampu melihat ada aura bahagia disana.


Gerry adalah salah satu orang kepercayaan Abimana, begitu pula Andy, Abimana sungguh beruntung memiliki 2 orang asisten kepercayaan seperti mereka, mereka petarung yang hebat, yah walau Gerry berhasil di kalahkan seorang wanita tempo hari, pasti pengalaman yang sungguh memalukan bagi Gerry.


"Kakak, aku ingin melaporkan hal penting," 


"Katakan." 


"Alexander."


"Ada apa dengannya?" 


"Dialah selama ini biang keladi dari gagalnya sebagian besar transaksi kita."

__ADS_1


Abimana mengepalkan tangannya, "rupanya peringatan yang aku kirimkan 7 tahun silam, tak membuatnya takut," Abimana tersenyum Smirk, "baiklah, ayo kita ke Indonesia, untuk 'berburu'." Seringai menakutkan tergambar di wajah pria itu, ia sudah terlalu sabar rupanya, sampai kapan ia harus bersabar dengan Alexander justru terus mengusik ladang bisnisnya.


__ADS_2